
Zara memperhatikan Raina, Fathan dan Fano yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil Fathan. Ia merasa aneh dengan perubahan raut wajah Fathan.
Farhan yang sudah berada di dalam mobilnya mendengus sebal saat melihat Zara yang mematung disana dengan sengaja ia membunyikan klakson berkali-kali hingga membuat Zara terkesiap.
Zara memutar tubuhnya menatap Farhan kesal, ia berjalan mendekati mobil Farhan sambil berkacak pinggang.
"Biasa aja dong! Gak usah klakson-klakson, gw gak budeg." Zara menatap Farhan jengkel kemudian dengan sengaja ia memukul pintu mobil Farhan.
"Pukul aja terus, liat aja kalo lecet sedikit aja. Saya lempar kamu ke kandang macan. Buruan masuk!"
Setelah melihat Zara sudah masuk ke dalam mobilnya, perlahan ia mulai mengendarai mobilnya keluar dari parkiran.
Farhan merasa aneh dengan sikap Zara yang sedari tadi hanya diam. Ia melirik ke arah Zara sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.
***
Selesai memakan cemilan milik Reyhan, Lala beranjak dari kursinya sambil membenahi sampah-sampah yang berada di atas meja.
Lala melirik Reno yang sedang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba saja ia teringat dengan Raina.
"Kak Reno. Lala mau nanya deh. Kak Reno yakin ngadain acara beginian disaat Raina belum bisa ngeliat, kenapa gak nunggu Raina normal aja?" tanya Lala.
"Tadi kan udah diomongin kenapa dibahas lagi, udahlah gak usah dibahas lagi aku malas ngulang-ngulang lagi. Kamu bahas kaya ginian kalau Raina tau bisa-bisa kamu didiemin sama dia 1 abad," ucap Reno.
"Rainanya gak ada ini jadi santai aja lah gak usah kaku banget. Lala kan cuma nanya, emangnya pantes gak sih kita ngadain acara padahal Raina lagi sedih sama keadaannya," ucap Lala.
"Gak usah sok tau kamu La. Siapa yang tau perasaan seseorang, bisa jadi dengan kabar pernikahan kita bisa buat Raina bahagia dan ngelupain kesedihannya walaupun sementara," ucap Reno.
"Emangnya Raina seneng ya Lala nikah sama kak Reno? Oh iya cincin buat Lala mana, biasanya orang-orang kalo mau nikahan pasti ada cincinya." Lala menyodorkan tangannya tepat di hadapan Reno.
Sedangkan Reno yang melihat jari-jari tangan Lala bergerak-gerak di hadapannya hanya terdiam kemudian melirik sekitarannya.
Reno yang sedang berfikir tiba-tiba saja tersenyum, ia menggeser kursi lalu pergi meninggalkan Lala.
Lala yang melihat kepergian Reno hanya menatap Reno jengkel, kemudian ia menghempaskan tangannya ke bawah.
"Tuh kan malah kabur, awas aja nanti kalo balik lagi," gerutu Lala.
Setelah beberapa menit sibuk mencari sesuatu di kamarnya akhirnya Reno menemukannya. Reno mempercepat langkahnya kembali menuju dapur.
Sementara itu Shasha, Rama dan Raka yang sedari tadi berada di ruang tengah menatap ke arah Reno dengan tatapan heran karena sebelumnya Reno sempat melewatinya dengan tergesa-gesa. Kemudian kini mereka kembali melihat Reno berlarian melewati mereka tanpa menyahuti sapaan mereka.
"Itu bang Reno bukan si? Disapa kaga nyaut-nyaut, udah gitu bolak-balik mulu lagi," ucap Rama menatap heran ke arah dapur.
__ADS_1
"Lo liatnya itu muka siapa? Jelas bang Reno lah gak mungkin juga itu Raina," saut Raka.
"Aneh banget woy dia dari tadi lari-lari gak jelas, gw mikirnya dia kerasukan jin atlet maraton deh," ucap Rama.
Shasha dibuat tertawa dengan ucapan Rama yang menurutnya sangat konyol. Shasha mendekatkan tangannya ke arah kepala Rama kemudian dengan gemas ia menjitak kepala Rama.
"Sejak kapan ada jin maraton," ucap Shasha.
"Tau aneh tuh orang, sabar-sabar aja Sha deket-deket sama dia bisa ketularan gak warasnya nanti," sambung Raka.
Rama mendelikkan matanya menatap Raka dengan tatapan sinis.
"Wahai sahabatku berapa lama kau berteman denganku? Bahkan kau suka sekali menempel diketekku," ucap Rama.
"Lah iya, lo kan deket banget sama Rama. Wah jangan-jangan lo?" ucap Shasha terkekeh.
***
Fano merasa iba melihat wajah Raina yang murung sejak kedatangan Fahira yang tiba-tiba saja membuat kerusuhan.
