Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 77


__ADS_3

"Sepertinya aku mengenal anak ini, tapi siapa ya?" tanya Kinara.


"Lancang!" kata Mich seraya mengambil bingkai foto dari tangan Kinara.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Mich, Kinara langsung terlonjak kaget. Yang lebih mengagetkan lagi, Mich kini sudah berada di sampingnya dan begitu dekat dengannya.


Mich terlihat menunduk dan wajahnya terlihat begitu dekat dengan wajahnya, bahkan dia bisa merasakan hembusan napas Mich.


"Aku menyuruhmu untuk duduk dengan anteng, bukan--"


"Ma--maaf, Om. Kinara hanya bosan," kata Kinara cepat. Dia merasa tidak tahan dengan tatapan mata Mich yang terasa menusuk sampai ke jantungnya.


Kinara bahkan terlihat mendorong wajah Mich agar menjauh, dia merasa sangat tidak nyaman. Apalagi saat pandangan mata mereka bertemu.


Mich terlihat menegakkan tubuhnya, lalu dua berdehem beberapa kali. Dia berusaha untuk menstabilkan perasaannya.


"Hem, kembalilah duduk. Sebentar lagi kita shalat dan makan siang, aku masih ada sedikit pekerjaan. Tunggulah sebentar lagi," kata Mich seraya mengelus lembut puncak kepala Kinara.


Kinara terdiam, dia merasa bingung dengan tingkah Mich. Tadi Mich terlihat marah, tapi sekarang Mich terlihat sangat baik dan penuh kasih.


"I--iya, Om, maaf karena Kinara sudah lancang," kata Kinara.

__ADS_1


"Hem, duduklah lagi!" kata Mich seraya berlalu menuju kursi kebesarannya dengan foto yang terus dia genggam di tangannya.


"Fyuh!"


Kinara terlihat menghembuskan napas lega, karena akhirnya Mich bisa kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.


Kinara kembali duduk dengan pertanyaan yang masih terlintas di benaknya, kenapa Mich terlihat kesal saat dia melihat foto anak kecil yang ada di dalam bingkai foto tersebut.


"Haish! Sebenarnya anak perempuan itu siap sih? Kenapa aku seperti mengenal bocah itu," gumam Kinara seraya menghempaskan bokongnya di atas sofa.


**


Mich terlihat menghampiri Kinara yang sedang asik duduk dengan segala lamunanya, dia berdiri tepat di hadapan Kinara lalu berkata.


"Aku sudah mengambil air wudhu, kamu mau shalat bareng atau tidak?" tanya Mich.


Kinara yang sedang asik melamun langsung menengadahkan wajahnya, dia menatap wajah Mich yang terlihat basah.


Bahkan dia sudah tidak memakai jas lagi, dia hanya memakai kemeja yang dia gulung sampai ke sikut. Sungguh dia terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.


"Hah? Tapi, Om. Aku tidak membawa mukena," kata Kinara.

__ADS_1


Jangankan mukena, Kinara yang selalu ceroboh itu bahkan tidak membawa buku pelajarannya. Hanya tas ransel berisi dompet dengan ponsel saja yang dia bawa. Bahkan dia mendapatkan teguran dari dosen saat dia masuk tadi pagi.


"Kalau begitu kita shalat di mushola saja, di sana ada mukena," usul Mich.


Kinara tersenyum, karena menurutnya itu adalah ide yang bagus. Tidak apa pikirnya memakai mukena yang ada di sana, yang terpenting dia bisa melaksanakan kewajibannya.


"Boleh Om," jawab Kinara bersemangat.


Akhirnya Kinara dan juga Mich terlihat keluar dari ruangan tersebut, kemudian mereka menuju mushola kecil yang memang Mich buat.


Dia mempunyai beberapa karyawan yang beragama muslim, maka dari itu dia sengaja menyiapkannya agar lebih mudah dalam beribadah.


Lima belas menit kemudian mereka sudah menyelesaikan sholat dzuhur, lalu mereka kembali ke dalam ruangan Mich.


Saat tiba di ruangan Mich, Kinara terlihat menatap lapar ke arah meja yang ada di ruangan Mich tersebut.


Di sana sudah ada beberapa makanan khas nusantara yang tersaji, bahkan terlihat ditata dengan apik. Dia menjadi sangat lapar.


***


Bab kedua sudah meluncur, jangan lupa like dan komentarnya. Maaf kalau jarang up, sibuk Emak.

__ADS_1


__ADS_2