SENIOR

SENIOR
Mobil


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 14.50


Raina dan ketiga temannya sedang sibuk memasukkan barang-barangnya yang berserakkan ke dalam tas mereka.


"Raina itu pacar lo udah nangkring di depan pintu noh. Pasti kalian mau pacaran dulu ya terus gw pulang sama siapa Raina. Dasar sahabat sekaligus adik ipar yang kejam," keluh Lala memasang wajah muramnya.


Raina menghela nafasnya melirik Lala sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Zara yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.


"Kalo yang ngomong kaya gitu si Zara, gw percaya La soalnya semua orang juga tau kalo dia jomblo. Lah lo ada suami ngapain ngeluh, tinggal ambil tuh hp lo dari tas terus telpon bang Reno, selesai deh," saut Raina.


"Tau nih Lala gimana sih. Zara gimana tugasnya masih banyak ya?" tanya Aisyah menatap Zara iba.


"Masih Ais malahan masih banyak. Ini semua gara-gara abang lo nih. Dia kenapa ngeselin banget sih jadi manusia. Dia punya dendam apa sih sama gw," omel Zara sambil menulis.


"Kayanya Abang aku cuma iseng aja deh Zar sama kamu. Soalnya aku tau banget bang Han gak mungkin punya dendam sama orang apalagi sama cewe dan cewenya itu sahabat aku sendiri," ucap Aisyah.


"Kaya gini dibilang iseng gimana versi dendam aslinya Aisyah. Sumpah tangan gw pegel banget, ini gak adil masa gw nulis sebanyak ini sedangkan yang lainnya dikit banget. Awas aja tuh orang ya nanti gw bales biar tau rasa," ucap Zara dengan raut wajah kesalnya.


Aisyah menunjukkan cengirannya pada Zara, sejujurnya ia merasa apa yang dilakukan oleh Farhan pada Zara sangat berlebihan. Ia tidak tega melihat Zara yang berkeringat padahal AC di dalam kelasnya menyala.


"Hehe iya juga sih. Yaudah nanti aku coba deh ngomong sama Abang aku, biar dia gak isengin kamu terus," ucap Aisyah menunjukkan senyumnya.


"Yaudah sih Zar terima aja nasib lo. Harusnya lo seneng tau nanti kan lo disamperin lagi sama pak dosen ganteng, ramah, keren, kece. Semoga setelah ini lo gak jomblo lagi ya Zar," ucap Lala dengan wajah polosnya, tanpa ia sadari sedari tadi Reno sudah berada di belakangnya memasang tampang kesalnya.


"Berisik lo ayam-ayaman sd. Noh liat satpam rumah tangga udah jemput tuh, sana lo pulang jadi istri yang bener jangan kebanyakan puji-puji cowo lain," ucap Zara dengan santai.


Mendengar perkataan Zara berhasil membuat Lala terkesiap dengan cepat Lala memutar tubuhnya. Benar saja ia melihat orang yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut berada di hadapannya sedang bersidekap dada menatapnya garang.


"Padahal tadi sebelum aku kesini, aku beliin kamu hadiah, tapi setelah tau kelakuan kamu mendingan hadiahnya aku lelang aja kali ya," ucap Reno.


"Jangannn! Itu kan hadiah buat Lala masa dilelang sih kak. Lala tadi boong doang kok sumpah deh, mana sini hadiahnya," ucap Lala menengadahkan tangannya dengan raut wajah sumringahnya.


Melihat Lala yang begitu bersemangat membuat Reno berniat mengerjainya. Reno memutar balik tubuhnya berjalan ke luar dari kelas meninggalkan Lala.


Melihat Reno yang pergi meninggalkannya berhasil membuat Lala tercengang. Lala mengambil tasnya dengan terburu-buru kemudian ia berlarian menyusul Reno.


Fathan yang berada di depan pintu tersenyum pada Lala. Ia sengaja menghalangi jalan Lala supaya Lala semakin panik.


