
Zara berada di gendongan Farhan sedari tadi menahan geramnya. Farhan berhasil membuat jantung Zara nyaris salto keluar karena menyaksikan bagaimana nekadnya Farhan menerobos kayu yang nyaris terjatuh.
Zara tak sanggup menahan kesalnya lagi dengan gemas ia menarik rambut Farhan hingga membuat Farhan meringis kesakitan.
"Eh lo mau mati ya dari tadi jalan gak liat sekitaran, kalo lo ketiban kayunya gimana dah nasib gw, nanti siapa yang gendong gw sampe luar," teriak Zara.
Farhan mendengus sebal, ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut perempuan yang ada di dalam gendongannya ini dengan kayu supaya berhenti mengoceh dan tidak membuat telinganya sakit.
"Berisik banget kamu dari tadi ngoceh terus. Saya gak mungkin bertindak tanpa memikirkan segala resikonya. Kalo kita nungguin kayunya jatuh yang ada kita terkurung disana bahkan kita bisa ketiban kayu yang lain. Makanya pas pembagian otak jangan telat biar gak dapet sisaan," oceh Farhan.
Farhan berniat kembali melanjutkan langkahnya. Ia berjalan dengan cepat, tanpa sadar kayu hampir saja mengenai bahunya jika tidak di tepis oleh tangan Zara.
"Aaaa ... Awas!" teriakan Zara sukses membuat Farhan kebingungan.
Zara berusaha sebisa mungkin menahan rasa sakit di tangannya dan tidak mengeluarkan suara kesakitan supaya Farhan fokus pada jalan yang ada di depan supaya mereka bisa keluar dari villa dengan selamat.
"Ada apa? Teriak-teriak mulu dari tadi," omel Farhan.
"Itu tadi ada kayu jatoh, masih mending tadi kayunya gw tepis biar gak gebok bahu lo, sekarang lo malah ngomelin gw dasar cowo gak berprikemanusiaan," keluh Zara.
Farhan mengerutkan alisnya saat mendengar penjelasan dari Zara, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada tangan yang sedari tadi disembunyikan oleh Zara.
"Kamu nepis kayunya pake tangan? Coba liat tangannya, sok banget kamu ya, tangan kamu tahan panas atau kamu berasa mirip master limbad makanya kamu nyoba uji nyali disini," ucap Farhan sambil menarik tangan Lala dan melihat telapak tangan Lala yang melepuh akibat menepis kayu yang nyaris menimpa mereka.
"Enak aja, gw tuh gini-gini logikanya panjang tau pak dosen. Gw mikir nih ya kalo lo tadi beneran ketiban kayu pasti efeknya gak bagus banget. Nanti lo gak bisa bawa gw keluar dari sini. Jadi jangan sia-siakan pengorbanan gw. Sekarang lo fokus aja sama jalanan di depan dan bawa gw keluar dari sini soalnya gw udah gak kuat rasanya pengen pingsan aja," ucap Zara menyenderkan kepalanya tepat di depan dada Farhan.
"Gw numpang nyender ya, soalnya kepala gw rasanya berat banget. Sekali doang kok," lanjut Zara.
__ADS_1
Farhan memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka, ia merasa ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Zara. Ia kembali mencari jalan keluar dan fokus pada keadaan sekitar supaya kejadian sebelumnya tidak terulang kembali.
Setelah hampir satu jam Zara dan Farhan terkepung disana karena drama yang mereka buat sendiri akhirnya mereka berhasil keluar dari sana. Terlihat beberapa orang yang meneriaki kedatangan mereka dan menyambut mereka.
Melihat kemunculan Farhan dan Zara sontak membuat keluarga dan teman-teman yang menanti kedatangan mereka tersenyum bahagia. Mereka berlarian menyusul keduanya ingin memastikan keadaan Farhan dan Zara tidak teralu parah.
"Zaraaaa. Akhirnya lo selamat juga, ya ampun muka lo cemong-cemong begini terus tangan lo juga luka-luka pasti sakit banget ini. Ih kak Farhan bukannya jagain sahabat gw, gimana sih payah banget malah bikin dia luka-luka kaya gini." Raina terlihat sangat cemas dan panik saat melihat kondisi Zara yang tidak baik-baik saja hingga tanpa sadar ia menyalahkan Farhan padahal Farhan sangat menjaga Zara saat berada di dalam sana.
