SENIOR

SENIOR
Comberan


__ADS_3

nanti lala bilang si maira kaya nyamuk


Lala membulatkan matanya saat melihat Maira yang sedang memegang pisau di tangannya, ia tidak bisa bersembunyi lagi karena ia takut akan terjadi sesuatu yang akan ia sesali seumur hidupnya dengan cepat Lala mendorong paksa tubuh Ipan untuk menjauh darinya, ia berlarian mendekati Maira.


"Maira! Ngapain lo megang piso kaya gitu. Lo juga ngapain ada disini bukannya lo udah dipenjara ya kenapa bisa keluar! Gak ada kapok-kapoknya lo ya!" teriak Lala menatap Maira dengan tatapan tajamnya.


Maira tertawa ketika mengetahui keberadaan Lala, ia menatap Lala dengan tatapan meremehkannya.


"Takdir gw bukan di penjara, sebelum kalian hancur hancur terutama cewe ini. Gw gak akan segitu gampangnya diem di penjara," ucap Maira dengan santai.


"Sombong banget lo buntut kuda. Lagian lo itu manusia apa nyamuk sih gampang banget keluar masuk penjara. Udah keluar-keluar buat rusuh lagi. Piso itu dipake buat di dapur buat motong bawang, cabe, tomat bukan disini. Balikin sana piso mak lo, nanti diusir dari rumah baru tau rasa lo," ucap Lala sambil terus menatap Maira dengan tatapan waspadanya karena ia takut kalau tiba-tiba saja Maira nekat melakukan hal yang tidak ia inginkan.


Raina perlahan sadar dari pingsannya, ia kaget saat melihat Maira yang berada di hadapannya dengan pisau yang berada di tangan kanannya. Melihat hal tersebut membuat Raina panik dan berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.


"Nah pas banget lo udah sadar, jadinya lo bisa ngerasain secara langsung gimana pisau ini ngerusak muka lo," ucap Maira dengan tatapan penuh kebencian.


"Mau lo apa sih. Kenapa lo gak berenti-berenti ngejahatin gw padahal gw gak pernah bales semua yang lo lakuin," teriak Raina dengan gemetar.


"Hei ... Gak usah ngerasa paling suci deh lo. Sebelum gw ngelakuin semua ini ke lo, lebih duluan lo dan keluarga lo itu yang jahat sama keluarga gw. Gara-gara Papa lo perusahaan Papa gw nyaris bangkrut dan sekarang Papa gw depresi bahkan Mama gw pergi ninggalin gw sama Papa gitu aja. Ini semua gara-gara keluarga lo! Bahkan setelah apa yang keluarga lo lakuin ke keluarga gw, sekarang lo rebut semua orang yang gw sayang! Harusnya gw yang nanya itu semua ke lo! Mau lo apa Hah!" bentak Maira dengan penuh kebencian.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Maira membuat Raina kaget, ia yakin semua ini hanya salahpaham karena tidak mungkin Papanya melakukan hal jahat seperti yang dikatakan oleh Maira.


"Gak mungkin Papa gw kaya gitu, Papa gw itu orang baik. Harusnya lo cari tau dulu kebenarannya gimana jangan nyalahin satu pihak doang. Gw gak pernah ngerebut siapapun dari lo, mereka yang dateng ke gw dengan sendirinya, jadi lo gak bisa nyalahin gw terus-terusan. Gw yakin lo sebenernya orang baik, gw mohon jangan kaya gini," ucap Raina dengan hati-hati supaya Maira dapat mencerna ucapannya dengan baik dan tidak salah paham.


"Terlambat buat mohon-mohon ke gw, semua udah hancur mending hancur aja sekalian," saut Maira.


Raina menggelengkan kepalanya saat melihat Maira mendekatinya.


"Gak ada yang terlambat Maira, setiap orang pasti punya kesalahannya masing-masing. Buat memperbaiki sesuatu gak ada yang terlambat. Kalo lo mau gw dan temen-temen gw bisa bantu kaya kita terima Shasha," ucap Raina.


