SENIOR

SENIOR
Bertemu bayu


__ADS_3

Setelah berdiskusi lumayan panjang, akhirnya Raina dan Fathan memutuskan untuk segera mengurus dekorasi resepsi Reno dan Lala hari ini juga karena mengingat waktu yang sudah sangat mepet dan undangan yang sudah tersebar, sangat tidak mungkin ia menundanya lagi. Mereka memberikan bayi dede bayi pada Lala kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga yang lainnya yang masih berada disana.


"Ini udah sore, kira-kira bisa gak ya kalo si Reno sama Lala maksain buat gaspol foto aja, nanti biar semua anak-anak yang urus Rey, Aisyah sama Rama dulu. Bisa lah pasti ya," ucap Wina.


Fathan dan Raina yang masih berada disana menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Wina.


"Iya gapapa kali gitu aja, Fathan sih setuju sama saran tante Wina, seenggaknya bisa kelar setengahnya kalo gak keburu. Terus besoknya tinggal lanjutin lagi semua yang belum kelar. Jadinya gak buang-buang waktu," ucap Fathan.


"Raina sih ikut aja gimana baiknya yang penting semuanya ngejalaninnya enjoy, tergantung bang Reno sama Lala juga kalo mereka oke buat balik lagi sih gapapa," sambung Raina.


"Yaudah kita jalan aja deh, kalo dipikir-pikir ada benernya juga apa yang dibilang Mama. Tapi gapapa kan kita nitipin anak-anak ke kalian bertiga dulu?" ucap Reno.


"Ah tenang aja bang Reno semuanya pasti beres sama kita bertiga, gak usah ngerasa gak enak gitu, asal nanti balik dari sana bawain martabak sama gerobak-gerobaknya aja." Rama tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar permintaan Rama, Reno tersenyum menganggukkan kepalanya karena permintaan Rama bukanlah hal yang susah untuknya. Berbanding terbalik dengan Lala yang kini sedang memicingkan matanya menatap Rama garang seperti banteng yang siap menyeruduk lawannya.


"Itu udah tugas lo ya kak Rama, gak usah ngadi-ngadi minta martabak pake gerobaknya segala lagi. Coba bayangin kalo kak Reno beneran beliin sama gerobak-gerobaknya terus abang-abang yang jualan martabak jadi gak bisa jualan lagi kan kasian. Gerobak mahal tau!" omel Lala.


Sejak awal Lala mengeluarkan suaranya, Rama sudah terlebih dahulu menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Ia mengambil langkah cepat karena ia takut nanti suara Lala bisa saja merusak pendengarannya. Tetapi percuma saja ia menutup telinga karena suara Lala terdengar jelas di telinganya.


" Lala kayanya lo cocok deh jadi anak paskibra atau gak pas zaman sekolah dulu lo itu pemimpin upacara ya, gw udah nutup kuping masih aja kedengeran suara lo," keluh Rama.


Fathan dan Raina saling melempar pandang. Keduanya yakin jika mereka tetap berada disana sampai langit berubah menjadi gelap pun mereka tidak akan jadi pergi.


"Mendingan kita langsung pergi aja, sampe kambing ada sayapnya pun kita gak bakalan pergi kalo dengerin mereka terus," ucap Fathan menarik lembut tangan Raina, mereka memberi kode pada Wina dan Gio kemudian mencium tangan keduanya.


Fathan yang melihat Reno sedang menghela nafas gusarnya pun hanya terkekeh geli kemudian menepuk-nepuk pundak Reno memberi kode kalau dia pamit pada Reno.


"Kasian banget Abang kamu, mau pergi ada aja yang bikin pusing Haha," ucap Fathan.


"Luarnya aja itu dia keliatan tersiksa padahal aslinya di dalem hati bahagia banget kok Hehe. Udah yuk buruan kita pergi soalnya tadi pihak WO nya udah nanyain soalnya kita belom dateng-dateng juga," ucap Raina berjalan menuju mobil Fathan kemudian membuka pintu mobil.


