SENIOR

SENIOR
Garpu


__ADS_3

Selamat membaca gais!


Setelah melewati beberapa menit perjalanan menuju tempat percetakan, kini mereka sudah sampai dengan bersamaan mereka memasuki tempat percetakan.


"Udah dicetak apa belom kak undangannya?" tanya Zara.


"Katanya sih udah. Kita tanya aja dulu kalau bisa si lo aja Zar yang nanya barengan sama Han juga gapapa tuh, kasian Raina kalo ditinggal," ucap Fathan.


Zara mengalihkan pandangannya ke arah Farhan, ia mendelik sebal kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Fano yang asik menatap sekitar.


"Ogah. Mendingan gw kesana sendirian kalo gak bareng Fano aja deh lebih bagus dari pada bareng sama manusia nyebelin," tolak Zara.


Fano yang mendengar namanya disebut refleks ia menolehkan kepalanya ke arah Zara dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Pano gak mau ah. Pano mau disini aja sama kak Laina," ucap Fano sambil memegang pergelangan tangan Raina.


Zara mendengus sebal saat mendapat penolakan dari Fano, ia mencibirkan bibirnya menatap Fano jengkel.


"Fano gitu ya sekarang. Yaudah kak Zara kesana sendirian aja, dasar anak kecil yang gak peka," ketus Zara.


Fano menatap Zara dengan tatapan kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah gede gak boleh ngambek. Tuh sama kak Palhan aja ya ditemeninnya. Kak Palhan gak kalah ganteng kok sama Pano," ucap Fano tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Bodoamat. Bye!" ketus Zara.


Zara berjalan meninggalkan yang lainnya sambil menghentakkan kakinya.


"Yah ngambek kaya anak kecil aja nih kak Zala. Sono kak Palhan ikutin kak Zala bial gak ngamuk-ngamuk telus." Fano mendorong-dorong tubuh Farhan.


Farhan menghela nafas pasrahnya, ia melangkahkan kakinya meninggalkan yang lainnya tanpa berbicara.


Fathan menggelengkan kepalanya saat melihat kepergian dari saudara kembarnya.


"Udah yuk kita duduk dulu, pasti capek kan dari tadi berdiri terus," ajak Fathan.


Setelah ketiganya mendudukkan dirinya diatas kursi. Pintu toko perlahan terbuka dan terlihat sosok Fahira disana, ia memicingkan matanya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Itu Fathan. Serasa jodoh banget kita ya dimana-mana ketemu terus, tapi kenapa ada si Raina nyusahin Fathan aja sih dia," gumam Fahira.


Fahira tersenyum kemudian ia berniat menghampiri Fathan.


"Hai Fath. Lo disini juga ternyata, ngapain?" sapa Fahira.


Raina yang semulanya sedang berbicara dengan Fano mendadak menjadi diam saat mendengar suara perempuan yang amat sangat ia kenali.


Kaya suaranya Fahira, dia ngikutin kita sampe kesini? Tapi gak mungkin banget soalnya kita perginya dari rumah atau jangan-jangan kak Fathan yang ngasih tau.


"Cetak undangan," jawab Fathan.


Fahira kaget saat mendengar jawaban dari mulut Fathan, sekilas ia melirikkan matanya ke arah Raina dengan sinis.


"Undangan apa?" tanya Fahira berusaha mengontrol dirinya.


"Undangan pelnikahan," saut Fano dengan cepat.


"Haa! Lo mau nikah Fath? Kenapa cepet banget padahal keadaannya Raina sekarang gak sempurna dan lo juga tau kalo dia buta yang ada nanti dia bakal nyusahin lo." Fahira menatap Raina dengan tatapan meremehkan.


"Emangnya kenapa? Lagi pula yang buta kan matanya bukan mata hatinya," ucap Fathan dengan nada dinginnya.


"Tapi Fath, lo gila ya milih orang buta buat jadi istri lo yang ada bukannya istri ngurus suami tapi suami ngurus istri. Gw gak habis fikir sama jalan pikiran lo Fath perempuan buta kaya gini mau lo nikahin." Fahira menatap Raina sinis sedangkan Raina hanya menundukkan kepalanya.