Melihat Maira yang semakin mendekat membuat Lala semakin panik dengan cepat ia berlari mendekati keduanya kemudian ia mendorong tubuh Maira hingga Maira terjatuh ke lantai dan pisau yang sebelumnya berada di tangan Maira terjatuh refleks Lala langsung mengambil pisau tersebut.


"Sukurin jatoh kan, makanya jadi orang jangan jahat-jahat banget. Sekarang senjata lo di gw nih, gantian mau gak? Tapi Lala biasanya gunain piso buat potong bawang bukan potong Maira si nenek lampir," oceh Lala.


Raina mendengus sebal beberapa kali ia mencoba memberi kode pada Lala untuk melepaskannya namun Lala sama sekali tidak mendengar.


"La lepasin gw dulu jangan ngobrol terus," bisik Raina.


Mendengar hal tersebut membuat Lala refleks menolehkan kepalanya ke arah Raina.


"Eh Raina, lo ngomong sama gw ya?" tanya Lala.


"Tau ah gak jelas, iya gw ngomong sama lo dari tadi buruan lepasin gw," kesal Raina.


"Bilang dong dari tadi, yaudah oke oke otw lepasin," saut Lala.


Lala melangkahkan kakinya mendekati Raina, ia menundukkan tubuhnya berniat membukakan tali yang mengikat tangan Raina.


Ipan yang masih bersembunyi dibuat panik saat melihat Maira yang berada di belakang Lala ingin memukul Lala dengan kayu.


"Lala awasss!" teriak Ipan.


Mendengar teriakan Ipan, refleks Lala menjauh dari tempatnya hingga membuat Maira gagal memukulnya, Lala berkacak pinggang menatap Maira dengan tatapan tajamnya.


"Gak segampang itu ferguso, Lala colok nih ya matanya pake pisau atau mau Lala jepret pake karet gelang kepalanya nih. Jadi orang tuh banyakin amal kebaikan jangan kejahatan terus," omel Lala.


Lala menarik karet gelangnya kemudian ia melepaskan ke arah Maira dan tepat sekali mengenai hidung Maira.


"Rasain tuh jepretan Lala. Ipan bantuin Raina sana biar Lala yang lawan nenek lampir ini," teriak Lala pada Ipan yang langsung direspon anggukkan kepala oleh Ipan.


Ipan berjalan mendekati Raina kemudian membantu Raina melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.


"Makasih ya, udah bantuin gw," ucap Raina.


"Iya sama-sama. Sekarang mendingan kita ngejauh dari sini karena bahaya banget kalo kita disini," ucap Ipan.


Raina terdiam sambil menatap Lala kebingungan, tidak mungkin ia membiarkan Lala sendirian disini sedangkan Lala sudah menolongnya. Rasanya Ia sangat menyesal saat di kampus tadi ia tidak mendengarkan perkataan Lala malah lebih memilih untuk mengikuti Nova.


"Lala gimana, gak mungkin gw tinggalin dia sendirian," ucap Raina.


Ipan menolehkan kepalanya ke arah Lala, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan ikut kebingungan.


"Iya juga ya, terus gimana nih kalo gw ninggalin Lala nanti Lala kenapa-kenapa gagal dong makan-makan gratis gw," gumam Ipan.


Raina menghela nafasnya kemudian menepuk dahinya sendiri.


"Yaampun lagi kaya gini masih aja mikirin makan, tenang aja nanti pasti dapat kok. Mau dibungkus 100 bungkus juga pasti kita jabanin. Sekarang yang penting Lala dulu," ucap Raina menatap Lala cemas.


"Udah kalian pergi aja sana, tenang Lala punya senjata nih pasti dia gak berani sama Lala. Tapi nanti kalo udah keluarin Raina dari sini balik lagi ya Ipan kesini," teriak Lala.


"Yehhh ujungnya gw juga yang kena," keluh Ipan.


"Iyalah nanti kalo tiba-tiba gw diserang nenek lampir gimana, nanti gak ada yang nolongin gw Ipannnnn," saut Lala.


