
Fathan terkesiap saat ponselnya bergetar berkali-kali, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya kemudian melirik Raina.
Raina menatap Fathan dengan tatapan seolah sedang bertanya karena sedari tadi ponsel Fathan bergetar namun Fathan tidak merespon justru malah meliriknya dengan tatapan ragu.
"Itu hp nya geter ada telpon kayanya, kenapa gak diangkat, siapa tau penting," ucap Raina.
Fathan tersenyum ia menghela nafasnya tangannya bergerak menggeser tombol merah lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.
Mending gak usah gw angkat deh dari pada nambah masalah baru.
"Gak penting, mending aku ngobrol sama kamu deh dari pada ngeladenin telpon barusan," ucap Fathan dengan tawanya.
"Halah gombal aja bisanya, emang dari siapa sih sampe gak mau angkat begitu, dari fans kamu ya ? Ha-ha-ha," tanya Raina.
"Tuh Aisyah udah dateng sama yang lain, mending kita bantuin bawa barang-barangnya yuk kasian mereka," ajak Fathan.
Fathan menghembuskan nafas lega sambil mengelus dadanya saat melihat Raina melangkah meninggalkannya menghampiri Aisyah.
Untung mereka dateng, gak ngerti lagi gw mau ngeles kaya gimana lagi, gak bisa bohong gw sama Raina.
"Ayo! Tadi ngajakin sekarang malah diem disitu," teriak Raina.
"Iya-iya sabar soalnya aku gak terbang sayang," saut Fathan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini Aisyah dan yang lainnya berada di sekitaran kolam rumah Lala, mereka sengaja memilih area sekitaran kolam untuk surprise Lala.
"Ayo mulai 2 jam harus kelar ya," ucap Rama.
Fathan mengambil beberapa balon untuk menghias sekitaran kolam ia melirik sekitar mencari alat untuk mengembangkan balon namun ia tidak menemukannya.
"Ini gak ada alat buat niupnya? Masa iya gw tiup manual bisa-bisa mati keabisan nafas gw niupin balon sebanyak ini," ucap Fathan.
"Kalo nafas lo abis lo minta lagi ke balonnya Fath," saut Rama.
"Bodoamat!" ketus Fathan.
"Yaudah biar adil tiupnya bareng-bareng," saut Aisyah.
"Ini acara ulang tahun terngeselin ya semua serba manual, bisa-bisa waktunya keabisan diniupin balon nih," ucap Fathan.
"Kalo kamu ngeluh terus waktunya bakal kebuang sia-sia mending kita kerjain dulu, lagian tadi kenapa gak beli alatnya sih kalian," ucap Raina.
"Lupa Raina saking banyaknya yang dibeli," saut Raka.
Raina mulai membagikan balon yang akan ditiup dengan adil lalu mereka meniupnya.
Raina mengambil balon berwarna merah dengan susah payah ia meniup balon hingga pipinya menggembung membuat Fathan menatapnya gemas.
"Udah kalo gak bisa mending gak usah ditiup, liat tuh pipi nyaingin balonnya ntar yang ada pipinya yang meledak dah," ledek Fathan.
Raina melepas balon yang berada di mulutnya menatap Fathan dengan raut wajah yang cemberut.
"Kalo aku berenti niup terus yang ngerjain siapa?" ketus Raina.
__ADS_1
"Aku," jawab Fathan dengan senyum manisnya.
Raina menatap Fathan ragu, ia tidak yakin Fathan sanggup meniup balon dua kali lipat dari pembagian.
"Yakin kamu? Jangan! Nanti nafas kamu habis," ucap Raina.
"Kamu ragu sama aku? Jangankan balon segini balon sekardus pun aku kuat niupnya," ucap Fathan dengan percaya diri.
Fathan mulai meniup balon dengan semangat, sementara Raina terus menatap Fathan dengan rasa khawatir, tidak terasa balon tersisa satu Fathan terlihat mulai kelelahan setelah berhasil menyelesaikan meniup 19 balon secara manual.
"Kak udah biar aku aja yang terakhir, aku kesiksa sendiri liat kamu niup balon," ucap Raina.
Zara dan Farhan baru saja sampai dengan membawa alat peniup balon yang sempat di minta oleh Rama, Zara mengerutkan dahinya saat melihat Fathan meniup balon secara manual.
"Itu kak Fathan beneran niup balon apa settingan?" tanya Zara sambil menepuk-nepuk tangan Farhan.
