SENIOR

SENIOR
Panjat tebing


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Raina asik melihat sekitaran sedangkan Fathan fokus dengan mengemudinya. Mereka tidak menyadari kalau mereka sedang diikuti.


Fathan menghentikan mobilnya saat melihat lampu lalu lintas berubah warna menjadi warna merah.


Raina melirik Fathan penasaran, sepanjang perjalanan ia sibuk menebak-nebak di dalam hatinya akan pergi kemana dia bersama Fathan.


"Kak kita mau kemana?" tanya Raina.


"Kita ke tempat yang mau kamu datengin, tapi yang di daerah Jakarta aja," jawab Fathan.


Raina menganggukan kepalanya sambil melirik ke arah luar, ia mengembangkan senyumnya saat melihat wahana panjat tebing yang tidak jauh dari posisi mobil Fathan dengan semangat ia menepuk-nepuk pundak Fathan lalu menunjuk wahana panjat tebing dengan semangat.


Fathan mengikuti arah jari telunjuk Raina sekilas lalu kembali fokus pada mengemudinya karena lampu sudah kembali berubah warna menjadi hijau.


"Kamu yakin mau main wahana itu," tanya Fathan dengan raut wajah ragunya.


Raina menganggukan kepalanya dengan semangat sambil tersenyum lebar, ia sangat tidak sabar ingin mencoba wahana panjat tebing.


"Iya dong, Aku udah lama banget loh gak main panjat tebing terakhir aku main kaya gituan pas SD, ayo Kak buruan kesana aku gak sabar banget pengen kesana," ucap Raina.


"Yaudah kita kesana," ucap Fathan.


Fathan menghampiri wahana panjat tebing lalu mencari arena parkir, setelah memparkirkan mobilnya Fathan keluar dari mobil ia menggelengkan kepalanya saat melihat Raina sudah berada di depan panjat tebing sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Fathan.


"Ntah kenapa aku bahagia banget liat kamu sesenang dan sesemangat itu buat panjat tebing doang," gumam Fathan.


Fathan melangkahkan kakinya berniat menyusul Raina, baru 2 langkah Fathan melangkahkan kakinya ia melihat Maira dan teman-temannya yang baru keluar dari mobilnya, ia sempat menaruh rasa curiga pada mereka namun ia berusaha menepisnya.


"Itu Maira sama buntutnya ngapain disini, Ah mungkin aja mereka mau main juga disini jangan suudzon Fath sekarang itu quality time lo sama Raina jadi mendingan lo fokus aja sama hari ini gak usah mikirin mereka," gumam Fathan sambil menggelengkan kepala.


Fathan berlarian kecil menghampiri Raina, ia terkekeh saat melihat wajah Raina yang cemberut.


"Jangan gitu ah mukanya, yuk kita main," ucap Fathan.


Raina dan Fathan mulai memakai pengaman mereka, lalu mulai memanjat secara perlahan mereka saling mengejek satu sama lain.


"Ayo dong balap aku Kak, masa kalah sih sama aku," ucap Raina.


"Aku sengaja ngalah biar pacar aku senang," saut Fathan.


Maira mengepal tangannya saat melihat bagaimana Raina dan Fathan tertawa bahagia di atas sana.


"Gw gak terima, harusnya gw yang ada disitu bukan dia, rasanya pengen gw lempar aja si Raina pake batu bata biar jatoh," omel Maira.


"Emangnya sampe ya? Nanti yang ada kena kepala bapak-bapak berkumis tebal yang ada disana terus lo bakalan dimaki-maki sama bapak itu, emangnya lo mau?" ucap Shasha.


Maira menahan kesalnya ia menatap Shasha dengan tatapan geramnya, kini wajah dan telinganya memerah bagaikan bayi yang baru lahir.


"Gw lempar nih batu bata ke kepala lo Shasha." Maira mengangkat tangannya yang sudah terdapat batu bata sambil menatap Shasha dengan tatapan kesalnya.


Refleks Shasha menutupi kepalanya menggunakan kedua tangannya lalu berlarian ke belakang Sinta berusaha mencari tempat bersembunyi.


"Maira sadar lo gak waras ya mau nimpuk teman lo sendiri, lo kan keselnya sama Raina kenapa jadi gw yang di pukul," teriak Shasha.


"Karena lo berisik makanya gak usah banyak omong mendingan lo diem aja anteng-anteng kalo gak mau kepala lo gepeng gara-gara di timpuk sama Maira," ucap Sinta sambil memelototi Shasha yang sedang bersembunyi di balik punggungnya.


"Iya-iya gw diem, heran punya teman kok kaya monster," gumam Shasha dan mendapat pelototan dari Sinta.


"Udah Ra gak usah dengerin si Shasha, lo kan tau sendiri dia suka gak jelas, mendingan kita kesana aja yuk pantau mereka kali aja ada yang bisa kita kerjain disana buat ngerecokin mereka," ucap Sinta.


Maira terdiam sejenak ia melirik ke arah panjat tebing lalu menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Untung gw punya teman gak oon dua-duanya, lo emang teman gw yang paling pinter Sin gak kaya si Shasha," ucap Maira sambil melirik Shasha sebal.


