
Seminggu sudah aku kuliah di sini. Segala persyaratan kampus dan program studi sudah diselesaikan. Aku dan Tina juga sudah masuk ke kelas. Kami berada di kelas yang sama, aku sangat bersyukur karena itu. Hari pertama masuk kelas, tidak terlalu buruk. Dan aku bisa melewatinya tanpa khawatir apapun. Itu semua karena bantuan Tina. Dia selalu menenangkanku ketika rasa cemasku ada. Untungnya, di sini tidak perlu perkenalan diri satu persatu seperti di SMA. Aku tidak perlu takut untuk jadi pusat perhatian. Orang - orang di sini juga jarang berinteraksi kalau tidak kenal. Justru karena itulah aku bisa merasa bebas dan aman.
"Mau makan apa kita hari ini?" Tanya Tina saat kami tengah berjalan menuju kantin. Mata kuliah pertama sudah selesai. Tiga jam ke depan nanti baru masuk kelas lagi. Aku dan Tina bingung akan menghabiskan waktu di mana selain ke ruang musik dan perpustakaan.
"Samyang, bulgogi, hot dog, chicken spicy-"
"STOP Reva, kau mengambil list makananku," ucap Tina tidak terima. Aku mengerucutkan bibir sebal. "Yak, apa salahnya kita beli semuanya?"
Pertengkaran kecil yang tidak penting itu harus terhenti karena langkah kami sudah sampai di kantin. Lumayan ramai, Aku dan Tina mengantre dulu. Butuh waktu sepuluh menit untuk kami selesai mengantre, sangat panjang sekali. Meskipun lapar harus tetap menahannya.
Kami membawa makanan ke meja. Karena antrean yang panjang, Aku dan Christina hanya mengambil samyang dan bulgogi saja. Hanya takut ada orang yang marah karena kami terlalu lama memilih makanan.
Saat Aku sedang khusyuk menyantap makananku, ponselku menyala dan bergetar. Menandakan sebuah panggilan suara masuk. Aku melirik nama yang tertera di sana. Segera ku tekan ikon hijau dan merapatkan benda pipih itu ke telinga. "Mau apa, lu?"
"Aji gile si Reva. Songong batt mentang - mentang udah di Korea temen sendiri dijutekin." Padahal aku baru saja mengatakan tiga kata, tetapi Riki sudah mengoceh sepanjang itu.
"Hahaha. Becanda elah. Tumben lu nelpon gue, Ki." Tidak biasanya anak ini menghubungiku. Biasanya selalu Aku yang menelpon atau mengiriminya pesan. Alasan dia seperti itu, katanya menjaga perasaan pacarnya- Rika. Bucin, Riki memang bucin. Demi pacar dia tidak mau menghubungi teman perempuannya dulu. Kecuali ada hal yang benar- benar penting.
"Gue mau nanya sesuatu, dong. Va. Lo kan temen terbaik gue." Nada suaranya memelas. Kan, sudah ku bilang dia menelponku jika ada keperluan mendadak saja. Riki menyebalkan.
"Apaan?" Selesai makan, aku segera minum. Tidak merasa pedas sama sekali makan samyang ini. Bagiku ini baru level satu. Lidahku sangat kebal makan - makanan pedas. Aku melirik Tina yang sibuk makan sambil sesekali bermain ponselnya. Dia jarang sekali kepo tentangku. Kalau aku tidak bercerita, dia tidak akan bertanya. Aku menelpon dengan beberapa temanku di depannnya tetapi dia cuek saja. Tidak pernah bertanya itu siapa, ada keperluan apa.
Riki terdengar menghela napas, "kenalin gue sama temen bule lo, dong. Please.."
Mataku terbelalak, yang benar saja Riki ini. Cowok itu sepertinya berniat selingkuhi Rika. Rika juga teman SMA ku, aku sangat kenal dengannya. Mereka berdua berpacaran sudah lama sekali. Hanya saja Riki-nya yang sering kurang ajar.
"Gila, lo, Riki. Rika mau lo kemanain?"
"Ya elah, cuma kenalan doang. Gak gue pacarin, kok." Elaknya jelas. Tampaknya dia tidak mau aku berpikiran yang macam - macam.
