
Waktu menunjukkan pukul 15.45 taksi online yang ditumpangi oleh Fahira berhenti perlahan, pengemudi pun memberi tahu pada Fahira kalau mereka sudah sampai pada tujuannya, Fahira terkesiap kemudia melirik sekitar memperhatikan beberapa lokasi, ia tersenyum saat melihat papan yang bertulisan lokasi yang ia cari.
Fahira membuka pintu mobil kemudian membayar ongkos taksi online setelahnya ia melangkahkan kakinya memasuki lokasi tersebut. Ia mengedarkan pandangannya di sekitar sana mencari keberadaan Fathan. Raut wajahnya berubah menjadi muram saat melihat Fathan dan Raina sedang tertawa lepas.
"Enak banget mereka senang-senang disini sedangkan gw beberapa kali ngirim pesan buat ajak lo sekedar makan aja dikacangin terus. Jadi semakin semangat gw buat rusak acara ini dan gw yakin setelah semua hancur pasti lo bakal dibenci sama sahabat lo Raina," gumam Fahira sambil menatap ke arah mereka dengan tatapan tajamnya.
Fahira melihat sekelilingnya dan terlihat disekitar lokasinya berdiri sangat sepi dan jarang sekali di lewati oleh pegawai-pegawai yang sedang bekerja mungkin saja karena lokasi tersebut sudah selesai jadi mereka fokus mengurus yang belum selesai mereka kerjakan.
"Kayanya bisa mulai dari sini, gw bisa rubuhin beberapa hiasan yang udah beres pasti setelah ini kan mereka panik dan fokus kesini. Abis itu gw bakal rusak disebelah sana dan gw bakal buat semuanya hancur," ucap Fahira.
Fahira mengembangkan senyumnya saat berhasil merusak lumayan banyak properti yang sudah selesai dikerjakan.
Dari kejauhan terlihat Zara dan juga Farhan yang sedang berdebat karena souvenir yang mereka lupakan. Akhirnya Farhan pun memutuskan untuk mengalah dan kembali menuju parkiran untuk mengambil souvenir. Sedangkan Zara memutuskan untuk berjalan lebih dulu untuk menyerahkan kue yang berada di tangannya pada Raina.
Zara berjalan dengan amat sangat lambat karena ia takut membuat kue tersebut terjatuh karena kue yang mereka beli sama sekali tidak ada cadangannya hingga membuatnya menjadi Was-was saat membawa kue.
Zara memicingkan matanya saat melihat seorang perempuan yang berada tidak jauh darinya sedang merusak beberapa properti. Sontak membuatnya kaget, kesal sekaligus panik. Zara sempat kebingungan karena di tangannya terdapat kue yang lumayan besar dan sangat penting untuk acara tersebut.
"Ah bodoamat lah soal kue. Kalo propertinya ancur sama aja boong dong dan ini kue jadi gak ada artinya. Lagian si cowo rese kemana sih ngambil souvenir aja lama banget. Gw taro sini aja kali ya kuenya mudah-mudahan gak digondol kucing. Oke Zara ini lebih penting dari pada kue." Zara meletakkan kuenya di sembarang tempat kemudian ia berlarian dengan cepat supaya bisa menghentikan aksi perempuan tersebut.
"Woi! Siapa lo seenaknya aja rusak-rusak properti acara orang!" teriak Zara dengan wajah garangnya.
Fahira terkejut saat mendengar suara teriakan yang meneriakinya, ia berusaha mengendalikan dirinya berusaha setenang mungkin.
"Apa maksud lo? Lo nuduh gw." Fahira melirik sekitar dan terlihat suasana disekitarnya sangat sepi.
"Bukan nuduh lagi itu mah udah jelas lo pelakunya. Gw dari tadi disana ngeliat gimana lo ngerusak semua ini. Lo siapa berani banget ngerusak acara sahabat gw!" bentak Zara.
"Ini bukan urusan lo. Berhubung lo udah liat semuanya jadi ya gw gak bisa ngelak lagi. Gw iseng aja ngelakuinnya soalnya dekorasi ini jelek banget teralu lebay," ucap Fahira dengan santai.