Fano melihat Fahira yang terus menerus menghina Raina, Fano menatap Fahira sebal ia mengepalkan tangannya.


Kenapa sih kak Laina temennya kaya genduluwo semua, dikit-dikit malah-malah. Awas aja ya liat pembalasan Pano.


Fathan menggertakkan giginya, wajahnya memerah menahan emosi, ia menghela nafasnya berusaha menahan rasa kesal yang sudah mengumpul di kepalanya.


"Gw lagi males dan gak mau debat sama lo Hira, tujuan lo kesini apa? Mending lo urus aja kerjaan lo disini. Gw ingetin sama lo ini terakhir kalinya lo hina Raina, lo gak ada hak buat ngatur-ngatur kehidupan gw. Gw gak masalah sama semua kekurangan yang ada di Raina," tegas Fathan.


"Sukulin emang enak diomelin kak Jungkook wle," ledek Fano.


"Tapi Fath, masih banyak perempuan di luar sana yang lebih sempurna. Gw kasian aja sama lo, lo itu sempurna idaman cewe-cewe jadi sayang aja kalo lo mau sama dia." Fahira menuding wajah Raina dan menatap Raina penuh kebencian.

__ADS_1


Fano geram melihat Fahira yang tidak berhenti menghina Raina dengan gerakan cepat ia mendorong Fahira hingga membuat Fahira tersungkur di lantai.


"Rasain tuh dorongan Pano. Sakit kan? Makanya jadi olang tuh jangan jahat nanti kualat tau lasa," Fano tertawa terbahak bahak karena sudah berhasil membuat Fahira jatuh.


"Mending sekarang lo selesain urusan lo disini terus lo pergi Hira. Gw gak nyangka lo bisa ngomong setega itu ke Raina padahal gw percaya kalo lo itu orang baik," ucap Fathan.


Fahira berusaha berdiri sambil menatap Raina penuh kebencian.


Ini semua gara-gara lo. Gara-gara lo Fathan jadi ngusir gw. Lo udah ambil kebahagiaan gw Raina, gw benci sama lo! Gw bakal bales semuanya, gw gak mau lo bahagia diatas penderitaan gw.


Selesai mengambil undangan yang sudah dicetak Zara dan Farhan berjalan menyusul Fathan, Raina dan Fano.


Zara menatap Fathan heran saat melihat raut wajah Fathan yang memerah dengan nafas yang tidak beraturan.


"Lo kenapa kak? Keliatannya kesel banget muka lo?" tanya Zara.


Fathan menggelengkan kepalanya mengalihkan pandangannya ke arah tangan Zara yang sedang memegang undangan kemudian ia membantu Raina berdiri.


"Gak ada apa-apa. Udah selesai kan? Kita balik sekarang ke rumah Raina, kayanya Raina kecapekan," ajak Fathan.


Semua berjalan keluar dari toko percetakkan dengan Zara yang masih sibuk dengan fikirannya sendiri.


***


Lala merasa risih dengan Reno yang terus menerus mengikutinya dari belakang. Dengan gerakan cepat Lala memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Lala mengacungkan garpu yang sedari tadi ia pegang ke arah Reno.


"Ngapain sih ngikutin terus kak. Lala tusuk nih ya hidungnya pake garpu." Lala menyodorkan garpu tepat di hadapan wajah Reno.


"Gak usah kegeeran. Aku mau makan tapi dari tadi kamu ngalangin jalan terus." Reno mengambil alih garpu yang berada di tangan Lala.


Lala melirik sekitar ia mendengus sebal saat Reno mengambil garpunya kemudian dengan sengaja ia menginjak kaki Reno.


"Alesan terus. Biarin aja nanti kupingnya panjang gara-gara boong," ketus Lala.


"Siapa yang boong?" tanya Reno.


"Mang oleh yang jualan odading," ketus Lala.


"Mulai deh ngaconya," saut Reno.


"Suka-suka aku lah mau jalan lawat mana pun, lagian ini kan rumah aku. Lagi pula salah kamu juga sih jalannya lelet kaya keong," elak Reno.


