
Genta sudah berada di sekitaran rumah Raina jauh sebelum orang misterius tersebut datang awalnya ia datang ke rumah Raina untuk mengantar dompet Raina yang tidak sengaja jatuh di hutan saat liburan beberapa hari yang lalu. Namun saat ia ingin keluar dari mobilnya, ia melihat orang yang sangat mencurigakan di depan rumah Raina hingga membuat Genta mengurungkan niatnya lalu kembali masuk ke dalam mobilnya sambil memperhatikan orang tersebut.
"Itu orang siapa ya, keliatannya mencurigakan banget. Gw liatin dulu kali ya dia mau apa, kalo gw samperin takutnya dia banyak alesan," gumam Genta.
Genta semakin curiga pada orang tersebut karena sudah 20 menit lamanya orang itu di depan pagar rumah Raina tetapi orang tersebut sama sekali tidak memencet bel bahkan memanggil orang yang ada di dalam saja tidak sama sekali.
"Kalo dibilang maling kayanya gak mungkin deh, masa maling nekat banget pagi-pagi kaya begini mau beraksi. Bukannya dapat barang berharga yang ada tuh orang disate sama warga," ucap Genta yang masih berusaha menebak-nebak.
Genta terkesiap saat melihat orang yang sedari tadi ia pantau pergi meninggalkan area rumah Raina dengan tergesa-gesa. Genta tak mau kehilangan jejak orang itu pun dengan cepat ia menyalakan mobilnya kemudian ia mengikuti orang tersebut.
Genta berdecak kesal saat melihat orang yang ia ikuti masuk ke dalam gang kecil yang membuat mobilnya sulit untuk masuk ke dalamnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memparkirkan mobilnya di depan gang kemudian berjalan mengikuti orang tersebut dengan memastikan jarak antara dirinya dengan orang tersebut lumayan jauh supaya orang tersebut tidak mencurigainya.
"Ini orang mau kemana sih sebenernya kenapa muter-muter kaya gini bikin pusing aja," keluh Genta.
Genta membelalakan matanya saat orang tersebut masuk ke salah satu kontrakan yang berjajar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar kemudian ia melihat seorang ibu yang baru saja keluar dari kontrakan yang tempatnya tepat sekali di samping kontrakan orang tersebut.
"Mbak, maaf mintaa waktunya sebentar boleh gak mbak, saya mau nanya nih," ucap Genta.
Orang tersebut menghentikan langkahnya kemudian menatap Genta penasaran.
"Nanya apa Mas?" tanya orang tersebut.
"Saya mau nanya soal kontrakan yang di samping kontrakan mbaknya, itu kontrakan siapa ya mbak?" tanya Genta.
Mendengar pertanyaan Genta orang tersebut refleks menolehkan kepalanya ke arah yang dimaksud oleh Genta. Ia menganggukkan kepalanya kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Genta.
"Oh itu mah kontrakannya orang baru Mas, dia baru aja ngontrak disini. Saya belum tau namanya siapa yang jelas sih cewe. Dia tinggal sendirian sih. Emangnya ada apa Mas? Masnya kenal sama orang yang baru ngontrak itu?" saut orang tersebut menimpali Genta dengan banyak pertanyaan.
Genta mmenganggukkan kepalanya mengerti, ia tersenyum pada orang tersebut.
"Oh gitu ya. Saya kira udah ngontrak lama. Engga mbak, saya baru tau barusan hehe. Makasih ya infonya. Mbaknya mau beli bubur ayam ya?" ucap Genta.
"Bukan. Saya mau beli bubur kacang ijo mas, kenapa mau bayarin?" saut orang tersebut.
Genta tertawa saat mendengar perkataan mbak-mbak yang sempat ia tanya-tanya.
"Boleh Mbak, pesen aja yang banyak biar nanti saya yang bayar kalo perlu sama abang-abangnya sekalian juga gapapa," ucap Genta.
