
Raina menghela nafas leganya saat mendapatkan notifikasi yang berisi pesan dari grup kelasnya bahwa dosennya benar-benar tidak hadir. Ia berloncat-loncatan kegirangan bahkan sesekali berjoget-joget hingga membuat Lala, Fano dan Cila yang berada di dekatnya dengan bersamaan menatap Raina dengan tatapan kebingungan mereka.
"Kak Laina udah stles nih joget-joget sendirian gak ngajak-ngajak Pano. Gak seluruh banget jadi kak Laina huh," dengus Fano.
Raina yang tidak mau merusak suasana hatinya yang sedang bahagia tersebut memilih untuk tidak menyahuti perkataan Fano.
Biarin aja deh terserah bocil satu itu mau ngomong apaan yang penting sekarang gw lagi seneng. Nyusulin kak Fathan sekalian kasih surprise ke dia ah.
Lala melihat Raina yang sedang senyum-senyum tidak jelas hanya menggelengkan kepalanya karena ia sudah tahu apa yang ada di dalam kepala sahabat sekaligus adik iparnya tersebut.
"Udah sana pergi dasar bucin, pasti sekarang pacar lo lagi ganjen -ganjen deh sama cewe-cewe di kantor dia Haha. Nih jangan lupa bawa tissu buat jaga-jaga takut mewek nanti disana." Lala melemparkan 1 pack tissu pada Raina kemudian beranjak dari sofa berniat bersiap-siap untuk mengantarkan Cila dan Fano pergi ke sekolah mereka.
Raina memelototkan matanya pada Lala. Ia melemparkan tissu tersebut ke arah Lala namun tissu tidak mengenai Lala sama sekali.
"Bodoamat yang penting bisa pacaran hari ini, ambil aja tissu nya buat si Fano nanti kalo pilek atau nangis," teriak Raina.
Fano menolehkan kepalanya pada Raina sambil berkacak pinggang, ia menatap Raina dengan tatapan polosnya.
"Kenapa jadi Pano yang disalahin, Pano gak nangis tau, tuh Cila yang suka nangis di kelas kasih aja ke Cila," protes Fano.
Raina mengambil tasnya yang sebelumnya sudah ia letakkan di atas meja kemudian membukanya dan mengambil uang dari dalam tasnya.
"Yaudah terserah Fano aja, nih jajan buat Fano sana Cila bagi dua ya jangan maruk. Kak Raina mau pergi dulu bye bye gais," pamit Raina memberikan uang pada Fano.
"Pelit banget ngasih duit cuma segini doang. Ini berapa Cila?" tanya Fano sambil menunjukkan 1 lembar uang berwarna biru pada Cila.
Cila hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan kedua bahunya. Lagi pula ia bingung mengapa Fano bertanya pada dirinya yang jelas-jelas pasti sama tidak tahunya dengan Fano.
"Ah Cila semuanya gak tau, Cila taunya apa sih pusing kepala pangelan jadinya. Duitnya pegang aja nih, Pano males pegang duit soalnya." Fano menyodorkan selembar uang tersebut pada Cila yang langsung diterima oleh Cila tanpa ragu karena Cila tahu menolak pun pasti percuma saja.
"Yuk berangkat, nanti kalian telat terus dijemur di lapangan kaya ikan asin kan kasian nanti kalian jadi gosong," ajak Lala.
Fano terdiam menatap Lala, ia menggeser kepalanya sedikit mengintip ke dalam kamar Lala kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki kamar Lala.
"Kak Lala mandinya cepet banget, kak Lala gak mandi ya jolok banget malu-maluin Pano hih," ucap Fano.
Reno yang baru saja keluar dari kamar mandi memicingkan matanya saat melihat Fano yang sedang duduk di atas kasur.
"Fano gak berangkat sekolah?" tanya Reno.
"Belangkat lah, tapi kak Lala belum mandi tuh. Kak Leno aja yuk yang antelin Pano," ucap Fano.
"Kak Lala belum mandi juga tetep wangi tau, nih cium aja kalo gak percaya,"protes Lala.
Cup...
