SENIOR

SENIOR
6 Bulan kemudian....


__ADS_3

Hallo kalian semua, apa kabar? Lama rasanya gak up rutin. Maaf aku terlalu sibuk sampai akhirnya gak bisa up rutin.


Terima kasih selalu menunggu karya ini dan selalu menanyakan kapan up disaat aku gak up sehari aja hehe.


Sehat-sehat selalu buat kalian semuaaaa


Hari demi hari mereka lewati setelah beberapa peristiwa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan sudah dilewati oleh mereka. Sudah 6 bulan berlalu, waktu begitu cepat berjalan hingga membuat mereka tidak merasakan begitu cepatnya waktu berjalan.


Banyak sekali perubahan yang terjadi setelah 6 bulan mereka lewati bersama-sama. Fathan yang kini sudah menyelesaikan kuliahnya dan memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan milik Ayahnya berbeda dengan Raina yang kini sedang sibuk dan fokus pada kuliahnya. Meskipun mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka selalu meluangkan waktu untuk hanya sekedar saling mencurahkan keluh kesah semasa menjalani aktivitas mereka yang berbeda.


Tak jarang pula Raina dan Fathan meluangkan waktu mereka untuk berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.


Raina yang kini sedang bersantai-santai duduk di atas sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya dan menunggu kabar dari grup kelasnya mengenai dosen yang wacananya akan tidak hadir.


"Kak Lainaaaa... Pano udah kelen kan? Liat nih baju Pano udah ganti bukan baju paud lagi Hehe, jadi makin ganteng dan kece nih Pano, " ucap Fano sambil memamerkan seragam yang sudah ia kenakan di tubuhnya yang sedikit berantakkan tersebut akibat ulahnya yang sempat berguling-gulingan di kasur.


Cila yang berada di dekat Fano menatap Fano dengan tatapan bergedik ngerinya. Ia menatap Fano dengan tatapan jengahnya.


"Ngomong R aja dulu yang bener baru deh sok kegantengan. Baru kelas 1 aja udah ganjen huu.... " Cila berjalan melangkahkan kakinya menuju rak sepatu.


"Ili bilang boss, Cilla juga kelas 1 jadi jangan sok gaya-gaya deh, nanti gak Pano belain kalo Cila diisengin olang. Nanti juga Pano lama-lama bisa kok ngomong el, sekarang lidah Pano masih susah tau," protes Fano.


"Berisik nih bocil berduaan, Fano pake seragam sendiri?" tanya Raina sambil menatap Fano dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Fano menganggukkan kepala nya sambil tersenyum dengan percaya diri pada Raina. Sedangkan Raina yang melihat hal tersebut hanya menghembuskan nafas pendeknya kemudian menarik tangan Fano mendekat padanya.


"Pantesan kaya baru bangun tidur, sini dibenerin. Maminya Pano kemana emangnya?" ucap Raina.


"Mami Pano kan kelja cali duit yang banyak buat jajan Pano. Tapi tadi Pano udah lapi tau kak Laina, cuma Pano ngantuk banget jadinya Pano tidul lagi makanya bajunya jadi kaya gini. Tapi Pano udah liat di kaca, Pano masih ganteng dan kece dan kelen kok," oceh Fano.


Raina menggelengkan kepalanya kemudian menghela nafas gusarnya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana bocah yang kini berada di hadapannya beranjak dewasa, bisa-bisa bocah tersebut makin membuatnya pusing dengan segala ocehannya.


"Oke terserah Fano lah. Sekolah siapa yang nganterin?" tanya Raina.


Sejak 6 bulan yang lalu kedua orangtua Fano memutuskan untuk menetap di rumah Wina karena Fano yang terus-menerus merengek untuk tetap tinggal di rumah Wina. Mengingat Fano tidak ada yang mengurus dan Fano tidak suka diurus oleh pengasuh yang dipekerjakan oleh kedua orangtuanya membuat kedua orangtuanya sulit untuk menolak permintaan Fano dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang anaknya minta.


