
Selamat membaca kalian semua.
Fathan yang berada di samping Raina menatap Raina, ia kembali teringat dengan kejadian di tempat percetakkan.
"Kayanya kamu masih mikirin omongannya Hira ya?" tanya Fathan.
"Aku salah ya kak?" tanya Raina.
"Kamu gak salah dan gak perlu mikirin yang aneh-aneh soal kejadian tadi. Kalo kamu masih penasaran dan gak yakin sama aku, kamu boleh tanya ke Fano pasti jawabannya sama," ucap Fathan.
Raina terdiam sejenak, ia kembali pada fikirannya, ia merasa kalau marahnya Fahira tadi karena Fahira tidak suka melihat Fathan berdekatan dengannya.
"Kayanya dia suka deh sama kamu kak. Jujur aku kesel, marah, emosi pas dia hina aku kaya tadi. Aku gak pernah paksa kamu buat terus sama aku bahkan kalo kamu mau pergi aku pun ikhlas ngelepas kamu, tapi kenapa mulutnya dia jahat banget," keluh Raina.
Air mata perlahan menetes kemudian mengalir perlahan di pipi Raina. Hal tersebut membuat Fathan merasa bersalah karena dirinya yang membuat air mata Raina menetes.
"Aku mohon sama kamu jangan nangis. Jangan didengerin omongannya Hira. Mau gimana pun keadaan kamu, aku selalu ada di samping kamu. Kamu bisa liat Zara atau Lala, mereka gak pernah dengerin omongan-omongan orang bahkan mereka lebih galak dari pada musuhnya." Fathan mengusap lembut air mata di pipi Raina.
Fathan menarik tangan Raina untuk ia genggam kemudian ia menatap Raina lekat, meskipun Raina tidak bisa melihat tatapan matanya yang begitu serius tetapi ia yakin mata hati Raina dapat menilai bagaimana kesungguhannya.
"Satu lagi yang perlu kamu tau, aku gak peduli gimana perasaan dia sama aku yang jelas hati aku cuma buat kamu. Hira cuma masa lalu aku. Semenjak ada kamu semua masa lalu udah aku lupain dan cukup aku jadiin pelajaran aja biar semua gak keulang di masa depan," ucap Fathan.
***
Shasha dibuat tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah menggemaskan Fano yang terus menerus mengatakan Raka curang.
"Kak chacha jangan ketawa telus, bantuin Pano dong. Tukelan stik ps nya dong kak Laka, Pano yakin nih pasti kak Laka culang." Fano menyodorkan stik ps nya pada Raka.
"Ribet banget bocah atu ini, emang dasarnya gak bisa main segala ngatain orang lain curang. Gaya-gayaan sih biasanya main pow malah nyasar ke ps," gumam Raka.
"Aku bantuin apa Fano? Aku gak bisa main ps tau," keluh Shasha.
"Bantu doa aja kak Chacha, kekuatan culang bakal kalah sama doa, baca ayat kulsi 100 kali ya kak Chacha," saut Fano.
"Weh gak usah aneh-aneh bocil, baca doa makan aja suka lupa lo," ucap Raka.
"Engga kok, kalo makan di lumah selalu diingetin sama Mama cuma kalo makan jajanan di sekolah Pano suka lupa soalnya udah kelapelan," saut Fano dengan wajah polosnya.
"Udah ah Pano bosen main ps telus, Pano mau ke kak Lala sama kak Leno aja." Fano beranjak dari duduknya dengan sengaja ia menjatuhkan stik ps membuat Reyhan yang melihat hal tersebut meneriaki Fano.
__ADS_1
"Fanoooo! Enak banget lo ya banting-banting stik ps gw. Sini lo! Dasar biang rusuh," teriak Reyhan.
"Maapin Pano ya. Jangan malah-malah telus kak Ley nanti cepet tua nanti kak Kinan gak mau sama kak Ley tau lasa. Kalo lusak beli lagi aja, Bye bye," teriak Fano sambil berlarian mencari keberadaan Lala dan Reno.
Fano menghampiri Fathan dan Raina, ia melangkahkan kakinya perlahan karena tidak sengaja ia melihat Raina sedang menangis.
"Kak Laina kenapa nangis? Dicubit sama kak Patan ya?" tanya Fano.
Fano memicingkan matanya menatap Fathan penuh selidik, ia menggeser tubuh Fathan hingga kini posisinya berada di antara Fathan dan Raina. Sedangkan Fathan hanya mendengus sebal sambil meledek Fano dari balik punggung Fano.
Untung sepupu Raina kalo bukan udah gw karungin nih anak, lagi asik berduaan malah dia nyempil di tengah.
