
Setelah melewati perjalanan yang lumayan lama, kini Fathan dengan yang lainnya sudah sampai di rumah Raina.
Fano mendorong pintu mobil kemudian berlarian memasuki rumah, Fano berhenti sambil mengedarkan pandangannya mencari orang yang ia cari.
"Kak Laka, kak Lama sama kak pelmen chacha liat kak Lala po gak? Pano mau ngadu nih," tanya Fano.
"Tuh di dapur buruan samperin sana gangguin mereka ya," saut Rama.
"Okee siap bos." Fano meletakkan jari-jari tangannya diatas pelipis.
Raka mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Fathan dan yang lain namun ia tak kunjung melihat mereka.
"Oh iya, Raina sama yang lain kemana Pan? Udah kelar undangannya?" tanya Raka.
"Ada tuh di depan, Pano ke dapul dulu ya gais," ucap Fano.
Fano berlarian menuju dapur, saat melihat Lala dan Reno ia berjalan dengan cara mengendap-endap supaya Reno dan Lala tidak menyadari keberadaannya.
"Dor!"
Reno dan Lala yang sebelumnya sudah mengetahui keberadaan Fano, keduanya hanya memasang wajah datarnya hingga membuat Fano mendengus sebal.
"Atulan pula-pula kaget dong, gak asik banget kak Leno sama kak Lala huuuu." keluh Fano.
"Makanya lain kali ngagetinnya pake bom biar kita kaget bahkan bukan kaget lagi yang ada kita lompat-lompat," saut Lala.
"Kak Lala Pano mau culhat deh. Tadi kasian tau kak Laina dijahatin sama genduluwo disana padahal kak Laina gak jahat sama dia," adu Fano dengan raut wajah muramnya.
Lala mengerutkan alisnya berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Fano dan siapa yang dimaksud olehnya.
"Mana ada genduruwo siang-siang begini sih Fano, kalian abis mampir ke rumah hantu ya?" ucap Reno sambil memasukkan ciki ke dalam mulutnya.
Fano menatap Reno sebal, ia menghela nafas sebalnya.
"Ih kak Leno kenapa onengnya kaya kak Lala sih. Bukan genduluwo hantu tapi genduluwo olang yang milip hantu, dia lebih jahat dali pada hantu tau olangnya milip monstel," ucap Fano.
Lala terdiam sejenak ia terus menduga-duga siapa yang dimaksud oleh Fano, ia sempat menuduh Maira tetapi rasanya tidak mungkin yang dimaksud oleh Fano adalah Maira karena Faktanya sekarang Maira lagi di penjara.
Ah udahlah tanya langsung aja ke Fano, kasian otak gw main tebak-tebakkan mulu.
"Emang siapa sih genduruwo yang Fano ceritain? Emangnya kak Raina dijahatin apa sama dia," tanya Lala penasaran.
Fano menggeser kursi yang berada di samping Lala kemudian ia menaiki kursi dan duduk diatas kursi. Ia kembali memutar kejadian di toko percetakkan saat Fahira menghina-hina Raina.
__ADS_1
Reno gemas melihat tingkah Fano yang kini sedang mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk seperti sedang berfikir.
"Buruan cerita gak usah sok ganteng liat tuh mukanya kak Lala penasaran banget gara-gara nungguin cerita kamu." Reno mengusap wajah Fano hingga membuat Fano menepis tangan Reno.
"Kak Leno tangannya bau ciki jangan pegang-pegang muka Pano nanti muka Pano milip ciki itu." Fano memicingkan matanya menatap Reno sebal.
"Kak Lala dengelin celita Pano ya, pasti abis ini kak Lala kesel kaya Pano juga," ucap Fano.
"Yaudah buruan cerita," ucap Lala.
"Jadi tadi Pano sama kak Patan sama kak Laina lagi nungguin kak Zala sama kak Palhan selesai ngambil undangan, tiba-tiba aja ada genduluwo dateng hina-hina kak Laina, dia bilang kak Laina buta cuma bisa nyasih kak Patan telus dia ngeliatin kak Laina kaya gini," jelas Fano sambil menirukan cara Fahira pada saat menatap Raina sinis.
Lala mengepalkan tangannya, ia tidak terima ada orang yang menghina sabahatnya kalau saja orang itu ada di hadapannya mungkin sudah ia siram dengan air mendidih supaya tahu rasa.
"Siapa orang yang berani-beraninya sama sahabat Lala," ketus Lala.
"Tadi Pano dengel kak Patan manggilnya Hila, coba aja sana tanya ke kak Patan," saut Fano.
Lala beranjak dari kursinya dengan emosi yang memuncak, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang tengah hingga membuat Reno yang masih berada di dapur dibuat kebingungan.
