SENIOR

SENIOR
0.7


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Aku lumayan sembuh. Tubuhku sudah tidak lemas lagi. Besok aku sudah bisa pergi kuliah seperti biasa.


 Selama tiga hari ini, Tina pergi ke kampus sendirian. Dia bilang dia merasa kesepian karena tidak ada aku di sampingnya. Tina juga bercerita padaku bahwa kemarin Jongdae datang menemuinya, bertanya pada Tina tentang keadaanku. Dari cara Tina berbicara, bisa ku simpulkan bahwa Tina kurang suka dengan Jongdae. Ya, meskipun setiap bertemu Tina selalu menyapa Jongdae dengan ramah. Tina menyarankan agar aku tidak terlalu dekat dengan Jongdae, karena dia adalah orang baru. Aku mengiyakan saja, meski tidak tahu ke depannya akan bagaimana. Yang ku lihat, sih, bang Jongdae adalah orang yang baik. Dia mau repot - repot mengantarkan aku pulang. Aku sudah memberi tahu pada Tina soal itu, tapi cewek itu tetap saja waspada kalau aku terlalu dekat dengan bang Jongdae. Aku memanggilnya 'bang' saja agar lebih pas di lidah orang indonesia. Hehe.


 Pukul 12 siang. Aku sedang berbaring di kamar sambil mendengarkan musik. Menunggu Christina yang katanya akan pulang kuliah sebentar lagi. Hari ini hanya Tina hanya dua jam saja di kampus. Dan langsung pulang, dia tidak ke perpustakaan karena katanya malas kalau tidak bersama ku. Dia lebih memilih pulang ke asrama dan menghabiskan waktu dengan ku.


 Beberapa menit kemudian, Tina masuk ke kamarku. Tangannya membawa semangkuk bubur dan dua cup tiger sugar. Mataku berbinar melihatnya. Langsung saja ku ubah posisiku dari tidur menjadi duduk. Setiap pulang kuliah, Tina selalu membawakan aku makanan atau minuman. "Bubur?"


 


Dia memberinya padaku, lantas duduk di meja belajar. "Iya, makanlah. Kau sudah baikan?"


 Aku memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutku, lalu menangguk. " Besok aku kuliah. Kau tenang saja."


 "Akhirnyaaaa. Aku bosan sekali, Va."


 "Bosan? Kan bisa cari teman lain, Tina. Di kelas ramai, kan?" Menurutku, Tina adalah orang yang mudah bergaul dan berbaur dengan lingkungan. Tapi, aku tak pernah melihatnya punya teman selain aku di kampus.


 "Reva, orang Korea yang mau di ajak bicara hanya di kelas kita hanya tiga orang. Selebihnya sibuk urusan masing - masing. Aku susah mencari teman di sini, hanya kau yang mudah di ajak interaksi."


 Benar juga. Ku lihat orang - orang di sini jarang mengobrol kalau tidak kenal. Untunglah, aku bertemu dengan Tina yang super duper baik memahami dan menemaniku kapan pun dan dimana pun. "Iya juga, sih. Jadi, habis ini kita ke mana?"


 "Hei, kau baru saja sembuh. Besok baru kita pergi jalan - jalan lagi. Kita karaokean saja di ruang tengah biar mood mu bagus."


 Aku meletakkan mangkuk bubur, Tina memberiku minum. "Ada Minah tidak?" Aku takut Minah mengamuk lagi seperti kemarin." Ya. kemarin sore Minah melempar semua sepatu kami yang disusun di dekat pintu masuk. Dia marah karena sepatunya kotor karena tak sengaja terinjak oleh Tina. Pada saat itu Tina sudah menjelaskan dan berjanji akan bertanggung jawab dengan mencucinya segera. Akan tetapi, Minah tidak mau mendengar. Dia melempar semua sepatu dan sandal yang tersusun di rak sepatu. Alhasil, semuanya berantakan. Tina dan Aku membereskannya, merapikannya kembali seperti semula. Tina langsung mencuci sepatu Minah yang kotor itu. Sejak saat itu, hubungan kami yang tadinya sudah renggang semakin renggang. Sampai detik ini aku dan Tina masih bingung apa yang menyebabkan Minah jadi bersikap seperti itu pada kami.


