Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Sengaja


__ADS_3

Angga terlihat anteng duduk di depan teras, sesekali dia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Karena Mini tak kunjung datang.


Padahal security yang berjaga di rumah Mini baru saja lima menit masuk ke dalam rumah mewah tersebut, akan tetapi Angga merasa jika dia sudah menunggu sangat lama


Delapan menit kemudian, Mini terlihat keluar dari rumah mewah tersebut dengan menggunakan baju tidur tanpa lengan.


Mini terlihat sangat seksi sekali, hal itu membuat Angga langsung memalingkan wajahnya. Bukan karena tidak suka, namun dia takut akan khilaf.


"Ekh, permisi Non, Den. Bapak pamit untuk kembali berjaga," ucap security tersebut.


"Iya, Pak. Pergilah!" ucap Mini.


Security tersebut nampak kembali berjaga di depan gerbang, sedangkan Mini langsung duduk tepat di samping Angga, karena memang sofa yang Angga duduki adalah sofa panjang.


Mini terlihat merapatkan tubuhnya, lalu dia memeluk Angga seraya menyandarkan kepalanya di pundak Angga.


"Untuk apa Mas kemari, kalau Mas tidak mau melihatku?" tanya Mini.


Angga langsung menatap Mini, kemudian dia mengusap lengan Mini dengan lembut.


"Bukannya seperti itu, aku ke sini karena rindu. Tapi, kenapa kamu berpakaian seksi seperti ini, hem?" tanya Angga.


"Karena sedang nerada di rumah, lagian aku juga mau tidur. Makanya aku memakai baju seperti ini," jawab Mini.


Angga terlihat tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh Mini, lalu dia melayangkan protesnya.


"Tapi sekarang kamu keluar rumah, bagaimana kalau ada pria lain yang melihat keindahan tubuh kamu ini?" tanya Angga.


Mini tersenyum, kemudian dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Angga dengan lekat.


"Ya ampun, ternyata pacarku ini sudah mulai posesif, cemburu dan takut ke--"


"Ya, aku cemburu kalau ada pria lain yang akan melihat keindahan tubuh calon istriku ini. Setidaknya kamu memakai jaket kalau mau keluar, terus jangan pakai celana pendek seperti ini juga." Angga terlihat mengelus lembut paha Mini yang terekspos.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Angga, Mini nampak mencebikkan mukanya. Kemudian dia melerai pelukannya dan menatap Angga dengan lekat.


"Bilang saja kalau kamu tidak akan tahan melihat tubuhku, bukan karena takut ada pria lain yang akan melihatnya," kata Mini ketus.


"Itu salah satunya, Sayang," Jawab Angga seraya nyengir kuda.

__ADS_1


"Alesan," kata Mini kesal.


"Ish! Seharusnya aku yang marah, karena seharian ini kamu bikin aku gelisah dan khawatir. Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Angga.


Mini tersenyum, dia memang sengaja mengabaikan Angga hari ini. Dia sengaja tidak datang ke Cafe, karena dia ingin mengetahui apakah pacarnya itu bisa merindukannya atau tidak.


"Sengaja," jawab Mini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Mini, Angga merasa kesal. Padahal seharian ini dia terlihat uring-uringan, bahkan hatinya terasa ketar-ketir. Namun, dengan mudahnya Mini berkata 'sengaja'.


"Loh, sengaja bagaiamana maksudanya?" tanya Angga.


"Aku hanya ingin tahu, pacarku yang dingin dan selalu jutek ini punya rasa rindu tidak kalau sehari saja aku abaikan dan tidak bertemu denganku," jawab Mini jujur.


"Ya ampun, kamu menyebalkan. Karena kamu sudah membuat aku khawatir, kamu harus aku hukum," kata Angga.


Angga langsung menggelitiki pinggang Mini, hal itu membuat Mini tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sudut matanya sampai mengeluarkan air mata.


"Sudah, Mas. Aku menyerah, maaf," kata Mini dengan napas terengah.


Karena kasihan Angga menghentikan aksinya, lalu dia mengangkat tubuh Mini ke atas pangkuannya. Mini tersenyum lalu dia memeluk leher Angga dengan erat.