Mendengar jawaban Fahira yang sangat tenang dan sama sekali tidak merasa bersalah membuat emosi Zara naik.
"Gak waras lo ya. Kalo lo gak suka pergi aja sana jangan jadi perusak di acara orang lain. Punya otak kok gak digunain dengan baik. Sekarang lo harus tanggung jawab sama apa yang lo lakuin, kasian temen gw begadang ngurus semuanya tapi dengan gampang dan tanpa rasa bersalah lo rusak gitu aja," bentak Zara.
Fahira tertawa saat mendengar apa yang Zara ucapkan.
"Gak! Gw sengaja rusak semua ini buat apa gw tanggung jawab yang ada apa yang gw lakuin sia-sia dong. Mending lo minggir, gw mau pergi dari sini," ucap Fahira melangkahkan kakinya sambil menyenggol bahu Zara.
Zara tidak terima dengan apa yang Fahira katakan padanya dengan cepat ia mengejar Fahira kemudian menarik tangan Fahira ke belakang punggung hingga membuat Fahira meringis kesakitan dan berteriak untuk dilepaskan.
"Apaan sih lo. Lepasin gw!" teriak Fahira.
"Enak aja kalo ngomong. Benerin dulu apa yang lo rusak baru lo gw lepasin. Jadi perempuan tuh gak usah rese deh, ada masalah apa lo sama Lala atau bang Reno sampe niat ancurin acara mereka. Denger ya gw bisa buat tangan lo patah kalo lo gak mau tanggung jawab buat benerin semua yang udah lo rusak!" Zara terus menguatkan kunciannya pada Fahira.
"Gertakan lo basi! Gw gak takut sama anceman lo silahkan kalo lo berani lakuin aja," tantang Fahira.
Zara mengerutkan dahinya saat mendengar tantangan dari Fahira. Ia semakin mengencangkan kunciannya hingga membuat Fahira semakin menjerit kesakitan.
"Arghh! Sakit!" teriak Fahira.
Fahira tidak menyangka kalau Zara benar-benar melakukan ancamannya, awalnya ia mengira Zara hanya menggertaknya saja. Tidak sanggup menahan sakit di tangannya membuat Fahira memejamkan matanya dan memutuskan untuk mengabulkan permintaan Zara.
Farhan yang terlihat sangat kerepotan membawa dua plastik besar berisi souvenir dibuat kebingungan saat melihat kotak kue yang sebelumnya dibawa oleh Zara berada di tengah jalan.
"Bener-bener keterlaluan dia, cuma disuruh bawa kue aja gak mau dan ditelantarin gitu aja. Awas aja ya kalo ketemu gw kasih pelajaran dikit," oceh Farhan.
"Terus ini gimana bawanya dah. Gw sendirian lagi mana gak ada orang disini atau gw telpon Fathan aja kali ya." Farhan meletakkan dua kantong plastik di dekat kakinya kemudian merogoh saku jaket mencari ponselnya lalu menghubungi Fathan.
Farhan yang sedang berusaha menghubungi saudara kembarnya dibuat terkejut saat melihat Zara yang terlihat sedang ribut dengan seorang perempuan. Refleks Farhan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket kemudian menepikan semua barang-barang supaya tidak keinjak oleh orang lain lalu berlarian menyusul mereka.
"Zara!" teriak Farhan yang membuat perhatian Zara teralihkan padanya dan berhasil membuat Fahira terlepas tanpa mengiyakan apa yang Zara minta.
"Ih ngangetin aja sih, jadi lepas kan jin jahatnya," omel Zara.
Farhan menatap perempuan yang sedang merapikan rambutnya ia merasa tidak asing dengan perempuan tersebut, saat perempuan tersebut menengadahkan kepalanya ia dibuat kaget karena benar dugaannya.
"Hira, kamu kok ada disini dan kenapa bisa ribut sama dia," tanya Farhan melirik keduanya bergantian.
