
Fathan dan Raina kini berada di dalam mobil dengan Fathan yang fokus pada mengemudinya dan Raina yang sedari tadi gelisah dan kebingungan karena Fathan tidak mengeluarkan sepatah kata pun hingga akhirnya Raina memutuskan untuk menegur Fathan.
"Kak Fathan jangan diem aja ngomong dong," ucap Raina.
Fathan menghela nafasnya melirik Raina sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan fokus mengendarai mobilnya.
Raina menunggu respon Fathan namun ia tidak mendengar apapun dari mulut Fathan, Raina menundukkan kepalanya kemudian menggeser tubuhnya ke arah pintu mobil.
Kak Fathan kayanya marah banget sama gw sampe dia diam gak mau nyautin omongan gw. Harusnya tadi gw gak usah maksa kak Fathan buat mampir ke kantor polisi.
Fathan menghentikan mobilnya saat melihat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Fathan menolehkan kepalanya ke arah Raina dan tiba-tiba saja ia merasa bersalah dengan Raina.
"Harusnya pas di kantor polisi kamu lawan si Maira, kamu jangan diem aja Raina. Lagian apa yang ada dipikiran kamu sampe kamu minta aku buat ajak kamu ke kantor polisi. Sekarang kamu ngerti kan kenapa aku gak mau ajak kamu kesana? Orang jahat kaya dia gak akan sadar dalam waktu dekat Raina," omel Fathan.
Raina refleks menolehkan kepalanya saat mendengar suara Fathan, ia tersenyum tidak bisa dipungkiri Raina sangat senang saat mendengar Fathan mau berbicara padanya meskipun dengan nada marah-marahnya.
"Iya aku tau kalo aku salah. Maafin aku ya besok-besok aku janji gak akan ngeyel lagi kaya tadi," ucap Raina.
Belum sempat Fathan menjawab ucapan Raina terlebih dahulu ia dibuat terkejut dengan beberapa kendaraan yang berada di belakangnya yang terus menerus membunyikan klaksonnya. Fathan mendengus sebal dengan sengaja ia membunyikan klakson mobilnya berkali-kali kemudian ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi meninggalkan lokasi.
"Kak jangan ngebut-ngebut, kamu kenapa sih beberapa hari ini emosian banget, diklakson sama orang-orang aja emosi," tegur Raina.
"Gimana gak kesel Raina mereka klaksonnya gak santai, Aku tau kok kalo lampunya udah berubah jadi ijo. Emosi karena kejadian tadi di kantor polisi aja belum ilang ditambah lagi kejadian sekarang lama-lama tensi naik drastis nih." Fathan terus mengoceh hingga membuat Raina kebingungan harus melakukan apa.
Raina menggeser duduknya kemudian mengangkat tangannya berusaha mencari keberadaan Fathan. Fathan yang melihat hal tersebut dengan cepat menarik tangan Raina mengarahkan tangan Raina ke arah bahunya.
"Kok tau kalo tangan aku mau ke bahu kamu?" tanya Raina dengan raut wajah herannya.
"Tau lah, kamu kan pacar aku jadi telepatinya kuat," saut Fathan.
Perkataan Fathan sontak membuat Raina tersipu malu terlihat dari pipi Raina yang memerah.
"Gombal mulu. Tadi marah-marah sekarang malah ngegombal punya pacar gini banget ya moodnya cepet berubah," ucap Raina.
"Tapi seneng kan kamu hehe, liat tuh pipi kamu warna-warni kaya rainbow cake. Asal jangan perasaan aja yang berubah-ubah." Fathan terkekeh tangan dengan sengaja tangan kanannya mencubit gemas pipi Raina.
"Ih kak Fathan lagi nyetir bisa-bisanya tuh tangan travelling kemana-mana." Raina mendengus sebal kemudian menepis pelan tangan Fathan.
"Biarin aja aku kan jago bawa mobilnya," saut Fathan dengan santai.
"Percaya diri banget kamu ya awas aja nanti kalo nabrak pohon aku aduin kamu ke Mama aku," ancam Raina.
Fathan tertawa mendengar ancaman Raina tiba-tiba saja ia teringat masa-masa dulu sebelum ia dekat dengan Raina, saat Raina membawa motornya kemudian menabrak pohon hingga membuat barang belanjaan titipan Mamanya berserakan.
__ADS_1
"Gak salah kamu ngancem aku? Haha. Orang yang hobinya nabrak pohon terus pulang-pulang diomelin sama Mamanya siapa ya? Terus orang itu gak dibolehin lagi bawa motor sendirian sama Mamanya deh." Fathan sengaja menyindir Raina.
"Terus aja sindir aku, liatin aja kalo beneran nabrak pohon," ketus Raina.
***
Fano melirik beberapa pedagang, ia tertarik dengan salah satu penjual es. Fano menarik tangan Lala dan Reno supaya mengikutinya.
"Bang itu apaan?" tanya Fano.
"Es gabus dek, enak nih rasanya es legend banget anak tahun 90an pada tau sama es ini, sekali nyobain pasti ketagihan," saut Abang-abang penjual es gabus.
