SENIOR

SENIOR
Terjungkal


__ADS_3

Fano mendengus kesal saat melihat Cila asik bermain masak-masakan sehingga Cila tak menghiraukannya yang sedari tadi berbicara dengannya.


"Cilaaaa!" teriak Fano tepat di depan telinga Cila.


Cila memejamkan matanya meresapi teriakan nyaring Fano yang menusuk ke dalam telinganya. Setelah ia rasa Fano sudah berhenti berteriak, Cila memicingkan matanya menatap Fano kemudian menggeser sedikit tubuhnya mendekati Fano.


"Apaaaa!" Cila pun tak mau kalah, ia membalas teriakan Fano dua kali lipat dari teriakan sebelumnya.


"Dasal anaknya nenek lampil, teliak gede banget sakit nih kuping Pano," omel Fano.


"Siapa suruh mulai duluan teriak-teriak di kuping Cila wle," ledek Cila menjulurkan lidahnya pada Fano.


"Dasal nenek-nenek tua ngeselin. Nyesel Pano ngasih pinjem mainan masak-masakan punya Pano, tau gitu Pano kasih pinjem ke dede bayi aja," ucap Fano sambil bersidekap dada menatap kesal ke arah Cila.


"Pano kok ngatain Cila, awas aja nanti Cila aduin ke kak Lala sama kak Reno biar nanti Pano diomelin," ancam Cila kembali bermain masak-masakan.


Fano mendengus kesal saat Cila menyebut nama Reno dan Lala. Ia menatap Cila garang hingga membuat Cila sedikit takut padanya.


"Kak Lala sama kak Leno punya Pano tau! Gak ada yang boleh ngadu-ngadu ke dua-duanya. Dasal Cila kecil, pendek, gendut, tukang ngadu, tukang lebut olang-olang yang sayang Pano." Fano memonyongkan bibirnya menatap Cila kesal, meskipun Cila satu tahun lebih tua dari nya tetapi tinggi badan Cila lebih pendek dari pada Fano hingga membuat Fano leluasa untuk menghinanya.


Cila yang mendengar hal tersebut refleks membuang mainan masak-masakan yang sempat ia pegang, ia beranjak dari duduknya menatap Fano garang sambil berkacak pinggang.


" Biarin pendek yang penting bisa ngomong R, bimbel dulu sana biar bisa ngomong R. Dasar kurus aku senggol dikit pasti mental." Cila pun tidak mau kalah ia terus meledek Fano, kemudia dengan sengaja ia menyenggol tubuh Fano hingga membuat tubuh Fano kehilangan keseimbangan dan terjungkal kebelakang.


Cila yang melihat hal tersebut tertawa terbahak-bahak tanpa berniat untuk membantu Fano berdiri.


"Tuh kan bener Haha. Rasain tuh senggolan maut Cila." Tawa Cila terdengar hingga ruang tengah, membuat ketiga manusia yang sedang sibuk mengurus bayi pun menolehkan kepalanya penasaran dengan apa yang membuat anak perempuan tersebut tertawa sesenang itu.


"Itu bocah seneng amat kayanya jadi penasaran kenapa dia ketawa begitu, samperin ah. Titip debay bentar yak, jaga debay baik baik," ucap Rama.


Rama berlarian kecil menuju teras, ia sempat terdiam saat melihat Fano meringis di atas rerumputan yang berada di dekat teras, ia bingung harus melakukan apa saat melihat Cila yang tertawa begitu lepasnya.


"Ini ceritanya main apa sih? Polisi-polisian? Kayanya bukan dah. Si Cila juga seneng banget keliatannya, permainan bocah zaman sekarang susah dipahamin." Rama menggelengkan kepalanya sambil melangkahkan kaki menghampiri dua bocah tersebut.


"Fano ngapain rebahan disitu? Kotor woi, sini jangan disitu nanti dimakan cengcorang tau rasa." Rama menyodorkan tangannya berniat membantu Fano berdiri.


"Pano gak lebahan kak Lama, Pano disenggol tuh sama nenek gendut sampe nyungsep. Kak Lama jangan deket-deket sama nenek gendut nanti bisa nyungsep sampe depan pagel," adu Fano sambil menarik tangan Rama.


Mendengar ucapan Fano, Rama tak kuasa menahan tawanya ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Ia melirik ke arah Cila kemudian kembali menatap Fano.


