SENIOR

SENIOR
Kentut


__ADS_3

Setelah selesai mengangkut Fahira dan Maira ke villa mereka. Kini semua sedang berada di salah satu kamar yang sengaja mereka gunakan untuk menampung Fahira dan Maira.


Fathan berdecak kesal saat melihat keduanya yang sama sekali tidak memunculkan tanda-tanda sadarkan diri.


"Gak bangun-bangun mereka Rey, coba diapain kek gitu biar bangun keburu subuh," ucap Fathan.


"Udah lo tenang aja, gw tau cara bangunin mereka biar cepat sadar. Lo balik aja ke Raina Fath," ucap Reyhan.


"Emangnya mau lo apain dia berdua, wah jangan macem-macem lo. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan Rey," ucap Fathan.


Reyhan mengerutkan dahinya kemudian dengan gemas ia menjitak kepala Fathan kemudian mendorong tubuh Fathan keluar dari ruangan.


"Keluar sana lo ganggu konsentrasi gw aja. Gw gak tertarik sama mereka yang ada di dalam hati gw cuma Kinan gak ada yang lain," usir Reyhan.


"Iya-Iya santai dong gak usah dorong-dorong," protes Fathan.


Fathan pergi dari ruangan tersebut dan berjalan kembali ke ruang tengah sambil berdecak kesal.


"Untung lo Abangnya Raina kalo bukan udah gw ajak perang lo Rey," gerutu Fathan.


Fano yang berada di balik pintu sedari tadi menyimak apa yang dibicarakan oleh Fathan dan Reyhan sontak ia mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan mereka.


"Ah Fano punya ide. Fano silam ail aja ini dua nenek gelandong yang jahat bial cepet bangun," gumam Fano.


Fano berlarian menuju kamar mandi dengan semangat ia mengambil gayung dan mengisinya dengan air kemudian ia kembali menuju ruangan dimana Fahira dan Maira berada. Saking semangatnya Fano berlarian tanpa disangka kini air yang berada di dalam gayung yang ia bawa tinggal setengah dan setengahnya lagi berserakkan di atas lantai.


"Yah ailnya banyak yang tumpah kila-kila cukup gak ya buat silam dua nenek gelandong di dalam sana," gerutu Fano sambil melihat gayung yang berada di tangannya.


"Bialin aja lah, udah telanjul mendingan silamin aja ke nenek gelandong dulu kalo dia belum bangun juga balu Pano ambil lagi ailnya pakek gayung ini," ucap Fano.


Fano membuka pintu dan mendorong pintu dengan susah payah hingga akhirnya pintu terbuka dan membuat Reyhan melonjak kaget saat melihat Fano yang tiba-tiba saja muncul.


"Ya ampun kirain tuyul beneran," ucap Reyhan mendecak kesal.


"Ini Pano kak Ley masa gak kenal sama Pano. Pano silam nih ya!" kesal Fano.


Reyhan mengalihkan pandangannya pada gayung yang di bawa oleh Fano, ia terlihat kebingungan dan bertanya-tanya mengapa Fano membawa gayung beserta airnya ke dalam sana.


"Itu buat apaan. Ngapain sih bawa-bawa gayung kesini nanti kalo orang mau ke kamar mandi pasti nyariin tuh gayung, balikin sana," ucap Reyhan.


"Enak aja nyuluh Pano balik lagi, gak tau apa Pano susah banget bawa gayungnya kesini," protes Fano.


"Iya terus buat apa itu gayung sama airnya," tanya Reyhan.


"Buat silam nenek gelandong bial cepet bangun. Kak Ley buluan benelin kostum pocongnya," ucap Fano.


Tanpa menunggu respon dari Reyhan dengan cepat Fano melangkahkan kakinya mendekati Fahira dan Maira berniat menyiramkan air yang ada di gayung pada mereka.


"Aaaaa!" teriak Fahira yang tiba-tiba saja membuat Fano kaget dan refleks seluruh air yang berada di dalam gayung berhasil menyiram Maira hingga membuat Maira kaget.


Reyhan yang belum siap sepenuhnya pun dibuat kaget dan kesal pada Fano. Sebelum Fahira menyadari keberadaannya, ia terlebih dahulu pergi dari ruangan tersebut dan berniat meminta bantuan pada yang lainnya untuk membantunya mengenakan kostum pocong yang amat sangat membuatnya kesulitan.


Namun baru beberapa langkah ia pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia dibuat kaget dengan lantai yang terasa licin dan akhirnya ia terjatuh.


