
Raina terdiam jauh di lubuk hatinya ia begitu rapuh berbeda dengan apa yang ia katakan pada yang lain, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia menjalani hari-harinya nanti.
Pasti nanti gw bakal nyusahin banyak orang, hidup gw selamanya bakal jadi beban orang lain.
Raina terus membatin tanpa ia sadari air mata mengalir begitu saja dengan cepat ia membalikan tubuhnya membelakangi Zara dan Aisyah yang sedang berada satu ruangan dengannya, ia tidak mau ada satu orang pun yang mengetahui kesedihannya dan mereka akan merasa kasian pada dirinya.
Rasanya pengen marah dan ngamuk-ngamuk, tapi gw gak mau buat mereka sedih dengan keadaan gw.
Raina mengusap air matanya lalu kembali terdiam, ia terus memutar beberapa kenangan saat bersama teman-temannya tanpa ia sadari Fathan kini berada di hadapannya.
Fathan menberikan kode pada Aisyah dan Zara untuk memberikannya waktu berdua dengan Raina. Keduanya menganggukan kepalanya lalu berpamitan pada Raina.
Setelah mendengar suara pintu yang ditutup seketika air mata Raina mengalir dan terdengar isak tangis, Raina yang tidak menyadari keberadaan Fathan terus menumpahkan segala kesedihannya hal tersebut membuat Fathan semakin terpukul ia tidak sanggup melihat Raina sedih.
Perlahan Fathan mengusap air mata Raina lalu mengambil kursi dan mendudukan dirinya tepat di hadapan Raina yang sedang menangis.
Raina yang merasakan tangan Fathan yang berada di pipinya serta deru nafas Fathan yang berada di hadapannya refleks Raina menepis tangan Fathan, ia sangat malu saat mengetahui Fathan menyaksikannya menangis.
"Kamu ngapain disini? Bukannya kamu diluar?" tanya Raina sambil mengusap sisa air matanya sambil sesegukan.
Fathan menarik nafasnya sambil menatap Raina lekat, ia meraih kedua bahu Raina.
"Aku disini mau nemenin kamu, aku mau jadi orang yang selalu ada disaat kamu sedih, kamu gak perlu malu sama aku, kalo kamu sedih kamu boleh nangis sepuasnya, kalo kamu butuh teman cerita aku siap jadi pendengar yang baik buat kamu, tapi janji sama aku besok kamu gak boleh nangis lagi," ucap Fathan.
Lagi-lagi Raina kembali mengeluarkan air matanya, perkataan Fathan semakin membuatnya sedih.
"Kenapa kamu masih mau dekat-dekat aku Kak? Seharusnya kamu tinggalin aku aja. Aku cuma bisa jadi beban buat kamu nantinya dan yang jelasnya lagi aku bakal nyusahin kamu terus," ucap Raina.
Fathan menggelengkan kepalanya, ia meraih tangan Raina lalu menggenggamnya dengan erat.
Fathan menatap mata Raina lekat, ia menarik nafasnya.
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Kamu ragu sama aku? Dengerin aku, mau bagaimana pun kondisi kamu, ini yang perlu kamu inget selamanya, aku gak akan ninggalin kamu. Aku mencintai semua yang ada di diri kamu bukan cuma mata aja, meskipun kamu kehilangan penglihatan kamu semua itu gak ngerubah rasa cinta aku buat kamu, jadi aku mohon jangan pernah kamu minta aku buat pergi ninggalin kamu karena itu hal paling mustahil buat aku lakuin." ucap Fathan.
Air mata Raina mengalir dengan deras ia tidak menyangka bahwa Fathan akan berbicara seperti itu, ia merasa menyesal sebelumnya telah meragukan kesetiaan Fathan.
"Aku mau sendiri dulu Kak. Aku mau nenangin diri aku, aku mohon sebentar aja kasih aku waktu buat sendiri," ucap Raina dengan raut wajah memohonnya.
Fathan menghela nafas sambil menganggukan kepalanya, ia melepaskan genggaman tangannya lalu mengusap puncak kepala Raina dengan lembut.
"Iya aku pamit keluar ya, aku yakin kamu pasti bisa lewatin ini semua, kamu jangan pernah ngerasa sendirian, disini ada banyak orang yang sayang sama kamu termasuk aku, kalo kamu perlu sesuatu kamu panggil aku aja atau siapa pun yang ada disini," ucap Fathan.
Raina menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Fathan menutup pintu ruang rawat Raina disana terlihat Aisyah dan Zara yang menatap Fathan dengan tatapan penasaran mereka.