"Disenggol sama Cila doang sampe nyungsep? Hahaha. Fano kan badannya lebih gede dari Cila masa iya disenggol doang nyungsep Haha," ucap Rama berusaha menghentikan tawanya.


"Kak Lama ngeselin banget sih pasti liatnya pake mata kaki ya, makanya gak bisa liat. Emang gedean Pano tapi liat tuh gendutan Cila belasa disenggol tluk gede." Fano dibuat kesal karena Rama terus menertawakannya.


Reyhan dan Aisyah yang berada di dalam dibuat penasaran dengan apa yang terjadi di teras hingga membuat Rama ikut tertawa.


"Dia nyusul, tapi dia juga yang ketawa. Selucu itu kah," gumam Reyhan.


"Kak Rey gak penasaran? Kalo penasaran liat aja sana biar dede bayinya aku yang jagain," ucap Aisyah.


"Gak. Lagian lo mana ngerti ngurus bayi sedangkan lo aja anak bontot, Si Fathan aja belom tentu bisa ngurusnya," tolak Reyhan.


"Jangan ngeremehin orang dulu dong. Gini-gini aku bisa kok ngurus bayi." Aisyah menundukkan kepalanya.


***


Bayu tersenyum saat melihat hasil gambar yang ia ambil, ia tersenyum saat melihat wajah Lala yang sedang menunjukkan cengirannya yang menurutnya terlihat menggemaskan. Hal tersebut disadari oleh Reno. Reno terus memperhatikan gerak-gerik Bayu karena ia merasa Bayu bukan teman biasa bagi Lala.


Kenapa dia sesenang itu pas ngeliatin foto Lala bahkan sampai dizoom. Kayanya dia ada rasa yang lebih dari seorang teman bisa atau pun sahabat, Lala tau apa gak ya soal ini.


Lala baru saja selesai mengganti pakaiannya, ia berjalan menghampiri Bayu. Ia penasaran dengan hasil pemotretannya hingga membuatnya lagi-lagi melupakan keberadaan Reno.


"Bayu, gimana hasilnya pasti gw cantik banget ya disitu, jelaslah Lala mah mana mungkin jelek," ucap Lala dengan percaya diri.

__ADS_1


Bayu menolehkan kepalanya melirik Lala sekilas kemudian kembali menatap kameranya. Ia menyodorkan kameranya pada Lala supaya Lala lebih leluasa melihat hasil fotonya.


"Iya cantik. Lala mah selalu cantik," ucap Bayu.


"Haha bisa aja si Bayu mah. Gw tau pasti perut lo cacingnya pada demo makanya lo puji-puji gw kaya gitu, mau makan apa sih? Ayooo kita makan tenang aja gratis kok, semua ditanggung kak Reno. Ya gak kak Reno hehe." Lala merentangkan tangannya ke arah Reno yang disauti dengan tatapan malas dari Reno.


"Yeh gw kira ditraktir sama lo. Kalo lo yang bayarin baru gw mau," ucap Bayu.


Giliran soal bayar membayar baru inget sama yang disini. Coba kalo gak bahas soal bayar pasti gak inget sama yang disini, dunia serasa punya berdua, sampe lupa kalo dia udah punya calon suami disini.


"Ayo pulang," ucap Reno dengan nada malasnya.


"Nanti dulu kak, tungguin bentar lagi ajaa. Soalnya udah lama Lala gak ketemu Bayu sumpah deh Lala kangen banget sama dia. Kak Reno baik deh," mohon Lala.


Reno menghela nafasnya berusaha mengeluarkan lebih banyak lagi stok kesabarannya karena sedari tadi Lala terus membuat kepalanya nyaris meledak.


"Pulang sekarang bareng aku atau diem disini pulang sendiri," ucap Reno melirik Bayu malas.


Bayu yang melihat wajah memerah Reno pun ikut merasakan aura-aura panas disana. Ia tersenyum melihat wajah Lala yang terlihat kebingungan sekali. Sejujurnya Bayu sangat merasa nyaman saat bersama dengan Lala, tak bisa ia pungkiri dirinya menyukai Lala. Namun ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan Lala karena ia tahu kebahagiaan Lala hanya ada pada diri Reno hanya saja Lala tidak menyadarinya.


"Gak ada pilihan yang lain?" tanya Lala.


"Gak!" ketus Reno.


