
Orang yang sengaja datang untuk memenuhi panggilan Maira dibuat kaget setelah melihat foto orang yang ditunjukkan oleh Maira melalui foto sosial medianya. Wajah yang ada di foto tersebut sangat tidak asing bagi dirinya. Ia kembali teringat dengan kejadian 4 tahun yang lalu disaat dirinya dibantu oleh orang yang ada di dalam foto tersebut pada saat dirinya kesusahan bahkan ketika ia dikucilkan oleh teman-temannya.
Ini kan Raina. Seriusan si Maira punya dendam sama Raina. Orang baik kaya Raina kenapa masih ada aja yang punya dendam sama dia.
Maira menatap teman perempuannya tersebut. Ia bingung dengan respon temannya yang tiba-tiba saja diam setelah ia melihatkan foto Raina padanya.
"Nov ... Nova! Hallo, kok lo diem sih." Maira melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah teman perempuannya yang diketahui bernama Nova tersebut.
Yaa ... Perempuan yang sengaja dipanggil oleh Maira adalah Nova yang merupakan sepupu dari Maira. Novi adalah salah satu teman Raina semasa SMA. Nova ini salah satu orang yang dibantu oleh Raina ketika ia mengalami kesulitan hingga membuat Nova tidak mungkin lupa dengan semua kebaikan Raina padanya.
Nova terkesiap sambil mengerjapkan matanya berkali-kali, ia lupa kalau Maira kini masih berada di hadapannya.
"Abis gw kasih liat foto dia, kenapa lo diem gitu? Lo kenal sama dia," tanya Maira dengan tatapan penasarannya.
Pertanyaan Maira sontak membuat Nova sedikit canggung dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan sebisa mungkin memasang wajah santainya.
"Enggalah. Gw aneh aja sama lo Ra makanya gw diem. Ini cewe keliatannya baik loh bahkan gak ada aura-aura jahatnya kenapa lo bisa dendam banget sama dia," ucap Nova terkekeh sambil menujuk foto Raina yang ada di layar ponselnya.
"Lo gak tau aja dia kaya apa. Dia emang gak jahat kaya penjahat pada umumnya, tapi dia itu penjahat di dalam hidup gw Nova. Dia udah ngehancurin semuanya. Dia udah ambil semua orang yang gw sayang dan sekarang dia sama teman-temannya juga udah jeblosin gw ke penjara. Ini gw ada di penjara bukan pertama kalinya tapi kedua kalinya Nov. Sampe kapan pun gw gak akan biarin dia bahagia diatas penderitaan gw." Tersirat dendam begitu dalam di balik mata Maira yang begitu mudah dibaca oleh Nova. Nova yang sama sekali tidak mengerti dengan ujung pangkal permasalahan diantara mereka membuat dirinya sulit untuk mencari tahu kebenarannya.
"Oh gw tau nih pasti masalahnya gara-gara rebutan cowo ya. Haduh Maira ... Maira ... Cowo di dunia ini gak cuma satu loh masih banyak cowo yang lebih baik dari cowo yang lo suka itu. Lo itu cantik Ra, gw yakin banyak cowo-cowo yang mau sama lo," ujar Nova.
Maira menghela nafas gusarnya setelah mendengar perkataan Nova. Ia kesal dengan Nova yang sengaja ia panggil untuk membantunya justru Nova malah memberikannya ceramah yang sama sekali tidak ia butuhkan.
"Lo gak akan ngerti Nova karena lo gak pernah ngerasain gimana gak enaknya di posisi gw. Gw manggil lo kesini bukan buat ceramah. Gw gak butuh ceramah Nov," ucap Maira dengan nada kesalnya.
Nova menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan fikiran Maira.
"Gw heran deh sama cewe yang pemikirannya sempit kaya lo gini. Ada banyak cowo yang lebih cakep kenapa kalian suka banget mempersulit diri kalian sendiri buat rebutin hal yang receh kaya gini. Iya gw emang gak pernah ada di posisi lo dan gw pun gak mau ada di posisi lo tapi setidaknya plis jadi cewe yang pinteran dikitlah Maira," ucap Nova yang masih berusaha memberikan wejangan pada sepupunya tersebut.
