SENIOR

SENIOR
Tenda


__ADS_3

Raina terusik dari tidurnya saat mendengar berisiknya suara anak anak di dalam bus yang sedang mengantre untuk bergantian turun dari bus.


Raina mengerjapkan matanya berusaha mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih tertinggal di alam mimpi ia menolehkan kepalanya melihat Lala yang masih terlelap begitu juga dengan Zara dan Aisyah.


"Zar, La, Ais bangun udah sampe,"ucap Raina sembari menepuk nepukan tangannya di bahu mereka bergantian.


Raina beranjak dari kursinya mengambil tas saat melihat ketiga sahabatnya sudah membuka matanya.


Mereka membereskan diri, mengambil tasnya lalu berjalan bersamaan keluar dari bus.


Di depan pintu bus terlihat Fathan dan teman temannya yang siap menyambut mereka.


Lala menatap Fathan sinis dengan cepat kakinya sengaja menginjak kaki Fathan.


"Ngapain lo disini Kak ganjen banget nyamperin Raina mulu dikasih kepastian juga engga,"ucap Lala ketus.


"Lala,"tegur Raina memelototi Lala.


"Hehe maaf abisan Lala kesel sama kak Fathan,"ucap Lala cemberut.


"Ehhh tapi lo punya utang sama gw, awas lo ya gak ditepatin, lo bisa phpin Raina tapi lo gak bisa phpin gw,"ucap Lala ketus dengan cepat memalingkan wajahnya berjalan meninggalkan mereka disusul dengan yang lainnya.


Lala sampai di lokasi menatap sekelilingnya ia melihat banyak tenda yang belum terpasang.


"Ternyata hutan begini ya banyak daunnya,"ucap Lala berhasil mendapat sentilan dari Rama.


"Sejak kapan hutan banyak jajanannya,"ucap Rama.


"Nyaut nyaut aja si kan Lala gak ngomong sama kak Rama, Lala lagi ngomong sama hutannya jangan jangan kak Rama penunggu hutan ya,"ucap Lala.


"Bodo ah terserah lo, mending kita diriin tenda aja yuk,"ajak Rama direspon dengan anggukan kepala oleh yang lainnya.


Mereka mulai berpencar dan berbagi tugas, Lala terdiam menonton mereka yang sibuk bolak balik kesana kemari mendirikan tenda namun tidak ada tanda tanda tenda akan berdiri tegak yang ada tenda ambruk duluan sebelum berdiri.


Lala menertawakan mereka dari kejauhan berjalan menghampiri mereka dengan tawa yang masih terdengar membuat yang lainnya kesal.


"Lala enak banget lo ya diem disitu ngetawain orang lagi bukannya bantuin,"teriak Zara.


"Hahaha gitu aja gak bisa kalian gak pernah pramuka ya,"ledek Lala tertawa berjalan menghampiri tenda yang hancur berantakan tak tahu arah.


"Begayaan banget lo teletabis coba kerjain sono,"ucap Rama.


"Lala disuruh ngerjain beginian doang ah ilah ini mah kecil sendiri juga bisa,"ucap Lala menyombongkan diri mulai mendirikan tenda.


Sementara yang lainnya menatap Lala tidak percaya mereka saling melempar pandang seolah olah sedang bertelepati menanyakan mengapa bisa Lala melakukannya sendirian.


Lala mengembangkan senyumnya saat sedikit lagi pekerjaannya selesai tiba tiba Maira datang membuat tenda menjadi rubuh kembali menimpa tubuh Lala.


"Woiiii tolongin Lala, siapa sih yang jatohin tenda buatan Lala dikit lagi kelar malah di ancurin dasar bandot,"teriak Lala.


Mereka menertawakan Lala bersamaan saat tenda menimpa tubuh Lala lalu membantunya berdiri.


Lala membersihkan bajunya yang kotor lalu menatap Maira kesal ia menimpuk Maira dengan tali tambang yang masih berada digenggamannya.


"Ehh nenek tiri lo ngapain si kesini rusakkan tenda gw jadinya, gw gak mau tau bikinin tendanya ulang,"omel Lala.


"Dih siapa lo nyuruh nyuruh gw, terserah gw dong mau kemana aja emangnya ini hutan punya nenek moyang lo,"ucap Maira santai.


"Jelas bukanlah kaya banget nenek moyang gw bisa punya hutan seluas ini, lagian nenek moyang gw tuh seorang pelaut bukan pemburu mana mungkin dia berlaut dihutan,"ucap Lala.


"Bodoah capek ngomong sama lo,"ucap Maira kesal menghampiri Fathan.


"Fathan bantuin aku diriin tenda yuk aku gak bisa diriinnya,"pinta Maira memeluk lengan Fathan.


Lala bergedik ngeri mendengan perkataan Maira yang amat sangat menggelikan dengan cepat menghampiri mereka melepas paksa tangan Maira dari lengan Fathan.