"Arghh ... Ini semua pasti ulahnya Fano. Awas ya abis ini gw kurung tuh anak di dalem kulkas biar beku gak bisa grasak grusuk lagi. Duh sakit banget nih pinggang," gerutu Reyhan berusaha berdiri.


Reyhan berjalan menuju ruang tengah sambil memegangi pinggangnya yang terasa ngilu akibat terpeleset.


"Woy, kenapa lo jalannya begitu. Encok lo Haha. Azab itu karena lo barusan ngusir gw," ledek Fathan.


"Enak aja lo kalo ngomong. Ini semua gara-gara Fano tuh yang nyerakin air sembarangan di lantai sampe bikin gw kepeleset dan pinggang gw sakit kaya gini," omel Reyhan.


"Ya ampun pasti sakit banget ya, lo gak hati-hati sih bang harusnya lo jalannya hati-hati lagi biar gak kepeleset," ucap Raina menatap Reyhan khawatir.


"Mana bisa pelan-pelan Rainaaa. Itu sepupu lo masuk ke dalem gudang bawa gayung terus nyiram dua macan tutul itu dan gw sama sekali belom siap sama kostum kampret ini, makanya gw buru-buru keluar dari gudang niatnya mau minta tolong sama kalian tapi sialnya lagi gw kepeleset duluan," ucap Reyhan.

__ADS_1


"Loh berarti Fano di sana sendirian. Ih gimana sih lo kak Rey, masa lo tinggalin Fano sendirian disana kalo tuh anak kenapa napa gimana," omel Zara.


Reyhan menatap Zara kesal, kalau sekarang ia tidak sedang meminta bantuan pada yang lainnya untuk membantu memakaikan kain putih mungkin sekarang Zara sudah ia jitak.


"Diem deh lo kunti gadungan. Ngomong doang bisanya, mendingan lo kesana duluan dah sampe gw kelar make ini kain putih, lagian yang ada mereka yang dikerjain sama Fano abis-abisan, kaya gak tau aja lo si Fano rusuhnya kaya apa," ucap Reyhan.


"Dasar pocong norak. Mana ada pocong pake jam tangan, tolong ya Sha itu jam tangannya dia dicopot," sindir Zara.


Zara beranjak dari sofa kemudian ia berjalan menuju gudang dimana tempat Fahira dan Maira mereka sekap.


Saat membuka pintu Zara dibuat kaget dengan apa yang Fano lakukan pada mereka. Ia melihat Fano yang asik mencoret-coret wajah Fahira dengan krayon yang entah dari mana anak itu bisa mendapatkan krayon di dalam gudang.


"Jangan coretin muka gw terus, Ampun! Gantian sana coret Maira juga,lo kan udah gw bagi duit masa lo masih nyerang gw juga, Maira kan gak ngasih lo apa-apa masa di diemin aja," ucap Fahira dengan kesal.


"Uangnya kulang. Udah abis tadi dikasih ke ibu kunti," ucap Fano dengan asiknya membuat gambar-gambar di wajah Fahira.


Fahira sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kini sedang dikerjai, bahkan ia tidak tahu kalau sosok tuyul yang berada di hadapannya adalah hanya seorang anak kecil.


Aneh banget sih Fahira, masa udah denger suara Fano masih gak sadar juga kalo dia lagi dikerjain, gw aja bisa nebak kalo itu suaranya Fano Haha. Penjahat kacangan begini banget ya sama hantu-hantuan aja takut.


Zara sengaja meletakkan senter yang menyala dibawah dagunya untuk membuat Fahira dan Maira kaget saat melihatnya.


Maira yang belum sepenuhnya sadar memicingkan matanya dan lagi-lagi matanya terbelalak saat melihat sosok yang dimatanya sangat menyeramkan setelah pocong.


"Hantuuuu! Pergi lo dari sini jangan gangguin gw lagi," teriak Maira.


Maira berniat untuk menghampiri Zara namun tubuhnya susah sekali untuk digerakkan, ia mengalihkan pandangannya ke arah tangannya yang terikat.


"Arghhh kenapa kalian iket tangan gw. Sini lo kalo berani cupu banget. Gw gak takut sama lo!" tantang Maira.


Perkataan yang keluar dari mulut dengan kondisi jantung Maira saat ini berbanding terbalik. Jauh di dalam hatinya sejujurnya ia sangat takut namun ia sengaja terlihat berani supaya hantu yang berada di hadapannya tidak berani mendekatinya.


