Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
SAH!


__ADS_3

Juki terlihat duduk tepat di depan pak Penghulu, dia terlihat begitu tegang. Keringat di dahinya nampak mengembun, tangan Juki bahkan tarasa basah.


Untuk wali dari Jesicca, bu Sari meminta pak Penghulu untuk menjadi wali hakimnya. Karena Jesicca merupakan anak yatim piatu.


Juki terlihat celingukan, dia mencari sosok wanita yang sebentar lagi akan dia sahkan sebagai istri.


Bu Sari yang paham akan apa yang dicari oleh putranya langsung menghampirinya, lalu dia berbisik tepat di telinga Juki.


"Jessica masih di kamar kostannya, kamu segeralah melakukan ijab kabul. Kalau sudah sah, encing kamu akan membawa Jesicca ke sini," kata Bu Sari.


"Kenapa tidak sekarang aja, Bu? Biar akunya tambah semangat kalau ada Jesicca di samping aku," pinta Juki.


"Ck! Nanti kalau ada Jesicca di sini, yang ada kamu malah lupa akan kata kabul yang akan kamu ucapkan," kata Bu Sari seraya terkekeh.


Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Sari, Juki nampak mendelik sebal. Padahal menurutnya jika ada Jesicca di sampingnya, dia pasti akan merasa lebih semangat lagi.


"Ehem! Bisa kita mulai acaranya?" tanya Pak Penghulu.


"Bisa, bisa," jawab Juki.


Akhirnya acara dimulai, dari mulai pembacaan ayat suci Al- Quran sampai akhirnya kini pak Penghulu mulai menjabat tangan Juki dan mulai membacakan kalimat ijabnya.


Setelah selesai, dia langsung menghentakkan tangannya. Kemudian, Juki langsung melafalkan kalimat kabulnya. Beruntung Juki bisa menyelesaikan kalimat kabulnya dalam satu kali tarikan napas.


Semua orang yang ada di sana nampak ikut senang, karena akhirnya Juki bisa menghalalkan Jesicca.


Tak lama setelah Juki mengatakan kalimat kabulnya, Jesicca masuk kedalam ruang tengah dengan didampingi oleh bu Sophia.


Jessica terlihat memakai baju kebaya berwarna putih tulang, terlihat sederhana namun nampak elegan.


Jesicca juga terlihat sangat cantik dengan riasan make up flawless di wajahnya, Juki sampai terpana dibuatnya.


Dia memandang wanita yang baru saja dia sahkan sebagai istri tanpa berkedip, Yudha yang melihat akan hal itu langsung terkekeh dibuatnya.


Ada rasa sakit di hatinya, ada juga rasa senang karena pada akhirnya Jesicca bisa mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintainya.


"Ehem! Silakan buku nikahnya ditandatangani!" kata Pak Penghulu.


Juki yang sedang asyik memandangi wajah istrinya langsung memalingkan wajahnya ke arah pak Penghulu.


"Yang sabar ya, Dek. Sebentar lagi pembobolan gawang, jangan lupa baca bismillah biar nggak salah," canda Pak Penghulu.


Juki langsung tersenyum seraya mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin, Jesicca yang baru saja duduk di samping Jukii hanya bisa tersenyum seraya memandang wajah lelaki yang kini sudah menghalalkan dirinya.

__ADS_1


Acara demi acara pun telah dilaksanakan, hingga kini tiba saatnya untuk para tamu yang hadir untuk mengucapkan selamat.


Tentu saja Ridwan dan Yudha adalah dua pria terdepan yang menghampiri Jesicca dan juga Juki.


Walaupun ada rasa sakit di hati mereka, namun tetap mereka ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan yang kini didapatkan oleh Jesicca dan juga Juki.


*/*


Pukul sembilan malam acara pun telah selesai dilaksanakan, bu Sari meminta para tamu yang hadir untuk menikmati makanan yang sudah dia siapkan. Setelah itu, bu Sari nampak menghampiri Jesicca.


"Putri malam ini tidur sama Ibu, ya? Biar engga ada yang gangguin malam pertama kalian," kata Bu Sari.


"Tapi, Bu. Nanti bagaimana dengan asinya?" tanya Jesicca.


"Sebentar!" jawab Bu Sari.


Bu Sari terlihat pergi meninggalkan Jesicca, tak lama kemudian dia nampak kembali dengan membawa pompa asi dan juga dia membawa empat botol steril.


"Ini untuk apa, Bu?" tanya Jesicca.