 Tina membereskan makananku, dia bangkit berdiri. "Tidak usah khawatir, yuk ke luar terus." Dia berjalan ke luar kamar terlebih dahulu.


 Dengan ragu Aku turun dari kasur, dan mengikuti langkah Tina. Cewek itu langsung menyalakan sound system. Jadi, di ruang tengah yang kecil ini, di fasilitasi televisi, dvd, alat untuk karaoke, dan kipas angin.


Biasanya yang sering nongkrong di sini adalah Minah, cewek itu sangat betah di sini. Kadang, ia membawa teman - temannya karaoke-an bersama. Sampai - sampai aku dan Tina selalu terusik karena volume yang terlalu besar. Ku rasa kali ini Tina ingin balas dendam, Minah sedang tidak ada.


 "Balas dendam, nih, ceritanya?" Di akhir kalimat, aku terkekeh kecil.


 "Jelas. Kita harus bisa seperti dia juga. Minah tidak bisa seenaknya saja melakukan sesuatu yang mengganggu kita. Kita harus membalasnya."


 "HAHAHA."


 Lagu mulai diputar. Kami berdua menyanyikan lagu Tears. Lagu korea dengan nada panjang itu. Aku tertawa geli saat Tina berusaha mencapai highnote namun gagal. Alhasil, suaranya jadi seperti kambing ingin melahirkan. Suara Tina terlalu lucu bagiku. Sangat unik.


 Ketika kami sedang asyik bernyanyi, pintu terbuka. Tampak Minah bersama tiga temannya menenteng belanjaan. Sepertinya mereka akan berpesta.


 Musik masih menyala. Tina sengaja bernyanyi teriak - teriak, agar Minah merasa terganggu dan marah. Aku meletakkan mic - ku, bangkir dari duduk lalu mundur beberapa langkah saat Minah memasang tampang emosi, ya kemarahannya sebentar lagi akan meledak. Tapi Tina tidak peduli, dia terus bernyanyi.


 Minah berjalan mendekat, mematikan alat karaoke. Juga televisinya. " Yak! Suara kau yang sangat jelek itu bisa membuat gendang telinga ku pecah seketika kalau kau tidak segera menghentikannya." Nada suaranya naik beberapa oktaf, wajahnya sudah memerah.


 Perang akan dimulai sebentar lagi. Aku mundur lagi beberapa langkah. Jika aku adalah oranng yang mudah sekali memaafkan dan mudah mengalah, berbanding terbalik dengan Tina. Dia adalah orang yang pemberani, tak segan- segan melawan siapa pun yang memancing emosinya. Ku rasa, Tina suka melawan orang sok berkuasa seperti Minah.

__ADS_1


 Tina berdiri, dia menaruh mic. Menebas jarak antara dia dan Minah. Sekarang, keduanya sudah berhadapan sambil memasang eksresi garang.


 Uh, ku harap tidak ada acara jambak - jambakan kali ini.


 "Apa hak kau menghentikan kegiatanku dan Reva?" Tangan Tina bersidekap. Tatapan yang dia berikan pada Minah sangat menusuk.


 "Tentu saja. Kau tak sadar ya suaramu itu bisa menggangguku dan teman - temanku." Dia melirik temannya yang masih berdiri di dekat pintu. Wajah mereka juga memasang ekspresi tidak mengenakkan. "Kau paham,, kan?" Minah secara tiba - tiba mendorong bahu Tina sampai dia terdorong ke belakang, untung tidak sampai jatuh karena aku dengan sigap menahannya.


 Tina maju lagi beberapa langkah. Ia balas mendorong bahu Minah, teman - teman Minah memegang Minah. "Lalu apa hak kau membawa teman - temanmu ke kamar kita?"


 "Kau ini sangat menjengkelkan." Minah menampar pipi Tina, lalu menjambak rambut Tina yang tergerai. Tina tampak sedikit meringis karena itu.


 Tak ingin kalah, Tina membalas menjambak rambut terikat Minah. "**** sepertimu pantas diperlakukan seperti ini." Umpatnya, dia semakin mengamuk.


