
Perlahan Raina mulai turun dari puncak panjat tebing, baru saja ia menapakan kakinya diatas tanah ia dibuat terkejut oleh kedatangan Fathan yang tiba-tiba mengocehinya tanpa henti.
"Raina, kamu gak kasian ya sama aku yang dari tadi khawatir mikirin kamu apa lagi nih jantung rasanya kaya mau meledak liat kamu ada di atas sana sambil nyengir-nyengir terus lambai-lambaiin tangan berasa miss indonesia aja kamu. Punya nyawa banyak kamu ya, nanti kalo jatoh gimana, pasti aku lagi yang pusing, kamu mau buat aku mati berdiri liat kamu jatoh di depan mata aku." Fathan terus menghujani Raina dengan ocehannya hingga membuat Raina terkekeh melihatnya.
Raina senyum-senyum sambil menatap Fathan yang sedang memasang wajah kesalnya ke arah Raina, Raina melepaskan pengaman yang berada di tubuhnya lalu menarik tangan Fathan sedikit menjauh dari wahana panjat tebing.
"Ternyata pacar aku bisa panik juga ya He-He, tenang aja kali gak usah panik kaya gitu sekarang kamu liat kan aku baik-baik aja bahkan aku gak jatoh kaya yang ada dibayangan kamu itu," ucap Raina.
Raina tersenyum saat melihat sekumpulan orang sedang asik bermain layang-layang, tanpa menunggu respon Fathan mengenai ucapannya Raina segera menarik tangan Fathan untuk mendekat ke arah penjual layang-layang.
"Ayo Kak buruan keburu abis layangannya," ajak Raina dengan semangat hingga membuat Fathan sedikit terseret-seret.
"Raina, gak usah lari-larian nanti nyungsep barengan gimana, kalo nyungsepnya kaya di film-film mah keren jadi romantis," ucap Fathan.
Raina menatap Fathan sebal ia menghentakan kakinya lalu pergi meninggalkan Fathan.
"Yah ngambek, Raina tungguin!" teriak Fathan.
Raina mendekat ke arah penjual layang-layang lalu ia membeli satu buah layang-layang dan pergi menuju ke tengah lapangan tanpa memperdulikan Fathan yang terus meneriakinya.
Raina berdecak sebal karena layang-layang miliknya tidak mau naik seperti layang-layang orang lain.
Fathan yang berada tidak jauh dari Raina tertawa melihat Raina yang begitu frustasi karena layang-layang punyanya tidak bisa terbang ke atas. Dengan sengaja Fathan memperlihatkan layang-layangnya yang sedang berada di atas.
"Layangannya gak bisa naik ya Mba Ha-Ha-Ha," ledek Fathan.
Raina yang mendengar suara tawa dan ledekan dari Fathan refleks menengadah kepalanya ke atas ia melihat layang-layang berwarna merah milik Fathan berada di atas bersama dengan layang-layang orang lain.
"Gitu aja norak, liat nih ya layangan aku bisa nembus ke langit ke tujuh," ucap Raina dengan nada menantang.
Mendengar perkataan Raina suara tawa Fathan semakin keras hingga membuat Raina sebal.
"Yaudah coba terbangin, jadi penasaran deh," ucap Fathan.
Raina sedari tadi sibuk berusaha menaikan layang-layangnya, ia berlari-larian sambil membawa layang-layangnya, ia berharap layangannya akan naik, namun yang terjadi layang-layangnya justru terseret-seret di atas tanah hingga membuat layang-layangnya menjadi sobek.
"Yah sobek, ini layangannya gak asli kali ya makanya gak bisa naik," keluh Raina.
Raina menatap layang-layangnya yang kotor dan sobek akibat terseret di atas tanah yang berwarna merah, ia mendudukan dirinya di atas rumput-rumput liat dengan wajah yang ditekuk.
Fathan yang menyaksikan tragisnya nasib layang-layang yang dibawa lari-lari oleh Raina hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, perlahan ia mulai menghampiri Raina yang sedang sedih sambil menatap layangannya.
