
Fathan dan Raina kini berada di klinik duduk di kursi tunggu sambil menunggu.
"Kak luka gini doang besok juga sembuh," ucap Raina.
Fathan menatap Raina lekat dengan cepat jari telunjuknya ia tempelkan di depan mulut Raina.
"Suttttt ... Kita masuk dulu ke dalem nanti kalo udah di obatin sama dokter baru aku percaya sama omongan kamu ya," ucap Fathan.
"Ish nyebelin banget sih," gumam Raina.
Perdebatan mereka terhenti sementara saat nama Raina disebut oleh perawat yang kini berada di depan pintu.
Raina dan Fathan berjalan menghampiri perawat tersebut lalu masuk ke dalam ruangan secara bersamaan.
Sedangkan di rumah Lala keadaan menjadi sangat ramai setelah kepergian Raina dan Fathan.
"Kak Rama jangan rusuh deh bukannya bantuin malah diacak-acak mending pergi aja deh sana," omel Aisyah.
"Aisyah marah-marah mulu nanti cepet tua loh," saut Rama.
Lala menatap Rama sengit ia mengambil baskom yang berada tidak jauh dari posisi ia berdiri. Ia berjalan mendekati Rama sambil berkacak pinggang.
"Heh kak Rama jangan gangguin Aisyah pergi sana sebelum kepala kak Rama masuk ke dalem baskom nih," teriak Lala sambil mengarahkan baskom ke arah Rama.
"Coba aja kalo berani! Durhaka lo berarti sama Abang lo sendiri, gw gak mau nolongin kalo lo masuk neraka dan gw gak tanggung jawab kalo tiket ke surga lo ilang," ucap Rama dengan santai.
"Surga itu dibawah telapak kaki Ibu bukan di bawah telapak kaki Abang!" saut Lala.
"Gaissss! Pano nemu cicak kasian banget buntutnya copot," teriak Fano sambil menunjukan cicak beserta potongan ekor cicak yang sudah terpisah dengan tubuhnya.
"Sambung lagi dong, kasian tuh cicaknya gak punya buntut," saut Reyhan.
"Rey!" teriak Kinan yang sedang fokus dengan masakannya yang hampir selesai.
"Becanda sayang," ucap Reyhan dengan cengiran khasnya.
Fano menghirup aroma makanan dengan sengaja ia meletakkan cicak beserta ekornya tersebut di meja makan lalu berjalan mendekati makanan yang berada di dekat kompor.
Rama merasa ada sesuatu yang berada di tangannya, perlahan ia mulai menolehkan kepalanya ia membelalakan kedua matanya saat melihat cicak yang menempel di tangannya.
"Fanooooo! Ambil cicaknya buruan, ini cicak ngapain sih nemplok di tangan gw," teriak Rama.
Fano menolehkan kepalanya ia kembali menoleh pada makanan sambil menggelengkan kepalanya.
"Engga mau ... Pano lapel tau mau makan, kak Lama cemen banget sama cicak aja takut yang ada cicaknya yang takut tuh sama kak Lama," saut Fano.
Dengan senyum merekah Fano meraih piring plastik yang sudah berisi nasi dan lauk pauk yang disodorkan oleh Zara.
"Makasih kak Zala tau aja Pano pengen makan, Pano makan di luang tengah ya mau nonton tipi bye bye gais," ucap Fano.
Kini semuanya sedang berada di ruang tengah menyantap makanan sambil menonton kartun yang sedang di tonton oleh Fano.
"Fano ganti dong, gw udah gede masa disuruh nonton ultramen sih," protes Reyhan.
"Gak! Pano yang nyalain tipinya duluan belalti semuanya halus nonton ultlamen," tolak Fano.
"Dih emangnya ini tipi siapa?" tanya Reyhan.
"Tipi kak Lala, kata Mamanya kak Lala anggep aja lumah sendili belalti ini tipi Pano juga wle," ledek Fano.
Reyhan melirik Fano lalu tangannya perlahan mengambil ikan yang berada di piring Fano kemudian ia letakkan dipiringnya.
Fano terdiam sejenak ia melirik piring lalu melirik sekitar.
Ikan Pano kok ilang ya pelasaan Pano udah nengok kesini kesana gak ada kucing deh, Masa ikannya telbang kan ikannya bukan bulung dan ikannya gak punya sayap.
