Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 101


__ADS_3

"Kamu tuh tega banget sama aku," keluh Mich.


Mich langsung bangun dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower, setelah selesai dia langsung meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar mandi.


"Apa dia marah?" tanya Kinara pada dirinya sendiri seraya menuangkan sampo ke atas kepalanya.


Kinara dengan cepat melaksanakan ritual mandinya karena takut Mich benar-benar marah, apalagi Kinara sempat melihat raut kecewa dari wajah Mich.


Sepuluh menit kemudian Kinara sudah selesai dengan ritual mandinya, dia keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan bathrobe saja. Karena memang dia tidak membawa baju ganti.


Saat dia mengedarkan pandangannya, kamar pengantin itu terlihat kosong. Tidak ada Mich di sana, Kinara menjadi tidak enak hati dibuatnya.


"Oh God! Dia pasti marah," ucap Kinara dengan lesu.


Pada akhirnya Kinara memutuskan untuk duduk di depan meja rias, dia mengeringkan rambutnya seraya menatap wajahnya dari pantulan cermin. Setelah selesai, dia langsung memakai piyama tidur dan kembali menatap wajahnya dari pantulan cermin.


"Kamu sudah membuat om Mich kecewa, dia pasti sedih karena aku tidak memberikan haknya. Tapi, aku takut. Punya om Mich gede banget, kalau ngga muat gimana?" tanya Kinara lirih.


Kinara langsung mengambil ponselnya, lalu dia mencoba untuk menghubungi pria itu. Sayangnya tidak ada sahutan sama sekali.


Kinara terus menerus mencoba untuk menghubungi suaminya, tetapi tidak diangkat. Kinara tidak pantang menyerah, hingga pada panggilan yang entah ke berapa Mich mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo! Om di mana? Kenapa Kinar ditinggalkan sendirian?" tanya Kinara.


"Halo Kinar, Sayang. Ini Kak Merlin, Mich sudah tidur. Ponselnya di silent, jadinya baru Kakak angkat." Merlin menghela napas berat setelah mengatakan hal itu.


"Kak Merlin, benarkah om Mich tidur? Ngga mungkin ah! Kinar ngga percaya," ucap Kinara.


"Kalau ngga percaya langsung ke kamar Kakak saja," jawab Merlin.


"Iya, Kak," jawab Kinara.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Kinara langsung memutuskan untuk keluar dari dalam kamar pengantinnya, dia langsung berlari menuju kamar yang ditempati oleh Merlin dan juga Max.


"Masuk dan lihatlah!" ujar Merlin setelah membukakan pintu kamar hotel.


Kinara langsung masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Merlin, dia langsung menghela napas berat ketika melihat Mich yang sudah tertidur dengan pulas di atas sofa.


Terdengar dengkuran halus dari bibirnya, matanya bahkan terpejam dengan begitu rapat. Ingin rasanya Kinara menangis karena Mich lebih memilih tidur di dalam kamar hotel Merlin karena marah terhadap Kinara.

__ADS_1


"Om, kenapa malah tidur di sini? Ayo balik ke kamar kita, Om. Kinar ngga mau tidur sendirian," ucap Kinara seraya menggoyang-goyangkan lengan Mich.


Tidak ada respon sama sekali dari pria itu, Kinara terlihat begitu sedih dibuatnya. Ini adalah malam pertama mereka, tetapi dia malah ditinggalkan sendirian.


"Om, ayo pindah. Jangan tidur di sini," pinta Kinara lagi.


Namun, lagi-lagi Mich tidak merespon. Hal itu membuat Kinara langsung menangis dengan kencang seraya memukul-mukul lengan Mich.


"Huwaaaa! Om, Kinar minta maaf. Ayo kita balik ke kamar kita, nanti Kinar turutin maunya Om." Kinara menangis sesenggukan.


Merlin yang melihat Kinara menangis merasa kasihan, dia menghampiri Kinara dan mengelus lembut punggung istri dari adiknya itu.


"Mich meminum obat tidur, dia tidak akan bangun. Lebih baik kamu tidur saja, nanti kalau Mich sudah bangun, Kakak akan menyuruh Mich untuk ke kamar kalian," ucap Merlin.


"Obat tidur? pantas saja, tapi kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Kinara.


"Karena dia takut khilaf, sekarang kembalilah ke kamar kamu. Nanti kalau dia sudah bangun Kakak suruh ke kamar kalian," ucap Merlin lagi.


Ya, Mich memilih meminum obat tidur karena takut tidak tahan dan malah memerkosa istrinya. Karena pada kenyataannya dia merasa tidak tahan saat berdekatan dengan istrinya.