****


Raina dan Ipan berlarian keluar dari tempat tersebut saat sampai di luar keduanya kaget ketika melihat keberadaan Fathan dan yang lainnya.

__ADS_1


"Loh kalian semua ada disini," heran Raina sambul menatap semua satu per satu.


"Iya, kamu gapapa kan? Ada yang luka gak. Emang ya gak ada kapok-kapoknya itu manusia satu. Gak bisa dibiarin dia!" Kesal Fathan.


Reno sedari tadi mengedarkan pandangannya kesekitar mencari keberadaan perempuan yang kini menyandang status sebagai istrinya tersebut.


"Katanya si Lala ngikutin kamu kesini Raina, sekarang dia dimana?" tanya Reno.


"Oh iya, itu si Lala ada di dalem sama Maira. Ipan sana susulin Lala gw udah aman disini, mendingan lo samperin Lala sana, gw takut Lala kenapa-kenapa soalnya si Maira kan nekat banget orangnya," pinta Raina sambil mendorong pelan bahu Ipan.


Ipan menganggukkan kepalanya berniat melangkahkan kakinya namun baru satu langkah ia berjalan terlebih dahulu ditahan oleh Reno.


"Gak usah, biar aku aja yang ke dalam. Dia kan istri aku, nanti dikira orang-orang suami macam apa aku ini biarin istri sendiri ditolongin orang lain padahal suaminya ada disini," sambung Reno sambil menatap Ipan dengan tatapan malasnya.


Melihat Reno yang berlarian tergesa-gesa membuat Fano yang berada di samping Genta penasaran. Ia melepaskan genggaman tangan Genta yang berada di tangannya.


"Kak Gen, Pano mau ikut kak Leno ya. Takutnya kak Leno butuh bantuan Pano si supelmen hebatttt," ucap Fano dengan semangat.


"Jangan ... Nanti aja barengan sama kita, disana ada kecoa terbang tau," ucap Genta sengaja menakut-nakuti Fano.


"Boong kak Genta, Pano gak pelcaya soalnya Pano udah seling diboongin telus, kasian anak kecil kaya Pano tiap hali diboongin telus sama olang gede. Awas idungnya panjang boongin anak kecil telus. Bye! Pano mau ikut kak Leno," ucap Fano.


Fano berlarian menyusul Reno sambil berteriak memanggil Reno.


"Kak Leno tungguin Panoooo," teriak Fano.


Reno menolehkan kepalanya kemudian menghentikan langkah kakinya saat melihat Fano yang berlarian mendekati dirinya.


"Ngapain ikut-ikutan kesini. Diluar aja sana sama yang lainnya. Anak kecil gak boleh ikut-ikut," ucap Reno.


"Gak mau! Pano mau ikut di lual gak selu," tolak Fano.


Reno mendelikkan matanya menatap Fano gusar, ia lupa kalau sepupunya yang satu ini sangatlah ajaib dan berbeda dari anak kecil seusianya.


"Iya-iya terserah kamu deh, jangan rusuh yang nanti," ucap Reno.


****


Maira merasa kesal dengan Lala yang terus-terusan menceramahinya, ia teringat dengan sesuatu yang sudah ia siapkan untuk Raina. Kali ini ia berubah fikiran, ia akan menggunakan itu untuk Lala.


"Lo dari tadi rusuh ya, ikut campur terus sama urusan gw. Tadinya gw gak mau ngapa-ngapain lo, tapi lo udah teralu banyak ikut campur dan buat kacau rencana gw," ucap Maira.


Maira berjalan menjauhi Lala mengambil sesuatu yang berada di dalam kantong plastik berwarna hitam.


Nova yang baru saja kembali, tiba-tiba saja kaget ketika melihat Maira mengambil botol yang ia ketahui isinya air keras. Nova mengalihkan pandangannya ke arah tempat dimana Raina sempat diikat namun ia tidak melihat Raina yang ia lihat hanya Lala disana yang sedang mematung sambil menatap ke arah Maira.