Zara menyunggingkan senyum miringnya saat mendengar suara Maira yang menantang dirinya. Ia memelototkan matanya dengan sengaja ia mendekati Maira dan Fahira sambil merentangkan kedua tangannya seperti ingin mencekik hingga membuat wajah keduanya terlihat kaku dan pucat.


"Jangan deket-deket. Gw gak nantangin lo kunti yang nantangin lo Maira," ucap Fahira gemetaran.


"Kenapa? Emang benerkan barusan lo yang nantangin dia. Yaudah lo ladenin tuh kunti jangan ajak-ajak gw, gw gak mau Ra gw takut," ucap Fahira menundukkan kepalanya tidak mau melihat Zara.


Zara semakin mendekatkan dirinya dan mendekatkan tangannya pada leher Maira hingga membuat Maira menjerit ketakutan.


"Ampun ... Ampun ... Ampun. Jangan cekik gw, lo mau apa? Gw bakal kasih apapun yang lo mau asal jangan deket-deket sama gw," teriak Maira.


"Tanggung jawab kamu sudah merusak tempat kami. Kamu sudah membakar tempat kami! Dasar manusia perusak," ucap Zara dengan nada datarnya.


Maira terdiam berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Zara, setelah beberapa menit ia berusaha mencerna akhirnya ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sosok hantu yang berada di hadapannya.


"Gw minta maaf kalo kalian gak suka gw bakar tempat kalian. Sejujurnya gw gak ada niat buat bakar tempat kalian, gw cuma mau bales dendam sama Raina dan teman-temannya biar mereka tau gimana rasanya berurusan sama gw, gw bakal ganti kerugian villa itu sampe villanya bener, asal lo dan teman-teman hantu lo itu pergi dan jangan ganggu gw kalo perlu lo ganggu aja tuh Raina sama teman-temannya," ucap Maira dengan nafas yang tak beraturan karena menahan rasa takutnya.


"Haha dasal penjahat oon masa sama hantu boongan aja takut," ejek Fano terkikik.


Maira dan Fahira sontak mengalihkan pandangannya pada Fano yang asik menertawakan mereka kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada Zara yang sedang tersenyum.


"Jadi ini semua ulah lo! Kurang ajar lo berdua ya. Lepasin gw! Liat aja gw bakal bales semua ini lebih parah dari villa yang gw bakar semalem!" bentak Maira.


Maira menggerakkan tangannya untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya. Emosinya kini benar-benar berada di puncak kepala saat mengetahui kalau dirinya sedang kerjai oleh Zara dan Fano. Ingin sekali rasanya ia memukul kepala mereka.


Maira tersenyum sambil melirik Zara dan Fano bergantian dengan tatapan tajamnya saat ia berhasil melepaskan ikatan pada tangannya kemudian ia melirik ke kakinya yang masih terikat.


Kaki nanti aja lah yang penting gw bisa bales dendam ke dua orang sialan ini. Lo liat ya apa yang bakal gw lakuin.


Maira menatap Zara dengan tatapan penuh dendamnya dengan cepat ia menarik Zara hingga membuat Zara kaget dan tidak bisa menahan keseimbangannya. Maira menarik rambut palsu yang digunakan oleh Zara hingga membuat penyamaran Zara terbongkar. Emosi Maira semakin menjadi dengan penuh rasa kesal ia menarik rambut Zara hingga membuat beberapa helai rambut Zara rontok.


Posisi Zara yang membelakangi Maira membuat Zara sulit untuk membalas Maira hingga kini ia hanya bisa berteriak dan mengancam Maira berharap Maira melepaskan dirinya.


"Maira lepas! Maira lepas rambut gw, kepala gw sakit! Kurang ajar banget sih lo, awas lo ya nanti gw bales!" teriak Zara sambil menahan rambutnya yang ditarik oleh Maira supaya tidak semakin sakit.

__ADS_1


Maira tersenyum puas rasanya ia sangat puas saat melihat Zara berteriak kesakitan. Ia teringat dengan Zara yang sempat terluka di bagian tangannya akibat insiden kebakaran di villa. Tangan kiri Maira meraih tangan Zara dengan sengaja ia memukul tangan Zara tepat dibagian luka bakarnya.


"Arghhhhh! Silahkan puas-puasin mukul gw. Liat nanti pembalasan gw bakal lebih dari ini ke lo. Emangnya lo doang yang bisa lakuin hal norak kaya gini," ringis Zara menahan rasa sakit pada tangannya.


