
Fano berlarian sambil bersenandung mendekati Fathan dan Rama yang sedang berbincang-bincang.
"Hallo gaissss. Pano ganteng disini. Lagi ngopi ya, Pano gak suka kopi soalnya pait jadi Pano mau teh aja," ucap Fano sambil bersidekap.
"Loh Fano nongol dari mana, perasaan dari tadi gw gak liat nih bocah keluar, titisannya doraemon nih bocah punya pintu kemana aja," ucap Rama.
"Ngaco lo Ram. Gw liat dia dari samping keluarnya," ucap Fathan terkekeh.
"Fano abis ngapain di samping, bukannya Fano lagi tidur di kamar ya," tanya Fathan.
Mendengar pertanyaan Fathan sontak membuat Fano kembali teringat dengan suara perempuan yang meringis kesakitan tetapi saat ia lihat kesana kemari sama sekali tidak ada orang.
"Pano kelual lewat jendela soalnya pintunya dikunci sama Cila si gendut pendek. Makanya Pano gak lewat pintu ini kelualnya," jelas Fano.
"Mau dengel celita selem gak ? Tadi Pano abis dengel suala kolong wewe lagi kesakitan gala-gala kejedot jendela yang Pano buka. Untung aja Pano bisa kabul cepet-cepet kesini sebelum diculik sama kolong wewe hissh selem Pano kapok gak mau buka jendela kamal lagi." Fano bergedik ngeri membayangkan wajah horor dari sosok yang tidak sengaja terkena jendela.
Fathan dan Rama berusaha mencerna apa yang Fano ceritakan. Lagi pula mana mungkin ada hantu di pagi hari. Mungkin saja Fano salah dengar.
"Kalong wewe kenapa jadi kolong wewe untung gak bilang kolong jembatan lo Fan Haha," ucap Rama tertawa.
"Fano salah denger kali, mana mungkin ada hantu pagi-pagi. Mungkin aja dari villa sebelah yang tangannya kejepit pintu terus suaranya kedengeran sampe kamar Fano," ucap Fathan.
Fano menggeleng cepat, ia tidak mungkin salah dengar karena telinganya mendengar jelas kalau suaranya ada di depan jendela.
"Engga! Pano benelan dengel di depan jendela. Hantunya lagi ngintipin Pano dia ngepens sama Pano kali. Hati-hati aja kak Lama sama kak Jungkook nanti diintipin juga sama kolong wewe telus diculik," ucap Fano memasang wajah takutnya kemudian berlarian masuk ke dalam villa mencari keberadaan Cila.
"Cilaaaa! Keluar kau, pangelan disini datang mau balas dendam kalena kau sudah mengunci pintu kamal pangelan sampe Pangelan ketemu kolong wewe di depan jendela!" teriak Fano.
"Salah sendiri tidur kaya patung susah banget dibanguninnya. Sukurin ketemu hantu biar dimakan sekalian sama hantunya. Sana mandi bau kentut kuda kamu Fan," ucap Cila menjauhkan dirinya dari Fano sambil menutup hidungnya.
Bukannya pergi, Fano semakin semangat mendekati Cila dan menjahili Cila.
"Enak aja ngatain Pano bau kaya kentut kuda. Cila tuh gendut pendek kaya kulcaci," ejek Fano yang tak mau kalah dengan Cila.
***
Waktu menunjukkan pukul 11.50
Sebagian orang sudah berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan rencana mereka untuk membuat Fahira dan Maira ngaku dengan sendirinya apa yang sudah mereka buat.
Para orangtua berpamitan untuk bertemu dengan pemilik villa dan mengurus segala kerugian villa serta memberikan keterangan pada polisi.
"Kita pamit ya, jangan aneh-aneh di villa. Jagain anak-anak juga ya dan jangan ceroboh kalo nyalain kompor. Beli aja kalo gak bisa masak dari pada disuruh bayar villa gosong," ucap Gio.
"Siap papa. Kalian semua hati-hati ya. Ini tante Linda sama keluarga beneran mau pulang, gak nunggu Lala sama kak Reno bangun dulu?" tanya Raina.