"Plisss kali ini aja, sebentar doang kak atau gak kita bertiga makan aja bareng-bareng abis itu kita pulang deh, Lala pulang ke rumah Lala terus kak Reno pulang ke rumah kak Reno, tapi anterin Lala dulu ya," ucap Lala.


Reno memutar bola matanya jengah, ia kesal Lala terus memohon untuk memberikannya waktu lebih lama lagi bersama dengan Bayu. Reno memilih untuk melangkahkan kakinya membiarkan Lala disana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Lala tercengang saat melihat Reno pergi tanpa merespon ucapannya, ia kebingungan dan berusaha kembali mengulang ingatannya mengenai apa yang ia ucapkan pada Reno sebelumnya hingga membuat Reno pergi dan tidak merespon ucapannya.


"Kak Reno, kok pergi si," teriak Lala berniat ingin menyusul Reno namun tangannya ditahan oleh Bayu.


"Gak usah panik, gw tau caranya gimana dia bisa balik sendiri tanpa lo susulin. Tapi abis ini janji ya traktir gw pecel lele sumpah gw laper banget abis fotoin lo, manusia yang gak bisa diem kaya ulet jambu," ucap Bayu sengaja memberikan sedikit candaan pada Lala supaya Lala tidak cemas memikirkan Reno.


Melihat Lala yang sebegitu paniknya saat melihat Reno yang tiba-tiba saja pergi membuat Bayu menatap Lala iba. Bayu melihat Reno yang begitu tidak suka padanya pun berniat mengerjainya dengan membuat Reno semakin kesal.


"Kok balik lagi," ucap Lala dengan heran.


"Gak usah kegeeran dompet aku ketinggalan di dalem tuh," ketus Reno berjalan menuju kursi dimana ia sempat duduk.


Lala teringat dengan dompet Reno yang sempat ia pindahkan, ia pun berlarian menyusul Reno. Ia berjalan menuju meja Bayu kemudian mengambil dompet Reno memasukkannya ke dalam saku switternya.


Nah kalo kaya gini pasti kak Reno gak bakalan berani ninggalin Lala. Kalo dia pergi tanpa dompetnya nanti kalo ketemu pak polisi bisa ditilang Haha. Ada untungnya tadi Lala pindahin dompet kak Reno.


"Eh tapi emangnya ada ya polisi nilang malem-malem," gumam Lala.


"Apaan La," tanya Bayu.


"Engga Hehe, itu tadi gw lagi latihan ngobrol sendiri," ucap Lala sambil melirik Reno.


"Aku tau dompet aku ada di kamu, mana sini dompet aku," ucap Reno.


"Kok bisa tau ya, padahal Lala gak ngomong apa-apa. Wah jangan-jangan kak Reno sekarang bisa baca pikiran orang. Coba kasih tau Lala sekarang bayu lagi mikir apa kak," ucap Lala dengan heboh.


"Lama, mana sini dompetnya atau aku ambil sendiri nih ya," ucap Reno berjalan mendekati Lala.


"Iya-iya, tapi janji dulu jangan pergi pokoknya kak Reno harus temenin Lala makan pecel lele sama Bayu, pasti kak Reno laper juga kan karena fotonya lama banget. Kalo kak Reno tetap gak mau nanti Lala aduin ke mama Wina biar nanti sampe rumah kuping kak Reno jadi panjang," ucap Lala.


"Iya cerewet. Sini dulu dompetnya." Reno menengadahkan tangannya ia was-was dengan dompet tersebut takut Lala membuka dompetnya.


Jangan sampe deh dia buka dompet aku nanti yang ada bisa panjang lagi urusannya. Lagian kenapa bisa-bisanya sih aku lupa beresin dompet aku dan buang semua yang udah gak dibutuhin.


"Kak Reno kenapa panik gitu sih mukanya? Tenang aja Lala gak bakalan ambil kok uangnya, soalnya sekarang Lala cuma mau makan pecel lele aja kok," ucap Lala.

__ADS_1


"Kalian berdua ini udah mau nikah tapi dari tadi kerjaannya ribut terus, udah yuk buruan keluar dari studio karena bentar lagi studio tutup, gak kerasa juga sih sekarang udah jam 9 malem aja," ucap Bayu.


Reno bernafas lega saat Lala menyerahkan dompetnya tanpa membuka isi dompetnya terlebih dahulu.


Gapapa deh nurutin dia dulu yang penting dompet aku udah balik, kayanya aku harus buru-buru buang semuanya dah.