Gw kira dia cuma pura-pura oon, ternyata beneran oon. Harusnya kan dia bisa kabur sebelum Maira nyiram dia pake air keras. Bahaya nih kalo dibiarin.


"Lo mau ngapain Ra, bukannya sasaran lo cuma Raina kenapa jadi beda orang," tanya Nova berusaha mengalihkan perhatian.


"Iya awalnya begitu, tapi gw berubah fikiran. Dia udah ngebuat rencana gw jadi hancur berantakan, jadi dia harus terima juga pembalasan dari gw, mending lo bantuin gw deh pegangin dia" saut Maira.


Nova membelalakan matanya saat mendengar ucapan Maira, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak ah. Gak usah aneh-aneh deh Maira. Si Lala kan kaya belut licinnya. Nanti yang ada bukanya dia yang kena siram air keras malahan gw yang kena. Lo siram aja lah sendiri gak usah minta bantuan sama gw, kan dari awal gw udah bantuin lo bawa Raina kesini," ucap Nova.


"Halah, yaudah lah gw aja sendiri," kesal Maira.


Maira berjalan mendekati Lala dengan menampakkan wajah penuh dendamnya sambil membawa 1 botol air keras di tangan kanannya.


Nova dari kejauhan terus menatap Lala geram. Ia kesal dengan Lala yang masih mematung seperti menantang Maira. Nova mengambil ponselnya dari saku celananya mencoba menghubungi Genta untuk meminta bantuan.


Si Lala emang dah ah nyusahin aja. Bisa-bisanya dia diem disitu padahal udah liat si Maira bawa air keras, dia kira Maira bawa air es kali ya, makanya dia santai kaya begitu.


Novaa terus berbicara di dalam hatinya sambil mencoba menghubungi Genta sampai Genta menjawab panggilan telpon darinya.


Reno berhasil menemukan Lala, ia kaget saat melihat Maira nyaris menyiram Lala dengan air keras dengan cepat ia berlarian kemudian menepis botol tersebut hingga botol terjatuh ke lantai dan pecah.


Reno menatap Maira dengan tatapan tajamnya, ia mendekati Maira kemudian mencengkram tangan bahu Maira hingga membuat Maira meringis.


"Sudah gila kamu ya! Saya tidak akan membiarkan siapapun coba-coba celakain orang yang penting bagi hidup saya. Sayangnya botol air kerasnya pecah andai aja gak pecah mungkin sekarang saya sudah mengguyur langsung dengan tangan saya sendiri air keras itu ke muka kamu. Selama ini saya diam bukan berarti saya tidak marah sama kelakuan kamu. Andai kamu bukan perempuan mungkin sudah habis kamu saya pukulin." Nafas Reno mengebu-gebu, wajahnya memerah menahan emosinya terhadap Maira.


"Pukul aja kak Reno, dia orang jahat. Dia jahat banget tadi dia mau ngiris muka Raina. Ayo ... Ayo ... Pukul diaaa," ucap Lala bersorak-sorak.


Fano yang melihat hal tersebut tak mau kalah dengan Lala, ia ikut bersorak-sorak sambil bertepuk tangan.


"Ayoo ... Ayooo ... Kak Leno pasti menang. Pano dukung kak Leno juga. Dasal nenek lampil jahat huuuu," sorak Fano.


Nova menatap Fano dan Lala dengan tatapan bertanya-tanya. Baru kali ini ia melihat orang seperti itu. Orang baik tapi aneh kalau menurutnya.


"Bener-bener ajaib dua orang itu," gumam Nova sambil menggelengkan kepalanya.


Selang beberapa menit semua sudah berkumpul di tempat Lala dan Fano berdiri.


"Bang Reno, biar gw aja yang urus, gw mau ngomong sama dia," ucap Fathan.


Fathan berjalan mendekati Maira dengan membawa satu ember kecil berwarna hijau. Ia memberi kode pada Reno untuk menjauh. Saat melihat Reno yang sudah menjauh dari sana dengan cepat Fathan menyiram Maira dengan air comberan yang sengaja ia ambil di depan.

