
reno bersyukur lala gak buka dompetnya karena di dalam dompetnya ada foto lala, dia takut Lala jadi ngeledekin dia.
Sepanjang jalan Reno yang sedang mengemudi mobilnya sesekali menoleh ke arah Lala yang sedang asik bermain game di ponselnya. Beberapa kali ia menghela nafas leganya, kemudian ia kembali teringat dengan dompetnya yang sempat berada di tangan Lala.
Syukurlah dia gak buka dompet aku. Aku gak bisa ngebayangin gimana muka ngeselinnya itu terus-terusan ngeledek aku tiap detik. Kayanya gak aman deh itu barang disimpen di dompet.
Secara tidak sengaja Lala mendapati Reno yang sedang menatapnya, Lala pun memicingkan matanya kemudian memiringkan kepalanya sambil ia gerakkan ke kanan dan ke kiri memastikan laki-laki yang berada di sampingnya baik-baik saja.
"Kak, kak Reno. Kak Renooooo!" Lala kesal dengan Reno yang tidak menyahutinya hingga dengan terpaksa ia meneriaki Reno.
"Gak usah teriak-teriak sakit kuping aku, aku sumpel kanebo nih ya mulutnya biar diem," ucap Reno.
"Abisan kak Reno gak denger-denger dari tadi Lala panggilin yaudah deh Lala teriak aja, kak Reno kalo gak diteriakin pasti bakalan terus liatin Lala sampe nih mobil ke pulau sumatera gara-gara kak Reno bawa mobilnya gak fokus," ucap Lala.
"Gak usah kegeeran tuh liat di jidat kamu ada lalat warna merah kuning hijau, aku mau usir tapi tangan aku gak nyampe soalnya aku lagi nyetir," ucap Reno asal kemudian pandangannya kembali fokus ke depan.
Lala pun gelagapan kemudian memukul dahinya berkali-kali hingga membuat Reno menahan tawanya.
"Udah jangan dipukulin itu jidat nanti yang ada malah benjol kan gak lucu mau nikah jidatnya benjol," ucap Reno.
"Biarin benjol dari pada nanti Lala mau nikah tiba-tiba ada tahi lalat gede banget. Lagian kak Reno jorok banget sih, masa di mobilnya ada lalat gede warna-warni, pasti kak Reno nyimpen nasi uduk yang lupa di makan ya," ucap Lala mengedarkan pandangannya di setiap sudut mobil Reno.
"Enak aja kalo ngomong gak disaring dulu. Mobil selalu dibersihin tau," bantah Reno.
"Ya terus kenapa bisa ada lalat gede banget di sini. Ah Lala tau, jangan-jangan kak Reno pelihara lalat di mobil ya," tuding Lala menatap Reno penuh selidik.
Reno tertawa saat Lala menatapnya penuh curiga, ia merasa seperti tersangka penculikan anak yang sedang diintrogasi.
"Ini kepala kayanya harus di upgrade deh biar fresh dan lebih bagus lagi sistemnya. Kerjaan aku udah banyak ngapain nyari-nyari kerjaan lain apa lagi melihara lalat. Kalau pun aku tertarik buat pelihara hewan pasti aku pelihara yang ganas-ganas biar nanti bisa aku gunain dan aku suruh buat kerjain kamu." Reno terkekeh sambil menepuk dan mengusap-usap kepala Lala gemas.
Lala terdiam sejenak berusaha mencari kata-kata yang membuat Reno tidak bisa melawan.
Kalo dipikir-pikir kak Reno ada benernya juga sih, tapi Lala gak boleh kalah kasian si Lalat diremehin sama kak Reno pasti dia ngerasa minder banget deh.
Mata Lala berbinar saat menemukan jawaban di dalam kepalanya sontak dengan cepat Lala menepuk-nepuk bahu Reno dengan semangat.
"Kak Reno gak boleh meremehkan lalat. Gitu-gitu lalat juga ganas loh bahkan gak kalah nakutinnya sama kodok, kecoa terbang, cicak yang tiba-tiba jatoh," ucap Lala.