Fano ikut meringis saat melihat Zara berteriak kesakitan, ia berhenti mencoret-coret wajah Fahira kemudian mendekat pada Maira. Fano berdecak kesal sambil berkacak pinggang kemudian ia mencoret-coret wajah Maira.


"Lasain nih nenek gelandong mukanya Pano colet-colet bial kaya monstel. Nenek gelandong jangan jahatin kak Zala, lepasin kak Zala," teriak Fano sambil memukuli tangan kanan Fahira yang berada di rambut Zara.


"Fano jangan deket-deket nanti Fano dijambak juga sama siluman satu ini, mendingan Fano keluar panggil yang lainnya aja," ucap Zara.


Fano menganggukkan kepalanya, sebelum ia pergi meninggalkan Zara, Fano menggigit tangan Fahira terlebih dahulu hingga membuat Fahira menjerit.


"Dasar anak kecil kurang ajar. Liat aja lo ya nanti gw bales!" teriak Fahira sambil mengibaskan tangannya yang terasa berdenyut.


"Bukan dia yang kurang ajar tapi lo! Anak kecil aja bisa liat mana yang jahat mana yang baik. Rasain tuh gigitannya Fano!" teriak Zara.


***


Fano teringat dengan lantai yang sempat ia tumpahi air hingga membuatnya berjalan dengan lebih hati-hati supaya ia tidak terpeleset karena ulahnya sendiri.


"Untung Pano gak pikun," gumam Fano sambil berlarian menuju ruang tengah.


"Loh Fano kenapa lari-larian begitu kaya abis dikejar setan aja kan hantunya dia sendiri atau jangan-jangan dia ketemu hantu beneran ya di gudang," ucap Rama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Melihat Fano yang ngos-ngosan membuat Fathan penasaran karena tidak biasanya Fano seperti itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendekatkan dirinya dan bertanya pada Fano.


"Fano ngapain lari-larian, ada apa?" tanya Fathan dengan lembut.


"Itu kak Jungkook si nenek gelandong lese banget," ucap Fano dengan panik.


"Kenapa dia?" tanya Fathan dengan sabar.


"Tarik napas dulu cil abis itu keluarin pelan-pelan biar lebih tenang lagi," ucap Reyhan.


Fano mengikuti instruksi yang diucapkan oleh Reyhan, ia menarik nafasnya dan ia tahan sejenak kemudian ia keluarkan perlahan.


Brettttt!


Suara yang berasal dari bokong Fano membuat orang disekelilingnya membelalakan matanya kemudian dengan bersamaan menutup hidung mereka.


"Fano kentut ya ... Jorok ih bau banget lagi," ucap Lala menutup hidungnya.


"Gw nyuruh lo keluarin nafas cil bukan keluarin gas alam. Abis makan apaan sih lo bau banget kentutnya," ucap Reyhan.


"Dasar Fano tukang kentut, asal kalian tau aja ya selama gw ngurus bocah-bocah di rumahnya Raina, gw sering banget dikentutin sama nih anak," adu Rama.


"Hehe maapin Pano ya gais abisan gak tahan, Pano mules banget soalnya. Oh iya Pani hampir lupa. Semuanya buluan ke gudang bantuin kak Zala, kasian kak Zala lambutnya ditalik sama nenek gelandong telus tangannya di pukul. Tadi Pano mau bantuin tapi disuluh pelgi kesini buat kasih tau semua olang," ucap Fano.


Mendengar ucapan Fano membuat semua melupakan betapa baunya kentut yang dikeluarkan oleh Fano. Kini semuanya mendadak panik dan berlarian dengan cepat menuju gudang.


Fano menepuk dahinya saat ia melupakan sesuatu, ia lupa memberitahu pada yang lainnya soal lantai yang basah.


"Bialin aja deh. Salah sendili Pano belum kelal ngomong udah kabul aja," ucap Fano berlarian kecil menyusul mereka.


Fano tertawa saat melihat semua orang bertumpukkan karena terpeleset dengan sengaja ia ikut menindih tubuh yang lainnya.


"Yeayyyyy Pano jugaa ikutan Yuhuuu," teriak Fano dengan kegirangan.


"Fano minggir jangan deket-deket, Fano bau kentut," teriak Rama.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan sarannta ya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar untuk bahan evaluasi aku di bab selanjutnya supaya karya ku semakin bagus lagi ke depannya.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang selalu support aku dengan komen-komen kocak kalian Haha. Aku terhibur bangen baca komennya.


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2