
Lala kebingungan saat melirik jam tangannya, ia teringat dengan ponselnya dengan cepat ia merogoh saku jaketnya. Lala mendengus sebal sambil menepuk dahi.
"Kebiasaan kan gak inget ngecas hp, Lala oneng banget sih jadi orang sumpah kalo kaya gini gw pengen hidup di tahun 90an yang ada wartel dimana-mana terus pas gw kecil ada telpon umum," gerutu Lala.
Lala menyipitkan matanya saat sinar matahari mengenai wajahnya, ia mengusap keringat yang berada di dahi menggunakan punggung tangannya.
"Salah gw juga sih gaya-gayaan mau merakyat, ke kampus pengen naik bus eh ujungnya malah ketinggalan bus akhirnya terdampar disini, siapapun tolong ajak Lala bareng nanti Lala doain dapet pahala." Lala tiada hentinya mengoceh sendiri hingga membuat orang disekitarnya melirik Lala dengan raut wajah kebingungan.
Lala memutuskan untuk berjalan sambil menunggu bus datang menghampirinya, sepanjang jalan ia terus berfikir bagaimana caranya ia bisa sampai kampus tanpa berjalan kaki.
Lala mengembangkan senyumnya, ia menatap beberapa pengendara yang melintasi jalan dengan semangat Lala berlarian kecil menghampiri pengendara sepeda motor yang jok belakangnya kosong.
Lala menghentikan salah satu pengendara motor, memandang pengendara tersebut dengan raut wajah yang dibuat semelas mungkin.
"Bang tolongin Lala bang, Lala nebeng sampe kampus ya bang plissss, Lala telat banget nih mau presentasi juga, Lala mau naik ojek tapi Lala gak punya uang," ucap Lala.
Lala melihat reaksi pengendara sepeda motor yang kebingungan, ia memutuskan langsung menaiki motor tanpa menunggu jawaban dari si pengendara sepeda motor, sedangkan si pengendara sepeda motor yang semulanya bingung menjadi lebih bingung.
"Ayo bang jalan buruan Lala udah telat nih, nanti kalo Lala diomelin sama Zara emangnya abangnya mau tanggung jawab?" ucap Lala sambil menepuk-nepuk pundak si pengendara sepeda motor.
"Iya-iya sabar nyalain motornya dulu, heran ada aja orang numpang tapi berasa raja," keluh pengendara sepeda motor.
Si pengendara sepeda motor melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang meninggalkan lokasi dimana Lala memberhentikannya.
"Bang ngebut apa bang, bawa motor kaya bawa angkot yang lagi cari penumpang, nanti Lala teraktir makan bakso mba Wiwik deh tapi ngebut bawa motornya," teriak Lala.
Si pengendara motor memejamkan matanya menahan sakit pada telinganya dan ia terus mengutuk Lala dalam hatinya.
"Berisik banget sih ya ampun, beli bakso bisa naik ojek gak bisa dasar aneh," omel pengendara sepeda motor.
Lala menyengir saat mendengar perkataan pengendara sepeda motor perlahan ia mengembangkan senyumnya.
"Kan yang bayar bukan Lala bang, nanti Lala minta duit saya teman-teman Lala goceng-goceng satu orang buat patungan teraktir Abangnya makan bakso, makanya nanti abangnya jangan langsung pulang, abang tunggu aja di kantin kalo mau pesan sekarang juga gak apa nanti Lala nyusul sama teman-teman Lala," ucap Lala setengah berteriak.
Si pengendara sepeda motor hanya menghela nafasnya ia berusaha bersabar menghadapi Lala yang amat sangat berisik.
"Iya terserah lah gimana maunya, intinya Mbanya jangan teriak-teriak terus kuping saya sakit Mba dan saya gak bisa konsentrasi bawa motornya kalo Mbanya berisik terus yang ada Mbanya sampe ke rumah sakit atau klinik bukan ke kampus saya gak mau tanggung jawab ya Mba," ucap pengendara sepeda motor.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Raina makin gelisah matanya tidak teralihkan dari pintu kelasnya, begitu pula dengan Aisyah yang semulanya tenang menjadi ikutan cemas dengan Lala yang tidak muncul-muncul sedari tadi.
Farhan melihat Raina dan Aisyah begitu gelisah ia terdiam sejenak lalu mendekat ke arah mereka.
"Yaudah kalian maju terakhir aja, Lala yakin pasti nyampe," ucap Farhan.
Zara mengerutkan alisnya menatap Farhan malas.
"Percaya diri banget, waktu itu si Lala begini juga tapi dia gak muncul tuh sampe kita pulang," saut Zara.
Farhan melirik Zara sekilas lalu melangkahkan kakinya menuju depan kelas tanpa menyauti perkataan Zara.