"Emang lalat bisa apa? Coba kasih tau aku, kenapa dia bisa dijadiin peliharaan," tanya Reno.
"Lalat bisa bikin orang sakit perut lewat makanan yang sempet dia templokin. Bayangkan coba kalo kak Reno makan makanan yang abis di templokin sama lalat pasti abis itu sakit perut, masuk rumah sakit." Lala tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya menunggu reaksi Reno.
Reno terdiam dengan mata yang fokus pada jalanan.Ia heran dengan Lala yang selalu ada saja yang ia katakan untuk melawan opininya. Bukan Lala namanya kalau tidak punya sepuluh ribu macam cara untuk melawan lawan bicaranya.
"Kenapa diem? Pasti kak Reno gak nyangka kan Lala bisa sepinter ini Hehe. Itu salah satu bukti kalo dulu pas SD Lala gak pernah bolos. Bangga gak punya calon istri yang pinter kaya Lala." Lala mengembangkan senyumnya dengan bangga.
"Ada ya orang yang membanggakan diri sendiri. Iya-iya kamu menang, oke besok aku pelihara banyak lalat khusus buat kamu," ucap Reno terkekeh.
"Siap cami. Gak sabar deh pengen kasih tau Fano kabar gembira ini," heboh Lala.
Reno menolehkan kepalanya pada Lala sambil mengernyitkan alisnya memberi kode pada Lala untuk menjelaskan ulang ucapan yang baru saja ia ucapkan.
Lala pun dibuat kebingungan ia terlihat berfikir kemudian saat ia mulai paham ia memganggukkan kepalanya.
"Kak Reno gitu aja gak paham. Lala mau kasih tau Fano kalo kak Reno mau pelihara lalat gitu loh, pasti Fano senang banget deh," ucap Lala.
"Bukan itu. Sebelum itu kamu ngomong apa," ucap Reno sambil menggelengkan kepalanya.
Reno membelokkan mobilnya ke parkiran yang berada di area kuliner, kemudian ia memarkirkan mobilnya dan mengajak Lala keluar dari mobilnya.
"Maksud kak Reno yang mana sih?" tanya Lala kebingungan.
"Udah lupain aja, sekarang kita makan aja. Tuh udah ditunggin sama dia," ucap Reno dengan nada malasnya.
Lala melirik keduanya secara bergantian, sebenarnya ia menyadari ketidaksukaan Reno pada Bayu sejak di studio namun ia tidak mau berfikiran yang tidak-tidak, awalnya ia berfikir Reno sedang kelelahan saja tetapi kini ia yakin kalau Reno tidak menyukai keberadaan Bayu disana hingga membuat Lala menjadi serba salah berada di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Kak Reno kenapa sih kayanya gak suka banget sama Bayu, padahal Bayu baik banget tau. Coba deh kak Reno deketin dia pasti kak Reno gak bakalan jutek lagi sama dia," ucap Lala.
"Ogah! Emangnya aku cowo apaan disuruh deketin dia," tolak Reno memalingkan wajahnya.
"Haha bukan deketin yang begitu maksud aku, tapi ajak Bayu ngobrol biar lebih akrab aja. Udah ah jangan cemberut gitu nanti gak ganteng, senyum yaa biar ganteng." Lala menarik kedua sudut bibir Reno membuat Reno tersenyum.
Melihat Reno yang tersenyum, Lala pun menarik tangan Reno menghampiri Bayu yang jaraknya tidak jauh dari mereka.
"Kita gandengan kaya truk aja ya kak Haha," ucap Lala.
"Kamu yang narik-narik tangan aku," ucap Reno.
"Kak Reno kali gak ditarik pasti diem aja disana. Gak boleh tau galak-galak ke orang lain apalagi orang yang digalakin sama kak Reno itu orang yang baik banget," ucap Lala.
"Hmm, sekarepmu neng," pasrah Reno.
***
Fathan dan Raina kini sedang menikmati suasana Bandung yang begitu tenang. Terlihat Raina yang beberapa kali mengusap telapak tangannya karena kedingingan.