"Btw, lu ngeliat dia di mana? Kok bisa tahu teman gue di sini bule?"
"Ya di instagram lo lah, ogeb. Lupa lo ya."
Astaga. Aku benar - benar tidak ingat. Kemarin, Aku memposting beberapa foto, termasuk fotoku berdua dengan Tina. Setelah itu, Aku tidak membuka instagram lagi sampai sekarang. Jujur saja, aku bukan orang yang suka bermain sosial media. Itu pun ku posting hanya untuk menunjukkan kebahagiaanku saja. Tidak berniat pamer atau pun ingin hits.
"Woy, kok diem? Ketiduran?"
Aku menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "JADI LU NELPON GUA CUMA BUAT NANYAIN TEMEN BULE GUE DOANG!!?? LO GA NANYA GITU KABAR GUE GIMANA, TENTANG KULIAH DAN KEHIDUPAN GUE DI SINI? TEGA BENER LU SAMA TEMEN. I HATE YOU! BYE!" Dengan berapi - api ku matikan sambungan telepon itu. Riki sangat keterlaluan, dia juga menyebalkan. Biarkan saja dia mengumpat di seberang sana, aku tak peduli. Langsung saja ku matikan ponselku agar cowok gila itu tidak bisa menelponku lagi.
"Apa yang terjadi denganmu, girl?"
Aku menoleh pada Tina yang duduk berhadapan denganku, hanya gelengan yang ku berikan sebagai jawaban. Lalu aku mengajaknya untuk segera pergi dari kantin. Emosiku belum sepenuhnya hilang, Riki sangat menyebalkan sekali. Ingin rasanya ku patahkan saja lehernya kalau dia ada di sini.
Untungnya Tina tidak banyak bertanya, dia tidak suka kepo. Aku sangat suka teman yang seperti itu. Tidak banyak tanya, namun paham cara menenangkanku. Tina mengajak ku ke ruang musik seperti biasa. Tapi, sudah tiga hari ini kami tidak ke sana karena ada beberapa hal yang harus diurus mengenai kampus.
****
__ADS_1
Karena para mahasiswa sibuk makan siang di kantin, jadinya ruang musik kali ini sepi. Ralat, tidak ada orang sama sekali. Aku dan Tina memilih ruang musik yang ada di fakultas kami. Ruang musik ini biasanya dipakai untuk umum. Karena masing - masing fakultas menyediakan ruang musik. Mungkin pendiri kampus ini sangat paham kalau musik adalah pelarian ku ketika kesal dan sedih melanda.
Seperti biasa, Tina duduk di kursi sembari membaca buku tebalnya. Dia sangat jarang menyaksikanku bermain musik, pernah, sih, tapi hanya sekali dua kali. Aku sempat berpikir, mungkin dia kurang suka dengan piano atau sejenisnya.
Aku segera duduk di kursi, dan jariku bermain di atas tuts piano dengan lancar. Kali ini aku memainkan lagu 'beautiful in white'. Suasana hatiku yang tadinya kesal dan bad mood, langsung berubah menjadi happy lagi. Aku tidak berharap lagi ada yang bertepuk tangan di akhir permainanku. Sosok yang tak ku ketahui namanya itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku sejak kejadian di perpustakaan itu. Entahlah, Aku sedikit merasa kehilangan. Hanya sedikit, tidak banyak. Mulai sekarang, Aku tidak mengharapkan apapun lagi darinya-- terutama kehadirannya yang sebenarnya sangat aku inginkan. Ya, ku akui aku mengaguminya sejak pertama kali aku melihatnya. Namun, aku sadar. Aku bukanlah orang yang pantas berharap berkenalan dengan senior pintar seperti dia. Cepat - cepat kukubur angan - angan tak berguna ini.
Setelah puas bermain piano, aku meraih gitar dan langsung saja memetik senarnya tanpa ragu. Ku luapkan segala emosi dan perasaanku melalui gitar dan nyanyian. Begitulah, aku, Reva. Bukan orang yang mudah mengungkapkan apa yang ku rasakan, aku menyalurkannya melalui nyanyian, alunan piano, serta puisi yang ku buat. Benar, aku suka membuat puisi tentang hal yang membuatku bahagia.