Fano melirik piring Farhan ia berniat mengambil ikan yang berada dipiring tersebut namun tak jadi karena suara Fathan dan Raina yang mengejutkannya.
"Eh lagi pada makan, gak nungguin nih parah," ucap Raina.
"Lo sih lama banget, ke klinik apa ke pasar sih lama amat," saut Reyhan.
"Ke klinik lah liat nih tangan gw udah diobatin," ucap Raina sambil menyodorkan tangannya.
"Udah jangan ribut terus mending kita ke dapur ambil makanan terus kamu minum obatnya biar nanti tangannya gak kerasa perih," ucap Fathan.
Fathan merangkul Raina membawanya berjalan menuju dapur, setelah selesai mengambilkan makanan untuk Raina ia duduk di meja makan lalu meletakkan makanan di meja.
"Nih kamu makan ya biar aku yang suapin, tangan kamu kan lagi sakit," ucap Fathan.
"Terus kamu gak makan?" tanya Raina.
"Gampang aku mah, apa mau makan sepiring berdua biar uwu," ucap Fathan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Modus kamu mah, yaudah makan berdua aja biar kamu ikut makan Kak," ucap Raina.
"Oke, kalo kaya gini mah aku semangat makan, aku cuci tangan dulu ya soalnya kita makan ikan jadi kita makannya pake tangan aja," ucap Fathan.
__ADS_1
Raina terkekeh saat mendengar perkataan Fathan ia menatap Fathan yang sedang berada di wastafel.
"Terserah kamu mau pake apa, asal jangan pake sendok semen aja," saut Raina.
"Kamu gak bakat ngelawak sayang," ledek Fathan.
Fathan berjalan kembali menuju meja makan ia mulai mengambil nasi dan menyubit ikan lalu mengarahkan tangannya tepat dihadapan mulut Raina.
"Woi jadi gak ke dufan mumpung punya gw duit nih," tanya Rama.
Fano terkesiap dari duduknya ia mengalihkan pandangannya ke arah Rama.
"Jadiiiii!" teriak Fano dengan semangat.
"Dih bocil gaya-gayaan emangnya lo punya duit?" ledek Reyhan.
"Ada kak Leno kan banyak duit telus gak pelit kaya kak Ley pasti Pano dibayalin wle," ledek Fano.
"Hidih gaya banget bocil biarin aja ntar gak bisa naik wahananya gara-gara tingginya gak cukup," ucap Reyhan.
"Bialin olang Pano mau main mandi bola di dupan," ucap Fano.
"Ngapain jauh-jauh ke dufan cuma mau mandi bola doang padahal di pasar malem juga banyak loh Fano," saut Farhan.
"Gapapa Pano mau abisin duitnya kak Leno," ucap Fano.
"Yaudah sana samperin kak Raina dan kak Fathan di dapur sekalian tanya mereka mau ikut gak," ucap Reno.
"Oke siapppp capten," ucap Fano sambil memberi hormat pada Reno lalu berlarian menuju dapur.
Lala yang sedang asik membuka beberapa kado dibuat menggelengkan kepalanya saat melihat isi kado dari Fano.
"Lala kenapa kok geleng-geleng kepala," tanya Farhan.
Lala melihatkan isi kado tersebut pada Farhan.
"Liat nih kadonya biang kerok masa dia ngadoin gw duit-duitan sih, udah bungkusnya pake bungkus nasi lagi, Lala kira dia ngadoin Lala nasi uduk kan lumayan buat sarapan," keluh Lala dengan raut wajah cemberutnya.
Reno tertawa saat melihat ekspresi Lala ketika melihatkan isi kado yang diberikan oleh Fano.
"Terima aja La, dia niat banget nyari kado lo suer dah, ngoceh mulu sampe pusing gw dengerinnya," ucap Reyhan.
"Hmm ada jasa tuker duit-duitan jadi duit beneran gak sih?" tanya Lala.
"Sini aku tuker," ucap Reno sambil tersenyum.
"Serius? Wah makin sayang ade sama Abang kalo kaya gini," Lala memeluk Reno dengan erat sesekali mencubit gemas pipi Reno.
Perlakuan Lala terhadap Reno membuat yang lainnya saling melempar pandang dan menatap keduannya sambil tersenyum.
"Nemplok aja kaya cicak lo," ucap Fathan yang baru saja bergabung dengan yang lainnya.
