SENIOR

SENIOR
Mobil merah


__ADS_3

Reyhan kini sedang menyuapi Raina roti sesekali ia berusaha mengeluarkan lelucon pada Raina supaya Raina tidak sedih terus menerus.


"Raina cerita dong sama gw kenapa lo bisa kaya gini," ucap Reyhan sambil menyodorkan sepotong roti.


"Gw lari-larian ngejar layangan dan gw gak sadar kalo gw udah di tengah jalan terus ada mobil kenceng banget terus ketabrak deh abis itu gw gak tau apa-apa lagi," jelas Raina.


Saat Reyhan mendengarkan penjelasan dari Raina tiba-tiba ponsel Reyhan berdering terlihat kontak Kinan tertera di layar ponsel Reyhan. Hal tersebut membuat Reyhan terdiam sambil melirik Raina yang sedang mengunyah roti, Reyhan menunduk lalu membiarkan ponselnya berdering terus menerus tanpa mengangkat panggilan tersebut.


Maafin aku ya Kinan untuk saat ini Raina lebih membutuhkan aku jadi aku gak bisa angkat telpon kamu dulu, aku harap kamu bisa ngerti keadaan aku.


"Kenapa gak diangkat bang Rey?" tanya Raina.


Reyhan terdiam lalu melirik ponselnya lalu tersenyum.


"Gak penting, ntar aja gw telpon lagi sekarang yang terpenting gw harus nyuapin ade gw yang manja ini sampe nih roti abis, gw tau dari tadi lo belom makan dan sok-sokan gak mau makan kan Ha-Ha-Ha, ngaku lo," ucap Reyhan.


"Pencitraan banget lo, coba kalo gw gak buta pasti sekarang lo pergi ke rumahnya kak Kinan," sindir Raina dengan bibir yang sedikit bergetar.


Reyhan terdiam ia merasa ucapan Raina memang benar adanya, ia menyadari bahwa selama ini ia teralu acuh pada Raina dan lebih mementingkan urusan pribadinya.


"Iya deh maafin abangmu ini yang durhaka sama adenya, gw janji sama lo mulai sekarang gw bakal banyakin waktu buat lo, jadi plis jangan sindir gw lagi ya bisa-bisa gw gila karena ngerasa bersalah terus menerus," ucap Reyhan.


"Iya-iya, oh iya bang Rey gw mau cerita deh soal kecelakaan gw tapi jangan cerita ke siapapun ya, gw takutnya dugaan gw salah," ucap Raina.


Reyhan mengerutkan alisnya sambil menatap Raina penasaran.


"Ada apa emangnya?" tanya Reyhan.


"Janji dulu sama gw kalo lo gak bakalan ngasih tau ke siapapun," ucap Raina sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Reyhan menganggukan kepalanya lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Raina.


"Iya janji gak akan gw kasih tau siapa pun, nah berhubung ini rahasia jadi kalian berdua keluar ya girls, hushh sanah," usir Reyhan sambil mengibaskan tangannya.


"Ih Raina kok lo gitu sih segala rahasia-rahasiaan, emangnya kenapa sih? Kenapa kita gak boleh tau," protes Zara.


"Tau ih Raina, kita gak ember kok Rain, kita bisa di percaya," ucap Aisyah.


Reyhan menepuk pelan bahu Raina lalu beranjak dari kursinya menghampiri Zara dan Aisyah. Ia menarik kerah baju keduanya lalu membawa mereka keluar dari ruangan.


"Kalo gak kaya gini kalian gak bakalan pergi, ayo ikut akang ya girls," ucap Reyhan.


"Apaan sih kak Rey, kita gak mau pergi dari sini, kita juga mau tau apa yang mau Raina omongin, lepasin ilah berasa curut gw diginiin," teriak Zara sambil memukul-mukul tangan Reyhan.


"Yaudah Zar biarin aja kita ngalah, sekarang kita keluar yuk nanti kalo ada rahasia jangan kasih tau Raina," ucap Aisyah sambil menolehkan kepalanya ke arah Raina dengan tatapan sebal.


"Kepo banget kalian ya, ini urusan keluarga kandung bukan keluarga-keluargaan jadi kalian tunggu kabar basinya aja ya, Bye!" ucap Reyhan.


Reyhan sengaja mengunci pintu supaya mereka tidak menguping pembicaraannya dengan Raina. Setelah memastikan pintu terkunci, Reyhan segera menghampiri Raina lalu kembali mendudukan dirinya di atas kursi.


"Udah gw usir mereka semua, sekarang lo bisa cerita sepuas lo," ucap Reyhan.


Raina menarik nafas lalu membuangnya perlahan, ia membayangkan kembali keadaan sebelum ia tertabrak oleh mobil berwarna merah yang tidak asing bagi dirinya.


"Jadi sebelum gw ketabrak, gw sempat liat mobil orang yang nabrak gw dan mobil itu gak asing banget, gw sengaja gak mau cerita ke orang lain karena gw takutnya jadi fitnah," ucap Raina.


"Mobil siapa emangnya? Lagian mobil di indonesia ini gak cuma satu Raina, lo salah liat kali," ucap Reyhan.