"Reva."
Seruan Tina di akhir lagu membuatku tersentak, kemudian aku bangkit berdiri dan meletakkan gitarnya ke tempat semula. Aku berjalan menghampirinya dan bertanya ada apa.
"Boleh aku meminjam hp mu sebentar? Bateraiku habis."
"Sebentar," aku berjalan mengambil tasku yang ku letakkan di bawah piano. Mencari benda pipih itu. Keningku berkerut. Yang ku cari tidak ada, seingatku ponselnya sudah kumasukkan ke dalam tas. Wajah panikku menyita perhatian Tina, dia melangkah ke arahku. "Kenapa kau panik?" tanyanya bingung.
"Ponselku tidak ada di sini!" Aku mencari ulang, namun hasilnya nihil. Tanganku mengacak rambutku, frustasi. Aku tidak mempermasalahkan ponselnya hilang, tetapi yang paling penting adalah data dan nomor orang - orang terdekatku di dalamnya. "Duh bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan, Tina?" Ucapku sedikit berteriak.
Tina mendekat dan mengelus bahuku. "Tenang. Di Korea tidak mungkin ada pencuri. Coba ingat kembali, di mana terakhir kau menaruhnya?" Dia masih bisa bersikap satai, sementara aku sudah seperti cacing kepanasan yang butuh es dingin.
"SHIT! KANTIN!"
Kemudian, kami memutuskan untuk kembali ke meja kantin yang kami duduki tadi. Damn, hasilnya nihil. Aku lalai menjaga ponselku sendiri. Karena terlalu kesal, aku sampai lupa mengambilnya di atas meja.
Aku menggigit jariku sendiri, "duhh, bagaimana ini, Tina? Katamu tidak ada pencuri di Korea. Huhu." Aku merengek dan mengentakkan kakiku. Orang sekeliling memandangku aneh, namun aku tidak peduli.
Tina menyuruhku untuk duduk. Dia masih berusaha menenangkan diriku yang sudah berlinang air mata. "Kalau tidak ada handphone, bagaimana caranya aku bisa menghubungi keluarga dan teman - temanku? Dan juga foto - foto kenangan kami banyak di sana. Huaa." Aku semakin menangis.
"Apa kita perlu lapor ke-"
"Kalian mencari ini?" Suara seorang laki laki membuat Aku dan Tina serentak menoleh. Mataku terbelalak melihat apa yang dibawanya. "Iya. Itu handphoneku." Telunjukku mengarah pada benda yang digenggamnya. Sekaligus terkejut saat sadar siapa yang memegangnya.
"Ah, sunbae. Anyeonghaseo." Tina membungkukkan badannya, memberi tanda hormat sebagai junior. "Iya, benar. Itu ponsel milik Reva, teman saya." Perkataan Tina sangat lembut, dia sopan sekali.
Cowok yang ingin sekali ku jumpai itu tanpa berlama - lama langsung memberi ponselku. Aku menerimanya dengan senang hati. Dengan wajah yang masih berlinang air mata, aku tersenyum padanya.
"Sama - sama." Katanya sembari ikut duduk bersama kami. Posisinya dia berhadapan dengan aku dan Tina. Kami berdua terkejut akan hal itu.
Tina dan aku tersenyum canggung.
"Aigoo, kau sampai menangis sebanyak itu, ya." Dia meraih tisu dari saku kemejanya lalu memberikannya padaku. Segera saja aku ambil dan menghapus jejak air mataku. Aku sangat malu saat sadar diri tengah menangis.
"Siapa nama kalian?" Senyumnya ikut serta di wajah tampan itu. Aku tidak bisa berkata apa apa lagi kalau sudah melihat itu.
__ADS_1
"Namaku Christina Chloe. Mahasiswa baru di sini. Dan ini temanku-"
"Revalia Arventa." Potongku cepat, membuat Tina menggeleng heran.
"Perkenalkan, aku Kim Jong Dae. Mahasiswa semester lima jurusan bisnis dan media. Senang bertemu dengan kalian." Dia berbicara dengan bahasa inggris. Ku pikir lidahnya cocok juga berbicara inggris.
"Pantas saja, kami sering melihat sunbae."
