SENIOR

SENIOR
Ketemu Maira


__ADS_3

Disaat yang lainnya sedang menikmati suara teriakan yang berasal dari berbagai wahana yang berada di sekitaran mereka secara tidak sengaja Fano melihat keberadaan Maira yang tidak jauh dari lokasi mereka.


Kenapa ada nenek sihil di sini halusnya nenek sihil ada di dalem teko bukan disini bial dikulung selibu tahun, awas ya nenek sihil kalo ngelecokin acala Pano bakal Pano masukin ke dalem galon.


Fano memandang ke arah Maira dan teman-temannya dengan sengit hingga membuat yang lainnya kebingungan dan memutuskan untuk mengikuti arah pandangan Fano.


Sedangkan Maira yang menyadari dirinya di tatap oleh Fano ia kembali menatap Fano dan sesekali meledeknya.


"Dasal nenek sihil, nenek gelandong, nenek gayung belani-belaninya nantangin Pano liat aja nanti Pano keljain," gerutu Fano.


"Fano kenapa sih ngoceh mulu kaya ayam udah gitu matanya gak santai banget lagi, Fano liatin apa sih," tanya Fathan sembari terkekeh mengikuti arah tatapan Fano.


"Pantes aja si Fano melotot begitu ternyata dia ngeliat dedemit," sambung Rama.


Perlahan Maira dan teman-temannya menghampiri mereka dengan senyum yang merekah.


"Hai, ini kebetulan apa jodoh ya kita ketemu disini Fathan," ucap Maira.


Raina mengerutkan alisnya dengan ekspresi bergedik ngeri saat mendengar perkataan Maira.


"Lo ngikutin kita kan kesini, dasar kepo lo Maira," ketus Lala.


"Lo diem aja deh perebut pacar orang dasar! Cantikkan juga sepupu gw dari pada lo ewh, kak Reno juga mau-mauan sama biang rusuh, gw sih jadi kak Reno mending milih sepupu gw," sindir Maira.


Lala memicingkan matanya ia tidak terima dengan perkataan Maira, ia melangkah mendekati Maira dengan tatapan geramnya.


"Mending gw perebut pacar orang dari pada lo ngerebut gak dapet mulu keliatan banget payahnya, lagian kak Reno gak suka sama sepupu lo jadi gak usah sok cantik," ketus Lala.


Maira terdiam dia enggan menyauti perkataan Lala yang ia rasa tidak akan ada habisnya.


"Udahlah Maira gak usah buat keributan, lagian lo ngapain nyamperin kita," ucap Raina dengan malas.


Maira yang mendengar ucapan Raina membelalakan matanya menatap Raina kesal.


"Ini tempat umum jadi suka-suka gw lah mau kemana aja, lagian gw kesini mau nyamperin Fathan lo gak usah kegeeran deh," saut Maira.


Fano berkacak pinggang ia mengambil botol air mineral yang sudah kosong lalu mengarahkannya pada Maira.


"Nenek sihil jangan gangguin kita, pelgi gak! Kalo nenek sihil gak mau pelgi Pano masukin ke dalem botol nih ya bial gak belisik," omel Fano.


Tingkah Fano berhasil membuat yang lainnya terkekeh sambil menggelengkan kepala mereka merasa tingkah Fano sangat aneh namun tidak bisa dipungkiri raut wajahnya sangat lucu.


"Songong banget ya jadi anak kecil, lo kira gw jin mau dimasukin ke dalam botol," omel Maira.


"Udah mendingan yang waras ngalah kita pergi aja dari sini, gak ada gunanya juga ngeladenin Maira," ucap Zara.


Mereka memutuskan pergi meninggalkan Maira dan teman-temannya hingga membuat Maira geram.


"Emang ya bener-bener si cewe bar-bar awas aja ya gw bales lo," geram Maira.


