SENIOR

SENIOR
ngamuk


__ADS_3

Tiba-tiba saja jiwa keisengan yang sudah tertanam pada diri Lala yang sudah beberapa hari ini tidak ia gunakan kembali bangkit.


Lala menetap Fano sambil menahan tawanya, ia menyodorkan keong tepat di hadapan wajah Fano hingga membuat Fano terkejut dan menjerit ketakutan.


"Kak Lala! Buang gak buang buruan buang! Kalo gak nanti Pano malah nih telus nanti kak Lala kena azab kecebur got yang ada lumpul itemnya," teriak Fano.


"Apaan sih Fano lebay banget cuma keong darat doang masa takut, nih coba pegang pasti abis itu pengen beli semuanya deh," ucap Lala kembali menyodorkan keong pada Fano namun lagi-lagi Fano menolaknya dengan cara menepis tangan Lala hingga membuat keong yang berada di tangan Lala terjatuh.


"Ih Fano kok dijatohin, kasian kan keongnya nanti kalo keongnya meninggal gimana? Emangnya Fano mau tanggung jawab? Nanti Fano dituntut sama keluarganya si keong tau rasa," ucap Lala.


Reno menepuk dahinya, ia berusaha menahan malunya saat melihat tingkah Lala yang menurutnya amat sangat menyebalkan.


"Lala inget umur malu tuh diliatin sama anak-anak kecil udah gede kok tingkahnya kaya anak kecil, buruan jadi jajan gak? Kalo kalian masih ribut juga aku tinggal nih ya," ucap Reno.


"Iya-iya salahin tuh Fano yang rusuh," ucap Lala.


Lala mengambil keong kemudian ia melangkahkan kakinya menghampiri penjual keong dan ia membeli keong yang sempat terjatuh dan ia juga membeli satu keong berwarna hitam dengan motif-motif yang cantik.


"Yaudah yuk jajan, nih keongnya udah ada di rumah ini." Lala menunjukkan rumah keong yang berada di tangan kirinya.


Fano melirik sekitar ia melihat salah satu gerobak pedagang yang dikelilingi oleh banyak pembeli, ia berlarian menghampiri gerobak.


"Bang Pano juga mau bang, Pano lima Pano lima yang banyak." Fano ikut berteriak mengikuti ucapan orang-orang disekitarnya sambil memukul-mukul gerobak.


Lala dan Reno menghela nafas pasrahnya kemudian berjalan bersamaan menghampiri Fano.


"Berasa punya anak beneran kalo kaya gini caranya," gumam Reno.


Lala menolehkan kepalanya ke arah Reno kemudian menatap Reno heran.


"Anak aja yang diomongin nikah aja belom," sindir Lala.


"Bentar lagi nikah jadi wajar-wajar aja sekarang ngomongin anak, tapi gapapa lah sekarang ngurusin Fano dulu itung-itung latihan jadi kalo nanti punya anak yang rusuhnya kaya Fano gak kaget," ucap Reno sambil menatap ke arah Fano.


Lagi-lagi Lala dibuat heran dengan ucapan Reno, ia mengira saat ini Reno sedang demam karena terus menerus berbicara ngelantur.


Lala mengangkat tangan kanannya kemudian menempelkan telapak tangannya di dahi Reno, ia terdiam merasakan suhu di dahi Reno.


"Perasaan gak panas deh tapi kok kak Reno tingkahnya kaya orang sakit ya," heran Lala.


"Kamu yang sakit kali, aku sehat-sehat begini dibilang sakit, apa yang salah dari tingkah aku? Kayanya normal dan wajar semua deh," saut Reno.

__ADS_1


"Udah gak usah dibahas, kita samperin Fano aja kasian tuh anak kepepet ngeri gepeng nanti dia pas keluar dari kerumunan." Lala sengaja mengalihkan pembicaraan dengan cepat ia menarik Fano dari kerumunan.


Terlihat wajah Fano yang memerah dan berkeringat, Lala menggelengkan kepalanya dengan cepat ia mengusap keringat Fano dengan lengan bajunya.


"Fano ngapain sih ikut-ikutan disana nanti kalo keinjek-injek gimana. Lagian emangnya Fano tau itu jualan apaan?" ucap Lala.


"Pano kepo banget kak Lala makanya Pano kesana sebenelnya Pano gak tau abangnya jualan apaan, tapi dali tadi Pano belsin-belsin telus pas disana rasanya hidung Pano pedes," jelas Fano.


"Jangan kaya gitu lagi ya. Nanti kak Reno gak mau ajak Fano kalo Fano gak nurut kalo dikasih tau," tegur Reno.


"Iya bapak," saut Fano.


"Apaan Fan? Bapak ?" Lala menatap Reno sambil terkekeh.


"Iya Bapak. Soalnya kak Leno celewetnya kaya bapak-bapak," saut Fano.


"Haha tuh kak dengerin jiwa-jiwa tua sih makanya dipanggil bapak sama sepupu sendiri," ledek Lala.