"Cie cie kak Lala sama kak Leno gumush banget," ucap Fano.
"Udah sono La sama kak Reno biar gw bisa nikah sama Kinan, gapapa dah lo jadi kakak ipar gw walaupun gw gak rela," ucap Reyhan.
"Apasih Lala tuh lagi seneng ada yang mau tukeran sama duit-duitan Lala," protes Lala.
Kini mereka berada di depan loket dufan untuk memesan tiket, setelah mendapat tiket mereka masuk bersamaan.
"Pano mau naik ituuuu," teriak Fano sambil menunjuk wahana kora-kora.
"Emang tinggi lo cukup cil? coba sini berdiri disini," tanya Reyhan sambil menunjuk papan pengukur batas tinggi badan yang diperbolehkan menaiki wahana.
Reyhan tertawa saat melihat kepala Fano tidak mencukupi persyaratan tinggi badan.
"Tuh sukurin gak bisa naik, yuk gais kita naik tinggalin aja biang rusuh kecil disini," ucap Reyhan.
Fano mencibirkan bibirnya saat mendengar ejekan dari Reyhan, ia melirik ke arah sekitar namun lagi-lagi ia mencibirkan bibirnya.
"Kenapa di dupan gak ada yang pake sendal tinggi sih, Mba cantik Pano belani kok naik ini boleh ya Pano naik, Pano gak cemen tau Mba. Masa Mba tega liat Pano sendilian disini kaya anak ilang," ucap Fano.
"Udah ah lama yuk masuk," sambung Raka.
"Tenang Fano ada kak Lala kita kan bespren poreper jadi kak Lala bakal temenin Fano disini biar gak kaya anak ilang, keren kan kak Lala," ucap Lala.
"Gak mau ah, Pano maunya naik ini! Mba gimana kalo Pano tukelan aja deh sama kak Lala bial Pano yang wakilin kak Lala, Pano tau kak Lala gak belani naik ini makanya kak Lala mau temenin Pano," ucap Fano.
"Udah lo ikut naik aja La, biar Fano sama gw disini, gw kan tangannya lagi sakit jadi gak mungkin gw naik, Fano disini aja ya temenin kak Raina emangnya Fano tega liat kak Raina disini sendiri," ucap Raina sambil memelaskan wajahnya.
Fano melirik Fathan lalu melirik luka di tangan Raina ia menghela nafasnya sebal.
"Pacalnya kak Laina kan kak Jungkook bukan Pano, kenapa minta temenin sama Pano atulan minta temenin sama kak Jungkook, Pano mau naik itu!" ucap Fano.
"Fano mau mandi bola gak?" tanya Reno.
"Gak mau! Pano belubah pikilan, Pano udah gede kalo mandi pake ail bukan pake bola," rengek Fano.
__ADS_1
"Udah tinggalin aja, kalian main sana biar Fano gw yang jagain," ucap Raina.
"Gw disini aja temenin Raina sama Fano ya, enjoy di wahana ya," ucap Fathan tersenyum.
"Gw juga gak usah deh ya," keluh Lala.
"Kelamaan, udah naik aja pasti kamu ketagihan gak mau turun," ucap Reno sambil menarik tangan Lala.
"Yahhh Fano gak bisa naik, padahal Pano mau teliak-teliak soalnya kalo teliak dilumah diomelin sama olang telus disini enak gak ada yang malahin," keluh Fano.
"Fano teriak aja disini tenang gak ada yang marahin," ucap Fathan.
"Fano maunya teliak disana bukan disini," saut Fano.
"Yaudah kita main kesana aja yuk, kita naik bom-bom car dijamin seru deh," ajak Fathan.
Mata Fano berbinar saat mendengar perkataan Fathan yang menawarinya bermain di wahana bom-bom car.
"Ayo! Tapi gendong Pano ya," ucap Fano semangat.
"Manja banget si Fano, kan bisa jalan sendiri," saut Raina.
"Magel ah, kak Laina jangan ili ya Pano majal (malas jalan) kak Laina jalan kaki aja ya," ucap Fano.
Raina mengerutkan dahinya saat mendengar celotehan Fano, ia mencubit gemas hidung Fano hingga membuat hidung Fano memerah.
"Tua banget sih anak kecil tau-tauan mager, masih kecil tuh gak boleh males," ucap Raina.