"Engga Raina, soalnya tante banyak urusan di kantor yang darurat banget. Nanti sampein aja ke Lala ya. Papanya Lala sama istrinya juga ada keperluan jadi kita bertiga mutusin buat pulang duluan, maaf juga gak bisa nemenin kalian semua ya, semoga rencananya lancar dan pelakunya cepet ketangkep" saut Linda.
Semua tersenyum menganggukkan kepalanya pada Linda kemudian mereka mencium tangan ketiganya dan mengantarkan para orangtua ke depan villa hingga memasuki mobil mereka.
"Papa sama Mama belom pulang woi, gak usah sedih gitu nanti kita balik lagi ke villa tenang aja," ucap Gio mengusap cepat wajah Raina.
"Ih punya papa tingkat kegeerannya tinggi banget begini nih. Raina lagi liatin mamanya Lala sama Papanya Lala dan Mamanya kak Rama," ucap Raina.
"Ribet amat lo ngomongnya Raina Haha. Sebut aja keluarga Rama dan Lala asikkk," saut Rama.
Setelah selesai mengantarkan para orangtua mereka kembali masuk untuk memulai rencana mereka.
"Ini si Lala sama bang Reno kemana," tanya Raka.
"Masih tidur kayanya, tapi tadi gw sempet denger sih suara mereka ribut-ribut di dalem kamarnya tapi gak tau ngeributin apaan," ucap Reyhan.
"Haduh ada-ada aja penganten baru tingkahnya. Yaudah kita mulai aja nanti tinggal kasih tau aja sama Lala dan bang Reno," ucap Fathan.
Farhan sedari tadi hanya diam menyimak apa yang mereka katakan, tetapi tidak sengaja matanya melihat keberadaan Fahira dan juga satu perempuan yang ia tidak kenal. Ia mengusap matanya berkali-kali memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar mereka. Setelah mengetahui bahwa benar-benar mereka yang ada disana dengan cepat Farhan memberi kode pada yang lainnya untuk mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain supaya rencana mereka tidak bocor.
Farhan mengedipkan matanya berkali-kali sambil melirikkan matanya ke arah jendela.
Menyadari kode dari saudara kembarnya, Fathan beranjak dari duduknya berjalan menuju jendela sambil membawa segelas air kemudian dengan sengaja ia menuang air tersebut hingga membuat Fahira dan Maira basah. Fathan sedikit melirik ke tempat dimana keduanya sedang bersembunyi, ia tersenyum menahan tawanya kemudian dengan cepat ia mengunci jendela dan menutup jendela dengan gorden.
"Kita ngomongin semuanya di satu kamar aja, terserah mau kamar siapa. Jangan ngomong disini soalnya ada yang kepo di deket jendela," ucap Farhan.
"Maksudnya gimana si Han," tanya Rama.
"Nanti dijelasin, pokoknya kita pindah aja dulu dan pastiin villa aman dan gak ada yang bisa masuk buat kepoin apa yang kita omongin," ucap Farhan.
__ADS_1
Fathan meletakkan gelas kosong di atas meja sambil tersenyum senang.
"Han bener. Mendingan kalian kunci-kunciin dulu tuh jendela sama pintu abis itu kita ke kamarnya Rama sama Raka aja," ucap Fathan.
Setelah selesai mengunci seluruh jendela serta pintu depan kini mereka sudah berada di dalam kamar Rama.
"Kenapa ditutup, pasti kak palhan abis liat kolong wewe juga ya makanya suluh tutup jendela," ucap Fano.
"Iya barusan abis liat hantu kepo. Oh iya si Zara dimana? Untung dia belum keluar, kalo gak rencana kita gagal, tadi ada Fahira sama satu perempuan yang gw gak kenal lagi ngintip di balik jendela. Kayanya mereka udah liat gw deh dan gak mungkin juga kita pake cara kemarin soalnya mereka liat keadaan kita yang gak keliatan berduka," ucap Farhan.
