
Fano dan Lala begitu menikmati momen makan gratis mereka.
"Kak Lala minta baksonya dong 2 aja bakso Pano abis nih, nanti kak Lala boleh bagi mie ayam Pano deh tapi dikit aja ya jangan banyak-banyak soalnya Pano lapel." Fano memelaskan wajahnya berharap Lala bersedia memberikan bakso padanya.
"Gak ah ini enak, minta aja sana sama kak Reno tuh keliatannya masih banyak," tolak Lala.
Disela perdebatan mereka tidak sengaja Lala melihat keberadaan bayu bersama dengan beberapa anak-anak yang sempat ia temui beberapa minggu yang lalu.
Itu kan bayu lucu banget dia kesini bawa bocil-bocil kaya induk ayam sama anaknya Ha-Ha-Ha bukannya sama doi malah sama anak-anak, samperin ah Lala kepo eh tapi sayang baksonya masih ada 3, yaudah deh makan dulu aja nanti juga dia nyamperin Lala.
Lala terus bergumam dalam hatinya dan memasukan potongan bakso ke dalam mulutnya sambil melihat ke arah bayu yang sedang berbicara ke beberapa anak-anak. Hal tersebut membuat Reno penasaran dan menegur Lala hingga membuat Lala terbatuk-batuk karena tersedak bakso.
Secara bersamaan Fano dan Reno kelabakan dan panik dengan cepat Reno mengambil air minum lalu menyodorkannya pada Lala, sedangkan Fano sibuk memukul-mukul punggung Lala hingga membuat Lala meringis kesakitan.
"Fano jangan kenceng-kenceng kasian tulang gw ya ampun, udah keselek di tabok-tabok jelek banget sih nasib gw hari ini," omel Lala.
Fano menghentikan pukulannya ia menunjukkan cengiran tanpa dosannya pada Lala hingga membuat Lala semakin dibuat kesal.
"Maaf ya kak Lala pooo, Pano gak tau soalnya Pano cuma ikutin olang-olang, Pano seling liat di tipi kalo keselek punggungnya halus dipukul," jelas Fano.
Reno menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua manusia yang berada dihadapannya.
"Yaudah Fano duduk terus lanjutin makannya, kamu minum dulu La," ucap Reno.
Salah satu anak yang bersama dengan Bayu melihat keberadaan Lala, ia menepuk-nepuk lengan Bayu lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arah Lala.
"Kak Bayu itu ada kak Lala, kita kesana yuk samperin kak Lala," ajaknya.
Bayu melirik sekitar ia tersenyum lebar saat menemukan keberadaan Lala, ia mengajak anak-anak mengikutinya untuk menghampiri Lala.
"Kak Lala!" teriak anak tersebut.
Lala yang merasakan namanya disebut perlahan menolehkan kepalanya ke arah orang yang meneriaki namanya.
Nah kan bener mereka nyamperin Lala, bener-bener ya Lala ini emang bakat jadi cenayang.
"Hai kalian ... Sini-sini kita makan kalian pesan aja sepuasnya nanti dibayarin sama kakak ganteng yang ada di samping aku ini , ya kan kak He-He," ucap Lala sambil merangkul bahu Reno.
"Kakak ini pacarnya kak Lala ya? Yah berarti dugaan kita salah teman-teman," ucap salah satu anak tersebut sambil melirik teman-temannya.
Lala terkekeh geli saat melihat wajah murung mereka, sejujurnya Lala merupakan sosok perempuan yang sangat menyayangi anak kecil dan gampang sekali dekat dengan anak kecil.
"Emangnya kalian duganya gimana sih? Jadi penasaran kak Lala," tanya Lala sambil menaikan sebelah alisnya.
"Kita tuh kiranya kak Lala pacaran sama kak Bayu padahal kak Lala cocok banget sama kak Bayu," ucap mereka dengan bersamaan.
"Kompak banget sih kalian, sini duduk bareng kita lumayan loh makan gratis sepuasnya lagi, lo juga Bay sini gabung kesian gw sama perut lo tuh kedengeran suara cacing pada demo," ajak Lala.
"Eh iya La nih gw duduk gapapa kan? Ganggu kalian gak nih," ucap Bayu merasa sungkan dengan Reno yang terus menatapnya.
Reno yang sedari tadi bungkam melirik Bayu tidak suka, entah mengapa ia jengkel mendengar perkataan anak-anak yang mengatakan Lala sangat serasi dengan Bayu.
"Anak kecil jangan ngomongin pacar-pacaran ya pamali," ucap Reno dengan nada malas.
Fano yang sedang asik dengan bakso dan garpunya serta kecap hanya melirik sekitar secara bergantian tanpa berniat untuk ikut campur dengan topik pembicaraan mereka, tanpa sadar kini wajah Fano sudah dipenuhi dengan kecap.
"Ha-Ha-Ha itu lucu banget mukanya kaya ondel-ondel." Salah satu anak terkikik geli ketika melihat wajah Fano yang belepotan oleh kecap.
Tangan Reno mengambil tissu bergantian dengan Lala, lalu keduanya mengelap wajah Fano dengan bersamaan.
"Ngapain ikut-ikutan, kamu ngobrol aja sama teman kamu itu," ketus Reno.
Lala mengerutkan alisnya menatap Reno heran, ia sedikit aneh dengan respon Reno namun ia tak menghiraukannya dan beralih pada Bayu.
Emang bener-bener ya nih anak, bukannya bantuin malah asik ngobrol sama temannya.
Reno terus bergerutu dalam hatinya membuat Fano menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya tidak ketahuan ia sedang menertawakan Reno.
"Kalo mau ketawa gak usah ditahan-tahan;" ketus Reno.