"Lucu banget sih kamu Fano, jadi pengen punya anak kaya Fano deh," ucap Fathan tersenyum menatap Fano.
"Anak mulu nih fokus sama kuliah kak bentar lagi kamu lulus," ucap Raina.
Berbeda dengan Fathan, Raina dan Fano yang memilih pergi ke wahana bom-bom car kini yang lainnya sedang berada di wahana kora-kora.
"Ampunnnnnn Mba ... Tolong Lala gak sanggup perut Lala geli," teriak Lala.
"Apasih Lala lebay banget naik ginian aja kaya cacing kepanasan," ucap Raka.
"Mendingan Lala ketemu bu kunti dah dari pada naik wahana ini, kalo ketemu bu kunti bisa kabur tapi kalo naik wahana ini mau kabur kemana," gumam Lala.
"Beneran kamu berani ketemu hantu?" tanya Reno dengan tawanya.
"Beneran lah dari pada naik wahana ini, tuh kan huaaaaa ... Mba udahan ... Tolong Lala mau jumplang suer dah gak boong," teriak Lala sambil menatap pegawai wahan yang sedang mengambil gambar.
Sedangkan pegawai hanya tertawa dan kembali dengan pekerjaannya mengambil beberapa gambar.
Sedangkan Zara yang sedari tadi diam membuat Farhan yang berada disebelahnya penasaran perlahan Farhan menolehkan kepalanya melihat Zara yang wajahnya kini terlihat pucat dengan tangan yang gemetaran.
Perempuan Bar-bar kaya dia bisa takut juga ternyata Ha-Ha-Ha, gayanya kaya jagoan tapi sama wahana beginian aja gemeteran.
Farhan tertawa sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat tangannya menarik tangan Zara yang sedang menggenggam erat besi pengaman hingga membuat Zara kaget lalu memegang tangan Farhan begitu erat.
"Cupu kamu, sama wahana kaya gini aja gemetaran malu tuh sama Lala biarpun teriak-teriak gak jelas tapi dia gak gemetaran," ledek Farhan.
Zara melirik Farhan kesal ia memalingkan wajahnya sesaat namun ia kembali menutup matanya.
"Betah banget kamu megang tangan saya, mau modus kamu ya," ucap Farhan.
"Cerewet banget si lo! Siapa suruh lo lepas tangan gw dari situ udah tau gw takut," omel Zara.
"Bodoamat! Udah ah lepas wahananya udah mau berhenti tuh," saut Farhan.
Kini mereka turun dari wahana dengan raut wajah yang berbeda dari sebelum menaiki wahana, terlihat Fathan, Raina dan Fano yang sedang menunggu mereka sembari melihat hasil gambar yang diambil oleh pegawai wahana.
"Ini si Zara tumben banget akur sama kembaran kamu Kak, lucu banget lagi mukanya Ha-Ha-Ha, aku mau foto ini ah bagus nih jarang banget Zara kaya gini ke cowo," ucap Raina.
"Yaudah Mba mau foto yang ini ya," pinta Fathan.
"Coba tangan aku gak sakit, pasti aku bisa ikutan naik deh," keluh Raina.
"Jangan sedih gitu dong, nanti kalo tangan kamu udah sembuh kita bisa kesini lagi kok, kalo kamu mau kita berdua aja biar kaya Qtime gitu," ucap Fathan sambil mengusap rambut Raina.
Fano berteriak lalu berlarian saat melihat Lala yang baru saja turun dari wahana.
"Kak Lalaaaa pooo, wihhh kelen kak Lala poo gak pingsan, kak Zala kenapa?" ucap Fano sambil melirik Zara yang terlihat pucat.
"Kak Zaranya cemen banget Fano, masa sama wahana ginian aja gemeteran," adu Farhan.
Fano menatap Zara dengan tatapan tak percaya, ia berjalan menghampiri Zara.
"Kak Zala itu cewe jagoan masa kak Zala takut sama ginian, kak Jungkook kedua boongin Pano ya," ucap Fano.
Bersambung....
Mohon maaf aku baru bisa update sekarang dan baru bisa up 1 bab diusahakan besok lebih dari 1 bab ya hehe
Semoga kalian gak lupa ya sama cerita receh ini hehe.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya biar aku tambah semangat hehe
sekian dan terima kasih, semoga selalu sehat dan bahagia kalian semuaaa lop yu pul 💞