"Lo mau bantuin gw gak! Kalo lo ceramahin gw terus mending lo pergi aja deh gak usah kesini. Percuma aja gw punya sepupu gak bisa diharepin kaya lo," ketus Maira.
Nova terdiam berusaha berfikir sejenak. Setelah ia mendengar bagaimana cerita dan respon Maira padanya. Ia bisa menyimpulkan kalau permasalahan tersebut ada pada Maira.
"Oke-oke gitu aja marah baperan banget lo. Emangnya lo mau gw ngapain?" tanya Nova.
"Gitu dong dari tadi, tinggal tanya aja gw maunya apa, segala pake ceramah dulu bikin kuping panas aja," ucap Maira.
Maira tersenyum senang saat mengetahui Nova yang mau membantunya. Ia mendekatkan dirinya pada Nova kemudian membisikkan sesuatu pada Nova yang berhasil membuat Nova membelalakan matanya karena kaget sekaligus tidak menyangka dengan apa yang dibicarakan oleh sepupunya tersebut.
"Serius lo Ra! Bener-bener gila lo ya. Resikonya gede banget loh itu, lo mau bikin gw masuk penjara ya, tega banget lo sama sepupu sendiri," protes Nova.
"Gw cuma perlu lo bantuin gw aja sampe gw bebas karena gw yakin bentar lagi gw bakal bebas dari sini. Nanti biar gw yang lakuin semuanya, lo cukup bantu gw aja sampe gw bebas dari sini. Paham kan?" jelas Maira.
Nova menganggukkan kepalanya menatap Maira dengan tatapan tak menyangkanya.
"Yaudah kalo gitu gw balik dulu ya. Baik-baik lo disini gak usah aneh-aneh. Cukup sekali aja nih ya gw bantuin lo, abis itu gw gak mau ikut-ikutan lagi, hutang budi gw cuma sekali jadi setelah ini gw gak ada urusan sama lo," ucap Nova sambil menggeser kursinya.
"Iya. Dasar sodara perhitungan. Oh iya sekalian gw titip Papa gw ya, jagain dia selama gw di penjara. Gw yakin pasti dia kesepian banget disana," ucap Maira tersenyum kaku.
__ADS_1
"Ternyata orang jahat masih inget juga ya sama bapaknya Haha. Tenang aja bapak lo aman terkendali, gw ikhlas ngurusnya kok. Lagian dia kan satu-satunya sodara yang gw punya lebih tepatnya sih yang paling peduli sama gw Hehe," ucap Nova dengan cengiran diakhir kalimatnya.
***
Reno yang baru saja selesai meeting di luar kantornya melihat penjual boneka hewan dengan berbagai macam bentuk hewan.
Reno melangkahkan kakinya menuju penjual boneka, ia tertarik dengan salah satu boneka berbentuk nyamuk. Ia terkekeh geli saat melihat boneka bentukkan nyamuk tersebut membuat dirinya teringat dengan Lala. Awalnya Reno berniat membelikan boneka untuk Vico, Cila dan Fano tetapi saat melihat boneka nyamuk tersebut membuatnya kembali teringat dengan Lala.
"Pasti Lala seneng banget deh pas tau aku bawa pulang boneka nyamuk ini buat dia. Aku beli 4 aja deh sekalian biar gak ada yang iri," gumam Reno.
Reno memilihkan boneka ayam untuk Fano, boneka kucing untuk Cila, boneka gajah untuk Vico dan tak lupa boneka nyamuk untuk Lala istrinya.
"Tumben banget Mas ada yang beli boneka nyamuk, buat siapa emangnya," tanya penjual boneka.
"Ah iya Pak, boneka nyamuk ini buat istri saya. Doain ya pak semoga istri saya suka sama bonekanya" saut Reno tersenyum senang.