***


Reno bersidekap dada menyaksikan perdebatan antara Lala dan Rama yang belum ada ujungnya. Ia sengaja membiarkan keduanya terus berdebat sampai mereka berhenti dan bosan dengan sendirinya.


Reno menatap Lala dan Rama bergantian saat tidak mendengar suara perdebatan lagi diantara keduanya.


"Udah kelar ngobrolnya? Aku rasa udah kelar ya karena udah lumayan lama-lama aku berdiri disini, jadi sekarang ayo buruan kita balik lagi ke tempat foto studio. Kamu udah buang-buang waktu 20 menit tau gak." Reno menarik tangan Lala menghampiri Gio dan Wina, mereka berpamitan kemudian pergi keluar dari rumah.


"Gak usah ditarik-tarik juga kali emangnya Lala kambing apa ditarik-tarik kaya tadi. Tenang aja gak ada setengah jam pasti kelar kok gak usah panik begitu ya kak Reno," ucap Lala dengan santai.


Reno membelalakan matanya saat mendengar Lala yang mengatakan bahwa foto studio mereka akan selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Reno mengapit kepala Lala diantara ketiaknya, ia menjitak kepala Lala pelan.


" Sembarangan kalo ngomong, foto selfi aja setengah jam yang bagus nemunya cuma satu apa lagi foto studio," ucap Reno.


Lala mendorong tubuh Reno kemudian saat telepas dari Reno ia mengusap-usap hidungnya dengan tangan kanan yang merapikan kembali rambutnya yang sedikit acak-acakan.


"Tau gak kak Reno kalo Lala tuh tersiksa banget pas diketekin sama kak Reno. Untungnya hidung Lala bisa diajak kompromi pas diajak tahan napas," keluh Lala.


"Heleh tersiksa-tersiksa padahal nagih tuh," ledek Reno berjalan menuju mobilnya kemudian membuka pintu mobil.


Lala yang melihat Reno sudah masuk ke dalam mobilnya pun panik berlarian kecil menyusul Reno.


"Mau ninggalin Lala ya? Kalo Lala ditinggalin kak Reno fotonya sama siapa dong? Sama payung-payung item yang ada distudio?" Lala terus saja mengeluarkan ocehan-ocehannya, menghujani Reno dengan banyak sekali pertanyaan yang membuat Reno dengan terpaksa keluar dari mobilnya menghampiri Lala kemudian membuka pintu mobil dan mendorong paksa Lala masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Lala yang sudah berada di dalam mobil hanya mengerucutkan bibirnya karena tanpa Reno ketahui saat Reno mendorong Lala tidak sengaja kepala Lala terhantuk atap mobil.


***


Raina tersenyum saat sampai di kantor WO yang akan bekerja sama dengannya mengurus dekorasi resepsi untuk Lala. Saking semangatnya Raina keluar dari mobil meninggalkan yang masih di dalam mobil Fathan sendirian.


Fathan yang melihat jarak antara dirinya dengan Raina yang lumayan jauh pun hanya mendengus kesal, ia menutup pintu mobilnya berniat menyusul Raina namun langkahnya tertahan karena tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh seseorang.


"Hira? Kok lo bisa ada disini." Fathan menatap Fahira kemudian menatap sekitarnya mencari siapapun yang datang bersamaan dengannya, namun yang terlihat hanya Fahira disana.


"Loh kenapa emangnya. Ini kan tempat umum siapa pun bisa kesini. Tumben lo sendirian gak sama pacar lo Fath," ucap Fahira melirik mobil Fathan memastikan tidak ada Raina disana.


"Raina udah masuk duluan, ini kan kantor WO bukan tempat yang umum-umum banget lah atau jangan-jangan lo ngikutin gw ya," tuduh Fathan.


Fahira tertawa berjalan mendekatkan dirinya pada Fathan.