Fathan meletakan gulungan benangnya diatas rumput lalu menindihkan layang-layang dengan batu besar supaya layang-layang tidak terbang. Ia mendudukan dirinya di samping Raina sambil mengembangkan senyumnya.
"Gak usah sedih gitu, tuh kamu pake layangan aku aja, lagian aku bosan main layangan terus dari SD," ucap Fathan sambil menunjuk ke arah gulungan benangnya.
Raina menatap Fathan, matanya berbinar saat melihat gulungan layang-layang dengan semangat ia beranjak dari duduknya lalu menyingkirkan batu besar dari gulungan benang.
Setelah menyingkirkan batu besar tanpa sadar layang-layang mulai terbang bersama dengan gulungan benangnya, hal tersebut membuat Raina kaget dan panik. Tanpa banyak berfikir Raina berlarian mengejar layang-layang tersebut, ia terus berdoa dalam hatinya berharap layang-layang tersebut tidak terbang jauh.
Raina terus melihat ke atas langit tanpa memperhatikan sekitarnya, ia tidak sadar sekarang ini ia sedang berada di tengah jalan yang tidak begitu ramai.
Maira dan teman-temannya yang berada di dalam mobil berniat untuk pergi dari tempat tersebut di karenakan Maira yang sudah sangat tidak tahan dengan Fathan dan Raina yang begitu dekat.
Maira sedang sibuk menoceh mengeluarkan rasa kesalnya kepada teman-temannya tidak sengaja pandangannya bertemu dengan Raina yang sedang berada di tengah jalan dan tidak jauh dari posisi mobilnya.
Maira memicingkan matanya berulang kali ia berusaha mengedipkan dan mengusap matanya memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar Raina.
Ia tersenyum miring saat ia sudah yakin bahwa yang ia lihat benar-benar Raina dengan cepat ia menepuk-nepuk pundak Sinta lalu menyuruhnya menjalankan mobil.
"Ngebut!" perintah Maira.
"Tapi di depan sana ada orang tuh, masa iya mau ditabrak yang ada nanti kita dipukulin sama orang-orang Ra," ucap Sinta.
"Udah deh gak usah banyak protes, lo jalan aja buruan terus lo tabrak aja orang yang ada disana," ucap Maira.
"Lo gila ya Maira, plis Sin jangan ikutin Maira, nanti kita bisa dipukulin orang-orang terus kita bisa masuk penjara gara-gara nabrak orang, lagian lo ada dendam apa sih sama tuh orang sampe tega banget lo mau nabrak dia," ucap Shasha sambil menatap Maira kesal.
Maira berdecak sebal lalu menyuruh Sinta bergeser dari kursi kemudi, setelah mendapat kursi untuk mengemudi Maira menatap ke arah Raina dengan tatapan tajam dengan yakin ia menancap gasnya dengan kecepatan tinggi.
Fathan yang sedang memejamkan matanya kebingungan saat tidak mendengar suara Raina, perlahan ia membuka matanya dan ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Raina.
Fathan memicingkan matanya saat melihat banyak kerumunan di jalanan depan dekat parkiran mobilnya, seketika ia merasa cemas dan panik dengan cepat ia berlarian menuju kerumunan di tengah jalan dalam hatinya ia terus berdoa dan berharap bahwa yang ia duga salah.
"Permisi ... Permisi." Fathan berusaha menembus kerumunan hingga akhirnya ia berada di depan dan melihat perempuan yang sedang tertidur membelakanginya.
Fathan menghampiri perempuan tersebut lalu membalik tubuh perempuan tersebut menghadap ke arahnya, saat tubuh perempuan tersebut menghadap ke arah Fathan terlihat disekitar wajahnya banyak sekali darah.
Tubuh Fathan gemetar dan kaku saat melihat perempuan yang kini sedang berada di pangkuannya bersimbah darah dengan cepat ia menyuruh orang-orang di sekitar membantunya untuk mengambil mobilnya di parkiran, Fathan tak hentinya mengusap wajah Raina ia memeluk tubuh Raina dengan kondisi tangannya yang kini gemetaran.
