
Satria berangkat menuju perusahaan Dinata dengan wajah kecewa, bahkan selama seharian dia bekerja wajahnya terlihat begitu kusut.
Evan bahkan sering mendapati Satria melamun tanpa mengerjakan berkas yang berada di atas mejanya, mau tidak mau dialah yang mengerjakan tugas Satria tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Satria memutuskan untuk pulang. Sepertinya bermain air di kolam belakang rumah akan lebih menyenangkan dan menyegarkan, pikirnya.
"Anda sudah mau pulang, Tuan?" tanya Evan.
"Ya, sepertinya lebih baik saya pulang," kata Satria.
"Apakah perlu saya antar?" tanya Evan.
Karena sedari pagi Satria hanya melamun saja, dia menjadi khawatir jika Satria tidak akan fokus dalam mengendarai mobilnya.
Namun, Satria terlihat tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri," jawab Satria.
"Ya, baiklah. Hati-hati, Tuan," kata Evan.
"Hem," jawab Satria.
Setelah terjadi obrolan singkat antara Evan dan juga Satria, akhirnya Satria memutuskan untuk segera pulang.
Tiba di kediamannya, Satria langsung memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah dengan tergesa.
Saat dia hendak masuk ke dalam kamarnya, seorang asisten rumah tangga menghampiri Satria dan menyapanya.
"Selamat sore, Tuan muda. Syukurlah anda sudah pulang, nyonya Laras meminta anda untuk pergi ke Restoran K selepas magrib nanti," kata pelayan tersebut.
Satria terlihat menampilkan wajah penuh tanya, tidak biasanya bundanya meminta dirinya untuk pergi ke Resto.
karena biasanya mereka akan makan malam di rumah saja, jika mereka pergi ke Resto itu artinya ada acara tertentu.
"Sekarang Buna, mana?" tanya Satria.
__ADS_1
"Nyonya besar sedang pergi ke Panti," jawab pelayan tersebut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut, Satria terlihat kaget. Karena, tidak biasanya Larasati akan pergi ke Panti.
Larasati memang terlihat sudah begitu memaafkan Yudha. Namun, kenangan di masa lalunya yang buruk dengan ayah kandungnya tersebut membuat Larasati selalu menghindari pertemuannya dengan ayah kandungnya.
Satria bisa memahami, karena memang Yudha memiliki kesalahan yang sangat fatal menurut Satria. Namun, Satria tetap berpikir positif.
Yudha dulu memang pendosa, tapi bukankah manusia memiliki kesempatan kedua untuk bertaubat?
Satria merasa jika ayahnya tersebut sudah bertaubat, dia sudah benar-benar menyesali masa lalunya yang buruk.
Bahkan Yudha sekarang terlihat lebih baik dan selalu bersikap lembut terhadap siapa pun, bahkan rumah tanggnya dengan Mira terlihat sangat baik.
"Oh, terima kasih, Bi. Nanti saya akan datang," jawab Santria.
Pelayan tersebut nampak mengganggukan kepalanya, kemudian dia berpamitan untuk ke belakang karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Setelah kepergian pelayan tersebut, Satria terlihat masuk ke dalam kamarnya. Rencana awalnya ingin bermain air di belakang rumah tidak jadi dia lakukan.
Karena dia merasa lebih baik mandi saja sebelum adzan maghrib tiba, dengan seperti itu dia tinggal bersiap untuk pergi selepas maghrib.
***
Selepas magrib, Satria terlihat bersiap untuk pergi ke Resto ka, dia terlihat memakai kemeja panjang berwarna maroon dipadupadankan dengan celana jeans berwarna hitam.
Satria terlihat sangat tampan sekali, setelah mematut dirinya di cermin dia langsung pergi ke Resto yang diminta oleh Larasati.
"Kok jadi deg-degan kaya gini, ya?" kata Satria seraya mengemudi.
Tiba di Resto yang dituju, Satria terlihat melangkahkan kakinya untuk segera masuk. Saat Satria hendak membuka pintu Resto tersebut, seorang pelayan pria langsung menyapanya.
"Apakah benar dengan, Tuan Satria?" tanya pelayan pria tersebut.
"Iya benar, itu nama saya. Ada apa ya?" tanya Satria.
__ADS_1
"Anda sudah ditunggu di ruang VIP nomor 3," kata pelayan tersebut.
"Terima kasih," jawab Satria seraya menganggukan kepalanya.
Satria terlihat mengelangkahkan kakinya menuju ruang VIP nomor 3, sesuai dengan apa yang disebutkan oleh pelayanan tersebut.
Saat dia masuk dia sangat kaget karena di sana sudah ada Larasati, Jonathan, Yudha, bu Airin dan juga Ridwan.
Bahkan yang membuat Satria sangat kaget di sana sudah ada Rachel yang sedang duduk seraya menatap dirinya dengan raut wajah kaget sama seperti dirinya.
Satria jadi bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka bisa berkumpul seperti ini?
"Sayang, jangan bengong aja. Sini duduk dekat Buna," kata Larasati.
"Ah, iya," jawab Satria.
Meskipun terlihat bingung, Satria tetap menghampiri semua orang yang ada di sana. Bahkan dia menyapa mereka secara bergantian.
Lalu, Satria nampak duduk di samping Larasati dan juga di samping Rachel. Terlihat sekali ada kecanggungan di antara keduanya.
"Ehm, kalian kenapa tegang sekali?" tanya Ridwan.
"Tidak apa-apa, Ayah," jawab Rachel seraya mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.
"Tidak apa-apa, Om," jawab Satria seraya tersenyum canggung.
"Begini, jadi. Buna sama bu Airin sengaja mengajak kalian untuk datang ke sini, karena ada hal yang harus kita bicarakan," kata Larasati.
"Bicara apa, Buna?" tanya Satria penasaran.
***
Othor mau curhat, selama yang Othor lalui nulis di pf gratis ini, tidak banyak uang yang Othor dapat. Bahkan ada yang zonk, alias ngga dapet sama sekali.
Jadi, Othor selalu meminta kepada kalian untuk komentar positif agar Othor semangat. Karena komentar kalian selalu membuat Othor ingin melanjutkan cerita walaupun ngga dapet rupiah.
__ADS_1
Jadi, please. Buat yang tidak suka dengan karya receh yang Othor buat, jangan berkomentar yang membuat penulis amatir macam Othor down.
Cukup berhenti baca dan unfav saja kalau memang tidak suka, terima kasih atas perhatian dan pengertiannya.