"Raina gimana Bang?" tanya Aisyah.
"Dia lagi butuh waktu sendiri, jadi biarin dulu dia sendirian ya kalian jangan masuk dulu untuk sementara," ucap Fathan.
"Kasian banget Raina, siapa sih yang tega nabrak Raina, abis tuh orang gw jadiin perkedel nanti sampe ketemu sama gw," ucap Zara dengan nada sebalnya.
"Bang Fath yang sabar ya, bang Fath jangan nyerah buat kuatin Raina terus dan jangan lupa kasih support ke dia biar dia gak ngerasa sendirian," ucap Aisyah.
Fathan hanya menganggukan kepalanya, ia teringat sesuatu yang belum ia selesaikan.
Fathan menatap Aisyah dan Zara bergantian.
"Gw minta tolong ke kalian berdua bisa gak? Gw nitip Raina ke kalian ya, jagain dia sampe gw balik lagi kesini," ucap Fathan.
"Yailah gak perlu minta tolong gitu kali Kak, tanpa lo suruh udah pasti kita bakal jagain dan temanin Raina sampe kapan pun kalau perlu kita nginep disini," ucap Zara.
"Oke kalo gitu gw pergi dulu sebentar soalnya ada urusan yang belom gw selesain, jagain Raina ya, kalo ada apa-apa kalian harus kabarin gw," ucap Fathan.
Fathan sedikit tersenyum pada Zara dan Aisyah kemudian ia melangkahkan kakinya pergi keluar dari rumah sakit.
Selepas Fathan pergi terlihat Reyhan yang sedang berlarian membuat Zara dan Aisyah saling melempar pandang.
__ADS_1
"Dimana Raina?" tanya Reyhan dengan nada sedikit membentak ia sangat panik ketika mendapat kabar bahwa Raina kecelakaan hingga membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.
Zara dan Aisyah gelagapan saat ditanya oleh Reyhan seketika rasanya mulut mereka susah sekali digerakan hingga akhirnya mereka hanya bisa menunjuk ruangan Raina saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Reyhan tidak memperdulikan keduanya dengan cepat ia membuka pintu kamar ruang rawat Raina yang sempat ditunjuk oleh Zara dan Aisyah.
Sedangkan Zara dan Aisyah kebingungan saat melihat sikap Reyhan yang sangat berbeda dari biasanya.
Reyhan mematung saat melihat Raina yang sedang melamun, perlahan ia menghampiri Raina.
"Raina, maafin gw. Gw telat nyamperin lo," ucap Reyhan.
Raina yang mendengar suara Reyhan refleks ia mengangkat tangannya dan berusaha mencari keberadaan Reyhan, ia mencari keberadaan Reyhan di sebelah kirinya sedangkan Reyhan berada di sebelah kanannya. Hal tersebut membuat Reyhan kebingungan, Reyhan terus memperhatikan Raina ia menggelengkan kepalanya dan berusaha menepis dugaannya.
Gak mungkin Raina buta, gw yakin Raina cuma bercanda, iya dia pasti bercanda, gw tau banget kelakuannya nih anak. Kali ini lo gak bisa boongin gw Raina.
"Raina udah lah gak usah drama, gw tau lo mau nipu gw lagi biar gw semakin ngerasa bersalah. Lo mau apa sih? Bilang aja sama gw, tenang aja kali ini gw turutin semua yang lo mau, basi banget drama lo ***, sumpah dah gak laku di pasaran drama lo," ucap Reyhan tertawa.
Raina yang masih sibuk meraba-raba sekitar seketika terdiam dan menghentikan aktivitasnya saat mendengar ucapan Reyhan.
"Kan lo diem Ha-Ha-Ha, udahlah ngaku aja, nih catet di note hp gw lo mau apa aja besok barangnya udah nyampe di depan lo, kurang baik apa coba gw jadi Abang, awas aja kalo lo masih bilang bang Reno paling the best gw lempar lo ke empang lele," ucap Reyhan.
Reyhan menyodorkan ponselnya ke arah Raina, namun Raina tak kunjung mengambil ponselnya hingga membuat Reyhan mengerutkan keningnya sambil menatap Raina dengan tatapan kebingungan.
"Raina ini ambil. Lo gak mau nguras tabungan gw? Biasanya lo girang banget bisa nguras isi tabungan gw," ucap Reyhan.
Reyhan melirik tangan Raina lalu ia tersenyum sambil terkekeh.