Aku panik bukan main. Aku mencoba memisahkan mereka berdua namun gagal. Temannya Minah pun berusaha melerai, barulah keduanya berhenti menjambak satu sama lain.


 "Udah, Tina. Kita pergi saja dari sini. Tak ada gunanya meladeni orang sok berkuasa dan mau menang sendiri," ku rapikan rambut Tina yang sudah acak - acakan.


 Sementara itu, Minah masih menatap kami dengan tajam. "Keparat bodoh! Mati saja kau!"


 Aku segera membawa Tina ke luar sebelum pertengkaran semakin menjadi. Takutnya mereka akan lebih parah lagi menyerangnya. Untung saja tidak sampai pukul - pukulan. Haduh.


 


******


 


 "Kontrol emosi kau, Tina. Terlalu banyak marah tidak baik untuk kesehatan jantung."


 "Hah. Ayo kita makan siang saja. Pertengkaran tadi benar - benar membuat tenaga aku terkuras habis."


 "Terserah kau saja. Ayo!"


 Matahari bersinar tidak terlalu terik, jadi orang - orang bebas jalan kaki di atas aspal tanpa takut kulit gosong. Termasuk aku dan Tina.


 Tak butuh waktu lama, Aku dan Tina dengan mudahnya menemukan restoran terdekat yang buka dua pulu empat jam. Jadi, kalau malam - malam pergi pun bisa snggah di sini.


 Kami memesan beberapa makanan seperti biasanya. Bulgogi, kimchi, bibimbap, jajangmyeon, dan tteokpoki. Aku terkejut melihat porsi makan Tina yang dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. "Jika sedang marah, nafsu makan mu bertambah, ya, Tina?" Tatapanku tak lepas dari Tina yang sudah makan dengan lahap.


 "Itu tak usah kau tanya lagi. Aku memang seperti ini. Jangan terus - terusan melihatku seperti itu, kapan kau akan makan?"


 "Ah, iya."Aku tersadar dan langsung makan kimchi dengan nasi. "Aku tidak pernah menyangka Minah akan main kekerasan fisik. Apa pipi mu baik - baik saja? Ku lihat dia menampar sangat kuat sampai - sampai bunyinya nyaring terdengar. Aku takut gigi kau rontok, Tina."


 "Santai saja. Kau tak perlu khawatir, Reva. Aku ini kuat. Sejak kecil aku diajarkan karate. Jadi bagiku ditampar dan dijambak seperti tadi adalah hal yang biasa. Aku bisa saja membuat Minah tepar tapi sayangnya aku masih sadar dia itu lemah."


 Penuturan Tina sukses membuat aku tak berkutik. Pantas saja Tina tidak takut untuk melawan, ternyata itu alasannya.

__ADS_1


 "Ohh, begitu." Aku menyeruput jus jeruk. Segar sekali rasanya, di siang hari seperti ini meminum jeruk dingin. "Tugas dari dosen kim jongdeok sudah kau selesaikan?"


 "Sudah. Aku juga sudah mengerjakan punyamu, Reva. Kau tidak perlu repot- repot memikirkannya lagi."


 "Really?" Bola mataku membelalak, sementara Tina mengangguk santai sambil makan mi jjajangmyeon. "Aaa thank you so much, Tinaaa!" Spontan aku memeluk Tina karena saking gembiranya, membuat Tina belepotan.


 "Iyaa, sama - sama. Habis ini kita ke mana? Sebelum kembali kuliah, kau harus happy dulu, Reva."


 Aku berpikir sejenak, "hmm, toko baju? Bukankah kemarin sebelum aku sakit kau mengajakku belanja baju, kan?"


 "Benar juga. Kita beli skincare sekalian, ya?"


"IYA!"