Fano melirik ke arah es tersebut tangannya mengambil satu es kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak juga es gabus, telyata Abangnya gak boong, mau gak kak Lala enak banget tau dingin es gabusnya." Fano menyodorkan es tersebut kepada Lala.
Lala menundukkan tubuhnya supaya tubuhnya sejajar dengan tinggi Fano kemudian melahap es tersebut.
"Udah lama gak liat es ginian, terakhir makan ini pas masih SD. Bang Lala beli semuanya aja ya nanti yang bayar kak Reno, orangnya yang itu tuh yang paling ganteng," ucap Lala sambil menunjuk ke arah Reno.
Reno yang ditunjuk oleh Lala hanya mendengus pasrah kemudian menatap Lala malas.
"Mau jualan kamu beli es sebanyak itu? Awas aja kalo meriang ngadu-ngadu ke aku," ucap Reno.
"Libut telus si kak Lala sama kak Leno, tuh liat abang tukang esnya jadi bingung, belantemnya nanti aja sekalang bayal dulu abis itu belantem lagi boleh," ucap Fano.
Reno mengambil dompet dari saku celannya kemudian mengeluarkan uang dan membayar es yang di pesan oleh Lala.
"Belom jadi istri udah nguras duit aja. Harus kerja rodi ini tiap hari kalo udah nikah," gumam Reno.
Setelah puas membeli beberapa jajanan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, ketiganya berjalan menuju tempat dimana sepedanya mereka titipkan.
"Reno. Ini beneran Reno?"
Reno menolehkan kepalanya ke arah suara yang sempat memanggilnya, ia memicingkan matanya berusaha mengingat sosok perempuan yang sedang tersenyum padanya.
Lala dan Fano ikut mengalihkan pandangannya pada perempuan tersebut. Jika dilihat dari penampilannya pakaian perempuan tersebut seperti guru.
"Alisya," sapa Reno.
"Ternyata bener, penampilan kamu berubah banget Reno udah lama ya kita gak ketemu, gimana kabar kamu selama beberapa tahun ini? Pasti sekarang kamu udah jadi dokter yang hebat ya?" tanya Alisya.
Alisya mengalihkan pandangannya pada Lala dan Fano yang sedari tadi menatapnya.
__ADS_1
" Oh iya ini siapa Ren?" sambung Alisya.
Lala menatap Alisya kesal karena sedari tadi tidak berhenti berbicara.
"Belom juga dijawab udah nyerocos aja kaya petasan," ketus Lala.
"Kaya ibu gulu," gumam Fano.
"Gw baik-baik aja selama beberapa tahun kebelakang sampai sekarang lo liat, lo salah gw sekarang nerusin bisnis Papa gw. Ini Fano sepupu gw dan yang ini namanya Lala calon istri gw," ucap Reno dengan nada cueknya.
Alisya menganggukkan kepalanya sambil menatap Lala dari ujung kaki hingga ujung rambut dan hal tersebut membuat Lala risih karena terus-menerus ditatap oleh Alisya.
"Kenapa ngeliatinnya gitu banget?" ketus Lala.
"Ren, perempuan ini beneran calon istri kamu? Aku kira dia adik kamu loh. Soalnya penampilannya kaya abg banget," ucap Alisya tanpa menyauti pertanyaan Lala.
Lala menatap Alisya jengkel karena pertanyaannya tidak direspon oleh Alisya. Ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut perempuan dihadapannya ini dengan es gabus yang ia bawa, namun ia urungkan.
Ngeselin banget sih nih orang bisa-bisanya dia nanya sama kak Reno tapi gak jawab pertanyaan gw.
Reno menyadari ketidak nyamanan Lala tanpa banyak berfikir ia segera berpamitan dengan Alisya.
"Yaudah ya gw duluan, gak enak sama orang rumah soalnya kita perginya udah lama banget," pamit Reno kemudian menggandeng tangan Raina dan juga Fano.
"Tunggu dulu Ren. Lo gak kangen sama gw? Kita udah lama loh gak ketemu setidaknya ngobrol bentar lah gw yakin orang rumah lo pasti ngerti." Alisya berusaha mencegah Reno dan membujuk Reno supaya Reno mau berbicara sebentar dengannya.
Fano yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Ia memicingkan matanya menatap Alisya sebal sambil berkacak pinggang.
"Bu gulu kalo mau ngoblol nanti aja ya kapan-kapan. Pano lapel banget nih mau makan, kalo bu gulu mau ngoblol ikut aja sama kita ke lumah," ucap Fano.
Lala yang semulanya tersenyum dan memuji Fano di dalam hatinya sontak ia menatap Fano dengan tatapan kesalnya.
Fano ngeselin banget sih baru aja dipuji-puji sebentar eh malas ngeselin lagi.
***
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya gais kalo ada saran juga boleh dititipin aja di kolom komentar.
Semoga kalian terhibur dengan episode hari ini, makasih udah baca cerita receh ini hehe.
Sekian dan terima kasih.
__ADS_1