__ADS_1


Maira menatap jijik tubuhnya sendiri, ia menutup hidungnya sendiri saat merasakan bau yang tidak enak mulai merasuki hidungnya.


"Air comberan ini belum ada bandingannya sama semua yang udah lo lakuin ke Raina. Lo bener-bener orang yang gak pernah belajar dari kesalahan. Raina gak pernah nyakitin lo, dia gak pernah ngebales apa yang lo lakuin ke dia tapi kenapa lo terus-terusan ngejahatin Raina," bentak Fathan sambil melempar ember hingga ember tersebut pecah.


"Lo gak tau apa-apa, jadi gak usah ikut campur dan bela dia. Lo itu buta sama cinta makanya lo gak tau kalo keluarga dia itu keluarga yang jahat," ucap Maira dengan kesal.


Reyhan mengerutkan dahinya tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Maira


"Lo ngomong apa sih, kalo salah ya salah aja jangan nyalahin keluarga gw. Lagian lo udah di penjarain kenapa masih keluar aja," sambung Reyhan.


"Emang nyatanya keluarga lo itu pembawa sial dan Papa kesayangan lo itu yang udah buat keluarga gw hancur andai aja dia gak rebut proyek yang diincer Papa gw pasti sekarang keluarga gw masih utuh, gak ancur kaya sekarang!" bentak Maira.


"Terserah lo deh mau ngomong apa. Intinya gw lebih percaya keluarga gw dari pada penjahat musiman kaya lo. Beraninya pake pisau, air keras, nyulik. Drama banget hidup lo," saut Reyhan dengan santai.


"Tau huuuu ... Solakin nenek lampil Huuuu ... Nenek lampil bau ih, sana mandi pake sabun yang banyak bau banget mukanya item-item lagi," ucap Fano menatap Maira dengan tatapan gelinya.


Tiba-tiba saja beberapa polisi datang menghampiri mereka.


"Ada bapak polisi yeay ... Sana balik lagi ke penjala ya nenek lampil. Nih tangkep aja pak polisi. Ini olang jahat suluh nyapu penjala aja setiap hali bial capek," ucap Fano sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Maira.


****


Setelah Maira kembali dibawa oleh Polisi semua menghela nafas leganya sambil menatap ke arah Nova yang sedang berjalan mendekatinya.


Sebelumnya Genta sudah terlebih dahulu memberitahu pada polisi kalau Nova sama sekali tidak terlibat justru Nova membantu menangkap Maira kembali yang sempat kabur dari penjara.


"Makasih Nov udah mau berkhianat ke gw Haha. Sini peluk dulu biar makin akrab," ucap Genta sambil merentangkan tangannya.


Nova menepis tangan Genta kemudian menatap Genta sebal.


"Berkhianat demi kebaikan kan Haha. Gak usah keganjenan deh lo, gw gak mempan di gituin sama lo," ucap Nova.


"Lagian siapa juga yang mau sama lo. Secara pacar masa depan gw kan ada disini. Kamu baik-baik aja kan Raina? Emang ya bener-bener itu bandot betina jahat banget," ucap Genta berniat merangkul Raina namun terlebih dahulu ditepis dengan cepat oleh Fathan.


Fathan menatap Genta dengan tatapan garangnya. Andai saja Genta tidak terlibat dalam penyelamatan Raina mungkin sekarang sudah ia tendang laki-laki ganjen yang berada di samping kekasihnya ini.


"Jangan pegang-pegang pacar gw! Tangan lo banyak virusnya nanti pacar gw bisa kena virus tau! Kamu sini aja sayang ... Jangan deket-deker sama dia," ucap Fathan sambil melirik Genta sinis.