Saat mobilnya sudah berada di dekat Fathan dengan cepat Fathan menggendong tubuh Raina memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi.
"Raina bertahan, aku yakin kamu kuat jangan tinggalin aku," ucap Fathan dengan panik.
Saat sampai di rumah sakit Fathan memarkirkan mobilnya asal hingga membuat Fathan ditegur oleh satpam rumah sakit, namun Fathan tak memperdulikannya dengan cepat ia membopong tubuh Raina menuju ruang ICU.
Sesampainya Fathan di ICU ia sudah terlebih dahulu disambut oleh dua perawat dengan cepat perawat membawa Raina masuk ke dalam ruang ICU dan menghadang Fathan yang mau menerobos masuk ke dalam ruang ICU.
Fathan yang berada di depan ruang ICU terus bolak-balik ia cemas memikirkan keadaan Raina di dalam ruangan.
Fathan teringat dengan keluarga Raina, Fathan merogoh saku celananya lalu menghubungi keluarga Raina serta teman-temannya yang lain.
Setelah mengabari keluarga dan teman-temannya Fathan mendudukan dirinya di atas kursi tunggu yang berada tidak jauh dari ruang ICU, ia mengusap kasar wajahnya Fathan merasa bersalah pada Raina karena ia tidak bisa menjaga Raina dengan baik hingga membuat Raina harus mengalami kejadian seperti ini.
"Ini semua salah gw, gak seharusnya gw biarin Raina main layangan sendirian;" gumam Fathan.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Raka yang sedari tadi sibuk dengan game onlinenya dibuat kaget dengan notifikasi yang muncul di layar ponselnya dengan cepat ia membuka pesan tersebut ia menggelengkan kepalanya lalu menggebrak meja membuat yang lainnya yang sedang asik mengobrol terkejut.
"Kak Raka apaan sih ngagetin aja, kaya Maira lagi marah-marah aja nih dikit-dikit tabok meja pasti sakit tuh tangannya, sukurin Ha-Ha-Ha," ledek Lala.
"Tau gak jelas lo Rak, kalo kalah ya udah kalah aja gak usah kesel gitu, lo kan emang gak bisa main." sambung Rama.
Raka tidak memperdulikan perkataan Lala dan Rama, ia segera melihatkan ponselnya pada Rama hal tersebut sukses membuat Rama berteriak hingga membuat seisi kantin melihat ke arah meja mereka.
"Ini lagi abis liat hp malah teriak, emangnya liat apaan sih keliatannya shock banget? Menang undian?" tanya Aisyah dengan wajah polosnya.
"Dari pada kalian nanya mulu kaya hansip baru mendingan kalian cek hp masing-masing terus liat grup, pasti kalian bakal lebih heboh dari kita," ucap Raka.
"Ini beneran apa hoax apa prank," tanya Zara.
"Kalo yang ngirim chat si Lala gw percaya kalo ini hoax tapi ini Fathan yang ngirim dan gw yakin dia gak becanda," ucap Raka.
Lala beranjak dari duduk lalu pergi ke kedai mba Wiwik membayar pesanan dari pengemudi sepeda motor.
Saat kembali menuju mejanya, ia mendengus sebal saat melihat yang lainnya masih betah duduk dan terdiam.
"Woi! Kalian ngapain bengong berjamaah kaya gini udah tau teman kita lagi di rumah sakit bukannya panik malah santai di situ," teriak Lala.
"Lagi mikir ini hoax apa kaga, berisik banget sih lo gw lempar kuah bekas bakso nih lama-lama," omel Raka.
Dengan cepat mereka pergi dari kantin menuju kelas masing-masing mengambil tasnya, setelah mengambil tasnya ia segera pergi menuju parkiran.
"Kok bisa ya Raina kecelakaan," gumam Lala.
"Bisa aja lah Lala namanya juga musibah mana ada yang tau," saut Aisyah.
Lala menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia menujukkan cengirannya.