Penjual boneka menatap Reno dengan tatapan anehnya. Baru kali ini ia mendapatkan pembeli yang anehnya seperti Reno.
Sejak kapan ya suami beliin istrinya boneka hewan begini. Boneka hewannya boneka nyamuk lagi. Dimana-mana mah suami kalo mau beliin istrinya boneka pasti yang ada lope-lopenya kalo gak boneka beruang gede ini kok malah beliin boneka nyamuk, udah gitu bonekanya kecil lagi. Ah biarin aja lah bukan urusan saya juga. Semoga aja anak ini gak diusir dari kamarnya ya sama istrinya.
Setelah menerima boneka yang ia beli dan membayarnya pada bapak penjual boneka. Reno berpamitan pada penjual boneka berniat pergi ke kampus Lala untuk menjemputnya.
"Jemput Lala dulu terus ajak makan abis itu kasih boneka ini deh, aku yakin pasti dia seneng banget dikasih boneka ini. Aku kan punya istri yang kelakuannya ajaib dan suka banget yang aneh-aneh," gumam Reno berjalan sambil senyum-senyum sendiri.
***
Fathan memutuskan untuk tidak keluar dari kelas Raina saat mengetahui saat ini yang mengisi kelas di kelasnya Raina adalah saudara kembarnya sendiri. Ia sengaja menyuruh Lala mencari kursi lain dengan menjanjikan Lala berbagai macam cara.
Raina sengaja menutupi mata Fathan dengan telapak tangannya supaya Fathan tidak terus menerus menatapnya.
"Kak jangan liatin terus, aku gak bisa fokus perhatiin materi yang kak Farhan jelasin. Kamu seneng ya liat aku jadi bloon di mata saudara kembar kamu," protes Raina.
"Abisan aku iri sama Han yang kamu liatin terus. Padahal aku ada di samping kamu tapi kamu liatin dia terus. Tenang aja aku bisa ajarin kamu kok kalo kamu gak ngeri. Dia jabatannya aja dosen aslinya tiap hari nanya ke aku terus sayang," ucap Fathan dengan pelan supaya tidak menganggu yang lainnya.
"Nyatanya sekarang dia dosen kamu masih mahasiswa. Udah ah aku mau fokus belajar, kalo kamu gangguin aku terus aku pindah nih ya," omel Raina.
"Pindah aja, nanti aku tinggal ngekor aja kan gampang," saut Fathan memberikan senyuman manisnya pada Raina hingga membuat beberapa teman perempuan Raina salah tingkah melihat Fathan yang tersenyum.
"Dasar nyebelin," ketus Raina memalingkan wajahnya kembali fokus pada Farhan yang sedang menjelaskan materi.
"Gak usah liat Han terus. Lagian muka kita sama tau, aku juga bisa kok ngajarin kamu materi yang dijelasin sama Han. Kamu liat sini aja," ucap Fathan menggeser posisi kepala Raina menjadi berhadapan dengannya.
Farhan yang sedari tadi menjelaskan materi terus menatap ke arah saudara kembarnya dan Raina. Ingin sekali rasanya ia melempar saudara kembarnya tersebut dengan spidol yang ada di tangannya supaya Fathan tidak terus-menerus mengganggu Raina yang sedang mengikuti kelasnya.
"Tolong buat laki-laki yang mukanya mirip sama saya mau ke depan jelasin apa yang barusan saya jelasin ya," ucap Farhan menatap saudara kembarnya dengan tatapan jengkel.
Raina menatap keduanya bergantian dengan tatapan kebingungan. Ia menolehkan kepalanya pada Fathan kemudian terkekeh.
"Sukurin disuruh maju. Sana jelasin buruan. Liat tuh mukanya kak Farhan kesel banget tuh," ucap Raina sambil melirikkan matanya ke arah Farhan.
__ADS_1
"Oke. Gitu doang mah kecil liat nih ya aku tunjukkin kehebatan aku. Karena aku yang jelasin di depan berarti kamu harus liat ke aku. Aku jamin kamu gak akan lupa sama materi hari ini," ucap Fathan dengan percaya diri ia beranjak dari kursinya.