Raina yang sedang gelisah sekaligus cemas memikirkan Lala yang tidak ada kabar sejenak teralihkan oleh Zara yang sedang bergerutu.
"Sabar ya Zar Ha-Ha-Ha, kalo kata Lala gini nih gapapa sekarang dikacangin kan masih ada besok bisa dicoba lagi kok, jangan patah semangat Zar!" ucap Raina terus menyemangati Zara.
Zara mendenger perkataan Raina hanya mendelikan matanya sebal, belum sempat ia membalas perkataan Raina, pandangannya teralihkan oleh pintu kelas yang terbuka dengan tidak santai.
Tidak hanya Zara namun seisi kelas pun dibuat terkejut saat mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan tidak santai.
"Wehhh Lala bikin kaget aja lo, gw kira ada banteng nyasar ke kelas," teriak Bimo.
Lala berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena berlari dari depan gerbang hingga kelasnya.
"Lala, kamu kemana aja? Liat tuh udah jam berapa," tegur Farhan dengan raut wajah yang sengaja dibuat dingin.
Lala menelah ludahnya dengan susah payah saat melihat raut wajah Farhan, ia mengira Farhan marah padanya dan akan menghukumnya keliling kampus 24 jam.
Lala menggelengkan kepalanya Ah gak mungkin kak Farhan tega ngehukum Lala, Ayo Lala jangan mikir yang aneh-aneh kata orang-orang kalo mikir yang aneh-aneh bakal kejadian.
"Kamu udah telat terus dateng-dateng buat seisi kelas kaget sekarang malah geleng-geleng kepala," ucap Farhan terkekeh.
"Bentar Pak dosen, Lala capek tau abis lari-larian, Lala duduk dulu boleh gak sih," keluh Lala sambil memegangi dadanya.
Lala berjalan menuju meja Farhan dengan pedenya ia mendudukan dirinya diatas kursi yang sebelumnya di duduki oleh Farhan hingga membuat perempuan yang berada di kelasnya histeris lu menyoraki Lala.
"Sudah-sudah jangan ribut, silahkan lanjut saja presentasi kelompok selanjutnya," ucap Farhan.
Raina yang berada di kursinya melirik ponselnya yang terus bergetar, banyak sekali pesan dan panggilan masuk dari Reno semenjak ia menanyakan Lala yang belum sampai di kampus pada Reno.
"Itu hp lo heboh mulu noh, pasti dari kak Fathan ya bucinnya kelewatan nih orang lagi ada kelas nelpon mulu mentang-mentang dosen yang ngajar kembarannya," ucap Zara.
"Bukan dari kak Fathan Zar, itu semua dari kak Reno kayanya dia mau nanyain Lala deh soalnya tadi gw WA dia nanyain Lala, eh sekarang malah dia yang panik," jelas Raina.
"Yaudah kamu bales aja chatnya kalo gak kamu angkat telponnya kasian juga kak Reno panik padahal orangnya lagi asik tuh nyengir-nyengir di depan bang Han," ucap Aisyah melirik Lala yang sedang Asik mengobrol dengan Farhan.
"Udahlah gak usah, biarin aja panik palingan ujung-ujungnya ntar juga nyamperin kesini," ucap Raina dengan santai.
"Kan kasian Raina, kak Reno jadi gak tenang di kantor mikirin Lala yang ngilang," ucap Aisyah.
"Udah tenang aja Ais, kak Reno itu pinter ngatur semuanya pasti gak akan ada yang berantakan kok sama dia," ucap Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Fathan dan teman-temannya yang baru saja keluar dari kelas dan berniat pergi ke kantin, Fathan mengecek ponselnya sambil berjalan.
"Eh ini si Lala ngilang, bisa ngilang juga ternyata dia," ucap Fathan.
"Palingan telat dia udah gak usah panik kita ke kantin aja dulu laper banget gw," ajak Rama sambil memegangi perutnya.
"Abang sompral emang si Rama adenya ngilang bukannya panik malah mikirin perutnya," ucap Raka sambil menggelengkan kepala.
Fathan baru saja menerima balasan dari Raina lalu dengan cepat ia kerangkul teman-temannya mengajak mereka ke kantin.
"Kok lo tenang banget sih Fath kan si Lala ilang, lama-lama lo kaya Rama nih mikir perut doang, walaupun tuh bocah rusuh banget tapi kasian juga kalo dia ngilang takutnya kenapa napa di jalan kan kasian," oceh Raka tanpa henti.
"Berisik bangat lo Rak kaya Maira, santai aja lah nih liat pacar gw bales katanya si Lala udah sampe di kelasnya," ucap Fathan.
"Ngobrol dong dari tadi," ucap Raka sambil manggut-manggut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
Selamat membaca, sekian dan terima kasih bye bye