
Niatnya mau up besok tapi gapapa deh nambah 1 bab 😄😂😂 aku senang baca komennya hehe
Jangan lupa like dan komennya yaaa guysss 😚😚😍
***************
Mereka mengamati dua karung yang baru saja diletakan dan membayangkan isi dari kedua karung tersebut.
Fano berlarian menyusul Reno yang posisinya tepat bersebelahan dengan kedua karung.
"Kalungggggg Pano datanggggg,"teriak Fano merentangkan tangannya sembari berlarian lalu memeluk salah satu karung.
"Bang Ren mereka beli apaan si sampe dua karung lagi,"tanya Raina menatap karung.
"Kamu liat aja ntar isinya apaan tambah kaget nanti kamu De,"jawab Reno menggelengkan kepalanya.
Fathan sedari tadi sibuk mengamati karung ia mengalihkan pandangannya pada Raina yang sedang berbicara dengan Reno.
"Itu lo semua yang beliin Bang,"tanya Fathan.
"Iyalah siapa lagi, perlu kerja rodi ini mah tiap hari di kantor kalo mereka ngekorin aku terus,"keluh Reno.
"Sabar yaaaa bang Ren cobaan lo berat banget gw sebagai ade lo prihatin tapi ngakak,"ucap Reyhan tertawa.
Lala tidak memperdulikan pembicaraan mereka ia berjalan menyusul Fano lalu.
"Yang ini karung kak Lala ya Fano gak boleh ambil,"ucap Lala menunjuk karung yang sudah ia tulis menggunakan spidol hitam dengan namanya.
"Iya takut banget Pano ambil, Pano juga punya isinya lebih bagus dali kak Lala,"ucap Fano.
Fano menarik tali yang digunakan untuk mengikat karung lalu ia mengeluarkan barang yang barada di dalam karung secara bergantian.
Sedangkan yang lain hanya menonton bagaimana Fano membuka belanjaannya, mereka saling melirik satu sama lain saat melihat Fano mengeluarkan barang belanjaannya tidak ada satu pun cemilan di dalamnya justru kebanyakan belanjaan bulanan rumah tangga.
"Tenang tenang Pano inget sama Mama Wina jadi tadi Pano beli cabe nih liat, ada cabe ijo melah, olen jadi nanti kalo mama Wina mau masak tinggal ambil aja cabenya,"ucap Fano menunjukan cabai bermacam jenis pada Wina.
Sedangkan Wina yang diajak bicara hanya menatap Fano kebingungan.
"Weiiii bocah tuaa itu sekarung isinya sembako semua, lo mau jualan apa gimana,"ucap Reyhan tertawa.
"Kak Leyhan itu di kalungnya kak Lala banyak jajanan jadi kalo Pano mau ya tinggal minta aja,"ucap Fano santai.
Lala menatap Fano sinis saat mendengar perkataan Fano, ia melempari Fano dengan kangkung yang baru saja Fano keluarkan dari karung.
"Fanoooooo ihh kan ini punya kak Lala, Fano cemilin aja tuh bumbu dapur sama kangkung,"omel Lala.
"Fano beli semuanya buat apa Nak persediaan bulanan kita masih banyak loh,"ucap Wina mendekati Fano.
" Pano bingung mau beli apa soalnya Pano ili liat kak Lala belanja sekalung jadi Pano beli ini aja bial belmanfaat bisa dimasak sama mama Wina telus Pano kenyang kalo Pano beli ciki nanti Pano batuk terus diomelin mami Mila,"ucap Fano sembari mengeluarkan sisa belanjaan yang masih ada di dalam karung.
"Tua banget gaya lo,"ucap Reyhan melempar Fano dengan bayam tepat mengenai kepala Fano.
"Hahahah Fanooo pas banget tuh sayur di kepala Fano,"ucap Lala tertawa sembari menunjuk kepala Fano.
Fano berkacak pinggang mengerucutkan bibirnya bangkit dari duduknya menghampiri Reyhan dengan menggenggam dua buah cabai rawit di tangannya.
Reyhan sedari tadi tidak bisa menghentikan tawanya ia terus tertawa terbahak bahak saat melihat bayam menempel tepat di kepala Fano.
Fano melihat mulut Reyhan yang terbuka dengan cepat memasukan kedua cabai ke dalam mulut Reyhan, tanpa sadar Reyhan mengngunyah cabai hingga beberapa detik kemudian ia merasakan pedas.
"Fanooooo, bener bener nih anak ya,"teriak Reyhan menatap Fano garang.
"Lasain makan tuh cabe bial belenti ketawanya,"ledek Fano memalingkan wajahnya berjalan kembali menuju tempat semula.
"Kak Lala buka dong kalungnya Pano mau minta dikit ajaaa,"ucap Fano memelas.
"Gak!"tolak Lala.
__ADS_1
Reno sedari tadi menatap kedua manusia yang dengan tega menguras uangnya dalam sekejap ia menghela nafas pasrahnya.