Mbak-mbak tersebut berlarian kecil menghampiri tukang bubur kacang ijo dengan kegirangan.
"Kapan lagi sarapan gratis, ini mah namanya rezeki nomplok euy," ucap Mbak.
Genta menghampiri penjual bubur, ia memesan 4 bungkus bubur kacang hijau. Kemudian memberikan 7 lembar uang berwarna merah yang bertulisan seratus ribu rupiah yang berhasil membuat penjual bubur bubur termenung.
"Ini kebanyakan Mas uangnya," ucap penjual bubur.
"Gapapa Pak, pake aja uangnya buat orang-orang di sekitar sini yang mau beli buburnya, semangat terus pak jualannya," ucap Genta tersenyum pada bapak penjual bubur.
"Saya pamit dulu ya Mbak, sana makan bubur sepuasnya mbak hehe. Pak saya duluan ya bye bye," pamir Genta.
Genta berjalan dengan tergesa-gesa sesekali tersenyum pada beberapa orang yang melintas di hadapannya.
***
Fathan yang tidak ada kelas sengaja datang ke rumah Raina untuk mengantarkan Raina ke kampusnya. Namun saat ia baru sampai di depan rumah Raina tiba-tiba saja ia melihat sosok laki-laki yang beberapa hari ini selalu membuatnya jengkel.
"Ngapain itu orang kesini, nyari gara-gara banget sih dia," kesal Fathan.
Fathan keluar dari mobilnya kemudian melangkahkan kakinya menghampiri laki-laki yang berada di depan pagar rumah kekasihnya.
"Ngapain lo kesini?" tegur Fathan dengan nada dinginya.
"Eh ada Patan si muka asem. Santai aja dong mukanya gak usah kesel gitu. Gw kesini karena mau balikin dompet ini tapi sekalian silahturahmi juga sih sama masa depan gw," ucap Genta mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Berisik! Gak usah halu deh. Ngayal jangan tinggi-tinggi bisa gila nanti lo. Mana sini dompetnya kasih ke gw aja biar gw yang kasih ke PACAR gw. Sana lo pulang, pagi-pagi bikin mood orang ancur aja," ucap Fathan sambil melirik sinis Genta.
Genta menggelengkan kepalanya kemudian memasukkan dompet Raina ke dalam saku jaketnya.
"Enak aja main minta-minta. Ini kan gw yang nemuin harusnya gw yang balikin. Nanti kalo gw kasih ke lo, Raina bakal ngiranya lo yang nemuin dan dia bakal berfikiran kalo lo pahlawan dia. Tidak semudah itu ferguso ... Lagian ada hal penting yang mau gw omongin juga sama keluarganya Raina," ucap Genta.
Fathan mendengus sebal saat mendengar perkataan Genta. Ingin sekali rasanya ia menendang laki-laki yang sekarang berada di hadapannya sejauh mungkin supaya laki-laki tersebut tidak akan muncul kembali di hadapannya.
"Hal penting apa?" tanya Fathan.
"Ada deh. Nanti juga lo tau. Pakoknya ini penting banget buat masa depan kita semua terutama Raina dan gw," ucap Genta yang ambigu membuat Fathan menatapnya garang.
"Lo ngomong gak jelas lagi, gw tendang lo ya dari sini," ancam Fathan dengan tatapan garangnya.
"Tergantung mau tendangnya kemana kalo lo tendang gw ke dalam rumah masa depan gw sih gw ikhlas Fath. Lumayan kan gak capek-capek jalan," saut Genta dengan wajah tanpa dosanya ia mengatakan seperti itu.
Fathan menggertakkan giginya kemudian dengan sengaja ia menjepit kepala Genta ketiaknya hingga membuat Genta berteriak berkali-kali sambil memukul tangan Fathan.
"Jorok lo Fath. Lepas gak! Kalo gw meninggal gara-gara gak tahan nyium ketek lo gimana. Pastinya lo bakal gw gentayangin Fath," teriak Genta.