Lala enggan menyauti ucapan Reno, ia membuka kulkas kemudian mengambil beberapa cemilan dan meletakkannya diatas meja makan.


"Ngambil punya siapa itu?" tanya Reno.


"Tulisannya sih punya kak Rey, tapi gak tau aslinya punya siapa," jawab Lala sambil membuka bungkus cemilan lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Ambil makanan aku aja jangan punya Rey. Marah nanti si Rey kalo makanannya diambil, aku pusing dengerin kalian ribut terus," ucap Reno.


"Udah terlanjur dibuka, nanti kak Reno gantiin ya," pinta Lala.


"Tadi marah-marah sekarang nyuruh-nyuruh gantiin makanan yang gak aku makan sama sekali," gumam Reno sambil menggelengkan kepalanya.


Lala yang sedang asik memakan cemilan milik Reyhan tiba-tiba saja teringat dengan Alisya yang sedari tadi membuatnya terus bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Kak Reno. Cewe yang tadi itu temen kak Reno apa mantan kak Reno? Keliatannya deket banget sama Raina," tanya Lala dengan mulut yang di penuhin makanan.


"Telan dulu makanannya baru ngomong. Kenapa kamu nanya-nanya gitu? Cemburu ya Haha." Reno tertawa kemudian mengambil makanan yang berada ditangan Lala dengan mulutnya.


"Ih itu kan bekas gigitan Lala. Kata orang kalo makan dibekas gigitan orang lain nanti orang yang makan itu bakal nurut loh sama yang punya makanan," ucap Lala dengan heboh.


"Mitos," saut Reno mengambil alih cemilan yang berada di hadapan Lala.


"Ih bener tau. Coba ya coba, kak Reno ambilin Lala tissu dong," pinta Lala sambil menunjuk ke arah tissu.


Reno refleks mengambil tissu yang ada diatas meja kemudian memberikannya pada Lala.


"Tuh kan bener kak Reno jadi nurut sama Lala," ucap Lala dengan heboh.


"Gak sengaja itu kebetulan aja posisi tissunya dekat sama aku, yaudah deh aku ambilin aja. Jangan percaya sama begituan. Oh iya Alisya itu teman lama dan lumayan dekat juga dulu terus tiba-tiba dia pergi gak pamitan," ucap Reno.


Lala menatap Reno lekat, ia merasa ada kesedihan di balik mata Reno.

__ADS_1


"Terus kak Reno sedih? Oh Lala ngerti pasti ini ceritanya cinta bertepuk sebelah kaki ya? Ah masa si, tapi keliatannya dari cara kak Alisya natap kak Reno kayanya dia ada perasaan terpendam deh," ucap Lala.


Reno menyentil gemas kening Lala, ia menggelengkan kepalanya.


"Sok tau banget kamu La. Tau apa kamu soal perasaan orang?" ucap Reno.


"Tau lah. Semua orang kalo liat cara kak Alisya natap kak Reno pasti sama pendapatnya kaya Lala," ucap Lala.


"Dan semua orang juga tau dan pastinya satu pendapat juga sama aku pas liat kamu jutek kaya tadi ke Alisya," ucap Reno.


Lala terkesiap dan gugup saat mendengar ucapan Reno, ia tidak mau munafik karena ia sendiri pun menyadari kalau ia tidak suka dengan keberadaan Alisya.


"Udah ah gak usah dibahas," pinta Lala.


"Kenapa? Aku maunya dibahas biar kelar dan kamu gak terus-terusan jutek ke semua orang terutama sama aku," ucap Reno.


"Beda ya calon penganten maunya berduaan terus dunia serasa milik berdua," sindir Raka.


Raka yang berniat mengambil air putih ke dapur di buat tersenyum saat melihat kedekatan Reno dan Lala.


"Apa sih kak Raka, Lala lempar mangkok nih ya," ancam Lala.


"Galak amat bu. Gw bilangin emaknya Raina lu ya biar gagal jadi calon mantu." Raka tak mau kalah ia pun ikut mengancam Lala.