***


Raina terlihat sangat lelah sekali karena 2 jam setelah mereka sampai di Bandung tepatnya lokasi dimana resepsi pernikahan sahabat dengan Abangnya tersebut akan diselenggarakan. Sesampainya disana, ia langsung menuju lokasi mengamati beberapa pegawai yang mulai bekerja.


"Pasti kamu capek banget ya. Kamu istirahat dulu ya sekalian kita makan malam dulu, dari tadi kamu belom makan, aku gak mau kamu sakit." Fathan menatap Raina dengan tatapan khawatirnya.


"Iya nih mungkin gara-gara langsung ke lokasi kali ya. Yaudah kita makan aja dulu biar besok bisa lanjut lagi. Aku punya target dekorasi ini harus kelar besok biar nanti kita tinggal ajak yang lainnya aja kesini sekaligus kasih surprise buat Lala. Aku jadi ngebayangin gimana muka kaget campur senengnya Lala hehe," ucap Raina membayangkan wajah Lala yang tersenyum sumringah.


"Awas aja nanti si Lala kalo kita nikah gak ngebantuin, aku acak-acak nanti rumahnya dia, enak aja dia bikin pacar aku kecapekan kaya gini," oceh Fathan mengusap lembut rambut Raina.


"Apa sih kak jangan aneh-aneh, aku tuh seneng tau ngajalaninnya," ucap Raina.


"Yaudah terserah kamu deh, sekarang yang penting kamu makan dulu biar gak sakit dan kamu bisa lanjutin tuh dekorasi resepsinya Lala," ucap Fathan.


"Oke boss." Raina menaikkan tangannya menuju atas pelipisnya memberi hormat pada Fathan.


"Berasa lagi upacara bendera aja kamu segala hormat-hormat, udah turunin tangannya," ucap Fathan menurunkan tangan Raina.


Fathan dan Raina kini berada di salah satu restoran.


"Oh iya kira-kira yang lainnya gimana ya yang di Jakarta, apa mereka udah kelar jalanin tugasnya ya. Video call kayanya seru deh," ucap Fathan.


"Nanti aja deh kak pasti mereka yang ada disana lagi sibuk semua ngurus tugas masing-masing. Kalo gak kamu coba telpon Zara sama Farhan aja deh tanya ke mereka udah nemu belum kue sama souvernirnya, kalo udah langsung aja suruh mereka kesini tapi besok jangan sekarang," ucap Raina sambil mengunyah makanannya.


"Yaudah aku coba telpon ya, kita video call aja biar bisa sambil makan." Fathan mencari kontak saudara kembarnya kemudian memencet tombol memanggil.


Tanpa menunggu lama terlihat dari seberang sana Farhan yang sedang berada di salah satu restoran bersama dengan Zara. Sontak mereka tertawa saat melihat lokasi mereka yang kebetulan sekali sama meskipun beda tempat.


"Ternyata gini ya kalo kembaran lagi jauh aja bisa samaan begitu Haha," ucap Raina terkekeh.


"Telepatinya kita kuat Raina. Ada apa nih kalian berdua nelpon gw, sekarang kalian ada dimana?" tanya Farhan.


"Kita lagi di Bandung," jawab Fathan.


Farhan kaget saat mendengar ucapan saudara kembarnya.


"Weh gak ngajak-ngajak taunya udah sampe Bandung aja," ucap Farhan.


"Dadakan Han, acaranya kan udah mepet banget jadi kita kudu ngebut banget," saut Fathan.


"Kalian gimana kue sama souvernir udah nemu belom?" tanya Raina.


"Udah kok. Besok tinggal ambil aja Rain," saut Zara.


"Nah pas banget, besok kalian langsung kesini aja susul kita. Sekalian nginep disini biar gak bolak balik," ucap Raina.


"Seriusan? Ah akhirnya gw liburan juga," tanya Zara dengan wajah sumringahnya.


"Norak! Kaya gak pernah ke Bandung aja," ejek Farhan.


"Bodo amat deh lo mau ngomong apa yang penting gw seneng, ini seriusan kan Rain jangan phpin gw lo ya," ucap Zara.


"Serius dong. Buat apa juga gw ngeboongin lo, kalo lo gak percaya tanya aja nih sama kak Fathan. Tapi kayanya bukan kalian berdua aja sih yang kesini kayanya semuanya juga pada kesini," ucap Raina.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya gais.


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2