"Dia luka karena ulah dia sendiri Raina, tadi dia mau uji ilmu kebalnya di dalam sana dengan cara nepis kayu yang terbakar dan hasilnya kaya gini," ucap Farhan menatap Zara dengan tatapan kesalnya.
"Lo kasih keterangan jelasnya dong jangan keterangan palsu," ucap Zara dengan lemas.
"Udah Zara jangan banyak ngomong dulu, sekarang mending panggil tim medis buat bawa Zara biar luka Zara buru-buru diobatin," ucap Raina dengan panik.
"Sabar Raina. Lo jangan panik kaya gini, nanti yang ada semua orang kebingungan dan gak bisa mikir gara-gara ngeliat lo yang kaya cacing kepanasan," ucap Lala sambil menepuk-nepuk bahu Raina dengan tangan kirinya.
"Udah-udah jangan ribut. Mendingan kalian yang cowo-cowo bantu mereka buat jalan ke tim medis atau panggilin tim medisnya kesini deh. Gw yakin mereka syok banget dan gak kuat jalan secara mereka lama banget di dalam. Liat tuh Zara keliatannya lemas banget," ucap Shasha.
Belum sempat para laki-laki tersebut menggerakkan tubuhnya, tubuh Zara terlebih dahulu ambruk dan setelahnya Farhan pun menyusul.
"Zaraaaa. Kalian lama banget sih geraknya buruan angkat mereka," omel Raina.
"Iya Raina iya, gak usah marah-marah jadi bingung kita mau ngapain," ucap Reyhan.
"Tuh tim medisnya udah dateng, sekarang kita bantuin aja angkat mereka ke tandu," ucap Raka.
***
__ADS_1
Setelah Zara dan Farhan dibawa oleh tim medis. Sekarang yang lainnya berada di depan villa menyaksikan api yang mulai padam oleh bantuan damkar.
Shasha menatap villa yang masih menimbulkan asap, ia tidak menyangka Maira senekad dan seberani ini melakukan hal yang mengancam banyak nyawa dan merugikan banyak pihak.
Gw gak nyangka lo sejahat ini Maira, lo lupa dulu masa-masa dimana lo dibully sama satu sekolahan gimana rasanya dan sekarang lo malah ngelakuin kejahatan yang lebih parah dari membully. Sekarang lo berubah jadi psikopat, gak punya hati. Gw bener-bener gak kenal Maira yang pertama kali gw kenal. Gw bersyukur sekarang udah gak gabung lagi sama lo.
"Kenapa lo bengong begitu Sha? Lo tau apa penyebab kebakaran villa ini," tanya Raka yang sedari tadi memperhatikan Shasha.
Shasha tersadar dari lamunannya, ia menolehkan kepalanya sekilas pada Raka kemudian kembali menatap villa.
"Jelas lah gw tau banget. Ini kebakaran gak murni kecelakaan semuanya kerjaan Maira, lo masih inget kan ancaman. Nah sekarang beneran dilakuin sama dia. Gw gak nyangka aja dia berani ngelakuin ini semua. Kayanya gw harus ngomong sama dia, ini udah keterlaluan banyak yang dirugiin akibat kelakuan dia," ucap Shasha.
Raka tercengang mendengar penjelasan dari Shasha. Dirinya berada diantara percaya tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Shasha. Tetapi kalau diingat bagaimana jahatnya Maira tidak bisa dipungkiri juga kalau pelakunya adalah Maira.
"Lo yakin 100 persen pelakunya dia, kalo bener sih kita harus laporin semua ini ke polisi dan kita harus kasih tau ini ke keluarga Raina biar mereka yang mutusin mau dibawa kemana masalah ini," ucap Raka.
"Nanti deh setelah semuanya membaik baru kita bicarain. Soalnya kasian keluarga Lala sama keluarga Raina pasti mereka pusing ngurus semuanya, apalagi mereka harus diskusi dulu sama yang punya villa. Lebih baik kita bicarain ini sama Fathan dan Raina aja dulu," ucap Shasha.
"Yaudah yuk kita susul mereka, tapi si Fathan sekarang lagi nemenin Fano kayanya," saut Raka.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, komen dan sarannya ya. Kalo ada saran boleh dititipkan di kolom komentar.
Sekian dan terima kasin.
__ADS_1