"Oh ... Gw tau pasti lo maunya nih hp gw taro di tangan lo, bener-bener ya punya ade atu doang tapi manjanya gak ketulungan," ucap Reyhan.
Reyhan meletakkan ponselnya tepat di atas telapak tangan Raina, lalu tersenyum menatap Raina, ia menghela nafas lega saat melihat Adik kesayangannya tidak separah yang ia bayangkan saat di jalan.
"Lo tau gak si Raina gw tuh sepanjang jalan ngebayangin kalo lo bakal koma 3 bulan, gw lega banget liat lo gak kenapa-kenapa ya walaupun kepala lo dililit kaya mumi setidaknya gw bersyukur lo gak koma 3 bulan," ucap Reyhan.
Sedangkan Raina kebingungan saat mendapat ponsel dari Reyhan yang kini berada di genggamannya, ia menyentuh ponsel Reyhan asal hingga kini layar ponsel Reyhan menampilkan kamera.
Zara dan Aisyah yang sedari tadi menyimak pembicaraan keduanya mereka hanya menatap Reyhan kesal, lalu mereka menghampiri Raina dan mengambil ponsel Reyhan.
Zara memicingkan matanya sambil berkacak pinggang ia menatap Reyhan kesal, lalu menyodorkan ponsel Reyhan di hadapan wajah Reyhan.
"Kak Rey mending lo diem deh kalo gak tau apa-apa, nih liat apa yang Raina pencet? Makanya jangan asik pacaran terus sampe-sampe lo gak tau keadaan ade lo sendiri," omel Zara.
Reyhan mengerutkan dahinya ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Zara, ia terus berusaha menepis fikiran yang bersarang kepalanya.
"Raina gak bercanda atau pun lagi nipu lo Kak, Raina benar-banar gak bisa liat lagi, harusnya lo sebagai Abangnya dia, lo bikin dia happy jangan bikin dia tambah sedih," omel Zara.
Reyhan tercengang saat mendengar ucapan Zara. Tubuhnya terasa lemas, tangannya gemetar, kini matanya berkaca-kaca menatap Raina sedang menunduk. Perlahan Reyhan berjalan mendekati Raina ia memegang kedua bahu Raina, menatap kedua mata Raina berharap semua ini hanya tipuan saja.
"Raina maafin gw, gw gak pantes jadi Abang lo, disaat lo susah gw gak ada di samping lo. Lo kalo mau marah silahkan marah aja kalo perlu lo pukul gw sampe lo puas," ucap Reyhan.
Reyhan menarik tangan Raina mendekati kepalanya lalu ia memukulkan tangan Raina ke kepalanya sendiri, hal tersebut kembali membuat Raina meneteskan air matanya, ia berusaha menarik tangannya supaya tidak terus menerus digunakan Reyhan untuk memukuli dirinya sendiri.
"Bang Rey udah jangan kaya gini. Gak ada gunanya, gw mukul lo gak akan ngebalikin keadaan," ucap Raina dengan isak tangisnya.
"Tapi Raina gw gagal jadi Abang. Gw gak bisa jagain ade gw sendiri. Gw teralu sibuk sama dunia gw sendiri sampe gw gak sadar dan lupa sama kewajiban gw buat ngejagain lo," ucap Reyhan yang terus menyalahkan dirinya sendiri.
Zara dan Aisyah tidak tega melihat Reyhan yang terus menyalahkan dirinya sendiri juga Raina yang menangis terus menerus.
Lala dan Reno yang kini sedang berada di supermarket membuat beberapa pegawai supermarket menggelengkan kepalanya saat menyaksikan perdebatan mereka.
"Mba maklumin aja ya rada-rada nih perempuan," ucap Reno sambil menunjuk Lala.
Lala memelototkan matanya ke arah Reno lalu ia menginjak kaki Reno hingga membuat Reno meringis kesakitan.
"Argh ... Lala! Liat kan Mba selain rada-rada dia kasar juga," adu Reno.
"Ish udah gede suka ngadu-ngadu, liat aja nanti Lala ngadu juga sama mama Lala sama mama Wina sama papa Gio biar kak Reno dijewer," ketus Lala.
__ADS_1
"Heum terserah," saut Reno.
"Yaudah yuk kita cari jajan lagi," ajak Lala.
"Gak tau malu abis menganiaya malah ngajak nyari makanan lagi," sindir Reno.
Lala menatap Reno dengan cengiran khasnya sambil menunjukkan kedua jarinya yang menbentuk huruf V.
"Maaf deh maaf lagian sih kak Reno ngeselin bilang Lala rada-rada ke Mba-mba," ucap Lala.