"Lah terus gimana, berarti kita harus sewa jasa make up serem gitu ya biar mukanya gak ketauan," saut Lala yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja sudah duduk di atas kasur.
"Loh Lala kapan lo kesininya La, perasaan dari tadi gak ada lo disini," heran Reyhan.
"Makanya jangan bengong terus, jelas-jelas barusan gw masuk sama kak Reno terus duduk deh disini tanya aja sama Zara noh. Dia kayanya masih di dapur deh," ucap Lala.
Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka sepakat menggunakan jasa make up Shasha yang kebetulan sekali Shasha pandai dalam hal merias wajah mulai dari yang cantik hingga yang seram.
"Kayanya sih penginapan mereka gak jauh dari kita soalnya mereka sering banget bolak-balik ke villa. Tadi pagi gw liat si Fahira di depan kamar Fano terus barusan si Farhan ngeliat dia juga berarti dia gak jauh dari sini," ucap Reyhan.
Reyhan saat itu sedang lari pagi di sekitar villa dan tidak sengaja melihat Fahira yang berjalan mengendap-endap di samping villa. Ia tertawa saat tidak sengaja melihat Fahira yang terkena jendela yang di buka oleh Fano.
"Oh yang ngintipin Pano tadi pagi itu olang jahat ya. Sukulin emangnya enak kejedot jendela semoga aja kepalanya benjol," ucap Fano.
***
Waktu menujukkan pukul 19.20
Terlihat yang lainnya yang sudah bersiap-siap kecuali Lala yang dan Reno yang bertugas menjaga Vico hingga membuat mereka tidak bisa ikut serta mengerjai Fahira dan Maira.
"Lo yakin kan itu beneran tempat penginapan mereka?" tanya Zara memastikan kembali.
Rama menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia salah lihat karena ia paling jago dalam hal menyusup ke rumah orang. Buktinya dulu ia sering menyusup ke kebun mangga tetangga hingga sekarang ia tidak pernah ketahuan oleh pemilik kebun tersebut.
"Gw yakin seribu persen. Soalnya gw lama disana dan gw juga tau kalo mereka punya rencana jelek buat Raina, tapi gak tau sih khusus Raina doang apa kita semua," ucap Rama.
"Serius lo," tanya Lala terlihat wajah paniknya saat mengetahui mereka berniat buruk pada Raina.
"Tapi tenang aja, Raina aman sama kita. Masa kita banyak kaya gini kalah sama dua dedemit," saut Rama.
"Kenapa sih mereka jahat banget sama gw, padahal gw gak pernah jahatin mereka bahkan bales perbuatan mereka aja gak pernah," ucap Raina demgan wajah murungnya.
Fathan membawa Raina ke dalam pelukkannya berharap Raina tidak cemas dengan apa yang dikatakan oleh Rama.
"Kamu tenang aja disini ada aku yang selalu ada di samping kamu. Aku gak akan biarin mereka berbuat jahat ke siapapun apalagi kamu," ucap Fathan mengusap lembut kepala Raina.
"Sebenernya gw juga denger kalo mereka ada sangkut pautnya sama kebakaran semalam pas di villa. Terserah kalian mau percaya apa engga, kuping gw dengernya begitu tanpa settingan, gw punya rekamannya juga sih tapi soal yang mau ngejahatin Raina gak sempat kerekam," ucap Rama.
Setelah mendengarkan rekaman suara Fahira dan Maira dari ponsel Rama sontak membuat emosi Fathan naik, ia menarik Rama meminta Rama menunjukkan dimana tempat penginapan mereka, ia ingin bertemu mereka.
"Kak tungguin, aku ikut," teriak Raina berlarian menyusul Fathan.
"Fath lo serius mau samperin mereka, kita kan mau jalanin rencananya," tanya Rama.
"Nanti setelah gw ngamuk-ngamuk disana baru kita jalanin rencana kita," ucap Fathan.
***
Fathan mengetuk pintu dengan tidak sabar hingga membuat orang yang di dalamnya berlarian dengan kesal.
"Apa! Bisa gak sih ngetuk pintunya santai dikit!" bentak Fahira.