Ponsel Raina berdering membuat Fano refleks mengarahkan matanya pada ponsel Raina dengan penasaran, kemudian ia mengambil ponsel Raina dan mengarahkan wajahnya di depan ponsel Raina karena mengetahui panggilan telpon tersebut adalah video call dari Fathan yang Fano ketahui dari foto yang terlihat di layar ponsel Raina.


"Hallo kak Patan, Pano makin kece gak nih Hihi," ucap Fano dengan heboh sambil menunjukkan cengirannya.


Fathan yang berada di seberang sana hanya terkekeh geli melihat wajah Fano yang belepotan dengan bedak yang tidak merata.


"Coba dong kasih liat ke kak Rainanya ya Fano, kak Fathan mau ngomong sama kak Raina," pinta Fathan sambil mengembangkan senyumnya pada Fano.


Fano menganggukkan kepalanya kemudian menyodorkan ponsel tersebut pada Raina. Setelah memberikan ponsel dan seragam yang dikenakan oleh Fano sudah rapi, Fano berlarian menyusul Cila untuk mengambil sepatunya.


"Cilaaaa... Sepatu Pano jangan dipake yaaa. Awas aja kalo dipake, Cila halus ganti goceng," teriak Fano.


"Sepatu jelek kaya gini siapa yang mau pake huh," ucap Cila sambil menendang pelan sepatu milik Fano yang berada di rak sepatu.


Raina menolehkan kepalanya sejenak menatap Cila dan Fano karena sempat mendengar keduanya berdebat, kemudian kembali fokus pada ponselnya.


"Gak kerja kamu kak? Tumben banget jam segini udah video call aku," heran Raina.


"Lagi senggang, makanya aku pake aja waktunya buat video call kamu, eh ternyata kamu lagi sibuk keliatannya," ucap Fathan.


"Kebetulan aja itu kak. Aku lagi nunggu kepastian nih, katanya pak jaya gak masuk hari ini tapi ada yang bilang masuk dan tiba-tiba dua bocah nongol, " jelas Raina dengan gusar.


Fathan terkekeh geli melihat raut wajah Raina yang gusar. Ingin sekali rasanya ia menyusul Raina saat ini juga, namun ia harus profesional terhadap pekerjaannya.

__ADS_1


"Anggep aja latihan ngurus anak-anak kita nanti hehe. Itu kamu bedakin Fano gimana sih mukanya kaya donat gula yang di jual abang-abang Haha," ucap Fathan dengan tertawa geli.


"Gak tau kak, dia muncul di depan aku mukanya udah kaya gitu. Mak bapaknya sibuk kerja, mama aku lagi ada urusan makanya gak bisa ngurus bocah-bocah yang ada di rumah. Si Lala sama kak Reno gak keluar-keluar dari kamar biasanya kan mereka yang ngurusin para bocil yang ada di rumah," curhat Raina.


****


Zara yang sedang disibukkan dengan kegiatan bersih-bersih di rumahnya dibuat kesal ketika melihat orangtua perempuannya yang diketahui ibu tirinya tersebut lagi-lagi membawa laki-laki lain ke rumahnya dengan bermesra-mesraan.


"Dasar perempuan gak tau diri, seenaknya aja bawa cowo gak modal ke rumah mama gw, andai aja Papa tau kelakuan dia kaya apa, tapi gw takut nanti darah tinggi papa malahan kumat dan dia makin seneng bisa bebas bawa cowo-cowo lain ke rumah," gumam Zara sambil mengepel lantai dengan tidak santai.


"Zara ambilin minum buruan!"


Zara mendelikkan matanya sebal, ia menghentakkan kakinya berjalan menuju dapur dengan raut wajah yang menahan kesal.


"Andai aja ngeracunin orang gak kena hukuman penjara udah gw racunin kali dua orang gak modal itu," gerutu Zara sambil menuangkan air ke dalam gelas.


Selesai membuatkan minuman, Zara membawa dua gelas minuman dingin dengan bantuan nampan kemudian berjalan menuju ruang tamu.


Zara berjalan dengan bermalas-malasan, rasanya ia enggan sekali untuk bertemu dengan kedua manusia yang membuat ubun-ubun nya terasa panas sedari tadi.