"Dari muka lo keliatannya lo curiga banget ke gw santai aja kali Fath, gw kesini karena disuruh temenin sepupu gw yang mau bentar lagi mau nikah. Soal ketemunya kita ini murni kebetulan aja," ucap Fahira.


Kita kebetulan yang berakhir jodoh Fath. Kali ini gw bakal berjuang demi lo dan gw gak akan pergi lagi apapun alasannya.


Fathan mengangkat bahunya tak peduli, ia berniat melangkahkan kakinya menyusul Raina namun lagi-lagi Fahira menghalanginya.


"Ada apa? Gw buru-buru kasian Raina sendirian disana," ucap Fathan dengan malas.


"Bisa gak besok kita quality time lagi kaya dulu, kita makan-makan di rumah lo karena udah lama banget kita gak quality time. Kalo gak bisa di rumah lo ke rumah gw juga gak apa-apa," ucap Fahira.


Fathan memutar bola matanya jengah, ia sangat tidak tertarik dengan ajakan Fahira. Sejujurnya ia ingin sekali segera pergi meninggalkan Fahira tetapi ia merasa tidak enak dengan Fahira karena ia masih menghargai Fahira sebagai teman lamanya.


"Maaf Hira gak bisa, gw sibuk banget minggu-minggu ini karena harus bantu keluarga Raina ngurus pernikahan Abangnya Raina. Makasih atas ajakannya sekarang gw pamit duluan ke dalem ya." Fathan berjalan meninggalkan Fahira yang sedang merengut.


"Apa hebatnya dia sih sampe-sampe lo nurut banget sama dia bahkan sama keluarganya, gw kangen banget sama lo yang dulu Fath. Lo yang selalu ada buat gw dan gak pernah nolak apapun yang gw minta," gumam Fahira.


Tanpa sadar Fahira meneteskan air matanya, ia sangat menyesal meninggalkan Fathan hanya karena egonya sendiri. Ia teralu percaya diri bahwa perasaan Fathan padanya tidak akan berubah sampai kapan pun meskipun ia pergi keujung dunia sekalipun.


"Liat aja gw gak bakalan biarin kalian bahagia, Fathan cuma punya gw dari dulu sampe sekarang pun gak bakal berubah. Tunggu aja gw bakal pisahin kalian berdua," gumam Fahira.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan terdengar jelas di telinga Fahira refleks membuat Fahira dengan cepat mengusap air mata yang membasahi pipinya, kemudian ia berbalik badan mencari dimana suara tepuk tangan itu berasal.


"Drama yang amat sangat menyedihkan, cewe yang teralu kepedean yang sekarang dicampakan begitu aja Haha." Tawa orang tersebut berhasil membuat emosi Fahira naik, Fahira berjalan mendekati orang tersebut.


"Apa maksud lo ngomong kaya gitu? Gw gak ada urusan sama lo ya." ketus Fahira.


"Eh santai aja dong gak usah marah-marah gitu, tapi bener kan apa yang gw bilang? Kasian banget sih kaya gak ada cowo lain aja." Orang tersebut tertawa dengan tatapan mengejeknya.


"Lo siapa? Salah satu cewe yang suka sama Fathan tapi gak diladenin sama dia? Terus lo ngikutin mereka sampe sini. Wah gw salut sama lo yang segitu niatnya sampe ngikutin mereka." Fahira menatap perempuan yang berada di hadapannya dengan tatapan mengejek.


"Bukan urusan lo. Gak usah ikut campur," saut perempuan tersebut.


"Gak mau diusik tapi ngusik orang lain dasar cewe aneh." Fahira melirik sinis perempuan tersebut kemudian ia pergi meninggalkan perempuan tersebut.


"Sombong banget dia, mending gw aneh dari pada dia cewe memprihatinkan dan drama," gerutunya kemudian pergi dari tempat tersebut.


***

__ADS_1


Kini Reno dan Lala sedang menunggu fotographer yang jasanya digunakan untuk membantu mereka di dalam studio.