Melihat Fahira yang berniat membuka suaranya sontak Zara terlebih dahulu berbicara untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya karena ia tidak mau Farhan terpengaruh oleh Fahira.
"Ini perempuan gak waras masa dia ngerusakin properti yang ada disini. Tadi gw liat dengan mata kepala gw sendiri gimana dia ngerusak semuanya dan lo liat itu semua yang rusak gara-gara ulah dia," ucap Zara menuding waiah Fahira sambil menatap kesal.
Fahira pun berusaha membela diri dan membuat drama supaya Farhan terpengaruh olehnya. Ia memasang wajah sedihnya sambil menggelengkan kepala.
"Dia bohong Han. Kamu harus percaya sama aku, lagian buat apa aku rusak acara ini dan apa untungnya juga buat aku. Aku dateng kesini semuanya emang udah hancur bukan aku yang rusak semuanya, tolong percaya sama aku Han." Fahira melangkahkan kakinya mendekati Farhan, tangannya menggengam erat tangan Farhan.
Zara mendelikkan matanya dengan malas saat melihat Fahira yang tiba-tiba saja berada di samping Farhan. Ia berdecak sebal sambil bersidekap dada menyaksikan drama yang sedang dimainkan oleh perempuan yang ia ketahui bernama Hira.
Heran di dunia ini kenapa makin banyak perempuan yang suka berdrama kaya dia sih. Ini dosen rese sampe percaya sama drama dia, liat aja kena bogem tuh muka.
"Udah kelar dramanya? Tolong lah jadi perempuan yang cantik luar dalam jangan kaya iblis gitu. Sekarang buruan lo beresin dan lo rapiin semua dan harus sama kaya sebelum lo sentuh atau tangan lo gw patahin biar lo paham gunanya tangan yang sebenernya." Zara terlihat sekali seperti sedang menahan emosinya.
"Han tolongin aku, aku gak salah. Ini perempuan sadis banget liat tangan aku sampe merah kaya gini," mohon Fahira.
Zara gemas melihat Fahira yang terus berdrama di hadapannya dengan cepat Zara mendekati Fahira menarik paksa tangan Fahira.
__ADS_1
"Percuma lo mohon-mohon sama dia karena gw gak akan ngubah apa yang gw bilang cuma karena dia. Ini tentang sahabat gw yang lebih penting dari segalanya, lo ngerusak salah satu properti sahabat gw di depan gw secara gak langsung lo udah nantangin gw," ucap Zara.
Farhan terlihat kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia sama sekali tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Ia pun tidak mungkin menyalahkan Fahira apalagi ia melihat Fahira yang memohon padanya terus-menerus membuatnya merasa iba.
"Zara!" Farhan kaget saat melihat Fahira yang didorong begitu saja oleh Zara hingga terjatuh membuat Farhan refleks meneriaki Zara.
"Kamu kasar banget jadi perempuan. Bisa dibicarain baik-baikkan gak perlu kasar kaya gitu." Farhan mengulurkan tangannya membantu Fahira bangkit dari rerumputan.
"Orang kaya gini tuh gak bisa diajak ngomong baik-baik. Lo gak tau aja tadi dia ngomong apa sama gw. Jangan karena lo kenal sama dia lo ngebela dia jelas-jelas dia salah," ucap Zara.
"Terus kalo dia salah kamu berhak buat hakimin dia, toh yang punya acara Lala dan bang Reno, mereka yang berhak marah bukan kamu. Apa kamu yakin benar-benar dia yang lakuin atau bisa aja kan orang lain," ucap Farhan terus pada pendiriannya membela Fahira.
"Mata gw masih normal gw liat dengan jelas gimana dia banting-banting dan injak-injak semua ini. Oke lah gw tau lo lebih berpihak sama dia karena hubungan kita yang gak baik, tapi lo bisa mikir kan dan bisa liat mana yang benar mana yang salah. Iya ini acara mereka, tapi gw gak akan ngebiarin satu orang pun termasuk dia ngerusak acara sahabat gw meskipun gw gak ada hak buat marah sama dia." Zara merasa kesal dengan perkataan Fathan hingga membuatnya mendorong Fahira dan kini Farhan dan Fahira sama-sama terjatuh.