Zara meletakkan gelas dengan asal-asalan hingga membuat minuman bertumpahan. Zara menolehkan kepalanya ke arah laki-laki yang berada di samping ibu tirinya. Ia membelalakan matanya saat matanya bertemu pandang dengan laki-laki tersebut.


Ya ampun ternyata nih cowo masih muda, mau aja sama tante-tante. Gak nyangka banget ish, gw kira sepantaran ternyata dia sukanya sama brondong. Gw rasa ada pelet-peletan disini deh.


Selesai berbicara dalam batinnya dengan cepat Zara mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah kemudian bergedik ngeri.


"Udah tua sukanya sama brondong gak nyadar umur banget. Ganteng aja engga ewh, ganteng juga Papa gw," sindir Zara sambil melirik sinis laki-laki tersebut dari ujung matanya.


Hal tersebut berhasil membuat ibu tiri dan laki-laki tersebut menatap Zara dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Berisik! Adanya kamu yang gak normal, gak bisa bedain mana yang udah tua mana yang masih fresh," saut ibu tiri.


Berani banget dia ngomong kaya gitu. Awas aja nanti ya. Udah mulai berani anak itu sekarang kayanya gw harus lebih keras lagi sama dia.


Zara melirik sinis keduanya, kemudian ia pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya.


"Mending gw pergi aja lah dari sini, dari pada nanti anaknya tante ganjen itu pulang yang ada gw dijadiin babu disini," gerutu Zara.


Zara masuk ke kamarnya mengambil tasnya dan beberapa barang yang ia perlukan selama pergi. Ia berjalan dengan cepat menuju pintu tanpa berpamitan terlebih dahulu pada ibu tirinya.


Saat baru saja ia membuka pintu rumahnya, ia dibuat kaget dengan keberadaan laki-laki yang sangat ia kenal berada di hadapannya. Zara menatap laki-laki tersebut dengan tatapan malasnya.


"Ada perlu apa kesini!" ketus Zara.


"Begini ya cara kamu nerima tamu, bener-bener gak ada tata krama. Besok ikut kelas khusus tata krama kamu!" ucapnya.


Zara mengehela nafasnya berusaha menenangkan dirinya untuk tidak tersulut emosi. Ia menarik nafas kemudian mengembuskannya perlahan.


"Yaampun bapak ini selain ngeselin dan nyebelin ternyata baperan juga ya. Saya lagi gak open house pak. Bapak kesini nyari siapa? Saya gak ngerasa ngundang orang kesini terus bapak tau rumah saya dari mana? Bapak ngikutin saya ya sampe kesini? Atau bapak mau ketemu tante ganjen? " Zara menghujani laki-laki yang ia sebut dengan panggilan bapak tersebut dengan banyak pertanyaan.


"Ini bukan sesi tanya jawab, nanti aja di kelas saya kalau mau nanya. Saya kesini cuma mau balikin buku kamu yang entah kenapa bisa ada di meja saya. Gak usah kepedean jadi orang," ucapnya.


"Siapa yang kepedean, lagian kan saya cuma nanya pak, kenapa gak di kampus aja balikinnya. emang harus banget ke rumah gitu? Ah udahlah capek ngomong mulu, saya buru-buru nih pak nanti deh lain kali bertamunya ya," ucap Zara sambil menolehkan kepalanya ke dalam rumahnya.


"Aneh banget di rumah sendiri tapi kelakuannya kaya maling," gumamnya.


Zara menggertakkan giginya menatap laki-laki yang berada di hadapannya tersebut dengan tatapan geramnya.


"Pak Farhan plis jangan ngajak saya ribut sekarang. Saya gak ada waktu buat ribut sama bapak, jadi mending sekarang bapak minggir dari depan saya karena badan bapak yang kaya tiang listrik ini ngalangin jalan saya," geram Zara.

__ADS_1


****


Lala merentangkan tangannya sambil menguap, ia membuka matanya perlahan kemudian mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang ada di dalam kamarnya bersama dengan Reno.