"Padahal dari kita bertiga yang nilainya paling bagus tuh gw dan yang paling jelek Maira kenapa Maira bilang gw oon padahal dia yang oon," gumam Shasha nyaris tidak terdengar.


Maira dan teman-temannya berjalan mendekati panjat tebing, mereka menontoni Fathan dan Raina yang sedang berada diatas sana.


"Ih seru banget sih bisa manjat-manjat bareng pacar kaya gitu jadi pengen deh," ungkap Shasha dengan antusias.


Setelah selesai menaiki panjat tebing mereka turun bersamaan lalu Raina menghampiri Fathan yang sudah sampai di bawah terlebih dahulu, ia melirik panjat tebing dibagian khusus laki-laki ada rasa penasaran di dalam hatinya ingin mencobanya.


"Kayanya seru deh di bagian kamu bisa lebih tinggi lagi, aku mau coba ah," ucap Raina dengan semangat menghampiri salah satu pegawai yang menjaga disekitar wahana panjat tebing.


Fathan terkesiap saat mendengar perkataan Raina dengan cepat ia menyusul Raina dengan perasaan cemas.


"Raina itu kan khusus laki-laki bahaya kalo kamu yang naik, ntar kalo ada apa-apa sama kamu gimana, udahlah mending udahan aja jangan buat aku cemas dan khawatir kaya gini," ucap Fathan sambil menahan tangan Raina yang sudah siap untuk memanjat.


"Tenang aja aku pasti bisa kok ini mah kecil," ucap Raina dengan percaya diri.


Raina perlahan mulai memanjat ia tidak mendengarkan perkataan Fathan yang terus menerus cemas sambil meneriakinya menyuruhnya turun.


"Raina jangan buat aku mati jantungan ya buruan turun, ya ampun gw punya pacar gini amat ya gak ada takut-takutnya," teriak Fathan.


Fathan terus menatap Raina tanpa beralih sedikipun, ia kaget saat tersadar dan melihat Raina yang sudah sampai di puncak paling atas dari wahana panjat tebing tersebut, jantungnya makin berdebar saat melihat Raina dengan santainya berdiri di puncak panjat tebing sambil melambaikan tangannya.


"Jantung gw rasanya mau meledak liatnya diatas kaya begitu sedangkan dia nyengir-nyengir diatas sana sambil lambai-lambain tangannya, bener-bener mau nyiksa pacarnya sendiri ini mah namanya," ucap Fathan.


Raina yang berada diatas sana menikmati pemandangan kota jakarta dari atas sana, rasanya ia enggan sekali kembali ke bawah.


Fathan mengusap kasar wajahnya, ia hilang akal melihat Raina yang tidak kunjung turun rasanya lututnya sangat lemas, ia melirik sekitar lalu mengembangkan tersenyum saat melihat pedagang tahu bulat dengan cepat ia menghampiri pedagang tersebut lalu meminjam pengeras suara atau biasa yang sering disebut toa oleh orang-orang.


"Mas saya mau sewa toanya sebentar ya mas, nih saya sewa segini cukup gak?" ucap Fathan sambil menyodorkan 3 lembar uang kertas nominal seratus ribu pada pedagang.


Aku yakin cara ini bakal berhasil ngebujuk kamu bair mau turun Raina, kalo gak berhasil juga udahlah aku pasrah aja mau lompat kemana nih jantung.


"Raina turun! Jangan bikin aku khawatir terus, kasianin jantung aku plis!" teriak Fathan.


Raina yang mendengar suara Fathan segera melirik ke arah Fathan, kini ia menjadi pusat perhatian akibat ulah Fathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Reno yang baru saja sampai di kampus dengan tergesa-gesa ia keluar dari mobilnya lalu berlarian memasuki area kampus, ia menelusuri sekitaran kampus untuk mencari Lala ia tidak peduli dengan tatapan dari beberapa orang di sekitarannya.


"Dimana sih kelasnya. Argh ... Raina juga dihubungin susah banget bikin kesel aja," gerutu Reno.


Seluruh tempat sudah ia telusuri ia merasa lelah hingga membuatnya terduduk sejenak diatas bangku panjang, ia terdiam dan berusaha mengingat kembali tempat apa yang sering Lala kunjungi, setelah 1 menit ia berfikir akhirnya ia teringat dengan kantin.


"Ah kenapa gak kepikiran sama kantin sih dari tadi padahal aku tau dia suka banget makan," omel Reno.


Tanpa menunggu lama lagi ia segera beranjak dari duduknya lalu ia berjalan dengan langkah lebarnya menuju kantin.


Saat sampai di kantin ia menelusuri beberapa kursi yang ada di kantin dengan teliti, ia menghembuskan nafas leganya saat melihat Lala yang sedang tertawa dengan teman-temannya.


"Akhirnya ketemu juga, kenapa Raina gak kabarin aku kalo Lala udah sampe di kampus, kayanya dia mau ngerjain aku deh, bener-bener ya ade durhaka, samperin gak ya? Apa aku pulang aja ya toh lagian udah jelas Lala ada di kampus dengan sehat dan selamat," gumam Reno.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Semoga menghibur ya hehe


Terima kasih banyak untuk kalian yang tidak pernah bosan baca cerita ini

__ADS_1


__ADS_2