SENIOR

SENIOR
Memasak.


__ADS_3

Farhan berjalan menuju pintu lalu membuka pintu.


"Mana Aisyah,"tanya Fathan menerobos masuk ke dalam kamar Farhan.


Farhan menoleh kearah belakang meja, ia melihat Aisyah mengkode untuk menyuruh Fathan pergi.


"Kamu nyari Aisyah mau ngapain ? nyari hp kan, nih hp nya sekarang buruan keluar dari kamar aku,"usir Farhan mendorong paksa tubuh Fathan.


"Songong bangat ngusir ngusir yang abang kan gw kenapa dia yang berkuasa, ya walaupun cuma beda 1 menit tapi tetap aja gw abangnya,"omel Fathan berjalan kembali ke kamarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di rumah Raina terlihat sepi tidak seperti biasanya karena penghuni rumah sibuk dengan dunianya masing masing.


"Rain si Lala kemana tumben bangat tuh anak gak nongol biasa gak dicariin udah nangkring aja di depan mata,"tanya Reno.


"Cie nanyain giliran gak ada ditanyain pas ada diomel omelin,"ledek Raina.


Reno memandang Raina geram."Bukan begitu, aneh aja gitu dia gak nongol biasa nya kan ada dimana mana,"ucap Reno.


"Lala pulang lah kerumahnya Abangku sayang,"jawab Raina.


"Loh dia punya rumah, ternyata dia inget pulang juga kirain betah disini,"ucap Reno.


"Punyalah aneh aneh aja pertanyaannya, kalo kangen samperin aja rumahnya di jln.merdeka barat no 31 yang cat rumahnya warna coklat,"ucap Raina terkekeh.


"Siapa yang kangen ada nya aku alhamdulilah bangat kalo dia balik ke habitatnya uang aku jadi aman,"ucap Reno.


"Sekarang sih ngomongnya begitu nanti bisa beda lagi,"ledek Raina terkekeh.


"Udahlah terserah kamu de, capek nih mau istirahat dulu bentar,"ucap Reno berjalan menuju kamarnya.


"Dasar cowok makhluk gengsian,"ucap Raina.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Lala yang sedang asik dengan aktivitasnya yaitu memasak bersama sang Mama di tutor oleh Bibi, suasana dapur seperti sudah tidak layak disebut dapur akibat ulah Lala dan Mamanya.


Linda merupakan wanita karir hidupnya sejak kecil selalu dimanja tidak pernah memasak ia hanya mengandalkan pembantu hingga saat ini ia tidak bisa memasak, jadi jangan heran kalau Lala gak bisa masak juga ya.


Lala mengambil ikan yang sudah dibumbui oleh bibi untuk digoreng.


"Bi ini ikannya dimasukin ke wajan, nanti kalos lompat gimana,"tanya Lala.


"Ya engga bakalanlah Lala kan ikannya udah mati, udah cepetan cemplungin nanti minyaknya gosong,"ucap Linda heboh.


Bibi yang memperhatikan tingkah Ibu dan Anak


tersebut hanya menggelengkan kepalanya,


sekaligus ia merasa senang Lala bisa dekat dengan Ibunya walaupun tanpa sosok Papa yang berada ditengah tengahnya. Bibi sudah bekerja dengan keluarga Linda sejak Lala masih bayi.


"Ya udah Lala cemplungin nih ya,"ucap Lala menjatuhkan satu ikan kedalam wajan.


Lala tersenyum senang saat ikan masuk kedalam wajan, lalu tidak lama kemudian minyak yang digunakan untuk memasak ikan mulai menyiprat ke atas.


Lala teriak kesakitan saat percikan minyak panas mengenai tangannya, ia menolehkan pandangannya mencari Bibi namun ia tidak menemukan keberadaan Bibi di sekitar dapur.


"Arghhhh minyaknya lompat ke tangan Lala panas bangat tolongin tangan Lala, itu minyak kenapa kaya mercon si nyembur nyembur begitu Ma, siram air aja Ma takut kebakaran,"teriak Lala panik sambil memegangi tangannya yang terkena percikan minyak.


"Ah iya air mana air nanti kalo kebakaran kita tambah repot,"teriak Linda panik bolak balik mencari air padahal kamar mandi ada di sebelah kanan dari ia berdiri.


Tidak lama datang Bibi membawa potongan sayur kangkung untuk ditumis.


"Bi ambil air bị buruan sebelum kebakaran rumah kita,"pinta Linda panik.


Bibi yang mendengar perkataan Linda


mengernyitkan dahinya kebingungan lalu mencari sumber api yang akan menyebabkan kebakaran tetapi ia tidak menemukannya.


"Emangnya buat apa nyonya,"tanya Bibi.