Lala dibuat melongo saat mendapatkan satu ciuman dari Reno, wajahnya berubah memerah saat mengetahui keberadaan para bocah-bocah disana yang menyaksikan hal tersebut.
"Parfumnya yang wangi ini mah bukan orangnya," ucap Reno terkekeh melihat raut wajah Lala saat ini.
" Cie kak Leno cium-cium kak Lala yang bau kambing. Hih jolok hih. Sana mandi lagi kak Leno nanti bau kambing," ucap Fano sambil menutupi hidungnya.
" Heh bener-bener ya bocah ini. Gak kak Lala kasih jajan tau rasa berani-beraninya ngatain kak Lala bau kambing. Kamu juga kak Reno ngapain nyium-nyium di depan anak kecil nyebelin banget sih," omel Lala.
"Gak takut wle. Pano tadi udah dapet duit dari kak Laina wle," ledek Fano.
"Yaudah sana jalan kaki ke sekolahan, gak usah minta anterin hush," usir Lala.
__ADS_1
"Yaudah yuk Cila kita naik numpang aja sama kakek-kakek bajai yang kemalen," ajak Fano sambil menarik tangan Cila.
****
Meskipun Fathan sudah lumayan lama bergabung dengan perusahaan milik keluarganya namun suasana kantor masih saja heboh seperti saat awal-awal dirinya baru saja bergabung dengan perusahaan keluarganya.
Tak jarang pula dirinya menjadi topik pembicaraan di kantornya sendiri. Mereka yang membicarakan Fathan merata tidak hanya perempuan tetapi laki-laki pun turut membicarakan dirinya. Biasanya karyawan perempuan membicarakan seputar ketampanan, kecerdasan dan sikap Fathan yang begitu tegas dan dingin yang membuat mereka terus penasaran dengan Fathan. Sedangkan dari sisi laki-laki banyak yang kesal karena gebetan mereka yang bekerja di kantor terus-terusan memuji Fathan, tetapi tidak bisa mereka pungkiri kalau atasan mereka memanglah tampan dan cerdas.
"Tau gak sih, gw barusan ngestalk sosmednya pak Fathan si boss ganteng terus nemu foto dia sama cewe tau. Kayanya dia udah punya pacar deh." Salah satu karyawan heboh memaparkan hasil temuannya di pagi hari pada teman-temannya.
"Yah patah hari sekantor ini mah.Pasti cewenya keren banget deh secara dia ganteng begitu apalagi dia bos. Udahlah kita mundur aja," keluh salah satu dari mereka.
"Kerja... Kerja... Ngegosip mulu kaya lambe turah di instagram. Di kantor masih banyak cogan kenapa kalian berisik banget sih, contohnya gw nih," ucapnya dengan percaya diri.
"Dih amit-amit." Beberapa karyawan bergerak ngeri setelah mendengar ucapan salah satu temannya.
Baru saja seisi kantor dibuat heboh dengan berita boss mereka yang memiliki kekasih. Kini kantor dibuat heboh kembali dengan kedatangan Raina dan beberapa karyawan pun mengenali wajah Raina.
Raina yang merasa menjadi sorotan orang-orang di kantor hanya menyunggingkan senyum manisnya pada setiap pegawai yang berpapasan dengannya. Ia kebingungan mengapa semua pegawai terus-terusan melihatnya bahkan tak jarang dari mereka yang berbisik-bisik hingga membuat Raina berkali-kali mengoreksi penampilannya sendiri karena takut ada yang salah dengan penampilannya saat ini.
"Eh itu kan yang foto berdua sama boss ganteng. Bener-bener hari patah hati sekantor ini mah," ucap salah satu karyawan dengan heboh.
Kenapa pada ngeliatin gw gitu sih perasaan gak ada yang aneh deh. Muka gw juga gak belepotan terus baju gw juga bersih dan gak kurang bahan. Mau nanya ruangannya kak Fathan jadi bingung deh kalo kaya gini.
Raina berjalan mendekati beberapa karyawan yang sedang berkumpul sambil memandanginya. Ia tersenyum ramah pada mereka.