"Makanya jangan berisik dan gak usah halu terus," ketus Fathan sambil melepaskan Genta.
"Lo kaku banget sih jadi orang. Kasian Raina pacaran sama kanebo asem model beginian. Udah ah gw mau ke dalem aja, ini beneran ada hal penting yang mau gw sampein jadi lo gak usah ngalangin gw," ucap Genta berniat membuka pagar rumah Raina.
"Enak aja lo main masuk-masuk aja. Lo orang asing disini, harusnya gw duluan yang masuk. Sana minggir!" ketus Fathan sambil mendorong tubuh Genta hingga membuat Genta terpaksa memundurkan langkahnya karena saat ini ia tidak mau banyak berdebat dengan Fathan.
***
Keluarga Raina yang sedang sarapan di meja makan dibuat kebingungan dengan bel rumahnya yang bunyi terus menerus.
"Pano aja yang kelual mama Wina. Tapi makanannya jangan diabisin ya, telolnya juga jangan diabisin," ucap Fano.
"Gw abisin," saut Reyhan yang mendapatkan pelototan dari Wina.
Fano terkekeh geli saat melihat Reyhan yang dipelototi oleh Wina. Ia menampakkan senyum penuh kemenangannya pada Reyhan.
Fano turun dari kursi dengan susah payah kemudian berlarian sambil membawa kerupuk udang di tangan kanannya. Saat sampai di dekat pintu, Fano dibuat kaget dengan Genta dan Fathan yang tiba-tiba saja menampakkan dirinya di depan pintu.
"Hampil aja Pano kaget. Kak Patan sama kakak satu lagi mau ngapain kesini. Ini pagi tau olang-olang lagi salapan, pasti mau numpang salapan ya," ucap Fano sambil menggigit kerupuk udang yang berada di tangan kanannya.
"Tau aja nih anak ganteng. Boleh gak aku makan disini nanti aku beliin mainan deh," ucap Genta.
"Nyoba-nyoba nyogok anak kecil, receh banget cara lo, jangan mau Fano mainannya gak bagus" ujar Fathan.
"Pano udah mau gede kak, jadi Pano udah gak mau mainan lagi. Pano butuh duit aja buat kasih makan si Atun pake ikan lele," saut Fano.
Fathan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar jawaban dari mulut Fano. Ia menatap Genta yang terlihat kebingungan sambil menatap Fano.
Sukurin, emangnya enak lo dipalakin duit sama anak kecil. Fano disogok mainan mana mempan Haha.
"Gak usah ketawa lo Fath. Meskipun lo ketawa muka lo tetap asem," ucap Genta.
Genta menarik nafasnya kemudian mengelurkannya perlahan, ia tersenyum pada Fano.
"Oke deh kalo gitu, Fano mau berapa?" ucap Genta.
"Goceng aja yang walnanya melah lumayan buat beli ikan lele dapet banyak," saut Fano.
"Oke deh, tapi aku masuk dulu boleh ya. Tenang aja duitnya pasti di kasih kok. Soalnya aku mau ngomong penting banget nih," ucap Genta.
Fathan menggelengkan kepalanya memberi kode pada Fano agar Fano tidak mengizinkan Genta masuk.
"Kak Patan ngomong apa sih kenapa geleng-geleng telus, Pano gak ngelti. Yaudah deh masuk aja tapi janji ya kasih Pano duit," ucap Fano mempersilahkan keduanya masuk.
__ADS_1
***
Kini Fano, Genta dan Fathan sudah berada di dapur. Mereka diajak sarapan bersama terlebih dahulu oleh Wina dan Gio.
"Suka gak nak Genta sama masakan tante, maaf ya adanya begini soalnya pagi-pagi belum sempet masak yang enak-enak cuma ala kadarnya aja," ucap Wina yang sudah selesai makan.
Genta yang sedang makan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Enak banget tante, jadi ketagihan sarapan disini. Apalagi sarapannya bareng keluarga masa depan aku Hehe," ucap Genta sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Fathan berdecak kesal sambil menatap Genta tajam kemudian ia menatap garpu yang berada di atas piringnya lalu kembali menatap Genta.