"Bandel sih dibilangin bawa jaketnya malah ditinggalin jadinya kedinginan kan," omel Fathan.
Raina mengerucutkan bibirnya kemudian menunduk menatap kedua tangannya.
Fathan beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Raina sendirian disana, sedangkan Raina menatap kepergian Fathan dengan wajah muramnya.
"Bukannya dipinjemin jaket malah ditinggalin, gak romantis banget sih. Kayanya harus aku cekokin drama korea deh biar romantis dikit." Raina terus mengoceh sambil mencabuti rerumputan yang berada di dekatnya.
Setelah 15 menit lamanya Fathan meninggalkan Raina. Fathan tersenyum sambil menatap satu switter berwarna biru langit bertulisan saranghaeyo yang berada di tangan kanannya.
"Pasti dia udah mikir yang aneh-aneh nih gara-gara gw pergi ninggalin dia gitu aja Haha. Liat ya aku bakalan kasih kamu kejutan yang lebih romantis dari pada drama korea yang sering kamu tonton," gumam Fathan.
Fathan berlarian kecil menuju tempat dimana ia meninggalkan Raina sebelumnya. Fathan tersenyum saat melihat Raina yang terlihat seperti sedang berkomat-kamit sambil mencabuti rerumputan. Melihat Raina tingkah Raina ia merasa Raina sangat menggemaskan sekali. Fathan melangkahkan kakinya dengan hati-hati, ia berjalan mengendap supaya Raina tidak menyadari kedatangannya. Saat sampai di belakang Raina dengan cepat Fathan menutup kedua mata Raina dengan kedua telapak tangannya.
"Arghh!" teriak Fathan.
Raina terdiam karena suara teriakan orang tersebut tidak asing di telinganya dengan cepat ia membalikkan tubuhnya. Raina membelalakan matanya dan menutup mulutnya saat melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal sedang meringis kesakitan memegangi kakinya.
Duh ****** gw. Raina oon bisa-bisanya lo gak ngenalin tangan pacar lo sendiri.
"Duh kak maaf aku gak tau kalo itu kamu, aku kira orang jahat yang mau culik aku. Pasti sakit banget ya. Sini coba liat kakinya," ucap Raina dengan gelagapan.
Raina membantu Fathan berjalan menuju bangku panjang yang berada di dekat mereka, ia menuntun berjalan Fathan dengan hati-hati.
"Lagian kamu ngapain sih tiba-tiba nutup mata aku tumben banget kaya begitu biasanya dateng ya dateng aja. Mana sini kakinya aku liat." Raina membuka sepatu Fathan terlihat sekali wajah cemasnya yang membuat Fathan tak kuasa menahan senyum.
Melihat Fathan yang menatapnya sambil senyum-senyum membuat Raina curiga dengan sengaja ia memencet kaki Fathan sekuat mungkin kemudian memukul lengan Fathan pelan.
"Parah banget sih aku dikerjain. Aku tuh panik beneran loh, aku khawatir sama kamu. Ternyata aku dikerjain doang sama kamu. Dasar nyebelin," omel Raina.
Fathan tertawa melihat wajah kesal Raina. Raina terlihat sangat lucu ketika sedang marah seperti itu. Sejujurnya injakan Raina pada kakinya memang terasa sakit sekali namun ia tidak mau membuat Raina khawatir padanya.
"Malah ketawa lagi bukannya mikir atau ngerasa bersalah kek gitu. Udah pergi ninggalin aku lama banget, datang tiba-tiba nutup mata aku dan sekarang kamu ngerjain aku. Mau marah tapi gak bisa marah yaAllah," omel Raina.
"Hehe maafin aku ya karena udah ninggalin kamu lama banget terus ngagetin kamu dan bikin kamu khawatir juga, tapi sejujurnya aku gak ada niatan jelek kok. Nih tadi aku pergi nyari ini." Fathan menyodorkan switter yang sempat ia beli di tempat yang tidak jauh dari posisi Raina.