"Ayo Fano cepetan kita susul kak Lala sebelum ruang tengah berubah jadi gudang." Reno menurunkan Fano dari kursi kemudian ia menggandeng tangan Fano lalu berlarian menyusul Lala.
***
"Raina lo gapapa kan? Kata Fano lo serang sama genduruwo. Berani banget dia ngusik-ngusik sahabat gw, coba aja disana ada gw bisa-bisa tuh orang gw tendang sampe arab," ucap Lala.
Raina yang mendengar ocehan Lala hanya tersenyum kemudian ia terkekeh saat mendengar perkataan Lala diakhir.
"Gw gapapa kok, liat aja gw masih kaya tadi kan? Lebay banget lo ah, iya gw tau lo mau jadi kakak ipar gw tapi gak gitu juga woy, tenang aja gw tetap restuin kok," ledek Raina.
"Ih Raina gw serius, kasih tau gw siapa orang yang berani ngehina lo, biar sekarang juga gw samperin nanti gw jambak-jambak rambutnya." Lala berusaha mendesak Raina hingga membuat Fathan menatapnya sebal.
"Jangan paksa-paksa Raina. Tuh liat dia risih gara-gara lo. Biarin itu urusan gw jangan ikut-ikutan lo, mau nikah masih aja nyari masalah," ketus Fathan.
"Gak ada hubungannya sama nikah, ini gw nanya soal orang yang ngehina Raina, jangan-jangan tuh orang mantan lo ya atau orang yang suka lo phpin kaya Maira gitu," tebak Lala.
Reno menggelengkan kepalanya saat melihat Lala sedang mengintrogasi Fathan, ia berjalan mendekati Lala kemudian menarik pergelangan tangan Lala.
"Apasih kak Reno, Lala belum kelar ngomong sama Raina dan kak Fathan kenapa ditarik-tarik sih, ngeselin banget jadi orang," teriak Lala.
"Udah biarin aja kamu jangan ikut-ikutan sama masalah mereka. Aku percaya Fathan bisa ngehandel semuanya," saut Reno.
"Kak Leno gak selu nih, nanti aja deh kalo Pano ketemu lagi sama genduluwonya Pano kasih tau kak Lala, nanti kita belsatu selang genduluwonya," ucap Fano.
__ADS_1
"Nih anak belajar dari mana sih," gumam Reno.
Zara yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya ia memutuskan untuk bersuara dan bertanya pada Fathan.
"Sebenernya ada apa sih kak? Kenapa kita gak tau apa-apa?" tanya Zara sambil melirik Farhan.
"Tadi ada Hira di tempat percetakkan dia muncul pas kalian berdua ngambil undangannya. Gak tau kenapa tiba-tiba dia marah-marah sambil natap Raina sinis gitu, gw sendiri gak ngerti dia kenapa," jelas Fathan.
Dia begitu karena dia suka sama kamu Kak, tapi kamu gak sadar sama perasaan dia.
"Loh kok bisa? Apa sebelumnya Raina dan Hira punya masalah?" tanya Farhan.
Fathan menggelengkan kepalanya sambil menatap Raina.
"Engga, mereka baru kenal," ucap Fathan.
"Udahlah gak usah dibahas, lagian udah kelar juga masalahnya, mendingan kalian kerjain lagi deh tugas yang lain biar cepet kelar. Gw gak sabar pengen punya kakak ipar," ucap Raina.
"Tuh denger kata pacar gw, mendingan kalian urusin kerjaan kalian deh biar cepet kelar," sambung Fathan.
"Raina orang baik tapi kenapa banyak yang gak suka ya sama dia," bisik Shasha pada Raka.
"Orang baik emang banyak yang sirik Sha. Kalo kata gw sih ributnya gara-gara cemburu terus Hira nyalahin Raina. Tapi rada aneh sih setau gw Hira yang awalnya pergi ninggalin Fathan bahkan dia nolak Fathan tapi kok sekarang dia dateng seolah-olah nunjukkin perasaannya," bisik Raka.
"Hayo bisik-bisik apa? Ajak Pano juga dong," bisik Fano yang tiba-tiba berada di antara Raka dan Shasha.
Shasha dan Raka sukses dibuat terkejut dengan suara Fano dan munculnya Fano yang entah sejak kapan ia berada di dekat mereka.
"Bener-bener ya nih anak ngagetin aja," gumam Raka sambil mengelus dadanya.
"Ada deh, Fano kepo nih," ucap Shasha sambil menoel pipi Fano.
"Yaudah gapapa kalo gak mau bagi tau Pano yang penting Pano udah kebagian dengel walaupun ujungnya doang," ucap Fano.
"Kak Laka main ps yuk, Pano pusing nih dengelin masalah olang gede," keluh Fano.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentar ya gais. Kalo ada saran silahkan dititipkan dikolom komentar.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1