
Reyhan terkesiap saat mendengar suara nada dering yang berasal dari ponselnya, ia menerutkan alisnya saat melihat kontak ibu dari Kinan yang menghubunginya, refleks ia menepuk jidat dan terus merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia melupakan janjinya pada Kinan yang akan menemani kekasihnya seharian.
Reyhan menarik nafasnya kemudian ia hembuskan perlahan sebelum menjawab panggilan dari ibu Kinan.
"Halo, Assalamualaikum Bu. Maaf ya bu Rey bener-bener lupa gak ada maksud lain, soalnya disini keluarga ngumpul sibuk buat acara pernikahan bang Reno minggu depan." Reyhan berbicara dengan cepat hingga membuat Ibu kebingungan karena ia tidak diberi celah untuk berbicara.
"Iya-iya Ibu tau, tapi ini gawat Rey. Ibu minta kamu kesini ya kondisi Kinan sekarang nurun drastis dari tadi dia manggil-manggil nama kamu terus," ucap Ibu dengan nada gemetarnya.
Bagaikan disambar petir, mata Reyhan membelalak mendadak sekujur tubuhnya menjadi kaku dan mulutnya pun mendadak menjadi bisu.
Sementara Ibu di seberang sana dibuat kebingungan karena Reyhan sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
"Reyhan! Kamu masih disana kan? Kamu denger Ibu?" tanya Ibu.
"Aa ... I ... I ..." belum selesai Reyhan menjawab ucapan Ibu tiba-tiba saja Fano memotong ucapannya.
"Ikan?" Fano memiringkan kepalanya menatap Reyhan dengan wajah polosnya.
Reyhan yang masih kaget mendengar kabar yang disampaikan oleh Ibu dari kekasihnya refleks ia berlarian mengambil kunci motornya tanpa memperdulikan keberadaan Fano disana.
Sedangkan Fano yang masih berada disana terus memandang kepergian Reyhan dengan raut wajah kebingungannya.
"Udah lama gak pelnah tawulan nih kak Ley ngeselinnya kumat, Pano nanya malah dicuekin dasal tuyul kepala melah," gerutu Fano.
***
Raka dan Shasha yang berada di teras rumah menatap Reyhan yang sedang berlarian menuju motornya dengan penasaran.
"Rey, mau kemana?" teriak Raka.
Mendengar ada yang memanggil namanya Reyhan menoleh sejenak kemudian ia kembali fokus pada motornya.
"Rumah sakit!" teriak Reyhan.
Setelah motor Reyhan menyala segera ia pergi mengendarai motornya dengan kecepatan yang lumayan membuat orang sekitar heboh meneriakinya.
"Rak itu si Reyhan bawa motor gak salah? Gw jadi mikir yang aneh-aneh kan liat dia ngebut begitu, coba tanya ke yang lain, kali aja mereka tau si Reyhan kenapa. Ngeri banget soalnya gw liat cara dia bawa motor." Shasha menepuk-nepuk bahu Raka supaya Raka segera masuk ke dalam rumah Raina.
"Iya-Iya sabar Sha ya ampun. Gimana kalo liat pembalap secara live bisa-bisa pingsan lo. Yaudah yok ke dalem." Raka berjalan mendahului Shasha.
"Beda Rak. Kalo yang gw liat valentino rossi pasti respon gw jingkrak-jingkrakan. Lah itu lo liat aja coba yang bawa motor siapa bayangkan seorang Reyhan yang tengil, biasa bawa mobil tiba-tiba bawa motor ngebut begitu, gw sih ngeri liatnya," saut Shasha.
__ADS_1
Raka yang baru saja masuk ke dalam rumah pertama kali yang ia lihat keberadaan Fano dan Rama yang sedang menikmati cemilan sambil menonton televisi bersama. Tanpa berfikir panjang dengan cepat ia menghampiri Rama.
"Ram, lo tau gak si Reyhan ada urusan apa di rumah sakit?" tanya Raka.
Rama menggelengkan kepalanya sambil menaikkan kedua bahunya tanpa berbicara.
"Serius Ram. Gw lagi gak mau becanda buruan jawab," ucap Raka.
Rama menatap Raka sambil berusaha menelan kue bolu yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Resw banget lo ya Rak. Gak ngerti banget orang lagi makan. Udah gw jawab geleng-geleng berarti tandanya gw gak tau!" ucap Rama dengan nada kesalnya.
"Biasa aja dong gak usah kesel gitu, gw kan cuma nanya doang," protes Raka.
"Tadi gw emang liat si Reyhan lari-larian cepet banget kaya atlet lari tapi karena gw gak kepo jadinya gak gw tanya dia mau ngapain, mungkin Fano tau tuh dia kan bocah ajaib biasanya kan dia tau segalanya." Rama menaikkan dagunya dan mengarahkan pada Fano.
"Pano gak tau suel deh. Tadi kak Ley lagi ngomong sama hp telus abis itu Pano tanya dia malah cuekin Pano telus dia lali cepet banget kaya pake sepatu loda, Pano aja gak bisa ngejal kak Ley. terlus ketemu kak Lama disini lagi makan yaudah deh Pano diem disini aja." Fano menceritakan dengan lengkap tanpa ia kurang-kurangi.
"Telponan sama siapa?" tanya Shasha.
"Pano tak tahu kak Chacha soalnya Pano gak dengel," jawab Fano.
