
Raina melirik sekitar perahu mencari pendayung yang sudah ia bayangkan sedari tadi.
Fathan mengerutkan alisnya menatap setiap gerakan Raina ia bingung melihat Raina yang sibuk menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.
"Nyari apasi dari tadi celingak celingukan mulu," tanya Fathan.
"Itu loh gw nyari pendayungnya biar kaya di film my heart kan jadinya seru," jawab Raina.
"Whahaha... ini perahu pake mesin mana ada yang lo cari itu Raina sayang cintaku pacar kesayanganku jadi gemes deh gw," ucap Fathan menarik hidung Raina gemas.
"Ih sakit tau nanti kalo hidung gw copot gimana, lagian mana gw tau kalo perahu mesin gak pake pendayung lagi," ucap Raina mengerucutkan bibirnya sambil mengelus hidungnya yang memerah.
"Hahaha yaudah iya maaf deh sini hidungnya gw tiupin," ucap Fathan terkekeh mendekatkan dirinya menuju hidung Raina hingga jarak diantara wajah mereka nyaris tidak ada jika ada setan lewat mungkin keadaannya menjadi berbeda.
Raina menatap wajah Fathan lekat-lekat saat wajah Fathan semakin dekat dengan wajahnya. Raina dibuat gugup jantungnya berdebaran hingga membuatnya tidak bisa bernafas, wajahnya kini sudah memerah seperti kepiting rebus rasanya ingin sekali ia pingsan detik ini juga namun ia tersadar sedang berada dimana akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Kalo kaya begini terus bisa-bisa gw pingsan beneran nih, kak Fathan ngapain sih ya ampun sumpah gw gak kuat Mama tolongin Raina.
Fathan menatap Raina lekat menggeser wajahnya sedikit lalu meletakan telapak tangannya di dahi lalu berpindah di depan lubang hidung Raina dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu menyentil gemas hidung Raina.
"Nafas sayang nafas... sampe keringet dingin begini haha," ledek Fathan mengusap keringat yang bercucuran di dahi Raina menggunakan telapak tangannya.
Sentilan Fathan berhasil menyadarkan Raina dari lamunannya ia terkesiap dan mengutuki kebodohannya ia tak kuasa menahan malunya saat mendengar perkataan Fathan.
"Tuh kan tadi pucet banget mukanya sekarang merah ini muka apa bunglon si bisa berubah warna haha... santai aja santai gak usah salting begitu," Fathan terus menertawakan tingkah Raina yang sangat menggemaskan.
Raina menatap Fathan jengkel kerena terus laki-laki yang berada di hadapannya terus meledek dan menertawakan.
"Terus aja ketawain gw, lagian lo ngapain si Kak deket-deket gitu nanti di kira orang pasangan mesum lagi," omel Raina.
"Itu cuma pikiran lo aja yang berlebihan, gw kan cuma niup hidung lo doang niatnya baik atau jangan-jangan lo mikirnya gw mau nyium lo ya makanya lo keringet dingin begitu, hayoo ngaku!" ucap Fathan terkekeh.
Raina terkejut mendengar perkataan Fathan refleks tangannya menoyor dahi Fathan pelan.
"Sembarangan kalo ngomong, gw gak pernah mikir begituan tauuuu, muka gw pucet tuh gara-gara jantung gw nih deg-degan kaya serangan jantung," protes Raina dengan wajah polosnya memegangi dadanya yang masih terasa berdebar.
"Itu tandanya jantung lo cocok sama gw makanya kalo gw deket-deket sama lo dia deg-degan haha, sip kita jodoh jadi makin sayang deh," ucap Fathan dengan cepat mengecup pipi Raina.
Lagi-lagi Raina dibuat terkejut oleh sikap Fathan kini tubuhnya sangat sulit untuk digerakan semua terasa kaku bahkan sampai matanya sulit untuk berkedip.
__ADS_1
Kalo kaya gini terus bisa-bisa gw mati muda nih pliss... siapapun tolongin gw.
"Tuhkan kebiasaan nahan nafas terus awas aja kalo kentut," ucap Fathan sambil mengusap wajah Raina dengan lembut hingga Raina tersadar dari lamunannya.
"Kak Fathan pacarku yang berbudi pekerti luhur tolong ya jangan buat gw kaget terus bisa-bisa gw mati muda kalo lo bersikap kaya tadi," teriak Raina meninju bahu Fathan dengan penuh tenaga hingga hampir saja membuat Fathan tercebur jika Raina tidak menahannya.