"Maaf mau tanya ruangannya kak Fathan dimana ya?" tanya Raina dengan gugup.
Belum sempat mereka menjawab entah dari mana datangnya tiba-tiba saja Fathan sudah merangkul Raina.
Melihat Fathan yang begitu berbeda saat berbicara dengan Raina membuat pegawai tersebut menatap Raina dengan tatapan iri mereka.
Fathan mengalihkan pandangannya yang semula menatap Raina menjadi menatap para karyawannya.
"Dia pacar saya, kalau dia kesini bisa langsung di arahkan saja ke ruangan saya," ucap Fathan.
Fathan mengajak Raina untuk mengikutinya, Raina hanya mendengus sebal karena lagi-lagi kejutan yang akan ia berikan pada Fathan gagal kembali. Sepertinya ia sangat tidak berbakat membuat kejutan.
Raina menolehkan kepalanya ke arah pegawai yang masih memandangi dirinya dan juga Fathan, ia memberikan senyuman ramah pada pegawai tersebut sebagai bentuk perkenalan darinya untuk mereka karena tidak sempat berkenalan dengan mereka.
"Kamu sekarang udah jadi bos kenapa makin ngeselin ya, harusnya bos itu ramah sama pegawainya biar pegawainya seneng kerja di perusahaan kamu kak. Kalo bosnya kaya kanebo kering begini mana betah mereka kerja disini yang ada nanti kerjaan mereka berantakan gak kelar-kelar tau," oceh Raina.
"Aku kaya gini aja mereka masih terus-terusan ngeliatin aku, gimana kalo aku ramah sama mereka. Bisa-bisa nanti banyak yang godain aku. Emangnya kamu mau?" Fathan berbicara dengan santai di dalam lift.
Raina membelalakan matanya saat mendengar ucapan Fathan. Refleks ia memukul lengan Fathan.
"Kalo kamunya gak ganjen juga pasti mereka gak mau godain kamu. Cewe cantik mana sih yang mau godain tembok. Tapi awas aja kalo kamu ganjen kak, aku bakalan ngambek seminggu sama kamu," ucap Raina dengan wajah garangnya.
"Kamu tadi senyum-senyum ke pegawai, masa aku gak boleh," goda Fathan sambil menahan senyumnya.
Raina menghela nafas pendeknya, ia tidak habis fikir dengan sikap Fathan sekarang ini yang begitu mudah cemburu. Padahal seharusnya saat ini dirinya lah yang merasakan khawatir kalau Fathan akan berpaling dari dirinya karena di kantor Fathan banyak sekali bertemu dengan perempuan yang jauh lebih cantik dari dirinya.
"Itukan cuma sekedar nyapa aja, kalo aku masang muka kaya kamu yang ada nanti aku diusir duluan sebelum ketemu kamu kak," ucap Raina.
"Lagian kamu aneh banget sih sekarang makin cemburuan banget harusnya tuh aku yang kaya gitu tau. Kamu gak tau aja tadi sebelum aku jalan kesini, aku sempat dilemparin tissu satu pack sama Lala karena dia takut aku nangis liat kamu lagi ganjen sama cewe-cewe disini. Nyebelin banget kan si Lala, harusnya dia kasih tissu itu ke kamu ya kak," curhat Raina dengan wajah polosnya.
****
__ADS_1
Zara merengut sepanjang jalan karena Farhan terus mengikuti dirinya.
Nih orang gak bawa kendaraan apa gimana sih dari tadi ngikutin gw terus. Udah tau gw lagi kesel, bikin tambah emosi aja nih dosen satu ini.
Zara menghentikan langkah kakinya kemudian memutar balik tubuhnya. Ia menatap Farhan dengan tatapan garangnya sambil berkacak pinggang.
"Ngapain sih ngikutin gw terus. Gak bawa kendaraan atau gak punya uang sih sampe ngikutin gw terus padahal dari tadi banyak belokkan yang beda kenapa harus ngikutin gw," oceh Zara.
Farhan hanya memasang wajah cueknya kemudian mengangkat tangan kanannya yang terdapat buku Zara tanpa berkata sedikit pun.