Lala mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan, ia melihat -lihat sekitarannya menatap beberapa alat yang berada di studio.


"Lala jadi keinget tadi deh kalo seandainya kak Reno ninggalin Lala pasti nanti kak Reno foto prewedd nya sama payung-payung item ini deh," ucap Lala menunjuk beberapa payung yang berada disana.


"Gak lah, aku bakal ajak cewe-cewe disini buat foto sama aku ngapain foto sama payung," saut Reno dengan santai.


Lala yang mendengar ucapan Reno pun refleks memukul bahu Reno menatap Reno kesal.


"Mau Lala aduin ke mama Wina biar dijewer sampe kupingnya lebar!" ancam Lala sambil memelototkan matanya.


"Aduin aja, nanti aku aduin balik kalo kamu gak mau foto sama aku, gampang kan Hehe," ucap Reno.


Belum sempat Lala mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan Reno, ia dibuat terkejut saat pintu studio terbuka dan telihatlah di depan pintu tersebut laki-laki yang sangat ia kenal.


"Bayuuuu," teriak Lala dengan heboh.


Lala berlarian menghampiri Bayu kemudian memeluk Bayu erat, rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Bayu.


Reno yang melihat secara jelas apa yang Lala lakukan hanya menatap keduanya kesal, entah mengapa rasanya ia sangat kesal sekali melihat Lala yang begitu erat memeluk laki-laki lain. Ia merasa tidak asing dengan laki-laki tersebut bahkan namanya pun tidak asing di telinganya namun ia tidak bisa mengingat siapa laki-laki yang berada di dekat Lala.


"Loh Lala, jadi orang yang buat gw nunggu dari pagi itu lo. Bener-bener lo ya," gemas Bayu.


"Hehe maaf tadi ada suatu kejadian yang bikin gw gak bisa kesini. Ngomong-ngomong ini yang lo pegang kamera?" tanya Lala dengan wajah polosnya.


" Ember." Tiba-tiba saja Reno memotong pembicaraan mereka.


"Ngaco deh kak Reno, jelas-jelas ini kamera nih liat nih." Lala mengambil kamera dari tangan Bayu kemudian mendekatkan kamera tersebut tepat di depan mata Reno.


"Lagian lo ada-ada aja si La, udah tau kamera ngapain lo tanya-tanya lagi." Suara tawa Bayu mengisi ruangan studio yang sunyi.


"Iya juga sih ya," ucap Lala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bayu menatap Lala dan Reno bergantian, ia tahu hari ini adalah tugasnya untuk membantu pemotretan foto prewedding dan kini yang ada di dalam studio adalah Lala dan Reno.


"Jadi kalian mau nikah? Kok lo gak ngabarin gw sih La. Wah parah banget lo," ucap Bayu.


"Kayanya sih begitu Bay, mana sempet gw ngabarin lo sekarang aja gw dibuat sibuk sendiri . Oh iya gimana sama rumah baca lo terus anak-anak yang lo urus gimana?" tanya Lala.


"Semua tetap gw jalanin, jadi photographer kan kerjaan sampingan gw doang La. Lumayan lah buat nambah-nambahin tabungan biar anak-anak bisa makan enak," ucap Bayu tersenyum.


Lala memandang bayu penuh kekaguman. Dari awal pertemuan mereka, Lala sangat kagum dengan kepribadian yang dimiliki oleh Bayu. Di usianya yang terbilang muda, ia mau menghabiskan masa mudanya dengan mengurus anak jalanan.


"Jadi makin kagum deh gw sama lo. Ayo pelukan lagi." Lala merentangkan tangannya berniat ingin memeluk Bayu namun dengan cepat Reno menahannya dengan cara menyelipkan tubuhnya menjadi berada diantara keduanya.


"Apaan nih bisa-bisanya pelukan disaat ada orang lain disini. Kamu kaya cicak ya yang suka nemplok kesana kemari," omel Reno.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar nanti aku baca kok buat jadi bahan bab selanjutnya hehe.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2