"Yaampun, Kak lo gapapa kan jantung lo sehatkan? maaf ya sumpah gw gak ada niatan nyemplungi lo kesitu," cemas Raina dengan nada paniknya.
"Ternyata gw punya pacar tenaga banteng ya keren juga kalo digangguin orang bisa lawan sendiri, keren sayang... jadi makin cinta," ucap Fathan mengembangkan senyumnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Sedari tadi perasaan Raina tidak karuan takut Fathan akan memarahinya namun melihat respon Fathan yang berbeda dengan fikirannya membuatnya menghela nafas lega.
"Ihhh ngeselin banget si gw udah panik setengah mati lo malah senyum-senyum begitu kalo lo jatoh kesono siapa yang nolongin Kak, gw kan gak bisa berenang," omel Raina mengacak-acak rambut Fathan gemas.
"Iya-iyaa tau kok kamu khawatir tapi gak usah ngacak-ngacak rambut juga ya nanti kegantengan aku berkurang gimana terus kamu malu jalan sama aku," cemberut Fathan dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya.
"Sejak kapan kosa kata lo ganti jadi aku kamu begitu haha, yaudah sini aku rapiin biar kegantengannya gak berkurang yaa," ucap Raina tertawa lalu mendekatkan dirinya pada Fathan tangannya mulai merapikan rambut Fathan yang sangat acak-acakan akibat ulahnya.
Fathan terdiam berusaha mengontrol detak jantungnya yang yang berdetak begitu cepat.
Ini kenapa jadi kebalik si, kenapa jadi gw yang dikerjain terus ini juga jantung kenapa kaya mau loncat yaampun kita beneran jodoh kaya Raina.
"Kak kenapa sih diem aja ngobrol dong jadi sepi banget," ucap Raina yang hampir saja menyelesaikan pekerjaannya yaitu merapikan rambut Fathan.
Tanpa mereka sadari perahu sudah sampai di tempat semula saat ia menyewa perahu tersebut, sedangkan penyewa perahu hanya tersenyum melihat Raina yang sedang merapikan rambut Fathan.
"Mas, Mba, udah sampe nih atau mau nyewa lagi satu puteran?" tegur penyewa kapal.
Suara tukang penyewa kapal membuat mereka tersadar lalu beranjak dari duduknya dengan hati-hati keluar dari perahu tersebut.
"Gak mau nyewa lagi,Mas keliatannya betah banget di perahu," tanya tukang perahu.
"Hehe engga deh Mas nanti masuk angin soalnya angin pantai kenceng banget aku gak mau dikerokin pulang-pulang dari sini," tolak Raina dengan senyum manisnya.
Fathan menatap Raina geram saat melihat Raina tersenyum begitu manis pada tukang jasa penyewa perahu tersebut.
"Jangan senyum-senyum teralu manis begitu ke dia kamu boleh senyum begitu ke aku aja," bisik Fathan.
Bisikan Fathan di depan telinga Raina sukses membuat Raina bergedik ngeri lalu melirik Fathan sekilas.
__ADS_1
"Sejak kapan senyum ada pengecualiannya, mulai deh sama abang-abang aja iri, yaudah nih aku senyumin juga biar gak iri," ucap Raina sengaja memamerkan senyum termanisnya pada Fathan.
******
Fano sedang asik memutar-mutarkan tubuhnya yang berada di hadapan kaca besar ia sibuk bergaya di depan kaca.
"Kalo diliat-liat Pano ganteng banget ya kaya opa opa kolea," puji Fano sambil menyisir rambutnya.
"Opa opa korea apaan nya, Fano mah opa opa yang di upin ipin," ledek Reno.
"Itu mah kak Lala, kalo kak Leno jadi atuk dalang nya, tanam tanam ubi tak pelu dibajak hahaha," ledek Fano sambil bernyanyi dan berjoget.
Tingkah Fano berhasil membuat yang melihatnya menggelengkan kepala ingin rasanya mereka membungkus Fano ke dalam karung lalu menjualnya di pasar loak kira-kira ada yang beli tidak ya.
"Dasar bocil, kak Reno gw punya hadiah nih buat lo," ucap Lala menyerahkan Paperbag yang sudah robek karena ulah Fano.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......