Dia benar-benar tidak tahan untuk bisa segera menjadikan Kinara miliknya seutuhnya, sayangnya Kinara belum siap.


Namun, dari dalam dasar hatinya yang terdalam dia merasa sangat bersalah. Karena dirinya sudah mengabaikan keinginan dari suaminya itu.


"Kak, maafkan Kinar." Kinara menghampiri Merlin dan memeluk wanita hamil itu.


"Itu adalah masalah kalian, kalian bicarakan nanti setelah Mich terbangun." Merlin melerai pelukannya, lalu mengusap puncak kepala Kinara dengan rasa campur aduk.


Baru juga Mich dan juga Kinara menikah, tetapi sudah ada masalah. Namun, Merlin tidak bisa menyalahkan Kinara begitu saja. Karena pada kenyataannya Kinara masih anak-anak.


Selepas berpamitan kepada Merlin dan Max, akhirnya Kinara kembali ke dalam kamar pengantinnya. Dia merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang pengantinnya.


"Maafkan, Kinar, om. Kinar hanya belum siap, bukan ngga mau ngelayanin om. Semoga saja om marahnya ngga lama," doa Kinar.


Walaupun pada awalnya merasa susah untuk terlelap dalam tidurnya, tetapi pada akhirnya Kinara bisa tertidur dengan pulas. Walaupun hanya sendirian dan tidak ada guling yang bisa dia peluk.


**


Entah sudah berapa jam Kinara tertidur, tetapi dia merasa jika saat ini dia begitu nyaman. Ada guling besar dan juga hangat yang bisa dia peluk.

__ADS_1


'Perasaan ngga ada guling deh? Terus, guling dari mana yang aku peluk ini?'


Kinara mencoba untuk membuka matanya, karena dia benar-benar merasa penasaran dengan guling yang saat ini sedang dia peluk.


Benar-benar terasa hangat dan juga membuat dia nyaman, saat matanya terbuka dengan sempurna dia benar-benar kaget karena ternyata saat ini dia sedang memeluk Mich, suaminya.


Mich sedang tidur dengan bertelanjang dada, dirinya kini dengan posesif memeluk tubuh Mich. Bahkan, kaki kanannya terlihat berada di atas paha suaminya tersebut.


Ingin sekali dia berteriak, karena kaget dan juga senang. Itulah yang Kinara rasakan saat ini, tetapi hal itu dia tahan. Dia malah membekap mulutnya seraya menatap wajah tampan suaminya.


Jika Mich jini sudah berada di dalam kamar pengantin mereka, itu artinya Mich sudah tidak marah kepada dirinya. Setidaknya itulah yang terlintas di dalam pikiran istri mungil dari Michael itu.


"Om, Kinar seneng banger karena Om sudah ada di dalam pelukan Kinar." Kinara berkata dengan begitu pelan, karena dia takut membangunkan pria itu.


Terlebih lagi setelah melirik jam dugital yang ada di atas nakas, ternyata waktu baru menunjukkan pukul 3 pagi.


"Bobo yang anteng, Om. Kinar cinta banget sama, Om. Jangan marah lagi, ya? Jangan buat Kinar takut lagi," ucap Kinara.


Setelah mengatakan hal itu Kinara langsung menempelkan bibirnya pada bibir Mich cukup lama, saat dia hendak melepaskan penyatuan bibirnya, tangan Mich malah menahan tengkuk leher istrinya dan memperdalam ciuman itu. Ciuman yang begitu menuntut dan membuat Kinara seakan kehilangan kewarasannya.


"Om, maafin Kinar." Kinara berucap dengan napas terengah-engah.


"Hem! Kamu mau aku maafin?" tanya Mich.


"Mau, Om," jawab Kinara dengan napas yang semakin memburu.


Karena kini Mich sudah berada di atas tubuh Kinara dan mulai membuka kancing piyama tidur yang Kinara pakai, Kinara masih terdiam seraya memerhatikan wajah suaminya yang penuh hasrat.


"Aku mau kamu, Kinar." Mich langsung menyesap ujung dada Kinara dengan begitu rakus.


"Engh! Lakuin aja, Om. Kinar milik, Om." Kinara terlihat berbicara dengan yakin, karena kali ini dia tidak mau membuat suaminya marah.


"Beneran?" tanya Mich seraya menatap wajah Kinara dengan lekat.


"Iya, Om. Beneran," jawab Kinara dengan wajah yang sudah memerah.


Mich tersenyum senang, lalu dia membuka kain yang masih tersisa di tubuhnya dan di tubuh istrinya.


"Sudah siap?" tanya Mich.

__ADS_1


__ADS_2