Zara memejamkan matanya kemudian menepuk dahinya, ia menatap Farhan dengan tatapan jengkelnya.
Ini dosen bener-bener ngeselin banget sih, harusnya tuh dia bilang dari tadi kalo bukunya belum gw ambil. Ini mah malah diem aja ngebuntutin gw terus.
" Bilang dong dari tadi jangan diem-diem aja kaya lagi nahan pup bapak mah. Yaudah mana sini bukunya, makasih banyak udah nganterin buku ini ya pak dosen meskipun saya lagi gak ngebutuhin." Zara menengadahkan tangan kanannya di depan Farhan yang hanya direspon oleh tatapan malas oleh Farhan.
Zara mengernyitkan sebelah alisnya karena Farhan tak juga memberikan buku tersebut pada dirinya.
"Kenapa malah liatin saya sih pak, mana bukunya? Saya tau kok kalau saya cantik jadi gak usah segitunya ngeliatin saya, buruan mana sini bukunya atau mau saya rampas aja bukunya," ucap Zara.
"Coba aja kalo bisa, gak nyadar sama tinggi badan yang kaya kurcaci kamu ya. Saya berdiri disini aja belum tentu kamu bisa ambil buku ini, " saut Farhan.
Zara memicingkan matanya menatap Farhan tajam. Ia tidak mengerti dengan Farhan saat ini. Mengapa hari ini dosennya tersebut terlihat semakin menyebalkan sekali bahkan lebih menyebalkan dari hari sebelumnya.
"Bapak maunya apa sih. Bapak ke rumah saya bahkan sampe ngikutin saya karena mau ngasih buku kan? Kenapa pas saya minta bukunya malah ngajak saya ribut dan ngehina saya lagi. Ngeselin banget sih jadi orang, andai bukan dosen udah saya kasih bogem muka bapak yang nyebelinnya sedunia ini," omel Zara.
"Berhubung saya capek ngikutin kamu yang muter-muter gak jelas dari tadi. Sekarang saya berubah pikiran, kamu harus teraktir saya makan baru saya kasih buku ini," ucap Farhan dengan santai.
Bener-bener nih orang ya selain ngeselin ternyata gak tau diri juga. Adanya juga dia yang bayarin gw masa gw yang bayarin dia. Duit gw tipis banget lagi mana bisa buat bayarin dia yang menu makannya mewah.
Zara terdiam cukup lama hingga membuat Farhan menatapnya penasaran berkali-kali tak jarang pula Farhan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah agar Zara tidak mengejeknya kalau dirinya ketahuan sedang menatap Zara.
"Ini cuma soal teraktir makan bukan soal matematika, kenapa kamu lama banget mikirnya sih. Ayo buruan saya udah laper banget ini semua gara-gara kamu yang muter-muter gak jelas," ucap Farhan.
"Siapa suruh ngikutin saya, saya gak minta bapak buat ngikutin saya loh padahal. Saya gak punya uang jadi gak bisa teraktir bapak. Kapan-kapan aja ya, nanti kalo saya ada banyak uang pasti saya teraktir makan," ucap Zara dengan malas.
"Saya laparnya sekarang. Saya gak mau tau, makan apa aja yang sesuai sama uang kamu pokoknya," ucap Farhan.
Zara menghela nafasnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nih orang mau ngerjain gw apa gimana sih. Masa seorang dosen buat makan sendiri aja gak bisa kayanya besok perlu gw tanyain deh sama kak Fathan kembarannya dikasih makan gak sih kalo di rumahnya.
"Oke! Jangan banyak protes tapi ya. Uang gw gak banyak soalnya," tegas Zara.
Farhan tersenyum menganggukkan kepalanya, ia senang sekali bisa mengerjai perempuan yang saat ini berada di depannya.
Rasain pembalasan dari gw cewe bar-bar, rese, ngeselin. Makanya jangan cari gara-gara sama gw.
***
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi di bab selanjutnya.
Terima kasih sudah selalu support karyaku dengan komen, like dan vote hehe.
Sekian dan Terima kasih.
__ADS_1