"Kamu pompa dulu asinya, nanti biar Ibu simpan. Kalau misalkan Putri minta asinya, nanti malam Ibu, kan bisa memberikan asi kamu sama Putri. Tentunya setelah Ibu hangatkan terlebih dahulu," kata Bu Sari.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu aku mau memompa asiku dulu," kata Jesicca.


"Ya, di kamar Juki aja sekalian," kata Bu Sari.


Jesicca nampak mengambil pompa asi dan juga botol steril dari tangan bu Sari, kemudian dia masuk ke dalam kamar milik Juki.


Sampai di dalam kamar milik Juki, sebenarnya dia merasa canggung. Namun, dia harus segera memompa asi untuk Putri. Karena memang dadanya sudah terasa sakit.


Baru saja Jesicca membuka tiga kancing kebaya yang dia pakai, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Nampaklah Juki dengan senyum manisnya seraya menatap Jesicca.


"Mas, kamu mau apa?" tanya Jesicca kaget


Bukannya menjawab, dia malah duduk tepat di samping Jesicca. Lalu dia mengusap dada Jesicca yang terlihat menyembul, karena tiga kancing kebaya yang dia pakai sudah terbuka.


"Mas! Jangan dulu, aku mau mompa asi dulu untuk Putri," kata Jesicca.


"Mompa asi'nya nanti aja, Putri sudah terlelap di pangkuan Papanya," jawab Juki.


"Tapi, Mas. Hanya sebentar, saja. Kasihan nanti ibu menunggu," kata Jesicca beralasan.


"Sayang, aku sudah lama tidak merasakannya. Pasti tidak akan lama, sekarang, ya?" rayu Juki.

__ADS_1


Juki langsung melucuti baju kebaya milik istrinya, beruntung baju kebaya yang Jesicca pakai bukan baju yang rumit. Sehingga Juki bisa membukanya dengan cepat.


Jesicca nampak menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, rasanya sangat malu saat Juki menatap tubuhnya dengan tatapan penuh gairah.


"Jangan ditutpi, Sayang. Mas mau lihat," kata Juki seraya menurunkan kedua tangan Jesicca.


Jesicca terlihat memggigit bibir bawahnya, dia merasa takut jika Juki akan melakukannya dengan kasar.


"Jangan takut," kata Juki.


Juki langsung mendudukkan Jesicca di atas meja rias, lalu dia mulai mengusap dada Jesicca dengan lembut.


Dia takut jika sumber makanan untuk Putri akan terbuang dengan percuma, puas bermain dengan dada Jesicca, Juki langsung menautkan bibirnya.


Tangannya terlihat aktif, kedua tangan itu terlihat membuka kain yang melekat indah di tubuhnya. Lalu, dia melemparkannya secara sembarang.


Kini keduanya sudah terlihat polos, Juki melepas tautan bibirnya. Lalu dia melebarkan kedua kaki Jesicca, dia langsung berjongkok dan melipat kakinya di lantai.


Wajahnya kini sudah bisa melihat dengan jelas lembah tanpa rumput milik Jesicca, ternyata Jesicca begitu rajin merawat miliknya.


"Wangi, Yang. Mas cicipi, ya?" pinta Juki.


Jesicca nampak mengangguk malu-malu, Juki tersenyum lalu dia mulai bermain dengan milik istrinya.


Lidah Juki seperti sedang menikmati makanan enak yang tiada bandingannya, sesekali dia menyesap dan menggigitnya dengan perlahan.


Hal itu membuat Jesicca tidak tahan, bahkan dia sampai menjambak rambut Juki dan menaikan kedua kakinya ke atas pundak Juki.


"Mas!" erang Jesicca.


Juki terlihat mendongakkan kepalanya, saat melihat wajah Jesicca yang terlihat begitu bergairah, Juki langsung bangun dan mengusap milik Jesicca.


"Sekarang, ya, Sayang?" pinta Juki.


Jesicca yang sudah merasa tidak tahan langsung mengangguk-anggukan kepalanya, dia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Juki.


BERSAMBUNG....


Lanjut nanti lagi pas sahur, masih sore soalnya. 😁😁😁😁


Suara hati pembaca.


"Ish! Si Othor nanggung-nanggungin aja, baru juga anget udah dipending."

__ADS_1


"Ho'oh, kalau deket aku timpuk nih pake duit segepok!"


"Asek, ayo sini timpuk." (Othor)


__ADS_2