SENIOR

SENIOR
Iri


__ADS_3

Kini semua sudah sampai di rumah Raina. Mereka memasuki rumah bersamaan kemudian mengedarkan pandangannya mencari penghuni rumah.


"Sepi banget pada kemana ini." Raka menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian.


Raina dan Fathan melangkahkan kakinya menuju sofa meninggalkan yang lainnya.


Sebelum sampai di sofa keduanya menghentikan langkah kakinya kemudian saling melempar pandangan saat melihat Lala dan Reno serta tiga anak-anak berada diatas karpet sedang tertidur pulas.


"Hmm ... Nih orang sengaja tidur apa pingsan berjamaah si. Ada kasur kenapa pada tidur disini kan kasian anak-anaknya kalo dia berdua mah gapapa, ini bayi siapa lucu banget gemes lagi. Kak sini deh liat." Raina membungkukkan tubuhnya, ia mengusap-usap pipi dede bayi dengan lembut.


Fathan mengikuti Raina dan ikut melihat bayi yang dimaksud oleh Raina.


"Aku gak tau sayang, emangnya aku bapaknya. Ambil aja kalo kamu suka sama bayinya. Kalo posisi kamu kaya begitu nanti yang ada si Lala kebangun." Fathan menatap Reno dan Lala yang sedang tidur secara bergantian.


"Oh iya bener juga kamu Kak. Hallo bayi ganteng, sini sama aunty ya. Kamu gemes banget sih pipinya gembul gini kaya bakpao jadi pengen gigit." Raina memberikan ciuman di kedua pipi bayi tersebut.


Fathan menatap bayi yang berada di gendongan Raina dengan tatapan iri, Ia mendengus sebal kemudian mendudukkan dirinya diatas sofa.


Raina yang menyadari raut wajah Fathan yang berubah menjadi suram pun perlahan mendekati Fathan dan mendudukkan dirinya di samping Fathan.


"Kamu kenapa keliatannya bete banget mukanya," tanya Raina.


"Gapapa," saut Fathan dengan nada cueknya.


"Jangan gitu ah jawabnya, buruan cerita sama aku." Raina menatap Fathan lekat.


"Aku iri sama bayi ini, padahal dia baru ketemu sama kamu tapi udah dicium-cium terus sama kamu sedangkan aku boro-boro dicium yang ada aku yang nyosor duluan kaya soang dan semenjak ngeliat bayi itu kamu ngelupain aku yang ada disini. Aku takut kamu jadi lupain aku nanti," keluh Fathan.


Raina tertawa saat mendengar pengakuan Fathan, ia mengira ada suatu masalah yang sangat berat memimpa Fathan hingga membuat wajah Fathan menjadi semuram itu. Ia tidak menyangka bahwa Fathan bisa secemburu itu dengan seorang bayi.


Fathan mengerutkan dahinya menatap Raina dengan tatapan jengkelnya karena kesal ditertawakan oleh Raina.


"Gak usah ketawa!" ketus Fathan.


"Ih pacar aku ngambek, malu sama dede bayi nih dari tadi anteng banget dia," ucap Raina.

__ADS_1


Zara sedari tadi menyimak perdebatan keduanya dengan pandangannya yang tertuju pada seorang bayi yang berada dalam gendongan Raina.


"Bayi siapa itu Rain?" tanya Zara.


"Gak tau Zar. Gw ngambil disitu tadi, kayanya bayinya Lala deh." Raina mengarahkan jari telunjukknya tepat di samping Lala sedang tertidur.


Zara dan Aisyah tercengang secara bersamaan. Sontak mereka refleks menutup mulut masing-masing dengan telapak tangannya.


"Maksudnya gimana? Maafkan fikiranku yang mulai travelling kemana-mana Haha," ucap Zara.


"Bukan kamu doang Zar, aku juga sama. Perasaan gak pernah liat perutnya Lala melendung kenapa tiba-tiba ada bayi." Aisyah menolehkan kepalanya ke arah Lala kemudian memperhatikan Lala dengan lekat, matanya terfokus pada anak perempuan yang sedang tertidur di samping Fano.


"Nah itu anak siapa yang di samping Fano, gak mungkin anaknya Lala kan?" tanya Aisyah kebingungan.


Wina datang membawa nampan yang diatasnya terdapat minuman dingin, ia menundukkan tubuhnya kemudian tangannya bergerak meletakkan minuman tersebut di atas meja.


"Ngomongin apa sih kalian ini kayanya asik banget," ucap Wina.


"Ngomongin bayinya Lala tante," saut Zara dengan cepat.


***


Farhan mengedarkan pandangannya mencari seseorang, ia tersenyum saat melihat orang tersebut melambaikan tangannya ke arah dirinya. Farhan melangkahkan kakinya menghampiri orang tersebut.