"Udahlah Ra, mending lo cari gebetan baru noh kembarannya Fathan juga boleh tuh, keren lagi gak kalah ganteng sama Fathan udah gitu pinter makanya dia jadi dosen di kampus kita dan yang pastinya dia lebih ramah dibanding Fathan, jadi makin suka deh gw liatnya." Shasha terus memuji sosok Farhan dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


"Kaya mau aja dia sama lo Sha Ha-Ha-Ha, lo bisa dapet si Raka juga udah bagus tapi kayanya dia gak mau juga sama lo," ledek Sinta.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Dimana-mana ketemu Maira mulu heran gw," ucap Raka.


"Namanya juga tempat umum Kak, jadi wajar aja ketemu sama dia," saut Raina.


"Tapi kan Jakarta tuh luas masa ketemunya dia terus, mending kalo ketemu gak buat masalah ini mah nyari ribut terus," keluh Raka.


"Lo jodoh kali sama dia Rak," sambung Fathan.


Raka bergedik ngeri dengan mulutnya yang terus berkomat-kamit membuat yang lainnya tertawa saat melihat reaksi Raka.


"Amit-amit, udahlah gak usah diomongin ngeri jodoh beneran gw sama dia hih," ucap Raka.


"Mayan gak jomblo Rak, bisa bersaing sama pasangan Uwu tuh si Raina sama Fathan," ucap Rama sambil merangkul bahu Raka.


Zara melirik sekitar matanya tertuju pada salah satu wahana yang sering di sebut Halilintar yang sering dikenal oleh banyak orang semacam roller coaster.


"Naik itu yuk," ajak Zara dengan semangat.


"Halah banyak gaya kamu, naik kora-kora aja pucat dan gemetaran apalagi naik itu bisa pingsan nanti terus nyusahin orang lain," sambung Farhan.


Zara menatap Farhan kesal tangannya terangkat menarik hidung Farhan tanpa ampun hingga membuat hidung Farhan memerah seperti sedang terkena flu.


"Jangan meremehkan orang lain, lemah dalam 1 hal belum tentu lemah di hal lainnya bisa jadi orang itu lebih hebat dibanding lo, inget tuh kata-kata gw biar gak sombong terus lo jadi orang," ketus Zara.


"Kalian berdua ributnya bikin gumush deh, kalian berdua cocok, jadi kangen zaman ribut sama kak Fathan tapi ribut kita gak gumush Ha-Ha-Ha," ucap Raina memandang Farhan dan Zara.


"Amit-amit tolong jangan biarkan saya berjodoh dengan laki-laki ngeselin di samping saya ini," teriak Zara.


"Gak usah teriak-teriak, norak banget sih gak ada malunya tuh diliatin banyak orang," omel Farhan.


"Ribut mulu nanti saling jatuh hati baru deh tau rasa, perlu kalian ketahui banyak orang yang jodoh karena awalnya saling gak suka tau," ucap Fathan.


"Iya salah satunya lo sendiri yekan," sindir Rama terkekeh.


"Kak Leno sama kak Lala gak belantem tapi jodoh," sambung Fano.

__ADS_1


"Eh anak kecil ikut-ikutan aja, ini obrolan orang gede anak kecil gak boleh ikut," saut Reno.


"Kak Reno orang gede tapi gak ikut ngobrol sama yang lainnya," saut Fano.


"Udah ah kelamaan mending kita naik wahana aja dulu," ajak Zara dengan semangat.


"Yaudah yuk, udah lama gw gak naik halilintar, boleh ya aku ikut tangan aku udah gak sakit kok," ucap Raina memelaskan wajahnya menatap Fathan.


Mereka kini sudah berada di depan pintu masuk antrean wahana halilintar, lagi -lagi Fano dibuat cemberut dan jengkel karena ia tidak bisa menaiki wahana.


"Pasti Pano gak boleh masuk, telus Pano ngapain disini semuanya gak boleh mendingan ke pasal malem gak ukul-ukul tinggi badan, anak kecil kaya Pano dibolehin," oceh Fano.


"Banyak sabar aja ya bocil makanya jangan banyak gaya badan dulu tuh tinggiin wle," ledek Reyhan sambil menjulurkan lidahnya berharap Fano tambah kesal dan panas oleh perkataannya.


