SENIOR

SENIOR
Lala pulang


__ADS_3

Raina dan Lala menghampiri mobil Reyhan yang


sudah menunggu di parkiran.


"Kak Rey nanti anter Lala ke rumahnya dulu ya baru kita pulang,"pinta Raina.


"Lah ternyata si Lala punya rumah,"ucap Reyhan.


"Punyalah sembarangan aja kalo ngomong,"omel Lala.


"Kirain gak punya rumah,"ledek Reyhan.


"Nanti nih ya lo liat rumah gw gak kalah gede dari rumah lo,"ucap Lala.


"Rumah gede tapi betah bangat di rumah orang,"ledek Reyhan.


Seketika Lala menundukkan kepalanya ia merasa kata kata Reyhan sangat benar, rumahnya besar tetapi ia lebih memilih tinggal di tempat orang lain. Raina menyadari perubahan raut wajah Lala segera


menegur Reyhan.


"Bang Rey,"tegur Raina sambil mencubit lengan Reyhan.


"Apa si nyubit nyubit sakit tau,"omel Reyhan.


"Udah yuk jalan nanti gak pulang pulang nih,"ucap Raina.


Reyhan, Raina dan Lala masuk ke dalam mobil lalu Reyhan mengemudikan mobilnya menuju rumah Lala.


"Yang mana rumah lo, udah sampe nih di jalannya,"tanya Reyhan.


"Yang mana ya gw jadi lupa sama rumah gw,"ucap Lala tertawa sengaja mengerjai Reyhan.


"Buruan Lala gw turunin lo ya,"omel Reyhan.


"Turunin aja lagi pula udah nyampe,"ucap Lala terkekeh.


"Rumah lo yang mana,"tanya Reyhan bingung.


"Tuh di depan yang warna coklat,"ucap Lala menunjuk rumahnya.


"Oh ya udah turun sono,"usir Reyhan.


"Ya udah bye bye."ucap Lala melambaikan tangannya lalu berjalan menuju pagar rumahnya.


"Nih bocah gak ada niat ngajakin masuk ngopi ngopi ganteng dulu gitu ya,"ucap Reyhan.


"Udah mending sekarang kita pulang gw ngantuk nih, ngoceh mulu lo Bang,"omel Raina.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lala membuka pagar lalu masuk kedalam perkarangan rumahnya, ia menyapa satpam rumah lalu masuk ke dalam rumah.


Lala melihat mobil Mamanya di perkarangan Rumah senyumnya mengembang lalu mempercepat langkahnya.


"Bi ada Mama didalam,"tanya Lala.


"Ada non, ibu nanyain non Lala terus dari kemaren non Lala kemana si,"ucap Bibi.

__ADS_1


"Aku abis liburan Bi hahaha. Mama baik baik aja kan Bi,"ucap Lala.


"Ibu baik non cuma dia sering ngelamun,"ucap Bibi.


"Yaudah Lala nyamperin Mama dulu ya Bi,"ucap Lala.


Lala berjalan mencari Mamanya, tidak butuh waktu lama ia menemukan Mamanya di dapur sedang melamun.


"Mamaaaa,"teriak Lala berlari memeluk Mamanya.


"Lala, kemana aja kamu nak kenapa Mama telpon gak diangkat, Mama kangen bangat sama kamu,"ucap Linda membalas pelukan Lala.


"Aku di rumah Raina mah, maaf Lala gak pernah angkat telpon mama Lala lagi sedih waktu itu tapi sekarang Lala sadar kalo Lala salah,"jawab Lala.


Linda menatap Lala sangat dalam tersirat perasaan sedih yang bercampur dengan rasa bersalah tanpa sadar air mata menetesi pipi Linda.


"Mama kenapa nangis, Lala disini sama Mama jadi Mama gak boleh sedih,"ucap Lala.


"La Mama minta maaf ya sama Lala, Mama gak bisa ngasih keluar yang utuh buat Lala Mama ngerasa gagal jadi ibu buat Lala,"ucap Linda menangis.


"Udah biarin yang udah lewat jadiin pelajaran buat kita supaya tidak terulang dikemudian hari yang penting sekarang buat aku tuh Mama, Mama gak boleh ninggalin aku, aku cuma punya Mama disini,"ucap Lala dengan mata yang berkaca kaca.


"Mama gak kuat La,"keluh Linda.


"Mama harus kuat demi Lala, Mama masih punya Lala disini, Lala gak akan ninggalin Mama kita bisa sama sama walaupun tanpa Papa,"ucap Lala sembari menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi Mamanya.


"Iya kamu benar Mama gak boleh kaya gini, Mama masih punya tanggung jawab yaitu kamu,"ucap Linda tersenyum.


Lala menghela napasnya ketika Linda


mendengarkan perkataannya.