"Iya juga sih, intinya kita harus buru-buru ke rumah sakit kasian Raina gak ada temannya disana pasti dia kesakitan," ucap Lala.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Reno yang baru sampai di rumahnya menghampiri Wina yang sedang menonton televisi lalu mencium tangan Wina.
Reno mendudukan dirinya di atas sofa lalu mengambil ponselnya dari saku jas, ia mengecek beberapa pesan, ia kaget sekaligus cemas saat membaca pesan dari Fathan, ia menoleh ke arah Wina, ia ingin memberi tahu pada Wina namun ia takut nanti Wina menjadi cemas dan tidak tenang memikirkan Raina.
Reno menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri, ia membalas pesan Fathan untuk memastikan kabar yang diberitahu oleh Fathan tidak bercanda karena ia tidak ingin membuat Wina cemas.
Wina yang menyadari kegelisahan Reno perlahan ia mendekatkan diri pada anak sulungnya, ia mengusap bahu Reno sambil menatap Reno dengan tatapan lembut.
"Kamu kenapa Ren kayanya gelisah banget, cerita aja sama Mama barang kali Mama bisa bantuin," ucap Wina dengan santai sambil memasukan cemilan ke dalam mulutnya.
Reno terkesiap saat mendengar suara Wina, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa sih Ren? Kaya anak SMP yang kena masalah sama guru BK aja kamu tuh santai aja sama Mama, kamu cerita aja ada apa atau jangan-jangan kamu udah siap nikah ya terus kamu mau ngenalin calonnya ke Mama makanya kamu gelisah kaya gitu, tingkah kamu mirip banget sih kaya Papa kamu Ren He-He jadi inget masa-masa dulu, siapa orangnya? Cantik gak?" ucap Wina.
Wina terus mendesak Reno supaya Reno mengatakan penyebab kegelisahannya pada Wina.
"Engga Ma. Mama ngaco nih siapa juga yang mau nikah, barusan aku cek hp terus dapet kabar dari Fathan kalo Raina kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit makanya aku gelisah, aku takut Mama shock denger kabar ini," ucap Reno.
Wina menggelengkan kepalanya ia tidak percaya dengan perkataan Reno, ia beranggapan Reno hanya mengalihkan pembicaraan dengan menggunakan nama Raina supaya ia terbebas dari introgasinya.
"Udahlah Reno gak usah ngeles terus, udah buruan kamu jujur aja sama Mama siapa perempuan yang bisa ngebuat anak Mama yang satu ini jatuh hati," ucap Wina terus mendesak Reno.
Reno mendelikan matanya ia menyodorkan ponselnya pada Wina dan membiarkan Wina melihatnya sendiri.
Setelah membaca isi pesan yang ada di ponsel Reno, Wina kaget dan ia masih sulit untuk percaya dengan kabar tersebut.
"Ini beneran Ren?" tanya Wina.
"Aku gak tau pastinya Ma soalnya Fathan belum balas lagi, mendingan kita dateng aja ke lokasi yang di kasih tau sama Fathan," ucap Reno.
Wina menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju kamarnya mengambil tas dan berganti baju.
Saat melihat Wina keluar dari kamarnya Reno segera berjalan menuju mobilnya. Dengan tergesa-gesa Wina memasuki mobil Reno lalu mengabari Gio dan Reyhan.
"Si Rey kemana sih susah banget dihubungin keadaan lagi darurat kaya gini juga, kebiasaan deh kalo udah pacaran gak inget keluarga," omel Wina.
"Udah Ma jangan marah-marah nanti darah tinggi Mama kambuh lagi Reno gak mau Mama sakit, nanti soal Rey biar Reno yang urus Mama fokus ajak Raina ya," ucap Reno.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gaissss, kalo ada saran silahkan di sampaikan saja semuanya aku baca kok cuman aku belum sempat balas satu-satu aja.
Terima kasih buat kalian yang selalu setia nunggu cerita ini update hehe
__ADS_1
Semoga ceritanta menghibur kalian ya gais
Sekian dan terima kasih lop yu