"Udah lama nunggunya Hir?" tanya Farhan.


Farhan menggeser kursi kemudian mendudukkan dirinya sembari tersenyum pada Fahira. Fahira adalah perempuan pertama yang ia sukai sekaligus perempuan pertama pula yang membuatnya merasakan sakitnya patah hati hingga membuatnya terpaksa memutuskan untuk menjauh dari kota kelahirannya dan juga keluarganya.


"Engga kok. Baru aja nyampe, gimana hari ini pak dosen? Pasti seru banget ya jadi idola murid-muridnya hehe." Fahira membalas senyum Farhan.


"Seru, lumayan pengalaman baru yang sangat menyenangkan setiap hari di meja selalu ada hadiah dari mereka Haha," jawab Farhan.


"Oh iya ada apa nih ngajak ketemuan disini. Ini pertama kalinya kita ketemu lagi ya Hira, aku sih sering denger dari Fathan kalo kalian sering ketemu," ucap Farhan.


"Iya kita sering ketemu. Jadi gini Han aku sengaja ngajak kamu buat ketemuan disini karena aku perlu banget bantuan kamu," ucap Fahira memasang wajah muramnya.

__ADS_1


Farhan yang belum mengerti dengan arah pembicaraan Fahira hanya terdiam sambil kenaikkan alis sebelah kirinya menunggu lanjutan dari ucapan Fahira.


"Aku butuh banget kerjaan, keadaan keuangan aku sekarang ini lagi gak bagus banget jadi aku mau minta bantuan sama kamu. Jadi asisten kamu juga gapapa kok asalkan aku bisa kerja." Fahira menatap Farhan penuh harap.


Farhan merasa aneh dengan Fahira yang tiba-tiba saja memohon padanya untuk bekerja dengan dirinya. Farhan menatap penampilan Fahira mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Aneh banget dia bilang keuangannya lagi gak bagus tapi kok penampilannya mewah banget. Aneh banget si Hira. Sekarang ini aku butuh asisten sih buat bantu rekap tugas mahasiswa, tapi apa dia mau kerja kaya gitu.


Farhan berbicara di dalam hatinya sambil menatap Fahira. Hal tersebut membuat Fahira menatap Farhan dengan tatapan herannya. Fahira pun menepuk-nepukan tangannya pada meja supaya Farhan tersadae dari lamunannya.


"Han, bisa bantu gak? Kenapa kamu bengong begitu sih," tegur Fahira.


"Ah iya maaf tadi aku lagi mikir aja masa iya seorang Hira butuh pekerjaan. Aku lagi butuh asisten sih buat bantuin rekap dan sejenisnya tentang kerjaan aku di kampus, tapi gimana sama kamunya aja, mau apa engga," ucap Farhan.


Fahira mengembangkan senyumnya saat mendengar perkataan Farhan dengan cepat ia menganggukkan kepalanya.


Gapapa lah jadi asisten yang penting gw bisa ketemu Fathan tanpa mikirin alesan-alesan lainnya dan dengan gampang gw bisa misahin Fathan sama Raina. Gw gak rela Fathan lebih pilih Raina dibandingkan gw. Maafin gw ya Han lagi-lagi gw jadiin lo alat buat bikin gw dekat sama Fathan.


"Serius nih? Aku mau banget Han, makasih kamu mau bantuin aku. Kamu bener-bener sahabat aku yang paling baik," ucap Fahira tersenyum senang.


"Iya sama-sama. Besok kamu bisa mulai kerja dateng aja ke kampus. Oh ya ada lagi gak? Soalnya aku udah ditungguin sama yang lainnya nih," ucap Farhan.


Fahira menggelengkan kepalanya. " Udah itu aja kok. Kalo boleh tau emangnya kamu ditungguin siapa dan ada acara apa, bukannya kamu udah kelar ngajarnya ya," tanya Fahira berharap Farhan dengan suka rela menjawab pertanyaanya.


"Acara keluarga. Aku duluan ya maaf nih gak bisa lama-lama. Next time kita atur lagi aja buat ngobrol panjang," pamit Farhan.


Farhan beranjak dari kursinya kemudian menggeser kursi lalu melangkahkan kakinya keluar restoran dengan tergesa-gesa sambil melirik jam tangannya.


"Pasti si cewe bar-bar udah nungguin nih, perlu tameng nih kayanya pas ketemu dia biar gak kena amukan dia," gumam Farhan.


Selain ingin bertemu dengan yang lainnya di rumah Raina, Farhan dan Zara kebagian tugas mencari barang seserahan yang akan dibawa oleh pihak keluarga.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya gais. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar. Terus kalo kalian kesel, sebel, gemes, dll sama karakter di novel ini boleh dicurhatin di kolom komentar kok.


Makasih udah baca sampe abis, sekian dan terima kasih.


__ADS_2