Raina mengambil switter tersebut kemudian menatap Fathan tidak percaya. Ia tidak menyangka Fathan bisa semanis itu padanya. Ternyata setiap laki-laki punya caranya sendiri agar terlihat romantis di hadapan orang tersayangnya.
"Itu sengaja aku beli di toko yang gak jauh dari sini. Aku sengaja beli jaket lagi biar kita berdua pake jaket. Aku gak mau ngasih jaket aku ke kamu karena aku takut sakit, kalo aku sakit nanti siapa yang jagain kamu?" ucap Fathan.
Perkataan Fathan membuat Raina mengubah raut wajahnya berkali-kali hingga akhirnya ia merasa terharu dengan apa yang Fathan ucapkan.
"Makasih ya. Aku jadi terharu deh, gak nyangka banget ternyata pacar aku yang dulunya galak banget bisa semanis ini. Kalo Maira tau ini pasti dia kesel deh mungkin aja sekarang aku didorong sama dia ke kolam buaya." Raina tersenyum senang lalu memeluk Fathan erat.
"Aku gak akan biarin kamu didorong sama dia dong. Sebelum dia dorong kamu, aku bakalan tendang dia duluan," ucap Fathan.
__ADS_1
Raina menyium aroma jagung bakar yang membuatnya menelan air liur dengan susah payah saat melihat seorang anak kecil melewatinya dengan satu buah jagung bakar yang berada di tangan kanan anak tersebut refleks ia melepaskan pelukannya kemudian menatap anak tersebut.
Fathan menyadari hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya kemudian tangannya mengusap sudut bibir Raina seolah benar-benar ada air liur di sudut bibir Raina.
"Ya ampun ilernya sampe netes begitu. Liatin apaan sih?" tanya Fathan terkekeh.
"Ih jangan nyebelin deh kak, mana ada aku ileran. Aku pengen banget deh jagung bakar yang dipegang sama anak yang pake baju kuning itu." Raina menunjuk anak tersebut dengan wajah yang begitu lucu.
"Lucu banget sih kamu kaya ibu hamil yang lagi ngidam tau. Untung aja kamu gak nyamperin anak itu terus ambil paksa jagungnya Haha. Dari pada kamu masang tampang mupeng begitu mendingan sekarang kamu ikut aku yuk." Fathan terus meledek Raina kemudian menarik tangan Raina supaya mengikutinya.
***
Rama dibuat kalang kabur oleh ulah Fano dan Cila yang bermain lompat-lompatan di atas sofa sambil melempar-lemparkan bedak tabur hingga membuat Rama kepleset berkali-kali saat mengejar dua bocah yang asik bercanda.
"Woyyy duo bocil turun gak lo bedua gw selepet klepek-klepek lo bedua kaya ikan mujaer," teriak Rama sambil mengacungkan kemoceng yang berada di tangannya.
Mendengar ancaman Rama membuat keduanya semakin menjadi, mereka sama sekali tidak takut dengan ancaman Rama justru kini keduanya semakin semangat menumpahkan bedak diatas lantai.
"Woi udahan bedak mahal jangan dibuang-buang. Gak liat apa muka gw udah kaya ondel-ondel begini cemong semua. Rasanya gw pengen nyanyi ku menangis aja kalo kaya begini," keluh Rama sambil mengusap wajahnya.
"Haha dasal ondel-ondel jelek kaya bebek wle. Ayo Cila kita pindah kesana bialin aja ondel-ondel ini," ajak Fano.
Mereka berlarian kesana kemari begitu pun Rama yang mengejar mereka berharap mereka menghentikan kegiatan mereka. Namun bukannya berhenti mereka semakin bersemangat mengerjai Rama.
"Haduh sumpah ya capek banget ngurus dua bocah sompral ini. Mendingan gw ngurus 100 tuyul dah dari pada ngurus mereka kan lumayan bisa ngasih gw duit." Rama terlihat ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya.