"Itu buat nyiram kompor yang lagi dipake buat goreng ikan,"ucap Linda panik.


"Loh jangan disiram kan lagi digoreng nanti ikannya berenang dong kalo di siram."ucap Bibi terkekeh.


Bibi yang melihat hal tersebut panik lalu buru buru mencegah Linda, bisa bisa nanti ada petasan dadakan di dapur terus dapur jadi kapal pecah.


"Nyonya tunggu jangan disiram,"teriak Bibi.


Linda yang mendengar teriakan Bibi mengurungkan niatnya Lalu meletakkan ember berisi air di lantai.


"Kenapa Bi, nanti kalo kebakaran gimana."ucap Linda yang masih panik.


"Kalo disiram air malah tambah nyiprat minyaknya nyonya,"ucap Bibi tertawa.


Lala dan Linda memandang Bibi dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kok bisa gitu Bi, Lala kira kalo disiram minyaknya gak kaya mercon lagi,"ucap Lala menyengir.


"Engga non, minyaknya nyiprat karena non masukin ikan, nah di ikan itu kan banyak airnya makanya nyiprat jadi non Lala kalo goreng ikan harus hati hati biar gak kecipratan minyak,"ucap Bibi terkekeh.


"Oh gitu Bi, baru tau saya,"ucap Linda.


"Yaudah ikannya di balik biar matengnya rata,"ucap Bibi mengambil spatula lalu membalik ikan tersebut.


Mereka tercengang saat ikan dibalik lalu tertawa bersamaan.


"Yah ikannya gosong sebelah,"ucap Lala cemberut.


"Gapapa non kan baru belajar nanti juga lama lama biasa,"ucap Bibi terkekeh saat melihat ikan ia tidak kuasa menahan tawanya akhirnya tawa Bibi pecah.


"Tuh Bibi ngetawain kita La, nanti kalo kita udah jago mari kita sombongkan pada Bibi,"ucap Linda merangkul Lala.


"Iya nanti kita bakal tunjukin sama Bibi, sekarang gosong tapi nanti kita bakal bikin ikan yang cantik oke Ma, the power of Emak dan Anak."ucap Lala semangat lalu bertos ria dengan Linda.


Linda menatap Lala dengan senyum merekah, ia sangat bahagia mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dimasa lalu yang sudah menelantarkan anak sepintar dan seaktif Lala, ia berjanji akan terus bertahan dam berjuang demi


Lala meskipun tanpa sosok kepala keluarga di dalam rumah mereka.


"Yaudah kita ngapain lagi nih Bi,"tanya Lala semangat.


"Itu kalian iris bawang merah aja ya, ini ikannya biar Bibi aja yang ngelanjutin kan bahaya kalo gosong semua nanti Nyonya sama non Lala gak bisa makan,"ucap Bibi terkekeh.

__ADS_1


Bibi melirik Ibu dan Anak yang semangat mengambil bawang, ia sibuk berbicara dalam batinnya menerka nerka drama apa yang akan terjadi saat memotong bawang.


"Bi motong bawang merahnya berapa,"tanya Lala.


"10 aja non,"jawab Bibi.


"Oke berarti Lala 5 Mama 5, kita lomba ya siapa yang kalah harus jajanin yang menang, okay,"ucap Lala.


"Oke, deal pasti Mama yang menang,"ucap Linda.


Baru saja memotong dua buah bawang merah air mata sudah mengalir di pipi Ibu dan Anak tersebut Bibi yang menonton dengan susah payah menahan tawanya.


"Ma kok aku nangis ya perih bangat, Lala baru tau ternyata motong bawang sesedih ini,"ucap Lala sambil mengusap air mata yang terus menetes.


"Sama La, Mama gak kuat rasanya ini lebih sedih dari masalah masalah hidup Mama,"ucap Linda.


"Udahan aja yuk Ma, Lala gak kuat mata Lala gak bisa perih gak bisa liat yang ada nanti bukannya iris bawang malah iris jari,"ucap Lala.


"Untung bukan iris bella."ucap Linda meletakkan pisau dan bawang di meja bergegas ke kamar mandi untuk menyuci matanya yang sangat perih di susul oleh Lala karena wastafel sudah sangat berantakan penuh dengan piring piring hasil karya Ibu dan Anak tersebut.


Bibi yang baru saja selesai menggoreng ikan melihat mereka berlarian ke kamar mandi terus menertawakan tingkah mereka yang sangat menggemaskan.


"Seru juga liat mereka hahah,"ucap Bibi.


"Ini mah ujungnya Bibi lagi yang masak,"ucap Bibi sambil melanjutkan mengiris bawang merah yang sempat ditinggalkan oleh Linda dan Lala.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2