"Gak usah pegang-pegang saya, norak banget kaya gak pernah liat orang niup balon aja," ucap Farhan dengan angkuh.
"Bukan itu masalahnya, liat tuh kak Fathan niup balon banyak banget saya takut dia kehabisan nafas terus pingsan," ucap Zara.
"Yaudah sana bantuin komentar terus kaya netizen bantuin aja enggak," sindir Farhan.
"Kak Fathan kan kembarannya situ harusnya sebagai saudara kembar yang baik Bapak bantuin dong gimana sih," ucap Zara.
"Saya bukan Bapak kamu!" ucap Farhan.
"Saya juga ogah punya Bapak kaya begini, ganteng juga Papa saya kemana-mana Pak," oceh Zara.
"Sekali lagi manggil saya dengan sebutan Bapak, posisi kamu bisa pindah jadi ke kolam!"ancam Farhan.
"Terserah deh, giliran tadi gw ngomong sama dia pake bahasa santai dia malah protes, bilang gw gak ada sopan santun, sekarang giliran dipanggil Bapak malah protes, maunya apa sih nih dosen," gerutu Zara.
Zara melangkahkan kaki meninggalkan Farhan, lalu menghampiri Raina dan Fathan.
"Kak Fathan udah gak usah ditiup lagi bisa meninggal lo ntar niup balon sebanyak itu, nih pake ini aja." ucap Zara menyodorkan alat peniup balon.
Fathan baru saja selesai mengikat balon yang ia tiup terakhir kali, ia menatap Zara sebal sedangkan Raina hanya menyengir.
"Telat! Udah kelar baru nawarin bawa pulang lagi sono!" ketus Fathan.
"Emang kurang ajar si Rama, awas aja tunggu pembalasan gw," omel Fathan.
Fathan berjalan dengan cepat menghampiri Rama tangannya menarik tangan Rama yang sedang berdiri di dekat kolam dengan sengaja ia mendorong Rama kearah kolam.
Byur!
Bunyi air kolam yang tertabrak dengan tubuh Rama membuat orang di sekitar kolam terkejut dan berlarian kearah kolam.
"Fathan bener-bener lo ya temen gak ada akhlak, gw gak bawa baju ganti woi!" teriak Rama.
Semua yang menyaksikan Rama yang berendam di kolam. Dengan bersamaan mereka menertawakan Rama.
"Bantuin dong kenapa pada ngetawain," teriak Rama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Lala kini sedang meratapi kekalahannya dan kini ia sedang berada direstoran.
Oneng banget sih gw udah tau bakalan kalah, tapi malah sok-sokan ngikut, Lala makan basreng nih mulai besok gak bisa makan baksonya Mba Wiwik huhu.
Reno terkikik di dalam hati melihat raut wajah Lala yang sedari tadi merengut, ia sengaja memesan banyak makanan untuk mengerjai Lala.
"Udah yuk pulang," rengek Lala.
"Engga ah Pano masih pengen jalan-jalan kalo kak Lala mau pulang yaudah pulang aja sendili tapi dompet kak Lala kasih ke Pano dulu," ucap Fano.
"Fano ganteng deh, baik juga terus kece lagi kita pulang aja yuk, kak Lala capek terus ngantuk juga pengen rebahan," rayu Lala.
Fano menatap Lala yang sedang memelas ia merasa tidak tega dengan Lala yang kelihatannya benar-benar lelah.
"Yaudah deh yuk pulang, mumpung Pano lagi baik hati nih," ajak Fano.
"Yaudah nih jadinya kita pulang?" tanya Reno.
"Iya pulang aja, Fano juga udah iyain ayo kita pulang Lala capek banget nih," keluh Lala.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Di dalam hatinya Lala bersorak gembira saat Reno menyetujui.
Akhirnya nurut juga mereka, setidaknya besok gw masih bisa makan bakso, lagian gw juga capek banget keliling mall dari tadi kaya lagi lari pagi.
Reno melirik Lala ia merasa bersalah saat melihat wajah Lala yang begitu lelah.
Kasian banget si Lala keliatannya capek banget, maafin aku ya Lala ini juga rencana yang lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya ya gais sekalian kalo ada saran juga boleh.
makasih banyak udah dukung aku terus meskipun sekarang up nya gak kaya dulu tapi aku usahain bakal up terus.
Sekian dan terima kasih hehe
__ADS_1