"Kak Laina jangan manyun gitu. Pasti kak Laina sebel ya sama nenek gelandong tadi? Sama kok Pano juga sebel pengen Pano gigit-gigit lasanya si nenek gelandong tapi Pano kasian sama gigi Pano. Liat nih Pano aja bisa senyum ganteng walaupun Pano sebel banget sama nenek gelandong halusnya kak Laina senyum juga kaya Pano. Pano janji deh kalo ketemu sama nenek gelandong lagi nanti Pano sumpel mulutnya pake ikan lele biar gak berisik lagi." Fano berbicara tanpa jeda hingga membuat Fathan menggelengkan kepalanya.
"Tuh dengerin omongan Fano, kamu gak perlu dengerin omongan Hira. Mungkin dia lagi banyak masalah kali makanya dia begitu sayang. Harusnya kamu percaya sama aku jangan dengerin omongan Hira tadi, bahagia aku ada di kamu jadi gak mungkin aku ninggalin kamu dan cari cewe lain. Kalo perlu sekarang kita nikah aja resepsinya barengan sama bang Reno kan jadinya hemat tuh hehe," ucap Fathan.
"Nanti kalo Fano udah gedean dikit pasti tau kok, nikmatin aja masa kecil biar nanti pas udah gede gak kangen sama masa kecil Hehe," ucap Fathan.
"Pano gak ngelti, omongan olang gede libet banget sih," keluh Fano.
Fano terdiam sejenak kemudian ia tersadar dari lamunannya, ia menepuk-nepuk pelan bahu Fathan.
Fathan yang sedang fokus mengendarai mobilnya hanya menyauti dengan suaranya tanpa menoleh pada Fano yang berada di belakang.
"Kenapa Fano?" tanya Fathan.
"Pinjem hp dong, Pano gabut," ucap Fano.
"Ih anak kecil tau aja sama bahasa gaul, tau dari mana kamu?" tanya Raina tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya.
Hal tersebut membuat Fano mengembangkan senyumnya kemudian ia berjingkat-jingkatan sambil bertepuk tangan.
"Yeay akhirnya kak Laina bisa ngomong juga," teriak Fano.
Fathan menyuruh Fano mengambil ponselnya di tas Raina dengan gerakan cepat Fano pun mengambil ponsel Fathan.
__ADS_1
Fano menggeser-geser layar ponsel Fathan dengan semangat, ia tersenyum saat melihat game yang baru-baru ini sering ia mainkan.
Fano larut dengan game yang sedang ia mainkan, sesekali ia mendengus sebal saat ia kalah hingga membuat Raina dan Fathan terkekeh mendengarnya.
"Curang banget si semuanya," omel Fano.
***
Lala melihat ke arah Reno yang baru saja kembali dengan satu bungkus snack yang bertulisan RING. Terlihat Reno tersenyum menghampirinya dan mendudukkan dirinya di samping Lala sambil membuka bungkus snack yang ia bawa.
Lala terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Reno, ia tidak habis fikir dengan Reno yang tiba-tiba kabur lalu kembali ke dapur dengan satu bungkus snack.
"Gak peka banget sih jadi cowo," ketus Lala.
Reno mengangkat pergelangan tangan Lala kemudian ia mengambil snack yang berbentuk cincin lalu memasangkannya di jari Lala.
"Nah udah kan cincinnya," ucap Reno mengembangkan senyumnya.
Lala melirik ke arah jarinya yang kini terdapat ciki. Ia menatap Reno dengan tatapan heran.
"Itu bukan cincin ih, kak Reno gak modal banget sih ngasihnya cincin yang dari ciki emangnya Lala anak kecil apa," protes Lala.
"Eh jangan diremehin dong. Ini cincin multifungsi loh. Kalo kamu laper atau pengen ngemil gak perlu repot-repot tinggal mangap aja di depan jari-jari kamu. Mana sini jari-jarinya biar dipakein semua," ucap Reno.
Lala menatap Reno yang sedang sibuk memasangkan ciki di jari-jari tangan Lala. Lala bergedik ngeri melihat sikap Reno.
"Kak Reno sehat kan?" tanya Lala dengan ragu.
"Sehatlah," jawab Reno.
"Tapi kok Lala gak yakin ya, kayanya kak Reno gak sehat deh, yuk ke grogol kak," ajak Lala.
Reno baru menyadari maksud ucapan Lala, ia menatap Lala sebal dengan sengaja ia menyumpal mulut Lala dengan ciki yang sebelumnya berada di tangannya.
"Oh jadi kamu ngatain aku gila? Kurang ajar banget ya udah di kasih 10 cincin masih aja ngatain aku," omel Reno sambil menarik hidung Lala.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais. Kalo kalian punya saran buat cerita berikutnya silahkan dititipkan di kolom komentar.
Sekian dan terima kasih.i
__ADS_1