
Fano melebarkan senyumnya ketika melihat Reno dan Lala yang sedang asik berkebun bersama Papa Gio.
"Hm dicariin mutel-mutel sampe Pano pusing telnyata kak Lala sama kak Leno lagi jadi petani di kebunnya Papa Gio," gumam Fano.
Fano berlarian kecil sambil bersenandung menghampiri mereka, awalnya ia berniat membuat mereka terkejut namun ia mengurungkan niatnya karena ia tidak pernah berhasil setiap memiliki niat mengejutkan mereka.
"Hallo gais, ada Pano Jungkook disini. Semua lupain Pano ya, sekalang beltani gak ajak Pano liat aja nanti Pano aduin ke mama Wina. Ini lagi kak Leno gaya-gayaan bunga diambil-ambil disangkutin di rambutnya kak Lala. Keenakan kutu di kepala kak Lala makan enak tau," ketus Fano.
Fano memalingkan wajahnya dengan cepat kemudian pandangannya teralihkan pada seekor kupu-kupu yang berterbang di sekitaran kepala Lala.
"Kak Lala nunduk, buruan nunduk. Cepetan," teriak Fano dengan heboh sambil menarik-narik tangan Lala.
Lala mengerutkan dahinya menatap Fano dengan tatapan bingungnya, refleks ia mengikuti perkataan Fano, perlahan ia menundukkan tubuhnya sejajar dengan Fano.
"Mau ngapain sih?" tanya Lala penasaran.
"Sttt ... Kak Lala diem jangan celewet dan jangan napas," pinta Fano sambil menutup mulut Lala dengan telapak tangan kirinya.
Fano menetap keduanya bergantian kemudian ia mengikuti arah pandangan Fano, ia mengelengkan kepalanya, ia mengira Fano akan meminta untuk digendong oleh Lala keliling rumah ternyata karena melihat kupu-kupu Fano seheboh itu.
"Meninggal dong kak Lala kalo gak boleh nafas tegas banget sih jadi anak kecil," keluh Lala.
"Udah turutin aja biar cepet kelar, kamu mau nahan nafas sampe sejam gara-gara kamu nanya terus? Aman kok tenang," ucap Reno.
Lala yang awalnya merasa cemas dan berusaha menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Fano akhirnya ia bisa menghembuskan nafas leganya saat mendengar ucapan Reno yang membuatnya merasa tenang.
"Beneran ya? Awas aja kalo nanti endingnya gak bagus. Lala selepet kak Reno ya," ucap Lala.
Fano mendengus sebal karena sedari tadi ia tidak bisa menangkap kupu-kupu yang sudah ia incar sejak tadi.
"Kak Lala diem jangan belisik, Fano suapin daun nih ya kalo masih belisik," ancam Fano sambil menunjuk daun yang berada di sampingnya.
"Tau tuh Fano sumpel aja mulutnya cerewet banget dia," ucap Reno sengaja membuat Fano semakin kesal.
Fano menggembungkan kedua pipinya kemudian ia memicingkan matanya menatap Reno kesal.
"Kak Leno juga jangan ngomong ish, Pano suapin pupuk nih ya," omel Fano.
"Sukurin wle," ledek Lala.
Fano membelalakan matanya saat melihat kupu-kupu hinggap di rambut Lala dengan semangat ia berusaha menangkap kupu-kupu tersebut namun bukannya mendapatkan kupu-kupu justru kepala Lala yang terkena tepukan tangan Fano hingga membuat Lala berteriak dan tersungkur di atas tanah.
"Fanooo! Ngeselin banget sih udah mukul kepala orang terus jatohin orang ke tanah lagi, sini gak!" teriak Lala.
__ADS_1
Fano tidak memperdulikan teriakan Lala, ia terus berlari mengejar kupu-kupu yang terbang sejak Lala terjatuh, sesekali Fano menolehkan kepalanya kebelakang melihat ke arah Lala sambil tertawa.
"Maapin Pano ya kak Lala, salahin aja kupu-kupunya yang tiba-tiba telbang, nanti deh Pano bantuin beldiri kalo Pano udah dapet kupu-kupunya kalo sekalang Pano gak bisa soalnya Pano banyak keljaan," gumam Fano sambil berlarian.
Reno melihat Lala tersungkur di atas tanah refleks ia menertawakan Lala terlebih dahulu tanpa membantunya hingga membuat Lala menatapnya kesal.
"Kak Reno! Ih jahat banget sih orang jatoh bukannya ditolongin malah diketawain!" teriak Lala.
"Abisan lucu banget sih liat kamu jatoh disitu, liat tuh muka kamu belepetan tanah Haha." Reno menunjuk pipi Lala yang kotor kemudian ia mengusap pipi Lala berniat membantu Lala membersihkan pipinya namun yang terjadi kotoran tersebut semakin melebar dan berhasil membuatnya panik.
Lala yang melihat perubahan sikap Reno tentunya menatap Reno curiga, ia berusaha menduga-duga apa yang terjadi pada wajahnya hingga membuat wajah Reno seperti itu.
"Kenapa?" tanya Lala penasaran.
"Ah itu ... Gapapa kok kaget aja liat muka kamu dari deket kok tingkat kejelekannya makin nambah," jawab Reno asal.
"Terus aja hina ade, Bang." Lala memukul lengan Reno.