"Yaudah ayo lanjut lagi berisik banget ngomong mulu kaya Fano," keluh Reno.
Fathan, Rama dan Raka sedang berada di tempat Raina kecelakaan, mereka menanyakan orang sekitar mengenai kecelakaan Raina hingga akhirnya ia mendapatkan informasi dari pedagang yang setiap harinya berdagang disana yang kebetulan melihat jelas dan merekam bagaimana mobil tersebut menabrak Raina.
"Kok Ibu bisa rekam kejadiannya? Bukannya itu kecelakaannya ya bu?" tanya Rama.
"Awalnya saya mau main tik tok Mas, terus saya liat ada mobil ngebut banget, padahal udah deket sama posisi orang yang berdiri di tengah jalan, tapi dia masih ngebut aja yaudah saya videoin aja barang kali jadi viral kan nanti tiktok saya banyak yang polo, nah bener jadi viral Mas nih yang nonton udah banyak," ucap Pedagang.
Rama dan Raka dengan bersamaan menepuk jidatnya ketika mendengar penjelasan dari pedagang tersebut.
"Boleh saya liaat videonya Mba?" pinta Fathan.
"Oh boleh nih," saut pedagang sambil menyodorkan ponselnya pada Fathan.
Fathan melihat video tersebut, ia mengepalkan tangannya saat melihat detik-detik Raina ditabrak oleh mobil tersebut.
"Ini mah sengaja bukan kecelakaan! Awas aja Gw cari nih orang!" teriak Fathan.
Fathan nyaris membanting ponsel milik pedagang tersebut, namun dengan cepat Rama mengambil alih ponsel hingga ponsel tidak berakhir tragis.
Pedagang yang semulanya panik saat melihat ponselnya nyaris dibanting seketika ia menghembuskan nafas leganya sambil mengelus dadanya.
"Untung aja gak jadi, Masnya kalo kesel jangan ke hp saya dong nanti kalo ancur gimana emangnya Mas mau gantiin hp saya?" omel Pedagang.
"Kayanya gw kenal sama ini mobil," ucap Rama sambil mengulang beberapa kali di bagian mobil yang menabrak Raina.
Fathan menolehkan kepalanya ke arah Rama, ia menatap Rama geram karena setelah berbicara ia mengetahui mobil tersebut tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan oleh Rama.
Rama menyengir saat menyadari tatapan Fathan yang begitu menusuknya.
"Sabar dong Fath gitu aja marah gak tau apa ya gw lagi mikir nih. Gw liat mobil ini di parkiran kampus tapi gw gak tau ini mobil siapa soalnya gw gak pernah ngapalin mobil-mobil orang," ucap Rama.
"Serius lo Ram? Coba inget-inget lagi, lo salah liat kali, kalo yang diomongin Rama bener berarti pelakunya gak jauh dari kampus," ucap Raka.
Raka terdiam sejenak, ia kembali teringat dengan Shasha yang tiba-tiba datang dan mengintip di depan pintu ruang rawat Raina, ia menepis rasa curiganya dan berniat untuk menanyakan terlebih dahulu pada Shasha.
"Besok kita cari siapa yang punya mobil ini di kampus," ucap Fathan dengan nada dinginnya.
Rama mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya lalu mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Raka sedari tadi sibuk dengan fikirannya sendiri, ia berusaha menebak-nebak siapa pelaku yang tega menabrak Raina hingga menyebabkan kebutaan pada mata Raina.
Gak tau kenapa gw curiga sama Shasha soalnya ngapain juga tuh orang tiba-tiba nongol di depan pintu udah gitu ngintip-ngintip lagi dan pas ketauan sama gw, dia malah kabur kaya ketakutan gitu.
"Raka lo kenapa sih? Abis dari sono bengong mulu, wah jangan-jangan lo kepikiran ya sama Mba-mba tadi terus lo kaya jatuh cinta pada pandangan pertama dan lo sedih karena harus berpisah sama Mba tadi, wahh akhirnya Raka gak jomblo lagi," ucap Rama dengan heboh.
Raka mendelikan matanya lalu menjitak kepala Rama.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong, lo kali yang suka gak usah memutar balikan fakta," ketus Raka.
"Sakit woi, emang begitu kenyataannya kan, semenjak dari sono lo bengong mulu kaya anak ayam kehilangan induknya," ucap Rama.
"Bodo amat," ketus Raka.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya kalau ada saran silahkan bisa dikasih tau di kolom komentar ya.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca cerita ini semoga kalian semua terhibur.
Sekian dan terima kasih