"Jangan mau Raina. Sumpah aku bersih kok gak ada virus apa lagi kuman. Liat aja muka aku gak ada pori-porinya apalagi virus gak mungkin ada. Si muka asem ini emang suka ngada-ngada. Jangan percaya sama dia. Kamu sini aja, jangan-jangan dia juga banyak virusnya," ucap Genta berusaha membujuk Raina supaya Raina kembali berdiri di sampingnya.


****


Reno mengalihkan pandangannya pada Lala yang berada di sampingnya, ia menatap Lala dengan tatapan khawatirnya.


"Kamu ngapain sih dateng kesini sendirian, kenapa gak kasih tau aku biar aku yang temenin kamu. Kalo terjadi apa-apa sama kamu gimana," ucap Reno.


Lala terkekeh geli melihat raut wajah laki-laki yang menyandang status suaminya itu begitu lucu saat mengkhawatirkan dirinya.


"Lala gak sendirian kak Reno, Lala kesini sama Ipan terus numpang di motornya dia. Kalo gak percaya tanya aja sana sama Ipannya. Tapi tadi Lala janjiin teraktir makan nanti kak Reno bayarin ya Hehe," ucap Lala sambil menunjukkan cengirannya.


"Enak aja, gak ada. Lagian kan kamu yang janji sama dia kenapa aku yang bayarin. Lagian punya suami kenapa gak telpon suaminya malah lebih milih sama dia," ucap Reno dengan nada sebalnya.


Lala merengut sambil mencibirkan bibirnya kemudian menepuk dahi Reno.


"Kalo Lala nelpon kak Reno dulu yang ada mukanya Raina beda lagi bentuknya bukan kaya sekarang tau. Ipan tuh udah ngebantuin Lala tau dia harus diapresiasi. Kak Reno bayarin dia makan ya plissss." Lala memasang wajah memelasnya berusaha membujuk Reno sampai Reno mengiyakan permintaannya.


"Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit gak atau gimana gitu rasanya. Lain kali gak usah sok jagoan nyamperin sendirian gak ngasih tau ke orang lain lagi," ucap Reno.


"Iya-iya lain kali gak gitu lagi. Sekarang yang terpenting itu kak Reno harus mau bayarin makan-makan buat Ipan sama Lala sama yang lainnya juga deh sekalian. Biar dapet pahala kak Ren biar makin kaya," bujuk Lala.


"Terus aku puasa gitu, enak banget ya semua pada makan aku cuma liatin doang," protes Reno.


Lala menghela nafasnya sambil memijat pelipisnya, ia menatap Reno dengan gemas.


"Kak Reno ikut makan juga lah ngapain liatin doang. Gemes deh Lala punya suami yang lola begini," ucap Lala sambil mencubit gemas pipi Reno.


"Iya tau aku emang gemesin tapi tolong jangan dicubit, sakit nih pipi aku," keluh Reno.


Semua yang berada disana sibuk dengan aktivitas masing-masing.


"Tolong ya disini ada jomblo, gak usah pacaran disini. Gw tau kalian udah nikah tapi tolong lah hargai yang disini," tegur Rama dengan wajah memelasnya.


"Tau nih, kasian tuh si Nova yang udah bantuin kita semua malah dicuekin. Kebangetan banget sih kalian ini. Ini juga Fathan ngapain deket-deket sama pacar masa depan gw," ucap Genta.


"Ah iya Nopa maap ya udah suudzon, tapi tebakan Lala bener kan kalo lo mau bawa Raina pergi jauh. Parah lo bukannya tolongin Raina malah liatin doang. Untung lo sebenernya baik coba aja kalo engga, udah gw jambak-jambak rambut lo sampe botak," oceh Lala.


"Makanya kalo sama orang jangan suudzon mulu. Belom tau pastinya gimana udah nuduh-nuduh aja," saut Nova.


"Tapi kan tebakan gw bener Nopaaa. Kalo lo beneran jahat terus gak gw ikutin yang ada nanti mukanya Raina jadi kaya irisan daun bawang," ucap Lala tidak mau kalah.


****


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen dan saran. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar ya gaisss. Buat bahan evaluasi di bab selanjutnya supaya lebih baik lagi hehe.


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2