Mendadak tubuh Fahira terasa kaku dan gemetar saat melihat Fathan berdiri tegap dengan wajah memerah menahan emosi.
"Eh Fath ... Fathan, ada apa ya jam segini dateng ke sini. Kamu tau dari mana penginapan aku," tanya Fahira dengan was-was, ia berusaha terlihat tenang meskipun kini jantungnya sedang lari maraton.
"Mana temen lo," ucap Fathan dengan datar.
Fahira menolehkan kepalanya ke dalam villa kemudian ia menatap Fathan kebingungan karena tidak mengerti dengan maksud ucapan Fathan.
"Mana teman lo, mana Maira suruh dia keluar!" bentak Fathan.
Suara Fathan yang begitu jelas terdengar di telinga Fahira membuat Fahira terkejut dan ketakutan.
"I ... It ... Ituu apa ya si Maira, Maira ada di sana," ucap Fahira dengan gelagapan menunjuk ke dalam dengan asal.
__ADS_1
Fathan menarik Raina mengikutinya untuk masuk ke dalam villa mencari keberadaan Maira.
"Maira keluar lo!" teriak Fathan.
Mendengar teriakkan yang menanggil namanya membuat Maira berjalan ke arah suara dengan penasaran. Maira kaget saat melihat Fathan dan Raina yang berada di villa penginapannya. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafasnya kemudian ia keluarkan perlahan.
Lo harus tenang Maira. Mereka gak akan bisa nuduh-nuduh lo.
Maira berjalan dengan santai sambil bersidekap dada menatap ke arah Fathan dan Raina dengan tatapan sinis.
"Ada apa kalian bertiga kesini, terutama kamu Fathan, apa kamu udah sadar kalo perempuan ini gak pantes buat kamu," ucap Maira melirik Raina sinis.
"Gak usah mimpi! Gw kesini mau buat perhitungan ke kalian berdua," ucap Fathan menatap keduanya dengan tatapan tajam.
"Gak ada yang perlu kita dihitung. Silahkan kalian keluar dari sini," ucap Maira dengan dingin.
"Lo kan yang udah buat kebakaran di villa. Lo berdua gak punya hati ya di dalam sana banyak anak-anak dan lo nyaris bunuh banyak orang di dalam sana. Kalian berdua harus tanggung jawab sama apa yang kalian buat, gara-gara kalian bapaknya Raina jadi harus keluar uang banyak buat ganti rugi kegabutan lo berdua tau gak," omel Rama sambil menuding wajah keduanya.
Raina maju mendekati keduanya dengan rasa kesal yang amat sangat di dalam hatinya. Ia terima jika hanya dirinya yang dicelakai tetapi kalau sudah menyangkut dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya ia tidak bisa terima.
Plak! Plak!
Suara tamparan yang begitu nyaring yang berasal dari kedua pipi Fahira membuat yang lainnya terkejut menoleh ke arah mereka.
"Kemarin gw ngebiarin lo bebas bukan karena gw takut sama lo, gw gak mau aja pacar gw lama-lama berurusan sama perempuan bermuka dua kaya lo. Lo boleh jahat sama gw tapi jangan coba-coba buat jahatin orang-orang yang gw sayang. Bukan tamparan doang yang lo dapet bahkan gw bisa bales lebih parah dari apa yang lo lakuin ke keluarga gw dan teman-teman gw!" bentak Raina.
Setelah puas menampar dan memaki Fahira, Raina berjalan mendekati Maira. Ia menatap Maira dengan penuh rasa kesal.
"Lo juga. Lo gak ada kapok-kapoknya harusnya lo itu berubah setelah masuk penjara bukannya makin jadi jahatnya. Gara-gara lo Zara masuk rumah sakit gara-gara teralu lama di dalam villa. Lo manusia apa iblis sih, kemana hati nurani lo!" bentak Raina.
Kali ini Raina tidak memberikan tamparan pada Maira melainkan dorongan, Raina mendorong Maira hingga lengan Maira terbentur meja.