Aku berniat bertanya, namun urung karena aku malu. Tina menyenggol lenganku, memberi isyarat agar aku juga melemparkan pertanyaan. Akhirnya aku mengalahkan rasa maluku. "Caramu berbicara bahasa Inggris membuatku kagum, sunbae. Juga tutur katamu dalam bahasa Korea sangat sopan ketika seminar kemarin." Memujinya sedikit ku rasa bukanlah hal yang buruk. Buktinya dia malah tertawa malu karena pujianku. Tina tersenyum senang ke arahku.
Jongdae- biarkan aku memanggilnya nama saja karena mungkin dia tidak tahu soal ini. Pria berkemeja putih dengan rambut hitam pekat khasnya lagi - lagi tersenyum ramah pada kami. Bisa - bisa aku mati meleleh kalau berlama di hadapannya.
"Kalian dari negara mana?"
"Aku indonesia dan Tina dari Amerika."
"Wow. Berbeda negara tetapi bisa bersahabat sedekat ini? Kalian sangat hebat."
Kami tertawa canggung bersama. Suasana agak kaku. Mungkin karena baru kenal.
Jongdae melihat jam tangannya, lalu ia bangkit berdiri. "Aku ada urusan mendadak. Maaf membuat kalian sibuk mencari ponsel itu. Aku menyelamatkannya ketika dia ditinggal sendirian oleh tuannya, haha." Tawa renyahnya seperti sengatan listrik. Aku dan Tina ikut berdiri dan membungkukkan badan ke arahnya.
"Tidak apa. Jongdae sunbae. Terima kasih."
"Sama - sama. Lain kali kalau kalian butuh bantuan, panggil saja aku." Terdengar jeda sejenak. Lalu dia melanjutkan. "Ah, iya. Reva," bola matanya mengarah tepat ke lensa mataku. " lain kali kalau kau mau, kita bisa bernyanyi bersama di ruang musik. See ya!"
"Bye, sunbae." Ucap kami bersamaan. Akhirnya, Jongdae pergi. Aku tidak jadi meleleh. Untung saja dia pergi dengan cepat.
Tina menarik tanganku cepat berjalan ke luar kantin, "yuk ke perpustakaan. Ada materi yang ingin ku bahas denganmu. Kau sudah tidak sedih lagi, kan? Handphone sudah kembali, pujaan hati juga sudah ketemu lagi. Lengkap sudah kebahagiaanmu, Reva."
Kan, Tina mulai lagi. Langsung saja ku hujani dia dengan cubitan - cubitan kecil. "TINA! Dia bukan pujaan hatiku!" Aku tidak peduli dengan ringisannya. Dia tertawa puas melihat wajah ku yang memerah menahan malu. Tina sekarang tahu senjatanya menyerangku. Yaitu dengan membawa nama Jongdae atau hanya sekadar meledekku dengan mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada laki - laki tampan itu. Ups, apa aku baru saja mengakui sesuatu?
**********
Pukul lima sore. Mata kuliah sudah selesai. Aku dan Tina tidak langsung pulang. Seperti biasa, kami akan jalan - jalan melepas penat. Huh. Materi - materi yang diberikan dosen sukses membuat kami stress. Tak jarang, rambutku jadi rontok karena tugas - tugas yang ada. Aku menyadari satu hal. Kuliah itu ternyata lebih sulit dibandingkan SMA. Dulu, aku sering mengeluh karena PR yang ada. Tapi sekarang, aku sadar materi kuliah seratus kali lipat sangat susah.
"Makan dulu, sebelum jalan."
"Aku ikut saja ke mana kau pergi. Yang penting aku tak sakit kepala saja."
Kami turun dari subway, lalu jalan kaki menuju resto terdekat.
Tanpa berlama - lama, kami langsung memesan makanan. Damn, betapa terkejutnya aku melihat makanan yang di pesan Christina kali ini. "Tina, kau serius ingin memakan itu?" Mataku tidak berkedip melihat Tina yang santai saja. "Kau memesannya untukku juga?"
"Iya, kau juga harus mencobanya. Anggap saja itu tantangan dariku untukmu." Tina tersenyum sumringah, sementara aku menelan ludah dengan susah payah.
__ADS_1