"Yaudah deh makasih ya Fano informasinya, sana lanjut makan lagi," ucap Shasha tersenyum lebar.
***
Reyhan memarkirkan motornya asal kemudian ia berlarian menuju ruang IGD dengan raut wajah cemasnya perasaannya tidak karuaan hingga membuatnya beberapa kali menabrak orang yang sedang berjalan.
Reyhan melihat Ibu Kinan di depan IGD dengan raut wajah yang sangat khawatirnya. Reyhan segera menghampiri Ibu kinan dan merangkulnya.
"Ibu, Kinan mana? Tadi Ibu bilang sama Rey katanya Kinan mau ketemu sama Rey terus sekarang Kinan mana?" tanya Reyhan dengan cemas.
Ibu berusaha menahan kesedihannya, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapa pun.
"Selesai Ibu telpon kamu saat itu juga Kinan drop. Dokter bawa Kinan ke ruangan ini," jawab Ibu dengan air mata yang perlahan menetes.
Tidak bisa ia pungkiri meskipun ia sangat tegas dan galak saat mendidik Kinan namun ketika melihat anak semata wayangnya terbaring lemah disana ia pun merasa sedih dan cemas.
Reyhan yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap iba kearah Ibu dari kekasihnya, jujur saja kini perasaannya campur aduk namun ia tidak bisa melihatkan kerapuhannya saat ini karena Ibu Kinan lebih membutuhkan support darinya.
Beberapa menit Reyhan menunggu di depan pintu ruangan, ia terkesiap saat melihat perawat yang baru saja keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Disini ada seseorang yang bernama Reyhan? Pasien sudah sadar dan ingin sekali berbicara dengan Reyhan," ucap perawat.
Reyhan pun mendekati perawat dengan antusias saat ia mendengar perawat menyebut namanya.
"Saya sendiri suster, Boleh saya masuk?" tanya Reyhan.
"Boleh, silahkan," suster merentangkan tangan kanannya mempersilahkan Reyhan masuk ke dalam ruangan.
"Ibu kalo mau masuk juga boleh bu," sambung perawat.
Ibu pun menganggukkan kepalanya dengan rasa khawatirnya ia berjalan cepat menyusul Reyhan.
Reyhan menatap iba ke arah Kinan yang sedang terbaring lemah, rasanya ia tak sanggup melihat Kinan yang kini sangat bergantung pada alat-alat yang ada di rumah sakit.
"Kinan, maafin Aku. Aku tau aku salah banget sama kamu, kamu mau pukul aku juga boleh," ucap Reyhan lirih.
Kinan dengan wajah pucatnya tersenyum pada Reyhan kemudian menggerakkan tangannya perlahan dengan sigap Reyhan menyambut tangan Kinan, ia menggenggam erat tangan Kinan.
"Gimana kondisi Raina sekarang?" tanya Kinan.
"Raina mulai membaik. Buat sekarang ini kamu gak usah mikirin yang lain dulu ya, kamu fokus aja sama kesembuhan kamu. Aku yakin kamu pasti bisa." Tiada henti Reyhan terus memberikan semangat pada kekasihnya tanpa bosan.
Kinan hanya diam, kemudian ia kembali bersuara sambil menatap Reyhan lekat.
"Rey, Aku tau kamu gak mungkin ingkar janji. Kamu laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Siapa pun nanti perempuan terakhir yang ditakdirkan buat kamu pasti dia sempurna banget dan jelasnya beruntung bisa dapetin kamu. Janji sama aku setelah ini kamu harus semangat kaya biasanya walaupun tanpa aku." Perkataan Kinan sukses membuat Reyhan gemetar sekaligus panik, ia tidak menyangka Kinan berbicara seperti itu padanya.
"Gak usah ngomong yang gak mungkin aku lakuin. Aku yakin kamu perempuan terakhir itu jadi aku mohon berjuang demi aku dan orang-orang yang sayang kamu termasuk Ibu dan Papa kamu," ucap Reyhan dengan lembut.
Kinan menggelengkan kepalanya, nafasnya pun mulai tak beraturan tangannya gemetaran hingga membuat Reyhan dan juga Ibu panik.
"Rey, sebelum aku pergi aku mau menghadiahkan kornea mata aku buat Raina. Ini permintaan terakhir aku ke kamu Rey. Ibu maafin Kinan ya selama ini selalu bikin Ibu marah-marah Kinan sayang banget sama Ibu, makasih Ibu atas semua pengorbanan Ibu sampai sekarang." Kinan berbicara dengan susah payah sontak membuat Ibu panik dan berteriak memanggil dokter yang baru saja pergi berulang kali.
"Kinan kamu tega ninggalin Ibu, Ibu mohon bertahan demi Ibu." Ibu menangis sambil menggengam tangan sang buah hatinya.
Maafin aku Rey gak bisa sama-sama terus sama kamu, maaf juga aku udah ingkar janji. Semoga dengan aku mendonorkan kornea mata aku ke adik yang paling kamu sayangi bisa ngebuat kesedihan kamu berkurang kalau aku udah gak ada nanti. Aku sengaja donorin kornea mata aku supaya mata aku bisa liat kamu terus walaupun aku gak ada di samping kamu tapi percayalah aku selalu ada di hati kamu. Kalau nanti kamu ketemu sama pengganti aku, akupun merelakan dan ikut senang.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kasih aku semangat dengan komentar komentar kalian.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.