"Kak Leno lucu banget sih kalo lagi cembulu, Pano jadi gemes pengen cubit-cubit," ucap Fano tangannya meraih kedua pipi Reno lalu mencubitnya dengan tangan yang belepotan oleh kecap hingga membuat pipi Reno ikut belepotan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai naik wahana halilintar kini mereka berada di depan stand air mineral.
"Gila sih tuh wahana bikin jantung gw jingkrak-jingkrakan kaya lagi nonton konser," ucap Rama sambil mengelus dadanya.
"Gitu aja ngeluh, itu belum seberapa kita coba naik ini aja yuk," ajak Zara.
"Ogah males, gw mau ke istana boneka aja lah," keluh Rama.
"Kaya Fano aja lo Ram, kalah lo sama Fano dia ajak pengen naik wahana beginian," ledek Reyhan.
"Dia belom naik aja, kalo udah naik pasti nangis kejer dia," saut Rama.
"Oh iya itu si trio macan kemana," tanya Raka.
"Mereka pergi makan, biarin ajalah kasian juga mereka kelaperan nungguin kita," jawab Raina.
Raina terkesiap saat merasakan ponsel Fathan yang ia masukkan ke dalam tasnya bergetar dengan cepat ia membuka tasnya lalu mengambil ponsel dari dalam tas, ia melirik Fathan sekilas lalu menggeser tombol hijau terdengar suara Fahira dari seberang sana.
Belum sempat Raina berbicara namun Fahira terus mengoceh di seberang sana hingga membuat Raina sedikit sebal.
Fahira yang mendengar suara Raina memutar bola matanya jengah.
"Fathannya mana, bisa gak kasih hp nya ke Fathan gw mau ngomong. Penting!" ketus Fahira.
Pantes aja dari tadi gak ada respon dari Fathan ternyata hpnya di pegang sama Raina, lebay banget sih dia, perihal hp aja harus banget dia yang pegang.
Raina terkejut mendengar nada bicara Fahira, ia menyerahkan ponselnya pada Fathan dengan gugup.
Fahira kenapa ya, gak biasanya dia kaya tadi keliatannya dia jengkel banget pas tau gw yang angkat telpon dari dia, aneh banget dia.
Fathan menerima ponsel yang disodorkan oleh Raina kemudian dengan sengaja ia Loadspeaker sambungan telponnya.
Setelah selesai berbicara dengan Fahira Fathan mendekati Raina, ia melirik tangan Raina yang sedari tadi Raina usap-usap.
"Sakit tangannya?" tanya Fathan.
"Enggak kok, aku iseng aja soalnya kaya ada yang beda gitu," jawab Raina.
"Bisa aja kamu, bilang aja sama aku kalo tangannya terasa sakit," ucap Fathan.
"Sekarang sih tangan aku baik-baik aja, cuma aku ngerasa aneh aja sama Fahira soalnya tadi dia ketus gitu pas tau aku yang angkat telponnya," ucap Raina.
"Ah masa sih, perasaan kamu aja kali tadi ngobrol sama aku asik-asik aja kok," ucap Fathan.
"Itu kan sama kamu bukan sama aku, tapi udahlah gak usah dibahas nanti yang ada makin panjang," ucap Raina.
"Woi minum gw kenapa lo minum ish ilah!" teriak Zara sambil memukul bahu Farhan.
Farhan memicingkan matanya ia melirik air mineral yang berada di tangannya.
"Sembarang kalo ngomong ini air saya, air kamu ada disana tuh," protes Farhan.
"Kalian ribut terus sih, air aja diributin heran gw," ucap Kinan sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagian dia duluan kak Kinan dia ngambil minum aku," adu Zara sambil menuding Farhan.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal Farhan menyentil lengan Zara, ia melihatkan bekas sobekan label air minum yang sengaja ia sobek pada Zara.
"Liat baik-baik kalo perlu melotot sekalian, nih tadi label air nya sempat saya sobek, air kamu ada sobekannya gak?" omel Farhan.
Zara terdiam memperhatikan botok air mineral dengan teliti ia menunjukkan cengirannya, kini pipinya memerah ia sangat malu karena sudah salah menuduh orang.
"Cengngengesan doang bisanya, tadi marah-marah gak jelas, saya guyur pake air nih lama-lama kepala kamu biar dingin dan gak buruk sangka terus sama orang," ketus Farhan.
"Ya lagian ngapain naro air minum disitu, jauh-jauh naronya gw gak mau ketuker sama lo nanti bisa-bisa gw ikutan gak jelas kaya lo," ketus Zara sambil memindahkan botol air minum Farhan ke tempat yang lumayan jauh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kak Raka sama kak Rama gak iri sama mereka tuh yang berpasang-pasangan walaupun yang disini ribut terus tapi ngegemesin sih, terus noh yang disana lagi asik berduaan, nah yang direstoran udah kaya keluarga kecil yang bahagia lah kalian berdua kaya jomblo ngenes," ucap Aisyah sengaja meledek Rama dan Raka.
Dengan bersamaan Rama dan Raka menatap Aisyah lalu melempari Aisyah dengan kacang sukro yang hampir saja masuk ke mulut mereka ke arah Aisyah.
"Ish jorok banget sih udah mau masuk mulut di lemparin ke aku," omel Aisyah.
"Makanya sadar diri woi, lo juga jomblo bambang segala ngeledek kita," ucap Raka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komennya ya biar aku semangat terus up cerita ini hehe untuk sekarang aku belum bisa crazy up mungkin setelah tugas akhirku selesai aku bakal crazy up kembali kaya dulu hehe
Sehat dan bahagia selalu untuk kalian semuanya
__ADS_1
Sekian dan terima kasih