Farhan tidak terima saat mendapat perlakuan kasar dari Zara dengan cepat ia beranjak kemudian mendekati Zara.
"Bar-bar banget sih jadi perempuan. Wajar saya ngebela dia karena dia sahabat saya dan buat apa saya bela perempuan yang gak ada etika seperti kamu. Saya curiga ini semua cuma sabotase kamu karena kamu iri sama keberuntungan Lala dan kamu mengkambing hitamkan Hira kan." bentak Farhan.
Mendengar tuduhan Farhan padanya membuat Zara tak bisa lagi menahan emosinya. Zara mengepalkan tangannya kemudian mengangkat tangannya mengarahkan pada wajah Farhan.
"Itu balesan dari tuduhan gak jelas lo itu. Biar lo sadar dan gak bodoh lagi jadi cowo," ketus Zara.
Terlihat jari-jarinya yang memerah sehabis memukul wajah Farhan. Sejujurnya ia merasa kesakitan tetapi karena emosi sudah menguasainya membuat hal tersebut menjadi tak terlihat.
Wina dan keluarganya beserta Aisyah yang baru saja sampai disana dibuat panik saat melihat Zara yang meninju wajah Farhan.
Mereka berlarian menghampiri keributan tersebut, Reyhan terlebih dahulu menarik Zara menjauh dari Farhan sedang Aisyah berusaha menenangkan sang Abang karena ia tahu kini Farhan sedang emosi.
"Bang Han tenang dulu jangan emosi. Fano kak Aisyah minta tolong ambilin tissu ya," ucap Aisyah dengan cemas menatap hidung Farhan yang berdarah.
"Cila mana tissu itu hidungnya kakak ipin beldalah," teriak Fano berjingkrak-jingkrakan kemudian dengan cepat berlarian membawa tissu pada Aisyah.
Aisyah pun memberikan tissu pada Farhan untuk menyumbat hidungnya.
"Ini sebenernya ada apa sih kenapa kalian bisa ribut sampe kaya gitu, biasanya kan kalian gak begini banget kalo ribut," ucap Aisyah cemas.
"Kamu tanya aja sama teman kamu itu," ketus Farhan.
"Loh kak Hira ngapain disini," heran Aisyah.
"Aku kesini penasaran aja sama acaranya Ais, terus pas sampe sini tiba-tiba aja cewe itu fitnah aku terus Han bela aku dan dia gak terima akhirnya dia tonjok Han sampe berdarah kaya gitu," ucap Fahira dengan segala dramanya.
Fano yang berada di belakang mereka ikut mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Fahira, ia menatap Fahira dengan tatapan menyelidiknya, ia tahu betul bagaimana sikap Zara meskipun Zara galak tetapi sebenarnya Zara baik.
Fano mendekatkan dirinya pada cila, kemudian menarik telinga Cila pelan supaya lebih dekat dengannya.
"Siapa yang jahat," tanya Cila.
"Nanti Pano kasih tau kalo udah sepi ya, ayo kita ke sana. Pano mau temenin kak Zara soalnya kasian dia gak ada yang belain cuman kak Ley si tuyul kepala melah, kak Leno halus ikut Pano jangan disini pokoknya!" ajak Fano dengan berkacak pinggang ia berjalan menghampiri Reyhan dan Zara sambil melirik sinis pada Fahira.
"Eh kalian mau kemana, sini aja jangan kemana-mana," teriak Wina.
"Oh iya itu kue sama souvenirnya ada disana, tolong bawa ke Fathan sama Raina ya," pinta Farhan.
***
"Kak Zala tenang aja kita gak pelcaya kok sama olang jahat, kita bela olang baik. Mali kita belsatu buat gagalin kejahatan olang jahat," ucap Fano dengan gaya ala-ala power ranger.
"Mulai halu nya dah nih bocil," gerutu Reyhan.
"Kak Zala gak ditonjok juga kan sama kakak ipin, kalo ditonjok kasih tau Pano bial Pano aduin ke mama Pano," ucap Fano.