"Bialin aja Pano doain kak Ley muntah-muntah pas naik halilintal, sukulin nanti Pani ketawain," ketus Fano.


"Udah yuk masuk, oh iya Lala jangan ikut ya lo kan takut banget sama wahana beginian, gw takut lo pingsan lagi kaya dulu ntar siapa yang mau angkat," ucap Raina sembari mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia menghabiskan weekend bersama dengan Lala dan Zara di dufan.


"Nah gitu dong, lo emang sahabat gw yang paling pengertian jadi makin sayang deh, sini Lala cium, kak Fathan gak boleh iri ya." Lala mendekati Raina lalu mencium pipi Raina dengan cepat.


"Pipi pacar gw terkontaminasi virus rusuh pasti dah, nanti abis ini kamu harus wudhu yang banyak ya, aku takut kamu ikutan gak jelasnya kaya teletabis kw," ucap Fathan.


"Biarin wle, bilang aja lo iri gak bisa cium pipi Raina kaya gw. Iri bilang bos!" ledek Lala.


"Nantangin gw lo ya, siapa bilang gw iri, nih gw juga bisa," ucap Fathan.


Fathan mendekatkan dirinya ke arah Raina lalu mencium kedua pipi Raina dengan cepat membuat yang lainnya tercengang dan menatap Fathan heran.


"Ih parah kak Fathan cium-cium Raina, Lala aduin ah ke Abangnya biar dimarahin, kak Reno liat tuh masa kak Fathan cium-cium Raina omelin dia kak, kalo perlu jitak bukan muhrim tapi nyosor aja kaya soang," adu Lala terus memanasi keadaan.


"Bisanya ngadu ke kak Reno doang lo mentang-mentang deket sama kak Reno," ucap Fathan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Berbeda dengan Raina dan yang lainnya, kini Fahira sedang sibuk mondar-mandir sambil melihat layar ponselnya.


"Si Fathan kemana sih, ditelpon gak ada respon terus padahal gw mau ngajak dia ikut acara reunian sekolah terus sekalian berangkat bareng," gerutu Fahira.


Fahira terus berusaha menghubungi Fathan dan mengirim pesan berharap Fathan segera meresponnya namun Fahira dibuat kesal karena sedari tadi Fathan tak kunjung merespon pesan dan panggilannya.


Fahira berdecak kesal sambil menatap layar ponselnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Kak Leno kenapa gak ikut naik keleta mutel-mutel sama yang lainnya, pasti kak Leno gak mau pisah sama kak Lala ya cie cie cie," ucap Fano terus menggoda Reno.


Reno terkekeh ia mengacak rambut Fano gemas lalu melirik kearah Lala yang sedang fokus melihat wahana halilintar yang sedang berjalan.


"Fano bisa aja, kak Reno males naik wahananya, pengen duduk aja disini nemenin Fano biar Fano ada temannya," ucap Reno.


"Nemenin Pano apa kak Lala hayoo, kata pak ustad gak boleh boong dosa tau," ucap Fano.


"Dua-duanya aja deh biar adil, Fano laper gak? Kita makan yuk," ajak Reno.


Reno sengaja mengajak Fano makan karena ia tahu Lala sangat suka makan.


"Iya Pano lapel, sebel dali tadi gak boleh naik telus mending Pano makan aja, yuk buluan kita pelgi bialin aja yang lainnya naik keleta," ucap Fano.


Fano turun dari bangku yang ia duduki lalu menarik tangan Lala dan Reno dengan semangat.


"Mau kemana?" tanya Lala.


"Makan kak Lala, kak Lala ngapain aja kok gak dengel omongan kita," saut Fano.


"Lagi liatin wahananya, ternyata kalo nontonin orang teriak-teriakan begini asik juga ya He-He-He, tapi bayarin ya," ucap Lala menunjukkan cengirannya.


"Tenang aja ada kak Leno pasti dibayalin, yuk buluan Pano lapel," ajak Fano.


Mata Lala berbinar dengan semangat ia beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Reno.