"Becanda Fath. Gitu aja kesel sampe natao garpu segitunya lagi. Jangan jadi psikopat lo," ucap Genta.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Suara batuk yang berasal dari mulut Genta membuat semua orang yang berada disana menatapnya panik dan cemas kecuali Fathan yang terlihat santai.
"Hati-hati dong makannya, makanya kalo lagi ngunyah makanan jangan sambil ngobrol jadi keselek kan kamu Genta. Nih minum dulu," ucap Wina.
Gio yang mulanya biasa saja kini ikut merasa kesal sama seperti Fathan.
"Ini kenapa istri gw lebih perhatian sama orang lain ya dibandingkan suaminya. Kemaren suaminya keselek malah diomelin jangankan diambilin minuman kaya gini setetes pun enggak ada," keluh Gio.
"Apasih Pa, gak usah aneh-aneh. Genta ini udah mama anggap kaya anak sendiri. Sama kaya Mama ke temen-temennya Raina, Reno dan Reyhan," ucap Wina dengan sebal.
"Udah-udah gak usah ribut, malu sama makanan di atas meja," tegur Reno.
Genta sudah selesai menghabiskan sarapannya, ia kembali teringat dengan apa yang akan ia sampaikan apda keluarga Raina.
"Oh iya aku baru inget sesuatu nih tante, sebenernya Genta udah ada di depan rumah dari tadi cuma kebetulan aja masuknya barengan sama si muka asem," ucap Genta.
"Oh jadi orang yang diliat sama Fano itu kamu Gen. Kenapa gak langsung masuk aja sih, bikin parno satu keluarga aja kamu," ucap Gio.
Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia berusaha mencari cara untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan tanpa disela oleh yang lainnya.
"Nah justru karena itu Genta gak jadi masuk. Orang yang di depan pager itu bukan Genta, Om. Tapi orang lain yang lagi ngawasin rumah kalian," jelas Genta.
"Serius kamu Genta? Jangan bercanda, tante panik nih," tanya Wina.
"Iya tante bahkan tadi Genta sempat ngikutin orang itu sampe ke kontrakannya. Kebetulan banget lokasi kontrakannya gak jauh banget dari sini," ucap Genta.
Fathan mengerutkan dahinya, menatap Genta tak percaya.
"Boong kali dia tante, dulu pas jaman sekolah dia rajanya ngebohong, kepala sekolah aja dia kibulin," ucap Fathan.
"Sumpah tante, kali ini Genta serius. Orangnya perempuan tapi Genta gak sempat liat mukanya karena keburu masuk ke kontrakannya dia. Nanti kalo Genta ikutin sampe ke kontrakannya yang ada nanti malah digrebek warga," jelas Genta.
"Orangnya pake hoodie hitam terus mukanya ditutupin topeng bukan kak Gen?" tanya Raina.
Genta menganggukkan kepalanya dengan yakin, ia memberikan ponselnya yang terdapat hasil foto yang sengaja ia ambil melalui kamera ponselnya.
"Nah iya bener ini, ini kan Fano orangnya?" tanya Wina.
"Iya benel ini monstel jeleknya, kak Genta ketemu juga sama dia. Selem ya kak kaya monstel," saut Fano dengan heboh.
"Iya Fano. Kebetulan saya tau kok tan kontrakan orang ini dimana. Kalau tante penasaran kita bisa dateng langsung aja kesana. Kalo rame-rame gini kan enak jadinya gak nimbul fitnah," ucap Genta.
"Yaudah ayuk kita kesana, Lala penasaran sama orangnya," ajak Lala dengan antusias.
***
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan saran ya gais. Kalau ada saran boleh dititipkan di kolom komentar untuk bahan evaluasi aku di bab selanjutnya hehe.
Sekian dan terima kasih untuk kalian yang udah baca novel ini.