"Dasal kak Lama kakek tua, gitu aja udah mangap-mangap kaya ikan mas koi Haha," ledek Fano sambil mangap-mangap menirukan gaya ikan mas koi.
"Haha iya nih kak Rama cemen," ledek Cila.
Rama membelalakan matanya tidak terima dengan ejekkan yang Fano lontarkan.
"Enak aja lo ngatain gw kakek tua. Awas aja ya kalo ketangkep gw masukin kalian berdua ke dalem kardus abis itu gw paketin ke arab," teriak Rama kemudian kembali mengejar dua bocah tersebut.
Berbeda dengan Rama yang sedang sibuk mengurus Fano dan Cila. Kini Reyhan dan Aisyah dibuat sibuk dengan seorang bayi. Aisyah berkali-kali bolak-balik ke dapur untuk membuatkan susu formula untuk dede bayi namun selalu ditolak oleh Reyhan dengan berbagai alasan yang membuatnya mendengus sebal dan merasa dikerjai oleh Reyhan.
"Kak Rey ini terakhir ya jangan ditolak lagi. Capek sumpah bolak balik mulu. Aku udah kepleset dua kali gara-gara ulah dua anak di depan yang buang-buang bedak di lantai," keluh Aisyah.
"Lemah banget buat susu aja ngeluh baru juga kepleset dua kali. Mana sini." Reyhan mengambil botol susu kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya untuk mencoba rasa susu tersebut memastikan air susu tidak kepanasan.
Aisyah tercengang melihat Reyhan yang langsung memasukkan botol susu tersebut ke dalam mulutnya karena sedari tadi Reyhan hanya meneteskan susu yang ia buat ke telapak tangannya kemudian ia mulai menyicipi.
"Kak itu kan buat dede bayi kenapa dimasukin ke mulut kak Rey sih. Nanti susunya jadi rasa jigong kak Rey gimana," protes Aisyah.
"Cerewet banget sih. Liat nih ya pasti dia suka sama susunya dan gak bakalan nolak." Reyhan menyodorkan botol susu pada mulut dede bayi dan benar saja ia menerimanya.
Aisyah pun menatapnya tidak percaya karena dede bayi menyukai susu bekas diminum oleh Reyhan. Ia hanya terdiam sambil bergedik ngeri.
"Kak bantuin kak Rama sana. Kasian tau kak Rama dikerjain sama Fano dan Cila. Mukanya sampe cemong-cemong. Keliatannya dia kewalahan juga ngurus mereka," pinta Aisyah.
Aisyah yang sempat melewati ruang tengah merasa kasihan dengan Rama yang terlihat kelimpungan sekali mengurus Fano dan juga Cila.
"Ogah ah. Lo aja yang kesana kalo lo kasian sama dia. Gw udah ngerasain susahnya ngurus Fano apalagi ditambah satu bocah lagi yang ada bisa stress gw. Biarin aja si Rama yang ngurus," tolak Reyhan.
"Justru karena kak Rey udah biasa makanya aku minta tolong sama kak Rey buat nasehatin anak-anak di depan. Bahaya loh itu bedak yang berserakan di lantai, nanti kalo tante Wina sama om Gio pulang terus mereka gak tau lantainya ada bedak dan mereka jatoh gimana," ucap Aisyah bergedik ngeri membayangkan kejadian bagaimana orang-orang yang baru datang terjatuh karena bedak yang berserakan.
"Nyumpahin mak sama bapak gw jatoh lo ya. Wah parah lo liat aja ntar gw aduin ke mak sama bapak gw biar digoreng lo sama mereka," ucap Reyhan.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya semua. Kalo ada saran silahkan dititipkan di kolom komentar. Terima kasih juga buat kalian yang udah komen dan ngasih saran. Komennya ada yang buat aku ketawa-ketawa gak jelas, sampe dikira gila. Ternyata penulisnya pun bisa ketawa-ketawa sendiri loh bukan pembacanya aja. Terima kasih komen kalian bisa bikin mood ngetik aku naik dan gak males-malesan ngetiknya.
Sekian sambutan dari aku.
__ADS_1