Melihat tangan Fathan yang menghalanginya, Lala tidak menyerah ia berusaha menundukkan tubuhnya untuk lewat di bawah tangan Fathan, namun lagi-lagi Fathan menghalanginya dengan sengaja menjulurkan kakinya hingga membuat Lala kesal. Lala berkacak pinggang menatap Fathan garang.


"Kak Fathan! Minggir gak lo sebelum tangan lo gw tebas nih pake tangan gw," ancam Lala.


"Gak ah," saut Fathan dengan santai.


"Kak Fathan buaya udara buruan minggir gak! Hadiah buat gw dari kak Reno terancam mau dilelang sama kak Reno tau gak sih. Awas aja ya kalo hadiah buat gw bener-bener dilelang sama kak Reno, abis ini lo gw rebus barengan sama bakso," omel Lala.


Lala mengedarkan pandangannya kemudian menatap Fathan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tertuju pada kaki Fathan yang sengaja digunakan oleh Fathan untuk menghalanginya.


Kenapa gak kepikiran dari tadi sih Lala. Harusnya tuh tadi lo injek aja kakinya buaya udara ini.


Lala mengangkat kakinya dengan cepat ia menginjak kaki Fathan kemudian menjulurkan lidahnya pada Fathan, setelah puas meledek Fathan Lala berlarian mencari keberadaan Reno.


"Arghh! Dasar remahan bawang goreng. Benjol dah ini kaki gw," keluh Fathan sambil meringis memegang kakinya yang terasa berdenyut.


Mendengar Fathan yang sempat berteriak membuat Raina panik kemudian berlarian mendekati Fathan.


"Kamu kenapa Kak?" tanya Raina dengan raut wajah cemasnya.


"Tuh ipar kamu sengaja nginjek kaki aku. Semoga aja hadiah buat dia bener-bener dilelang dah sama bang Reno biar tau rasa tuh anak," omel Fathan.

__ADS_1


Raina terkekeh melihat Fathan yang terus-terusan mengoceh, ia mengalihkan pandangannya pada kaki Fathan.


"Sakit banget kakinya? Si Lala beneran nginjek kaki kamu?" tanya Raina.


"Sakitlah sayang ... Iya si Lala. Kalo yang nginjek Vico aku gak akan ngomel-ngomel kaya tadi," saut Fathan.


"Yaudah maafin aja lah. Kamu sih isengin dia terus makanya jadi diinjekkan kakinya sama Lala. Kaya gak tau aja Lala kaya apa orangnya, kamu gangguin dia dikit aja nanti dibalesnya dua kali lipat sama dia," ucap Raina.


****


Setelah Lala dan Raina berpamitan kemudian pergi bersama pasangannya masing-masing, kini di dalam kelas hanya tersisa Aisyah dan Zara. Aisyah sengaja tidak pulang untuk menemani Zara supaya Zara tidak sendirian di dalam kelas.


Ditengah kesibukkan Zara saat menulis. Sekilas Zara melirik Aisyah melalui sudut matanya. Ia merasa tidak enak pada Aisyah.


"Lo gak pulang Aisyah? Gw gapapa kok disini sendirian. Kalo lo mau pulang gapapa pulang aja," ucap Zara yang masih fokus dengan bukunya.


"Gak ah, gapapa kok. Kamu santai aja Zar, kaya sama siapa aja sih Zar, aku bosen di rumah soalnya di rumah aku sepi banget. Mendingan aku disini aja temenin kamu, tapi nanti teraktir aku siomay ya Hehe," saut Aisyah dengan cengirannya.


"Yah ternyata ada maunya Haha. Yaudah nanti kalo udah selesai kita mampir ke kang jualan siomay. Jangan banyak-banyak tapi ya, duit gw gak banyak soalnya," ucap Zara.


"Oke deh. Udah sana buruan kamu fokus aja ngerjain tugas khususnya Haha. Kayanya bentar lagi kelar deh," ucap Aisyah


Aisyah tersenyum pada Farhan saat melihat Farhan yang baru saja memasuki kelasnya, ia tahu alasan Farhan kembali ke kelasnya untuk memastikan Zara benar-benar mengerjakan tugasnya.