"Udah kelar ya Ma sedih sedihanrnya sekarang kita gak boleh sedih, ada Mama aja Lala udah bahagia bangat,"ucap Lala tersenyum.


"Oh iya Mama mau tanya kamu kemana aja selama ini, terus Mama liat kamu tidak menggunakan Fasilitasmu sama sekali terus ini baju siapa yang kamu pakai,"ucap Linda.


"Aku di rumahnya Raina baju yang aku pakai sekarang juga punya dia, keluarga Raina baik bangat Ma sama aku mereka perlakuin aku kaya anak mereka sendiri,"ucap Lala semangat menjelaskan bagaimana keluarga Raina.


"Terus kalo kamu mau jajan gimana, kamu gak pernah pake uang yang Mama kirimin ke kamu loh semenjak kamu pergi,"tanya Lala.


"Nah itu mah gampang Ma, aku minta aja sama Kak Reno hahaha,"ucap Lala tertawa.


"Reno siapa? pacar kamu?."tanya Linda.


"Bukannn, kak Reno itu abangnya Raina dia ngeselin bangat kadang kadang galak tapi kadang baik juga aku minta uang aja deh sama dia, keren kan aku Ma,"ucap Lala tersenyum bangga.


"Lain kali gak boleh gitu kasian loh Abangnya Raina, nanti kalo uangnya abis gimana,"ucap Linda terkekeh melihat tingkah anaknya yang tidak pernah berubah selalu aneh, seketika ia melupakan kesedihannya mengenai masalah yang menimpa keluarganya.


"Ganteng gak sih kak Renomu itu,"ucap Linda.


"Ganteng bangat Ma tapi nyebelin,"ucap Lala sambil membayangkan sosok Reno di pikirannya.


"Lain kali ajak Mama ketemu keluarga Raina dong, Mama penasaran jadinya, kamu kenal Raina dari kapan,"tanya Linda.


"Aku sahabatan sama Raina dari SMA cuma setiap dia main kesini Mama gak pernah ada dirumah,"ucap Lala murung.


"Maafin Mama ya nak, mama teralu sibuk dengan pekerjaan Mama sampai Mama tidak mengenal kehidupan anak mama sendiri, tapi kali ini Mama janji akan ngeluangin waktu buat kamu,"ucap Linda.


"Gapapa Ma, dulu aku pernah benci bangat sama Mama yang gak pernah ada dirumah tapi Raina ngasih ceramah yang ngebuat aku gak ngebenci Mama,"ucap Lala terkekeh mengingat bagaimana dulu ia sangat kekanak kanakan.


Linda memandang Lala penuh dengan Rasa kagum ia tidak menyangka putri semata wayangnya bisa sedewasa ini.


"Ya udah pokoknya atur pertemuan Mama sama


keluarganya Raina ya, Mama mau ke depan dulu mau bicara sama Bibi."ucap Linda.


Lala menganggukan kepalanya dan tersenyum memandang punggung Linda yang semakin menjauh, ia tidak pernah membayangkan jika keluarganya menjadi seperti ini yang dahulunya ia sangat dekat dengan sang Papa dan Mamanya yang sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya kini keadaannya menjadi terbalik bahkan ia harus menerima keadaan bahwa Papanya yang selama ini selalu menemaninya pergi memilih kehidupan barunya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Raina baru saja sampai di rumahnya, ia berjalan


menuju dapur dan melihat beberapa cemilan dan es krim di kulkas.


"Jadi ke inget Lala kalo liat kulkas, bakal sepi deh rumah kalo gak ada dia,"ucap Raina sambil mengerucutkan bibirnya.


"De kenapa kamu monyong monyong begitu kaya bebek,"tanya Reno sambil mengambil air minum.


"Lah Bang Ren udah pulang, tumben cepat bangat,"tanya Raina heran.


"Kerjaan udah kelar semua ngapain di kantor mulu jenuh tau,"ucap Reno.


"Ini bukan bang Ren banget, hayoo jujur sama aku ada apa, gak mungkinkan bang Ren di pecat itu kan perusahaan punya Papa,"ucap Raina.


"Gapapa pengen pulang aja emangnya salah.,"ucap Reno.


Raina menatap Reno penuh selidik."Atau


jangan jangan Abang aku ini kangen ya sama


jerrynya,"ucap Raina menggoda Reno dengan mengedip ngedipkan matanya.


"Apasi kamu ngedip ngedip cacingan ya, jerry siapa?"ucap Reno.


"Lala lah siapa lagi, kalian kan kalau dia andai andaikan kaya tom and jerry, bang Ren Tom nya si Lala Jerrynya,"ucap Raina tertawa.


Reno menatap Raina geram lalu bergegas pergi dari dapur menurutnya meladeni Raina terus menerus membuatnya pusing.


"Gak jelas banget kamu De."ucap Reno.


"Dih malah pergi."ucap Raina.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2