***


Di ruang tengah kini hanya ada Rama dan Shasha yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Rama melirik ke arah Shasha.


"Sha, gw mau nanya dong ke lo," ucap Rama.


"Apa?" saut Shasha.


"Kok bisa sih lo misahin diri dari Maira dan Sinta, gw tau banget lo kan temenan sama mereka udah lama gak mungkin banget secepat itu lu kan." Rama menatap Shasha berusaha mencari kebeneran.


"Sebenernya gw gak mau ngejauh dari mereka karena mau gimana pun mereka yang tau gw luar dalemnya kaya apa. Tapi gw gak suka perbuatan Shasha yang udah kelewat batas jadi gw mutusin buat ngejauh dari mereka entah sampai kapan mungkin selama-lamanya. Terserah lo Ram mau percaya atau gak yang jelas gw udah jujur. Ini semua juga gara-gara Raka yang udah ngeyakinin gw buat jujur dan ngasih tau kejadian sebenarnya ke kalian mungkin kalo dia gak ngomong sama gw sampe sekarang gw masih stres dan ngerasa bersalah terus-terusan," jelas Shasha.


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tidak menemukan kebohongan dari mata Shasha.


"Gw salut sama lo Sha. Lo bisa bijak ngambil keputusan yang gak gampang lo ambil. Terus jadi Shasha yang kaya gini, gw yakin lo bakal bahagia terus kalo lo tetap jadi Shasha yang sekarang," ucap Rama.


Shasha tercengang saat mendengar kata-kata bijak dari Rama, kemudian ia tertawa saat mengingat kembali bagaimana kelakuan Rama tiap harinya.


"Kaya orang bener lo Ram ngomong begitu Haha. Kalo yang ngomong kaya gini si Raka mah gw percaya-percaya aja dan kuping gw legowo nerimanya, tapi kalo lo yang ngomong kok asing banget ya." Shasha terus menertawai Rama hingga membuat Rama jengkel.


"Dikasih motivasi malah ngetawain orang bener-bener lo Sha udah tobat malah bikin orang kesel. Berdosa sekali kamu solimi," ucap Rama.


"Iya dah iya makasih motivasinya ya," ucap Shasha.


Rama mengedarkan pandangannya di sekitaran ruang tengah mencari keberadaan yang lainnya.


"Ini kenapa jadi sepi amat ya perasaan tadi rame banget kaya pasar. Pada kemana sih yang lainnya aneh banget ngilangnya barengan," ucap Rama.


"Kalo lo tanya gw terus gw tanya siapa?" tanya Shasha.


"Tanya ke dora biar dora tanya ke peta," saut Raka.


"Eh si Raka dateng-dateng ngagetin aja lo, gw kira dedemit dari mana yang tiba-tiba nyaut, gw udah siap-siap mau baca ayat kursi padahal biar pergi dedemitnya," ucap Rama.


"Berisik lo Ram, otak lo noh yang perlu dirukiyah biar beneran dikit," ledek Raka.


"Oh iya Raka, lo liat Lala gak? Dari tadi gw gak liat dia," tanya Shasha.


"Noh di dapur lagi beduaan sama bang Reno, gw tadi abis dari sono langsung diusir sama Lala segala diancem lagi tadi, orang kalo mau nikah biasanya seneng terus adem bawaannya, lah ini kok galak banget ya kaya singa," ucap Raka.


"Haha lo kaya gak tau Lala aja sih Rak, dia mah seneng gak seneng tetap begitu. Jadi inget dulu pas dia nyiram Maira pake es teh banyak banget Haha." Shasha mengulang kembali kejadian dimana Lala menyiram Maira dengan santainya.


***


Bersambung ....


Untuk sekarang belom bisa crazy up ya gais hehe. Pokoknya di bulan ini bakal ada crazy up tapi belum pasti kapannya.


Maafkan aku yang selalu menghilang dipertengahan bulan gais. Jangan lupa like dan komentarnya ya gais biar aku makin semangat up nya. Kalo ada saran silahkan dititipkan di kolom komentar ya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih gais.


__ADS_2