"Kak Reno!!! Bangun ih kita ketiduran dan kesiangan. Ya ampun kasian Vico pasti dia kesel deh jam segini belum dimandiin," Lala berbicara sedikit berteriak sambil menepuk-nepuk pipi laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya.


Reno yang terusik dengan teriakan dan tepukan Lala di pipinya pun perlahan mengerjapkan matanya sambil menggenggam tangan Lala yang berada di pipinya.


"Apasih berisik banget pagi-pagi," ucap Reno dengan suara seraknya.


"Udah gak pagi lagi ini mah kak, liat tuh jam berapa sekarang. Kasian itu Vico pasti dia udah bau kambing deh, untung aja dia anteng dan gak nangis," ucap Lala dengan panik.


"Jam berapa emangnya?" tanya Reno.


"Jam sembilan lewat lima belas menit. Buruan bangun Papa macam apa sih kamu kak yang ngebiarin anaknya bau kambing," omel Lala.


Reno beranjak dari kasurnya kemudian berjalan mendekati Vico, menatap Vico sambil tersenyum.


"Vico tolongin, mama kamu bawel banget Nak. Padahal Papa baru bangun harusnya di kasih morning kiss ini mah malahan morning bawelan," adu Reno sambil mengelus pipi Vico yang sedang tertawa menatap Reno.


"Ngadunya sama anak bayi cemen banget, sana mandi buruan kamu gak berangkat kerja kak," ucap Lala dengan tatapan garangnya.


"Ini istri apa kucing garong sih galak banget," ucap Reno sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Lala berkacak pinggang setelah mendengar ucapan Reno, kemudian mengalihkan pandangannya pada bantal yang ada di dekatnya, ia mengambil bantal kemudian melemparkan bantal ke arah Reno.


"Iya-iya nih mandi." Reno berjalan mendekati Lala kemudian mencium pipi Lala hingga membuat Lala memelototkan matanya. "Jangan galak-galak ya mama," ucap Reno sengaja menggoda Lala.


"Dasar suami ngeselin," teriak Lala.


Lala terdiam sejenak kemudian ia teringat dengan Fano dan Cila yang akan berangkat sekolah dan kebetulan mereka masuk sekolah jam 9.30.


"Kak Reno... Cila sama Fano siapa yang nganterin. Haduh pusing banget jadi ibu-ibu ternyata," gusar Lala.


"Gak tau, sana coba liat ke depan kali aja mereka masih di depan atau masih di kamarnya," teriak Reno dari dalam kamar mandi.


****


Lala berjalan keluar dari kamarnya, ia menepuk dahinya saat melihat Cila dan Fano yang sedang berdebat di hadapan Raina.


Raina yang terlihat kebingungan mengurus dua bocah sekaligus pun tersenyum saat melihat keberadaan Lala yang tidak jauh darinya.


"Lala siniiii. Akhirnya lo nongol juga, gw gak sanggup ngurus mereka yang tiap detik debat terus, gw bersyukur banget lo keluar dari kamar. Ngapain aja sih lo sama bang Reno di dalem kaya nya betah banget di dalem kamar," ucap Raina dengan penasaran.


"Tidur lah Raina. Gak mungkin gw di kamar masak. Gw sama kak Reno kesiangan gara-gara kak Reno tuh semalem," ucap Lala dengan kesal.


Fathan yang masih terhubung melalui video call dengan ponsel Raina ikut mendengar apa yang diucapkan oleh Lala.


"Ngapain lo berdua bisa sampe kesiangan, kasian si Vico masih polos gak tau apa-apa padahal," ucap Fathan sambil senyum-senyum.


****


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan saran ya gais. Kalau ada saran boleh dititipin di kolom komentar supaya karya ini bisa semakin baik lagi. Terima kasih buat kalian yang selalu support karya ini dengan komen yang membangun dan bikin semangat terus menerus.


Selamat tahun baru 2021, semoga di tahun yang baru ini semua semakin membaik, apa yang belum tercapai segera tercapai di tahun ini. Wabah yang sedang melanda Indonesia segera berakhir.


Terima kasih sudah menemani tahun 2020 dengan membaca karyaku dan mensupport aku terus.

__ADS_1


Sekian dan Terima kasih.


__ADS_2