"Makanya gw gak mau cerita ke siapa-siapa dulu, niatnya gw mau minta tolong sama lo buat cari tau bang Rey. Gw curiga orang itu sengaja nabrakin mobilnya ke gw soalnya jarak antara gw sama mobil dia tuh masih jauh tapi dia tetap ngebut dan gw sempat liat sekilas orang yang bawa mobil itu, tapi gw gak tau benar apa engga," ucap Raina.


Reyhan mengepalkan tangannya saat mendengarkan penjelasan dari Raina, ia tidak akan memaafkan orang yang sudah dengan teganya mencelakai Raina hingga membuat Raina kehilangan penglihatannya.

__ADS_1


"Siapa orangnya?" tanya Reyhan.


"Maira. Dia senior gw di kampus sebelumnya gw punya masalah sama dia dan gw sering banget dilabrak sama dia, gw minta tolong sama lo cari tau semuanya sampai tuntas ya," ucap Raina dengan tatapan memohon.


"Tanpa lo pinta pun gw bakal senang hati nyari tau dan kalo kebukti dia yang lakuin semua ini, gw gak bakalan maafin tuh orang, gw pastiin tuh orang bakal sengsara seumur hidupnya," ucap Reyhan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 22.22


Gio kini sedang berada di perjalanan, ia sangat gelisah dan khawatir memikirkan keadaan Raina, meskipun ia sudah dikabari oleh Wina dan Reno namun rasanya belum cukup kalau ia tidak melihat langsung keadaan putrinya.


Setelah beberapa menit berada di perjalanan akhirnya Gio bernafas lega saat ia sudah sampai di depan rumah sakit, ia turun dari mobilnya lalu menitip pesan pada supirnya.


"Raina!"teriak Gio.


Gio berlarian lalu memeluk Raina, ia tidak kuasa menahan air matanya saat melihat mata putri yang paling ia sayangi sembab dan memerah.


"Cerita sama Papa nak apa yang sakit, maafin Papa nak Papa gak bisa lindungin kamu, Papa janji bakal cari solusi dan dalam waktu dekat kamu bisa melihat lagi, percaya sama Papa nak," ucap Gio.


Gio mengusap air matanya, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain, ia ingin menjadi sosok ayah yang kuat untuk Raina supaya Raina merasa ada sosok ayah yang akan selalu melindunginya.


"Kepala sama kaki Raina sakit Pa terus mata Raina gelap, Raina gak bisa liat muka Papa," adu Raina.


Raina sangat manja pada Papanya jika sudah bersama Papanya Raina yang kuat akan terlihat berubah 180 derajat, Raina menangis sesegukan di bahu Papanya ingin sekali rasanya ia mencurahkan semua keluh kesahnya namun ia tahan karena di dalam ruangannya ada Lala dan Zara.


"Papa kemana aja kok lama banget kesininya?" tanya Raina.


"Maaf ya Papa ada urusan yang gak bisa Papa tinggalin gitu aja," ucap Gio.


"Pa, Raina gak betah di rumah sakit, Raina mau pulang aja," keluh Raina.


"Nanti kalo kamu udah baikan kita bisa pulang ya, untuk sementara kamu harus sabar dulu ya sampe dokter ngasih izin buat pulang," ucap Gio.


Disaat Raina sedang bermanja-manja dengan Gio, muncul Lala dan Reno yang datang kembali membawa banyak kantong belanjaan.


Orang-orang yang berada di dalam ruangan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kedatangan mereka.


"Heum ada spg jajanan," sindir Reyhan.


"Lala gak denger," saut Lala sambil berlarian kecil menghampiri Raina dan Gio.

__ADS_1


"Rainaaaa, gimana kabar lo? Jangan sedih lagi ya kalo lo sedih gw juga sedih, nih gw bawain lo banyak makanan biar lo gak sedih terus-terusan," ucap Lala dengan semangat.


Lala menepuk dahinya saat melihat Gio yang sedang menatapnya sambil berkacak pinggang.


"Oh iya lupa disini ada Papa Gio si Papa halu ku, Salim dulu deh," ucap Lala sambil meraih tangan kanan Gio lalu mencium tangannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Fathan dan kedua temannya kini berada di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari rumah sakit tempat Raina di rawat mereka memutuskan untuk mampir terlebih dahulu.


Rama memperhatikan Fathan dan Raka yang sedang asik dengan lamunannya masing-masing, ia mendelikan matanya sebal lalu dengan sengaja ia menggebrak meja.


"Fath lo kenapa sih diem aja dari tadi kaya si Raka, jangan-jangan kalian lagi telepati ya terus ngomongin gw," ucap Rama penasaran.


"Gapapa, gw lagi mikirin soal mobil tadi aja, gw gak sabar mau cepat-cepat ketemu sama yang punya mobil itu," ucap Fathan sambil mengepalkan tangannya.


"Sekarang kan malem ya, sedangkan kita ke kampusnya pagi jadi mikirnya ntar pagi aja gak usah sekarang, sekarang tuh kita fokus aja sama perut, karena kalo lo laper nanti lo lemes terus sakit dan akhirnya gak bisa nyari tau soal mobil itu," ucap Rama.


"Iya Ram lo bener, makasih ya," ucap Fathan sambil menepuk-nepuk pundak Rama.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komennya gaisss kalo ada saran silahkan ditinggalin di kolom komentar ya hehe.


Semoga kalian terhibur dengan cerita ini dan semoga kalian sehat dan bahagia selalu ya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih.


__ADS_2