"Kirain mau tonjok balik ternyata ngadu payah Fano," ledek Cila.
"Pano gak nyampe tau kalo nonjok kakak ipin, palingan nanti Pano minta tolong sama kakak upin bial Pano bisa tonjok langsung," oceh Fano.
"Rewel banget bocil-bocil ini. Lo kenapa Zar bisa ribut kaya tadi," ucap Reyhan.
"Itu cewe yang ada di samping dosen gila itu tuh, lo liat kan? Dia ada niatan jelek di acara ini tadi gw liat dia ngerusak beberapa properti dan dia ngaku pas gw pergokin tapi pas dosen ngeselin itu dateng dia malah drama dan bodohnya lagi itu dosen percaya sama drama jin tomang itu," jelas Zara sambil menatap ke arah mereka dengan tatapan kesal yang dibalas tatapan tajam oleh Farhan.
"Pano belasa lagi liat banteng mau libut, liat deh Cila mata kak Zala sama kakak ipin selem banget," ucap Fano.
"Namanya juga lagi berantem pasti kaya begitu Pano gimana sih gak ngerti banget," saut Cila.
Setelah mendengar penjelasan dari Zara. Reyhan mengedarkan pandangannya memperhatikan dekorasi sebagian rusak.
"Oh iya berantakan banget itu propertinya, tapi lo yakin dia yang lakuin?" tanya Reyhan.
"Gw males ngejelasin berulang kali buat sama yang gak percaya sama omongan gw," ucap Lala dengan nada malasnya.
Mendengar adanya keributan Fathan dan Raina pun pergi ke sana bersama dengan Meli.
Raina kaget saat melihat sebagian dekorasi rusak dan yang membuatnya lebih kaget lagi disana ada keluarganya dan juga sahabatnya dengan keadaan yang terpisah-pisah seperti membuat kubu.
Fathan dan Raina memutuskan untuk berpencar dengan Fathan yang berjalan menghampiri saudara kembarnya dan Raina yang menuju Zara.
__ADS_1
"Ini ada apa sih kenapa kalian kumpul disini semua dan kenapa semuanya jadi rusak," tanya Raina dengan panik.
"Raina tenang dulu jangan panik. Nanti kita kumpul dan omongin semuanya baik-baik dan kita harus fikirin gimana caranya ini properti yang rusak bisa dibenerin sebelum Lala sampe," ucap Reno yang mengetahui Lala belum sampai ke lokasi karena sempat nyasar.
"Cerita dulu ada apa," tanya Raina.
"Intinya ada orang yang mau rusak acara ini," saut Reyhan.
"Benel, ada olang jahat yang nyamal jadi olang baik. Awas aja nanti Pano keljain dia," ucap Fano.
"Emang Fano tau orang jahatnya?" tanya Zara yang emosinya sudah sedikit reda.
Fano menganggukkan kepalanya kemudian mengalihkan pandangannga pada Fahira.
"Tenang aja kak Zala. Pano gak oon kok hehe. Mali kita kelja sama belhubung kak Lala gak mungkin ikut di misi ini jadi kali ini Pano ajak kak Zala aja," ucap Fano yang membuat orang disekitarnya menatap Fano heran.
***
Setelah membicarakan semuanya pada Meli akhirnya mereka menemukan solusi. Berhubung beberapa dekorasi cadangan masih ada jadi mereka bisa memperbaiki semua dekorasi yang rusak dengan yang baru.
"Mel makasih banyak ya, gak tau lagi gw harus apa kalo gak ada lo. Pusing gw ngurusnya," ucap Raina.
"Santai aja Raina. Kayanya lo harus urus satu masalah lagi deh. Buruan urus tuh masalah ribut keluarga barusan," ucap Meli tersenyum.
"Kak Fathan sini bentar deh aku mau ngomong." Raina menarik tangan Fathan menjauhi keluarganya.
"Kenapa?" tanya Fathan.
"Itu Fahira kok bisa ada disini ya, kamu ngajak dia kesini?" tanya Raina.