"Lama banget tugas segitu aja dari tadi gak kelar-kelar," sindir Farhan.


Zara beranjak dari kursinya menatap Farhan kesal kemudian dengan sengaja ia memberi coretan pada wajah Farhan dengan menggunakan pulpen yang sebelumnya ia gunakan untuk menulis.


"Bapak kalo ngomong seenak jidat ya, tugas yang bapak kasih ke saya itu setara dengan 1 minggu libur kuliah tau gak. Semoga kena azab deh dosen ngeselin model begini," omel Zara.


"Oh ceritanya protes nih. Oke berarti minta ditambahin lagi. Ternyata murid saya satu ini hobi menulis ya. Oke bisa dilanjut kerjain 2 halaman lagi," saut Farhan.


"Bang Han gak usah berlebihan. Ini udah di luar jam kampus. Gak usah di dengerin Zar, abis ini kita langsung makan siomay aja. Kamu udah kelar belum?" ucap Aisyah menatap Farhan dengan tatapan kesalnya.


Zara mengalihkan pandangannya pada buku yang berada di atas meja, ia kembali memeriksa catatan yang ia rasa sudah selesai. Ia mengembangkan senyumnya saat melihat seluruh tugasnya yang benar-benar sudah selesai tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Zara mengambil tasnya yang berada di samping kursi, kemudian mengajak Aisyah untuk segera pergi dari kelas. Zara memberikan bukunya pada Farhan.


"Nih udah kelar. Awas aja nanti kalo nilai gw jelek, gw udah nulis sebanyak itu loh," ketus Zara.


***


Lala dan Reno kini berada di dalam satu mobil yang sama. Suasana di dalam mobil sangat hening tidak seperti biasanya. Hal tersebut membuat Lala menjadi tidak nyaman, berkali-kali ia melirik Reno namun lagi-lagi Reno hanya diam dan fokus pada kemudinya.


"Kak Reno ngomong dong jangan cuekin Lala!" teriak Lala.


"Apasih, mau mobilnya nabrak tiang listrik?" ucap Reno.


"Ya janganlah. Yaudah deh kak Reno gak usah ngomong sekarang kak Reno fokus ke jalanan aja. Tapi kalo kak Reno bisa ngomong sedikit gapapa ngomong aja nanti Lala liatin jalanannya, kalo ada tiang listrik Lala teriak biar kak Reno gak nabrak tiang listriknya," ucap Lala tanpa jeda.


Reno menghela nafas gusarnya, ia baru sadar perempuan yang ia nikahi ini adalah perempuan dengan sejuta keajaibannya. Melihat sikap Lala yang aneh rasanya ia sudah tidak kuat untuk berpura-pura marah pada Lala.


"Kamu yang bawa mobilnya aja gimana, biar aku bisa ngomong," ucap Reno.


"Lala udah lupa cara bawa mobil. Nanti kalo nabrak gimana. Kak Reno aja deh yang bawa, nanti kita ngobrolnya di rumah aja," ucap Lala.


Reno memarkirkan mobilnya di salah satu restoran, ia berniat mengajak Lala makan terlebih dahulu.


Lala yang baru saja turun dari mobil Reno mengedarkan pandangannya. Lala menatap Reno penasaran.

__ADS_1


"Kenapa kesini?" tanya Lala.


"Gak mau? Yaudah kita pulang aja," saut Reno.


"Kak Reno dari tadi ngambek terus sih. Jangan ngambek-ngambek mulu nanti tingkat kegantengannya turun drastis," bujuk Lala.


Lala berhasil membujuk Reno hingga akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam restoran. Namun tiba-tiba saja langkah Lala terpaksa berhenti ketika melihat seseorang berada di dekat mobil yang sangat ia kenal.


Mirip mobilnya kak Fathan tapi kok yang di deket mobilnya malahan orang lain. Apa cuma mirip aja kali ya. Tapi kok orang itu mencurigakan banget sih kaya mau ngelakuin kejahatan gitu.


"Lala! Ngapain lagi sih, ayo buruan," tegur Reno.