Reno menyentil hidung Lala, kemudian ia mendudukkan dirinya di sembarang tempat.


"Kalo aku Bapak berarti kamu Ibunya," ucap Reno dengan santai.


***


Raina dan Fathan kini sedang duduk menunggu kedatangan Maira dan Sinta, saat melihat kedatangan mereka sontak Fathan menepuk punggung tangan Raina dengan lembut.


"Tuh udah dateng orangnya," ucap Fathan.


Maira menatap sinis ke arah keduanya, ia menarik kursi dengan tidak santai kemudian mendudukkan dirinya diatas kursi berbeda dengan Sinta yang hanya menundukkan kepalanya saat melihat Raina.


"Ngapain lo berdua kesini? Seneng kan lo liat gw kaya gini!" bentak Maira.


"Santai aja. Lagian wajar lo dapet semua ini karena perbuatan lo," ucap Fathan dengan nada dinginnya.


"Wajar lo bilang? Gini ya Fathan gara-gara pacar lo ini gw jadi masuk penjara yang sama sekali gak ada enak-enaknya, gw gak bisa tidur di kasur gw gara-gara perempuan buta ini!" bentak Maira.


Raina terdiam dikursinya, ia kebingungan harus melakukan apa saat mendengar ucapan Maira.


Sinta mendengus sebal menatap malas ke arah Maira, ia berusaha memberi kode pada Maira untuk berhenti berteriak dan membentak Raina.


"Maira, gunanya apa sih lo teriak-teriak gitu ke Raina? Emangnya dengan lo teriak-teriak kita bakal bebas dari sini," ucap Sinta.

__ADS_1


"Jujur aja gw males kesini kalo bukan gara-gara Raina yang minta kesini, jadi tolong gw minta sama kalian khususnya lo Maira buat bersikap lebih baik sama Raina," tegas Fathan.


"Lo mau apa kesini?" tanya Sinta.


"Maaf sebelumnya kalo kedatengan gw kesini ganggu kalian berdua, tapi gw mau denger cerita versi kalian dari mulut kalian sendiri kenapa kalian bisa tega nabrak gw dan pergi gitu aja?" Raina berbicara dengan nada seriusnya.


"Buat apa? Gak penting banget buang-buang waktu gw aja. Gw tau tujuan lo kesini mau ketawain gw kan. Udahlah Raina gak usah kebanyakan basa basi cerita versi gw sama kaya yang diceritain semua orang. Dan yang jelas gw benci banget sama lo! Lo penyebab semuanya, lo penghancur Raina, gw benci sama lo!" Maira meluapkan emosinya kemudian beranjak dari duduknya tangannya terangkat menarik rambut Raina.


Hal tersebut membuat Fathan dan Sinta panik, mereka berusaha menjauhkan keduanya. Sinta melirik ke arah Fathan yang terlihat sangat emosi.


Fathan menarik tangan Maira, ia menatap Maira tajam kalau saja orang yang berada di hadapannya ini bukan perempuan mungkin saja kini Fathan sudah mematahkan tangannya yang sempat ia gunakan untuk menarik rambut Raina.


"Maira! Lo perempuan gak tau diri ya. Lo salah tapi lo ngerasa korban disini, liat Raina jadi buta gara-gara lo. Kayanya hukuman penjara gak cukup ya buat lo sadar sama kesalahan lo!" bentak Fathan.


Maira menatap Fathan dengan tatapan menantang, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Raina.


"Kalo iya emangnya kenapa? Lagian lo mau-mauan aja sama dia yang jelas-jelas buta dan nyusahin. Gw jadi lo udah gw tinggalin perempuan buta kaya dia," ucap Maira menuding wajah Raina.


Fathan mengepalkan tangannya dengan cepat ia menepis kasar tangan Maira.


"Maira lo apa-apaan sih, udah gak usah diterusin malu-maluin diri sendiri aja lo. Fath gw minta maaf sama lo mendingan lo bawa Raina pergi dulu biar gak buat keributan disini," ucap Sinta.


Fahira berada tidak jauh dari sana tersenyum menikmati drama yang berada di hadapannya.


"Siapa perempuan itu. Punya nyali yang besar juga dia ya sampe berani nabrak Raina dan buat dia buta." Fahira menatap Maira kagum.


"Tapi memang harusnya dia dapet itu sih, cewe caper kaya dia pantes digituin kayanya perempuan tadi bisa dijadiin teman deh soalnya tujuan kita sama," ucap Fahira.


Fathan yang sedang membantu Raina berjalan tidak sengaja melihat keberadaan Fahira dibalik tembok, ia mengerutkan dahinya kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Raina.


Ngapain dia disini, masa iya dia sengaja ngikutin gw kesini rasanya gak mungkin banget, udahlah biarin aja sekarang yang harusnya gw urus Raina dulu.


***


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya gais biar aku semangat up episode berikutnya, kalo ada saran silahkan dititipkan saja di kolom komentar ya.


Semoga kalian semua terhibur dengan episode hari ini terima kasih selalu setia baca cerita aku.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2