__ADS_1


"Enak aja lo nyuruh nyuruh tenda mereka aja gw yang diriin, gak usah ganjen deh sono balik ketempat lo usaha sendiri,"usir Lala.


"Lo juga kak Fathan seneng banget ditempelin sama manusia pluto ganjen ini,"omel Lala.


"Lo ngapain masih disini sono pergi hushh,"usir Lala mendorong tubuh Maira.


Maira menatap Lala jengkel menepis tangan Lala yang menempel dibahunya berjalan meninggalkan mereka.


"Kalian semua mending cari kayu dan lain lain sono biar tenda urusan gw gapapa dah gw kerja rodi diriin tenda yang penting gw gak jalan jalan di hutan nanti gw ketemu bu kunti lagi,"ucap Lala bergedik ngeri.


"Yaudah kita bagi tugas yaa, Lala biarin aja diriin tenda,"ucap Raina.


Selesai mereka membagi tugas dan mendapat tugas masing masing mereka berpencar meninggalkan Lala.


Lala menatap kepergian mereka bingung, lalu mulai mendirikan tenda.


"Lah beneran gw ditinggal sendirian dasar kalian tidak berpriketemanan,"gerutu Lala.


Lala menghela nafas mengembangkan senyumnya menatap dua tenda di hadapannya yang sudah berdiri sempurna.


"Ternyata skill pramuka gw waktu sd berguna juga,"ucap Lala.


Lala berjalan mengambil tas lalu memindahkan tas ke dalam tenda bergantian, ia memijat bahunya yang terasa pegal berniat rebahan di dalam tenda hingga yang lainnya kembali, baru saja ia akan memejamkan matanya ia dibuat kaget oleh Aldo yang tiba tiba memanggilnya.


"Apaaa!,"saut Lala ketus.


"Galak banget si, gw kesini mau minta maaf gw tau kok kalo gw salah maafin gw ya,"ucap Aldo tersenyum.


"Iya iya gw maafin tapi nanti jajanin gw ya, udah sono lo pergi gw mau rebahan pegel nih gw abis kerja rodi,"ucap Lala ingin kembali masuk ke dalam tenda.


"Iya santai aja nanti gw jajanin, Raina mana La,"tanya Aldo.


"Gak tau, tadi dia kesono noh beduaan sama kak Fathan,"ucap Lala menunjuk daun daun.


Lala menaikan bahunya acuh kembali masuk ke dalam tenda merebahkan tubuhnya dan berdoa semoga tidak ada pengganggu lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Kak kita tugasnya ngapain dah gw lupa,"tanya Raina.


"Masih muda udah pikun, nyari ranting kecil buat di bakar,"jawab Fathan.


"Bukannya udah di sediain ya dari pihak kampus,"ucap Raina heran.


"Nah itu gw juga heran, kita dikerjain kali ya sama Rama dia kan yang bagiin tugasnya,"ucap Fathan.

__ADS_1


Aldo mengembangkan senyumnya saat menemukan keberadaan Raina ia berlarian menghampiri Raina dan Fathan.


"Rainaaa lo ngapain disini, kasian si Lala sendirian ditenda kayanya dia kecapekan,"ucap Aldo sengaja berbohong.


Fathan menatap Aldo jengkel dan terus menyumpah serapah Aldo di dalam hatinya.


"Oh iya kasian Lala sendirian diriin tenda mending kita samperin aja yuk Kak,"ajak Raina menarik tangan Fathan dengan cepat kembali menuju tenda.


Aldo mengepalkan tangannya saat melihat Raina menarik tangan Fathan ia menyesal berbohong pada Raina bukannya menjauh seperti yang ia inginkan malahan semakin dekat.


Fathan menolehkan kepalanya ke belakang dengan senyum mengembang ia meledek Aldo.


Mereka sampai di tenda melihat kedua tenda yang sudah berdiri dengan tegak dan tas nya yang sudah tidak ada di tempatnya dengan cepat Raina membuka tenda ia menghela nafas lega saat melihat tas mereka ada di dalam bersamaan dengan Lala yang sedang tertidur yang nyatanya hanya pura pura tidur.


"Ada gak tasnya,"tanya Fathan.


"Ada nih sekalian sama si Lala juga ada di dalem lagi tidur,"jawab Raina.


"Yaudah biarin aja dia tidur, ikut gw yuk,"ajak Fathan.


"Kemana,"tanya Raina.


"Udah ayo ikut aja aman kok lo gak bakal ilang kalo sama gw,"ucap Fathan.


Lala sedari tadi menguping pembicaraan mereka termasuk saat Fathan mengajak Raina pergi perlahan Lala membuka matanya beranjak dari tidurnya keluar tenda serta memakai sepatunya berniat mengikuti mereka.


"Mau kemana mereka mencurigakan sekali pergi berduaan Lala ikutin ah,"ucap Lala semangat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2