"Nanti kalo dibilang cantik kamu terbang terus gak balik lagi. Bahayanya lagi nanti pas nikahan gak ada calon mempelai wanitanya," saut Reno sambil menujurkan tangannya membantu Lala berdiri.
Lala yang melihat uluran tangan Reno dengan cepat ia menarik tangan Reno, namun saat Lala menarik tangan Reno tiba-tiba saja Reno hilang keseimbangan dan terjatuh menimpa Lala.
Fano dan Gio yang melihat hal tersebut saling melempar pandang kemudian tersenyum secara bersamaan, Fano memberikan toples berisi kupu-kupu hasil tangkapannya pada Gio kemudian ia berlarian menyusul keduanya.
"Aaaa ... Sakit woy, berasa perempuan tangguh kalo kaya gini ditiban dua manusia sekaligus, kasian tulang-tulangku huhuhu." Lala berusaha mendorong tubuh Reno yang berada diatasnya, Reno pun tidak membiarkan Lala menahan beban tubuhnya ia berusaha menahan tubuhnya sendiri, sedangkan Fano dengan hebohnya duduk sambil berloncat-loncatam seperti sedang bermain kuda-kudaan.
Sabar ya Allah anggep aja latihan punya anak, si Fano selalu gak tau tempat kalo ngerusuh, lagi moment bagus tiba-tiba dia dateng ngerusuh. Liat aja ntar kalo aku punya anak, terus si Fano pacaran nanti aku suruh anak aku gangguin dia.
"Cie ... Cie ... Jadi iri deh liat keuwuan keluarga cempaka ini," sorak Rama.
"Kak Lama sini buluan kita main kuda-kudaan. Ayoooo!" teriak Fano.
Reno dan Lala membelalakan mata saat mendengar teriakan Fano dengan cepat Reno berdiri sambil menahan tubuh Fano yang berada diatas punggungnya. Lala pun secepat mungkin berdiri menyusul Reno.
"Sembarangan aja nyuruh-nyuruh kak Rama ngikut. Liat nih gara-gara Fano badan kak Lala coklat mulu kaya es kul-kul," keluh Lala.
"Gapapa kok. Kata kak Leno kak Lala tetap cantik walaupun jelek," ucap Fano.
"Kecil-kecil udah pinter phpin orang kamu ya Fano, gedenya jangan jadi pakboi ya nak," ucap Gio mengusap-usap rambut Fano penuh sayang.
"Au ah sebel, Lala mau digendong juga dong masa Fano doang yang digendong," ucap Lala dengan wajah muramnya.
"Kali ini Pano ngalah deh sama kak Lala. Kak Leno tulunin Pano dong tuh gendong aja kalung belas," pinta Fano.
__ADS_1
Reno tidak mau memperpanjang perdebatan, ia menurunkan Fano kemudian ia berjalan mendahului Lala yang mematung sambil menatap kepergian Reno dengan kesal.
"Ih dasar gak peka!" teriak Lala.
Lala berjalan keluar dari kebun kemudian ia melihat Reno disana, Lala pun segera menghampiri Reno.
"Ngapain masih disini? Ngeselin banget sih jadi orang!" kesal Lala.
Reno mendelikkan matanya sebal, ia meletakkan kedua telapak tangannya tepat di depan kedua telinganya.
"Buruan naik. Cerewet banget sih kamu," ucap Reno sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Gak mau ah. Aturan dari tadi pas di kebun papa Gio bukan disini," tolak Lala.
"Kelamaan." Reno menggendong Lala ala-ala karung beras tanpa sepengetahuan Lala hingga membuat Lala kaget dan berteriak.
"Kak Reno gendongnya jangan kaya gini ih malu, tuker dulu ih. Sumpah Lala butuh topeng huaaa," teriak Lala.
"Asik biang rusuh," ledek Reyhan.
"Gendong aku ade dong bang," sambung Raka dengan wajah lucunya.
"Loh itu si Lala sama bang Reno kenapa gendong-gendongan begitu, tapi lucu juga mereka sayang. Kapan-kapan kita begitu juga seru kali ya. Kotor-kotoran berlumuran tanah terus gendong-gendongan wah pasti seru," ucap Fathan.
Raina tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya, berulang kali ia berusaha menyimak namun ia tak mengerti juga.
"Ada apa sih? Kenapa Lala digendong sama bang Reno. Dia jatoh apa gimana?" tanya Raina dengan raut wajah cemasnya.
Fathan mengambil ponselnya dari saku celananya kemudian ia mengambil gambar Reno yang sedang menggendong Lala, ia sengaja mengabadikan moment tersebut untuk Raina karena ia yakin Raina sangat menyukai ini.
"Ntar dulu ya sayang, aku lagi fotoin mereka nanti aku ceritain. Kayanya orang di depan lebih tau deh cerita lengkapnya," saut Fathan.
"Ih Pano dekil, kotor ewh jangan deket-deket gw lo ya," ucap Reyhan.
"Dasal nolak gak belani kotol-kotolan huuuu, kaya Pano nih gak takut kotol soalnya udah ada rinso pasti semua jadi belsih," ucap Fano dengan bangganya.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo ada saran silahkan dititipkan di kolom komentar, komentar gokil-gokil dari kalian yang buat aku semangat buat bab selanjutnya gaisss.
Terima kasih sudah membaca novel ini.
__ADS_1
Hari ini kebanyakan Lala, Reno dan Fano dulu ya hehe.