"Kak Patan meskipun kita kembalan tapi Pano gak telima kak Patan cubit-cubit kak Laina. Liat nih kak Laina Pano balesin, lasana cubitan Pano nih." Fano mencubit gemas lengan Fathan.
"Nyubit apa lagi kelitikin sih, jadi bingung nih mau nangis apa ketawa. Fano maunya apa nih?" tanya Fathan.
"Nangis dong bial samaan kaya kak Laina, kalo pacalan itu halus kompak tau," saut Fano.
"Ada-ada aja si Fano mah tingkahnya, kak Raina gak dicubit kok sama kak Fathan cuma lagi sedih aja," saut Raina.
"Oh gitu. Cewe suka aneh-aneh kadang suka sedih sendiri terus suka ketawa-ketawa sendiri," ucap Fano.
"Mau ngapain nyari dia berdua? Udah Fano disini aja jangan gangguin mereka. Biarin mereka berduaan kasian mereka udah mau nikah tapi masih digangguin terus," ucap Fathan.
"Emangnya orang nikah itu harus belduaan dulu ya? Masa Pano gak boleh ikutan sih, kak Lala sama kak Leno udah gak sayang Pano lagi ya." Fano menundukkan kepalanya memasang wajah muram.
"Oh harus dong. Makanya Fano di sini aja sama kita, nanti kalo kita yang nikah Fano nebeng ke yang lain juga," ucap Fathan.
Perkataan Fathan membuat Fano kebingungan hingga membuat dirinya menggaruk kepalanya berulang kali sambil menatap Fathan gusar.
"Kak Patan ngomong apa? Suel deh Pano gak ngelti, udah ah Pano mau keliling aja caliin kak Lala sama kak Leno. Kak Patan jangan cubit kak Laina lagi!" ucap Fano.
Fano turun dari sofa kemudian ia berlarian dengan pola zig-zag mencari Reno dan Lala.
Fathan dibuat melongo saat melihat kepergian Fano.
"Sepupu kamu ngeselin banget ya, aku udah ngomong panjang lebar dia gak ngerti sama sekali, sampe kering nih tenggorokan aku," keluh Fathan.
"Haha kasiannya pacar aku ini. Lagian anak kecil seumuran Fano mana ngerti sama pembahasan kamu, gak usah ngadi-ngadi makanya," ledek Raina.
__ADS_1
"Ini juga pacar aku sendiri bukannya ngebelain aku malah ngeledekin, awas kamu ya aku gigit," omel Fathan.
"Eits gak boleh, tadi Fano bilang apa? Aku aduin ya ke Fano," ucap Raina.
"Gak boleh kenapa. Fano kan bilangnya gak boleh cubit kamu bukan gigit kamu," saut Fathan.
"Tau ah terserah kamu aja," pasrah Raina.
***
Rama menatap sekitar dengan tatapan jengah karena sedari tadi ia melihat teman-temannya sedang sibuk dengan pasangan masing-masing hingga melupakannya.
"Aisyah lo gak bosen apa liat orang-orang itu pada beduaan mulu, berasa dunia punya masing-masing yang jomblo dicuekin, liat aja ya nanti kalo gw punya pacar auto gw kacangin mereka," oceh Rama.
Aisyah terkekeh melihat raut wajah Rama yang sedang kesal.
"Makanya kak cari pacar sana biar gak iri Haha. Aku sih gapapa seru tau liat mereka berasa liat drama korea," ucap Aisyah sambil menatap ke arah teman-temannya.
Rama bergedik ngeri saat mendengar Aisyah yang menyebut kedekatan teman-temannya dengan pasangan masing-masing seperti drama korea. Telinganya seakan menolak keras apa yang dikatakan oleh Aisyah.
"Gak usah berlebihan deh Aisyah. Drama korea apaan yang ada drama kisah nyata indosiar ku menangisssss," saut Rama.
"Ih ... Parah banget kak Rama. Tapi gapapa sih kan endingnya si orang jahat ketabrak mobil terus meninggal kalo gak masuk rumah sakit terus endingnya bahagia deh," ucap Aisyah dengan senyum merekah.
"Ais udah woy, ntar yang ada gw berimajinasi mereka ada di drama indosiar kan gak lucu," protes Rama.
"Berisik banget kalian berdua, gw aja yang sendirian biasa aja," sambung Reyhan.
Rama melirik sinis ke arah Reyhan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam obrolannya dengan Aisyah.
"Suara siapa sih tadi? Gak diajak ngomong tapi ikut-ikutan aja, jadi serem banget rumahnya Raina hishhh ... Nanti lo bilang ke Raina suruh adain pengajian Ais soalnya serem banget terang begini dia berani munculin suaranya," ucap rama bergedik ngeri.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar, kalo ada unek-unek soal gimana ceritanya juga boleh.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1