Farhan menggelengkan kepalanya, ia pun bingung dengan keberadaan Fahira.
"Aku sih mikirnya dia diajak sama Han, soalnya kan yang dia kenal cuma Han sama Ais sedangkan Ais dari kemarin dia selalu bareng keluarga kamu jadi gak mungkin kan kalo dia yang ngajak," ucap Fathan.
"Aneh banget ya. Terus kak Fathan tau kenapa mereka bisa ribut begitu?" tanya Fathan.
"Kita sama-sama baru dateng sayang, gimana aku bisa tau semuanya emangnya aku dukun. Mending nanti kita tanyain aja ke mereka ya biar jelas. Gimana properti yang rusak udah dibenerin?" ucap Fathan membawa Raina ke dalam rangkulannya.
"Untungnya sih mereka bisa diajak negosiasi jadinya bisa di handle sama mereka. Aku kira ngurus begini gampang ternyata bikin stress semaleman," keluh Raina.
"Apa aku bilang pasti kamu bakal pusing ngurus beginian, kalo ngurus beginian asik orang-orang gak ada yang pake jasa WO sayang," ucap Fathan terkekeh.
"Kakak upinnnn!" teriak Fano kemudian memeluk kaki Fathan.
"Apaan itu kakak upin udah bagus jungkook ini malah diganti lagi," ucap Fathan.
"Kak Patan sama kak Palhan kan kembal kaya ipin upin yaudah Pano panggil aja kakak upin." Fano menunjukkan senyumnya pada Fathan.
"Kak Upin bilangin dong sama Kakak ipin jangan malahin kak Zala, soalnya kak Zala gak salah," ucap Fano.
"Emangnya yang salah siapa Pan?" tanya Cila.
"Tuh kan Cila jadi oon gak jago melamal hm. Pokoknya kak Zala gak salah deh, awas aja kalo kakak upin sama kak Laina belain olang jahat, Pano gak mau ngomong sama kak Laina dan kak upin." Fano melepaskan pelukkannya dari kaki Fathan kemudian bersidekap dada memalingkan wajahnya.
"Iya-iya kita mah ikut Fano aja deh, Fano udah makan belum," ucap Raina.
Fano menggelengkan kepalanya kemudian mengedarkan pandangannya mencari pedagang namun tidak menemukan apapun.
"Makan daun sama lumput?" tanya Fano.
"Kalo Fano doyan gapapa makan aja, kan lumayan jadi hemat Hehe," sambung Fathan.
"Fano bohong kak. Dia makan paling banyak pas di mobil jangan percaya sama dia. Suruh dia makan rumput aja," adu Cila.
***
Lala yang baru saja sampai di lokasi menatap kagum pada dekorasi yang berada di hadapannya.
"Ini beneran buat nikahan Lala? Keren banget ini siapa yang punya ide kaya gini," ucap Lala.
"Ini semua Raina dan Fathan yang buat. Idenya sih dari Raina. Inget ya kamu gak boleh ketemu Reno dulu sampe besok," ucap Wina mengingatkan Lala kembali.
"Haduh ini udah ke seratusan kali dibilangin muter-muter, tenang aja Lala gak bakalan ketemu sama kak Reno kok jangankan sampe besok setahun pun Lala jabanin," ucap Lala melangkahkan kakinya melihat-lihat dekorasi yang dominan dengan warna putih dan merah muda.
"Warnanya bagus banget. Lala suka ini, ma fotoin Lala disini dong," pinta Lala yang sudah bergaya namun apalah daya dirinya ditinggal pergi oleh keluarganya.
Lala mengerucutkan bibirnya melihat kepergian mereka.
"Minta potoin doang pelit banget, Mba ... Mas ... Fotoin Lala disini dong tapi numpang pake foto di hp kalian soalnya hp Lala gak ada di sini," pinta Lala.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan saran. Seperti biasa kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar. Saran dari kalian membantu aku dalan proses melanjutkan bab selanjutnya. Kasih komen segokil mungkin ya tentang bab ini.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.