Fathan berjalan menghampiri saudara kembarnya tanpa ekspresi. Ia mengambil spidol yang disodorkan oleh Farhan padanya kemudian menyuruh Farhan untuk menjauh darinya.
"Sok-sokan masang muka sedatar tembok. Padahal tadi di sana dia senyum-senyum gak jelas sambil ngeliatin pacarnya. Untung dia sodara kembar gw kalo bukan udah gw coret-coret tuh muka dia," gerutu Farhan sambil melangkahkan kakinya menuju kursi yang sebelumnya digunakan oleh Fathan untuk duduk.
"Raina tolong besok usir aja dia kalo dia masuk lagi kesini ya," ucap Farhan.
Raina refleks menolehkan kepalanya saat mendengar suara Farhan, Ia mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Farhan.
"Dosen yang ngajarnya aja ngebiarin dia ada disini masa aku ngelarang," saut Raina.
"Justru itu gw minta tolong sama lo. Kalo gw yang ngusir nanti yang ada malah gw yang keusir secara dia kan Abang gw Raina walaupun beda beberapa menit doang," saut Farhan.
Fathan yang sudah mulai menjelaskan dibuat kesal saat melihat Raina sedang mengobrol dengan saudara kembarnya. Hal tersebut membuat Fathan hilang semangat untuk menjelaskan materi. Fathan melemparkan tutup spidol yang berada di dalam genggamannya ke arah Farhan dan tepat sekali mengenai kepala Farhan.
"Kok jadi saya yang jelasin materinya ya pak dosen. Pak dosen kok malah ngobrol sama pacar saya sih. Pak dosen makan gaji buta ya," sindir Fathan dengan nada dinginnya.
Farhan menghela nafas pendeknya, menatap jengkel saudara kembarnya.
"Punya sodara kembar kok bucin banget ya. Awas aja lo ya gw aduin ke Bunda, kalo hari ini lo gangguin gw, buat rusuh di kelas yang gw ajar dan malu-maluin," gerutu Farhan.
Farhan beranjak dari kursinya menghampiri Fathan dengan raut wajah masamnya, ia mengambil spidol dengan tidak santai kemudian menutup spidol tersebut.
"Tutup spidolnya nanti tintanya kering. Dasar mahasiswa gadungang. Sana balik ke kelas kamu, ini kelas mahasiswa semester 5 bukan mahasiswa semester tua kaya kamu," omel Farhan.
Seisi kelas berusaha sebisa mungkin menahan tawanya ketika menyaksikan perdebatan menggemaskan kedua laki-laki berparas tampan tersebut.
"Gemes banget sih mereka, ternyata kembaran kalo debat lucu juga ya" bisik salah satu mahasiswa.
"Berasa dapet tontonan gratis nih,"
Zara menggelengkan kepalanya saat melihat suasana kelas yang mulai tidak kondusif, ia beranjak dari kursinya berjalan menghampiri saudara kembar yang sedang berdebat.
"Bisa gak kalo ribut jangan di jam pelajaran kaya gini. Profesional dikit dong, ini kampus bukan di rumah," ketus Zara.
"Saya tau ini kampus siapa bilang ragunan," saut Farhan dengan santai.
"Yaudah kalo tau ngapain bapak debat di depan kelas kaya gini. Gak sadar apa sekarang bapak sama kembarannya ini sekarang jadi tontonan yang lainnya. Awas aja ya saya bakal aduin semua ini ke rektor biar kalian berdua kena teguran," ancam Zara.
"Udahlah Zar biarin aja. Kayanya temen-temen yang lainnya pada seneng tuh. Selagi yang lainnya seneng mah gapapa kali dari pada kita mati bosen dengerin materi yang bikin ngantuk mendingan begini aja yakan gais. Lala bener kan? Silahkan lanjutkan upin ipin perdebatannya," ucap Lala tersenyum.
"Terserah lo!" ketus Zara kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kursinya.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya semoga novel ini semakin lebih baik lagi.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.