 


******


 Matahari sebentar lagi terbenam. Kami pulang membawa banyak belanjaan. Harga pakaian di sini mahal - mahal. Termasuk skincare juga. Ku rasa aku harus hemat - hemat, rasanya meminta uang pada Papa membuatku malu. Aku tak suka merepotkan mereka. Kemarin saja Mama menelponku karena dia dengar kabar bahwa aku sakit. Lalu dia menceramahiku seperti biasa. Sudah ku duga, Dita pasti memberi tahu pada Kak Rezi, meskipun cewek itu berjanji tidak lapor ke Mama. Memang, sih, dia tidak lapor ke Mama, tapi Kak Rezi, kan comel. Jelas lah, dia pelakunya.


 Saat masuk ke dalam kamar kami, betapa terkejutnya aku dan Tina melihat kekacauan yang terjadi. Mulutku menganga lebar dan Tina mematung. Ruang tengah kami sudah kacau, berantakan. Minah dan teman - temannya sedang berpesta pora. Mereka mabuk. Botol soju dan wine terpampang nyata di atas meja kecil. Ketiga cewek itu sudah mabuk berat, Minah tertawa gak jelas melihat kami yang berdiri mematung.


"Dia sangat gila." Gumam Tina tak melepaskan pandangannya dari mereka.


 Aku menelan ludah dengan susah payah, sungguh kaget. Baru kali ini aku menyaksikan secara langsung di depan mataku, orang mabuk minum alkohol. Syok pastinya. Di Indonesia, tidak pernah. Dan aku juga jarang bertemu orang mabuk.


 Minah mendekat ke arah kami dan ia menarik tanganku untuk ikut duduk bersama mereka sambil minum. Aku menolak, tapi dia terus menarikku kuat - kuat. Tina yang melihat itu pun gerak cepat menolongku agar tak dipaksa minum dengan Minah.


 "Kau benar - benar sudah gila, Minah. Ini asrama. Bukan rumah mu yang bisa kau perbuat seenaknya. Kau sama sekali tidak menganggap keberadaan Aku dan Reva!" Tina membentak, dan ternyata Minah tersulut emosi.


 Kan, perang akan terjadi lagi. Wajah Minah memerah, menahan amarah. Aku yang melihat itu pun bergegas membawa Tina masuk ke kamarnya. Sebelum terjadi pertengkaran yang lebih sadis lagi, Aku menyelamatkan Tina. Ya, walaupun cewek itu berani - berani saja menghajar Minah.


 Cepat - cepat ku tutup pintu kamar Tina. Belanjaan ku letakkan di dekat pintu. Tina duduk di meja belajar. Aku terduduk di lantai, tepatnya merosot dibalik pintu. "Aku tidak habis pikir dengannya," gumamku yang masih syok. Jantungku berdebar cepat karena ketakutan. Untung saja Tina segera menarikku ke dekatnya, kalau tidak bisa - bisa Minah nekad meminumkan alkohol itu padaku secara paksa.


 "Tenangkan dirimu, Reva. Aku tahu kau kaget. Tak akan ku biarkan perempuan gila itu berbuat yang tidak - tidak terhadap kau. Aku bisa saja menghajarnya kalu dia semakin bertingkah tidak waras."


 Aku mengangguk. "Ku rasa hubungan kita bertiga akan semakin buruk setelah ini."


 "Biar kan saja. Tingkahnya memang sangat memuakkan. Kita tidak pantas berteman dengan dia."


 "Apa sebaiknya kita minta tukar roommate saja,ya, pada pihak asrama?" Jujur saja, lama - lama aku tidak tahan dengan perilaku dan tingkah Minah yang seenaknya.


 Tina menghela napas lelah. "Tidak mungkin bisa lagi, Reva."


 "Aku merasa sangat terganggu. Minah sungguh keterlaluan." Kepalaku menunduk. Aku jadi tidak betah di sini kalau begini ceritanya.


 Tina mendekat, menyuruhku untuk masuk ke kamarku sendiri, aku menuruti saja. "Tenangkan dirimu, Reva. Kau harus berani menghadapi Minah. Tak perlu takut, dia dan kita sama - sama manusia. Lawan saja kalau kau mau."

__ADS_1


 "Baiklah. Aku ke kamarku dulu. Good night, Tina."


 Aku keluar dan masuk ke kamarku yang bersebelahan dengan Tina. Tak lupa membawa belanjaan yang kami beli tadi.


__ADS_2