"Tidak akan," kata Mini seraya memangkas jarak diantara mereka.


Annya tersenyum kala melihat Mini yang memiringkan wajahnya, Mini bahkan terlihat hendak menautkan bibirnya. Namun, dengan cepat Angga mendorong wajah Mini dengan lembut.


"Jangan, Yang. Nanti Om Hendry marah sama aku," kata Angga.


"Kamu nyebelin!" Mini langsung turun dari pangkuan Angga, Angga terkekeh melihat tingkah Mini.


"Aku mau pulang dulu, karena sekarang sudah malam. Daddy kamu mana, aku mau pamitan," kata Angga.


"Di ruang keluarga," kata Mini ketus.


"Jangan marah," kata Angga.


"Iya," jawab Mini seraya mengajak Angga untuk masuk dan menemui Om Hendry.


*/*

__ADS_1


Jesicca terlihat menggeliatkan tubuhnya, dia merasa baru saja tidur sebentar. Namun, perutnya terus saja berbunyi. Cacing di dalam perutnya seakan sedang berdemo seolah minta diisi dengan segera.


"Jam berapa ini?" tanya Jesicca.


Jesicca terlihat memicingkan matanya, dia menatap jam digital yang berada di atas nakas.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, Jesicca bangun dan turun dari ranjang. Dia mencari camilan yang dia beli tadi sore.


"Ya ampun, seharusnya aku membeli mie cup. Kalau lapar bisa langsung seduh pake air panas," keluh Jesicca.


Dengan lesu dia duduk di teipan ranjang, dia tatapa wajah Putri yang tertidur dengan pulas. Dia lapar, dia ingin mencari makanan yang bisa membuat dia kenyang.


Namun, dia takut jika Putri akan terjatuh dari ranjang kalau dia tinggal. Dengan terpaksa Jesicca mengambil kain gendongan dan mengangkat tubuh mungil Putri ke dalam dekapannya.


Dia tutupi seluruh tubuh Putri dengan kain, kepalanya juga dia tutupi penutup kepala agar Putri tudak kedinginan saat dibawa keluar.


"Maafkan Ibu, ya, Sayang. Ibu laper banget, kamu nyusunya kuat banget. Tenang saja, hanya malam ini kamu ibu ajak keluar. Besok Ibu akan setok makanan yang banyak sebelum malam," kata Jesicca seraya mengelus lembut pipi Putri.


Setelah mengatakan hal itu, Jesicca nampak keluar dari kamar kostnya. Kemudian dia berjalan menuju pagar, dia ingin mencari tukang nasi goreng.


Karena biasanya di jam seperti itu masih suka ada tukang nasi goreng yang berkeliling. Namun, saat dia sedang berjalan. Dia melihat sosok seorang pria yang sedang berjalan mondar-mandir tidak karuan di depan rumah bu Sari.


"Siapa itu?" tanya Jesicca.


Karena penasaran, Jesicca menghampiri lelaki tersebut. Saat dia memperhatikan wajah lelaki tersebut, dia teringat kala dia berbelanja di Mart. Lelaki itulah yang menabrak dirinya.


"Maaf, Mas. Anda siapa, ya?" tanya Jesicca.


Lelaki yang sedari tadi mondar-mandir tak jelas itu pun nampak menghentikan langkahnya, lalu dia menatap Jesicca.


"Saya Juki, anak pemilik kostan di sini. Kamu siapa?" tanya Juki.


Jesicca sempat tertegun saat mendengar jawaban dari pria tersebut, dulu Jesicca memang sempat ngekost di tempat bu Sari.


Namun, dia tak pernah bertemu dengan anak pemilik kost. Karena yang dia dengar, jika anak bu Sari sedang kuliah di luar negeri karena mendapatkan beasiswa.


"Ah, saya yang ngekost di sini," jawab Jesicca.


Juki tempat memindai penampilan Jesicca dari atas kepala sampai ujung kaki, Juki juga tak melewatkan Putri dari tatapan matanya.

__ADS_1


"Kamu ngapain malam-malam bawa anak keluar rumah?"


__ADS_2