"Tuhkan kalian aja geleng kepala liat kelakuan si Fano, gimana aku yang nemenin mereka pas belanja,"ucap Reno.
"Udahlah sabar aja bang Ren itung itung sedekah,"ucap Raina terkekeh.
Hatchiiii!
Suara bersin Raina yang terdengar begitu lucu berhasil membuat yang mendengar ingin tertawa.
"Kak Laina belsinnya kaya kucing,"ucap Fano terkikik.
Fathan menatap Raina khawatir refleks ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Raina ia merasakan dahi Raina yang hangat hingga membuatnya semakin cemas.
"Pasti badan lo gak enak ya, udah lo istirahat aja biar besok enakan badannya,"ucap Fathan cemas.
"Gw gapapa Kak,"ucap Raina tersenyum.
"Rain mending lo minum bodrexin deh biar badan lo gak panas,"ucap Lala polos.
"Kak Lala oon bodlexin mah buat Pano, kata Bibi di lumah Pano bodlexin gak bisa buat olang gede,"ucap Fano menyentil telinga Lala.
"Kamu ke kamar aja Raina biar besok baikan, besok kamu kuliahkan,"ucap Wina.
"Tau nih susah banget dibilanginnya anak Tante,"ucap Fathan terkekeh.
"Iyaa Fath harus dijewer dulu baru ngerti anak anak Om,"ucap Gio tertawa.
"Yaudah Fathan kamu anterin aja anak bandel ini ke kamarnya bareng Aisyah juga yaa Tante mau beresin belanjaannya Fano berantakan banget nih,"ucap Wina.
Mereka mengiyakan perkataan Wina lalu berjalan menuju kamar Raina, Aisyah sibuk dengan ponselnya mengabari keluarganya kalau ia pulang telat.
Fathan menatap Raina cemas ia membantu Raina berbaring lalu mengompres Raina, ia mengingat kejadian di kolam beberapa jam yang lalu tangannya mengepal kuat.
"Maira bener bener keterlaluan besok gw harus ngomong sama dia,"ucap Fathan dalam hati.
Raina sedari tadi mengamati perubahan raut wajah Fathan tersenyum simpul lalu menyipratkan air kompresan sedikit pada wajah Fathan.
Fathan terkesiap dari lamunannya ia menantap Raina lekat lalu menyentil dahi Raina.
"Iya lo emang nyusahin gw terus tiap hari bikin jengkel aja,"ucap Fathan ketus.
"Ya maaf gw kan gak tau kalo bakalan begini,"ucap Raina menunduk.
Fathan menahan senyumnya ketika melihat wajah Raina yang memelas saat dimarahi olehnya.
"Gak dimaafin,"ucap Fathan tanpa ekspresi.
"Ih jahat banget biarin aja dosa marahan kalo lebih dari 3 hari,"ucap Raina.
"Biarin, belom ada sehari kok,"ucap Fathan acuh.
"Ngeselin banget si, yaudah sono pulang gak usah disini,"usir Raina memalingkan wajahnya.
Aisyah yang mendengar perdebatan yang terjadi diantara Abang dan sahabatnya hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya yang kenyataanya hanya sibuk bolak balik menu yang ada di ponselnya.
"Nyesel aku ngikut mereka kesini berasa jadi obat nyamuk doang, tau gini mah aku di bawah aja main sama Fano lebih asik,"gerutu Aisyah dalam hati.
"Oh gitu yaaa sekarang ngusir ngusir,"ucap Fathan.
"Lagian mana ada orang marahan betah banget deket deket sama orang yang lagi marahan sama dia,"ucap Raina kesal.
"Ada, nih gw salah satunya,"ucap Fathan santai.
"Bodoah kesel,"ucap Raina memalingkan wajahnya.
"Hahaha gitu aja kesel gw becanda walaupun lo nyusahin gw tapi gw ikhlas kok disusahin sama lo,"ucap Fathan tersenyum ia melupakan keberadaan adiknya ia melirik dan membelalakan matanya saat mengetahui Aisyah yang sedang duduk.
__ADS_1
Aisyah yang mendengar perkataan Fathan refleks menolehkan kepalanya kearah mereka ia memandang Fathan sembari menahan tawanya.
"Tadi bang Fath ngomong apa si, aku salah denger gak ya,"ledek Aisyah.
Fathan dibuat gugup oleh perkataan Aisyah ia membalikan badannya membuka pintu kamar Raina lalu keluar dari kamar Raina dengan perasaan yang campur aduk lebih dominan dengan malu.
Aisyah memandang kepergian Fathan ia tak kuasa menahan tawanya saat Fathan benar benar keluar dan menjauh dari kamar Raina dengan lepas ia mengeluarkan tawanya.
"Hahaha dasar bang Fath aneh gitu aja kabur,"ucap Aisyah beranjak dari duduknya menghampiri Raina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......