"Iya sebentar, kak Reno duluan aja nanti Lala nyusul," saut Lala.


Lala sengaja menyuruh Reno untuk masuk lebih dulu karena ia masih penasaran dengan orang yang berada di samping mobil yang sangat mirip dengan mobil milik Fathan.


Setelah melihat Reno yang berjalan menuju restoran, Lala pun segera mendekatkan dirinya pada orang tersebut, ia berjalan dengan mengendap-endap supaya tidak membuat orang tersebut curiga.


"Oh jadi orang itu mau berbuat jahat sama mobil ini. Bahaya ini kalo dibiarin, nanti orang yang naik mobil ini bisa celaka. Lala ngadu ke siapa ya kira-kira biar mobilnya aman," gumam Lala.


Setelah melihat orang itu pergi. Lala keluar dari persembunyiannya kemudian mengintip mobil melalui kaca mobil tersebut. Ia kaget saat melihat isi di dalam mobil tersebut yang terdapat foto Raina bersama dengan Fathan disana.


"Ternyata bener ini mobilnya kak Fathan kirain cuma mirip doang. Mereka kesini juga ternyata. Eh tapi ini bahaya, nanti mereka bisa celaka soalnya tadi Lala liat orangnya kaya gunting-gunting sesuatu di mobilnya kak Fathan," ucap Lala dengan panik.


Belum hilang rasa panik yang ada di dalam dirinya. Bertambah dengan rasa kaget saat merasakan ada tangan yang memegang pundaknya.


Jangan bilang ini hantu. Gak mungkin dong La, ini siang gak mungkin ada hantu. Duh bikin takut aja sih, Lala gak mau nengok pokoknya.


"Sekarang mau jadi istri durhaka ya, suaminya disuruh nunggu di dalem sedangkan istrinya lagi asik ngintipin mobil orang lain. Udah gitu sekarang gak mau nengok lagi," sindir Reno.


Lala menghembuskan nafas leganya ketika mengetahui tangan yang menyentuh pundaknya adalah tangan milik Reno bukan hantu yang ada di dalam fikirannya.


"Untung bukan hantu. Kak Reno nyaris bikin jantung Lala mau lompat tau," ucap Lala sambil mengelus dadanya.


"Kamu ngapain disini, kurang kerjaan banget ngintipin mobil orang," tanya Reno sambil melirik mobil yang sempat Lala intip.


"Kak Reno gak tau ini mobil siapa?" tanya Lala dengan tatapan herannya.


"Iya aku tau, ini mobil mirip punya Fathan kan. Mobil kaya gini banyak Lala, lagian kalo pun bener mobil ini punya Fathan gak sopan juga kamu ngintip-ngintip mobil orang," saut Reno.


Lala menatap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut dengan tatapan gemas. Andai saja memukul kepala suami tidak menambah dosanya, mungkin sekarang ia sudah memukul kepala Reno berkali-kali untuk membuatnya sadar.


"Kak Reno mah gak peka. Lala ngintip mobil ini tuh karena curiga, soalnya tadi ada orang yang mencurigakan ngacak-ngacak mobil ini. Kak Reno tau gak? Pas aku ngintip ternyata bener ini mobilnya kak Fathan. Tadi Lala juga liat orang itu bawa gunting terus masuk ke dalam kolong mobilnya kak Fathan," jelas Lala.


Reno membelalakan matanya setelah mendengar penjelasan Lala. Ia tidak mau adiknya berada dalam bahaya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitaran parkiran berusaha mencari keberadaan Raina dan Fathan.


"Serius kamu La. Berarti mereka dalam bahaya dong, coba kamu telpon mereka dan kasih tau ke mereka soal apa yang kamu liat barusan," ucap Reno.


Lala yang semulanya tenang sekarang menjadi panik ketika tidak ada satu pun dari Raina dan Fathan yang merespon panggilannya.


"Aku udah coba telpon mereka tapi gak diangkat-angkat terus. Kita tunggu disini aja kali ya, setidaknya ini mobil gak dibawa sama kak Fathan," ucap Lala.


****


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya.


Sekian dan Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2