"Kita mau makan apa?" tanya Reno.

__ADS_1


"Makan apa aja deh, Lala pemakan segalanya kok," saut Lala.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Fathan terus dibuat risih dengan getaran yang berada dibalik saku celananya yang terus menerus tidak berhenti, ia merasa enggan melihat layar ponselnya karena tidak enak dengan yang lain.


Raina yang berada di samping Fathan menyadari perubahan raut wajah Fathan yang terlihat sangat gelisah, ia menatap Fathan dan berniat menanyakannya langsung pada Fathan.


"Kenapa Kak? Kok mukanya keliatan bingung gitu, kamu takut ya?" tanya Raina.


Fathan terkesiap dan gugup saat mendengar suara Raina.


"Eh ... Hm enggak lah, aku mah gak takut sama wahana ini, semua wahana yang ada disini udah aku cobain," saut Fathan.


"Terus kalo gak takut kenapa kamu gelisah begitu," tanya Raina menatap mata Fathan.


Fathan mengelas nafasnya ia berfikir sejenak dan memutuskan untuk menceritakannya pada Raina, ia tidak mau menyembunyikan apapun pada Raina.


"Jadi gini, aku risih banget dari tadi hp aku getar terus, mau liat hp tapi gak enak sama yang lain soalnya mereka gak buka hp," curhat Fathan.


"Oh gitu, yaudah coba aja liat siapa tau penting yang lain pasti ngerti kok, kalo gak aku aja sini yang liat," ucap Raina.


Fathan memberikan ponselnya pada Raina dan bertepatan sekali dengan panggilan masuk yang tertera nama kontak fahira di layar ponsel Fathan hingga membuat Raina melirik Fathan sekilas.


"Nih dari Fahira, dia dari tadi nelpon kamu terus, angkat dulu gih siapa tau ada hal penting," ucap Raina menyodorkan kembali ponsel Fathan ke pada Fathan namun ditolak oleh Fathan.


"Kamu aja yang angkat, nanti loadspeaker aja biar sekalian aku denger juga," ucap Fathan.


"Aneh kamu Kak, kalo di loadspeaker orang yang lagi ngantri pada denger dong," ucap Raina.


Saking lamanya berdebat keduanya tidak sadar kalau panggilan dari Fahira sudah berakhir.


Raina menatap Fathan kesal ketika ia mengetahui panggilan dari Fahira sudah berakhir dan tidak sempat ia angkat.


"Tuh gak jadi diangkat kan, kamu sih ngajakin aku ngomong terus," omel Raina.


Fathan tertawa melihat raut wajah kesal Raina yang baginya sangat menggemaskan.


"Ya maaf lagian kamu juga sih gak nurut sama kata-kata aku, tuh udah mau naik wahana nanti aja telponan sama Fahiranya terus kamu pegang aja hp aku biar kamu rasain gak enaknya hp getar terus sepanjang jalan," ucap Fathan.


"Aku jual nih hp lama-lama," ketus Raina.


*****


Sementara Fahira tidak menyerah ia terus menerus menghubungi dan mengirim pesan pada Fathan, hal tersebut membuat Raina sebal dikarenakan ponsel Fathan terus menerus bergetar.


Fathan menahan tawanya saat melihat raut wajah Raina, ia mencubit gemas pipi Raina.


"Wahananya udah mau jalan jangan cemberut begitu nanti cantiknya hilang," ucap Fathan.


"Gombal terus, kamu ada apasih sama Fahira kenapa dia nelponnya terus-terusan begini," tanya Raina.


Fathan hanya menaikan bahunya sembari menggelengkan kepala dikarenakan wahana perlahan mulai berjalan ia harus fokus menikmati wahana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komennya supaya aku semangat terus up bab selanjutnya.


Terima kasih juga buat kalian yang setia menunggu cerita ini update kembali, salut sama kalian yang setia menunggu update dari aku hehe


Sehat terus dan bahagia selalu buat semuanya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih semoga suka dengan bab ini 👍


__ADS_2