"Apa yang gw lakuin ke kalian berdua belum seberapa kalo dibandingin sama apa yang kalian berdua lakuin ke gw dan keluarga gw," ucap Raina.
"Sekali lagi lo berbuat jahat ke Raina atau pun keluarganya. Gw sendiri yang bakal bales apa yang kalian lakuin!" bentak Fathan.
"Gw gak takut! Silahkan aja Haha. Nyatanya gw udah berhasil dan selangkah lebih maju dari kalian semua. Itu baru Zara yang masuk rumah sakit, kalian liat aja setelah ini gw bakal buat lebih banyak lagi yang masuk rumah sakit. Gw bakal balas apa yang udah lo perbuat hari ini ke gw Raina!" ucap Maira sambil memegangi lengannya yang terasa sangat sakit.
"Tobat Ra tobat sebelum masuk penjara dan abis itu masuk neraka nanti lo. Di dunia kesiksa di akhirat pun tersiksa kan miris banget hidup lo nanti," ucap Rama.
Setelah puas marah-marah pada Fahira dan Maira, mereka kembali ke villa.
Melihat Fathan, Raina dan Rama yang sudah kembali ke villa sontak membuat yang lain penasaran.
"Gimana?" tanya Aisyah dengan penasaran.
"Gila itu si Maira dia gak ada rasa bersalahnya sama sekali, bahkan dia ngancem Raina bakal berbuat yang lebih parah dari kebakaran di villa semalem," ucap Rama sambil menggelengkan kepala dan mendudukkan dirinya di atas kursi yang kosong.
Mendengar ucapan Rama semua menjadi sedikit panik. Reyhan dan Reno pun dibuat kesal dengan apa yang diucapkan oleh Rama.
"Kalo gitu kita harus cepat-cepat cari bukti yang kuat buat nganterin mereka ke penjara biar mereka gak berbuat jahat lagi ke Raina atau pun yang lainnya," ucap Reno.
"Iya bang Reno bener. Nanti tengah malem kita langsung cus ke villa mereka. Gw udah tau seluk beluk itu villa jadi kita bisa leluasa masuk tanpa mereka tau. Keren banget gak tuh gw, detektif conan masa depan nih," ucap Rama dengan bangga.
"Heleh gitu doang bangga, biasa maling di kebon orang nih pasti makanya pinter banget nyusup ke rumah orang," ucap Lala.
Sambil menunggu tengah malam tiba mereka mengisi waktu dengan bakar-bakar jagung sedangkan Shasha masih sibuk di dalam merias wajah Zara, mereka sengaja memilih Zara tetap sebagai hantunya karena Zara sangat pandai meniru suara hantu terutama hantu indonesia yang sering disebut dengan kuntilanak.
Setelah selesai Zara melihat wajahnya melalui cermin, ia sempat dibuat kaget saat melihat wajahnya sendiri karena seperti sedang melihat hantu secara mendadak.
"Ini beneran gw Sha. Gila beda banget tau berasa lagi liat hantu beneran. Sebelum ngerjain dua cewe gila itu, kita tes dulu ke Lala seru kayanya nih Haha," ucap Zara.
"Jangan Zar, kasian anak orang nanti sawan Haha. Lagi ngurus bayi lagi dia," ucap Shasha.
"Gapapa lah sekali-sekali ngerjain tuh anak, masa gw mulu yang dijailin sama dia, mumpung momennya pas nih. Keren juga lo Sha bisa make up sebagus ini hasilnya meskipun serem sih Haha," ucap Zara memberikan beberapa pujian untuk Shasha.
"Bisa aja lo, gw kira bakalan jelek soalnya udah lama banget gw gak nyoba make up serem. Banyak tau diluaran sana yang lebih keren, lo belom coba aja," ucap Shasha terkekeh.
"Iya tapi kan mahal, kalo ke lo gratis Haha," ucap Zara.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya ya. Kali ada saran boleh dititipkan di kolom komentar buat bahan evaluasi aku di bab selanjutnya biar bisa up cerita yang lebih baik lagi hehe.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih.