
Kini Kinara, Angga, Mini dan juga ketiga putra kembarnya sudah berada di Bandara, mereka sudah siap untuk pulang ke negara A.
Mereka pergi ke Bandara tanpa diantar oleh Larasati, Jonathan dan juga Adam. Itu atas permintaan dari Kinara sendiri, bukan tanpa sebab.
Dia beralasan takut akan sedih jika mereka mengantarkan kepergian Kinara, Kinara berkata tidak ingin ada air mata saat dia naik ke atas sangkar burung raksasa itu.
Walaupun pada awalnya Larasati sempat menolak, dia mengalah. Dia tahu jika putrinya itu juga sama melownya seperti dirinya.
Mini dan juga Angga terlihat berjalan terlebih dahulu, Abian, Bryan dan juga Cakra terlihat berjalan di belakang kedua orang tuanya.
Mereka terlihat berjalan tanpa bersuara, anteng dan juga kalem. Bahkan banyak kaum hawa yang mengagumi ketampanan dari ketiga putra Mini tersebut.
Mereka memang hanya cerewet saat di rumah saja, jika berada di luar rumah mereka jarang sekali untuk berbicara. Apalagi untuk mengobrol dengan orang asing.
Berbeda dengan Kinara, dia terlihat berjalan di belakang mereka berlima. Bahkan terkesan ketinggalan, karena dia berjalan sambil melamun.
Pikirannya menerawang jauh saat Jeremy memintanya untuk menjadi kekasihnya pikirannya kalut kala Jeremy berkata akan berubah yang penting Kinara mau memulai semuanya dari awal dengan dirinya.
Karena terlalu asik dalam lamunannya, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria yang sedang berjalan berlainan arah dengan dirinya.
Bukannya pria itu yang mengaduh kesakitan, justru Kinara yang memekik kesakitan karena kini dia jatuh tersungkur dengan bokongnya yang jatuh terlebih dahulu.
"Aww! Sakit!" keluh Kinara seraya mengusap-usap bokongnya.
"Cek! Biasakan berjalan dengan benar, ini jalanan umum."
Terdengar suara bariton yang membuat Kinara langsung mendongakkan kepalanya dengan cepat.
Untuk sesaat Kinara terdiam dengan mulut terbuka lebar, dia begitu kagum dengan sosok pria dewasa di hadapannya.
Pria itu terlihat begitu tampan dan berwibawa, tubuhnya terlihat begitu atletis walaupun terbalut kemeja dan jas yang dia pakai.
"Hey! Jangan menatapku seperti itu!"
Pria itu mendengkus tidak suka kala Kinara terus memandangnya dengan raut wajah penuh kekaguman.
Kinara tersenyum kikuk, lalu dia berusaha bangun walaupun terlihat kesusahan, apalagi kini Kinara memakai rok di atas lutut.
Hal itu membuat dirinya harus berhati-hati untuk bangun, takut-takut ada yang terlihat oleh pria yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
Awalnya Kinara merasa kagum dengan pria tampan yang kini berada di hadapannya, apalagi dia terlihat begitu berwibawa.
Namun, rasa kagumnya hilang ketika melihat wajah jutek pria itu, apalagi dia berkata dengan sangat ketus.
"Maaf, Om. Kinar ngga sengaja," kata Kinara dengan bibir yang mengerucut tajam.
Pria tampan yang berada di hadapannya langsung memelototkan matanya, dia tidak menyangka jika Kinara akan menyebutnya dengan panggilan Om.
"Hey! Aku ini pria dewasa, bukan om-om. Lagi pula sejak kapan aku punya keponakan yang kerjaannya bengong seperti kamu," kata pria itu seraya mendorong jidat Kinara dengan jari telunjuknya.
Kinara benar-benar tidak percaya dengan perlakuan yang dia dapatkan dari pria asing di hadapannya.
Baru saja mereka bertemu tapi pria itu sudah bersikap jutek terhadap dirinya, bahkan dengan teganya dia mendorong jidatnya dengan jari telunjuknya.
"Om, tidak sopan!"
Kinara yang merasa kesal terlihat menjinjitkan kakinya, lalu dia membalas perbuatan dari pria asing tersebut.
"Memangnya Om doang yang bisa, Kinar juga bisa. Wlee!"
Setelah Kinara mendorong jidat pria dewasa yang berada di hadapannya, dia langsung berlari ke arah Angga dan juga Mini.
Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia melihat raut wajah pria dewasa itu terlihat tidak enak untuk dipandang, sepertinya pria itu tengah marah kepada Kinara.
"Dasar gadis kecil aneh!" gerutu pria itu seraya mengusap jidatnya.
Di lain tempat.
Satria dan juga Rachel sudah sampai di apartemen milik Satria, setelah terjadi perdebatan antara dirinya dan juga Larasati, akhirnya mereka bisa tinggal di apartemen.
Bukan tanpa alasan Larasati tidak mengizinkan Satria untuk tinggal berdua saja dengan Rachel.
Dia merasa kesepian karena Kinara sudah berangkat kembali kenegara A, dia pikir Satria akan tinggal bersama dirinya saja agar dia tidak begitu kesepian.
Namun, ternyata Satria malah ingin tinggal di apartemen dengan Rachel. Larasati paham, karena memang pada kenyataannya rumah tangga itu harus memiliki ruang privasi sendiri.
Pada akhirnya Larasati pun mengalah, tapi tentu saja Larasati mengajukan syarat kepada Satria. Dalam satu minggu Satria dan juga Rachel harus menginap di rumahnya.
Terserah saja mau hari apa, yang penting mereka selalu datang setiap satu minggu sekali ke rumahnya.
__ADS_1
Tentu saja Satria menyetujui, karena ternyata syarat yang diajukan oleh Larasati sama halnya seperti syarat yang diajukan oleh bu Airin.
Maka dari itu, Satria memutuskan setiap malam Sabtu dia akan menginap di rumah Larasati dan malam minggu dia akan menginap di rumah bu Airin.
Rachel terlihat sedang mengedarkan pandangannya, dia menatap seluruh ruangan yang ada di dalam apartemen tersebut dengan teliti.
Rachel tersenyum karena apartemen milik Satria terlihat begitu mewah, nyaman, rapi dan juga bersih.
Rachel juga tersenyum kala melihat foto pernikahan mereka yang terlihat begitu besar menempel di dinding ruang tengah.
"Kamu suka?" tanya Satria seraya memeluk Rachel dari belakang.
Dia usap perut datar istrinya, lalu dia kecup puncak kepala istrinya. Rachel tersenyum, lalu dia mendongakkan kepalanya.
Satria membalas senyuman Rachel, lalu dia menunduk dan mengecupi bibir istrinya beberapa kali.
"Aku suka, Bang. Di sini sangat nyaman," kata Rachel.
"Sengaja aku buat senyaman mungkin, agar kamu betah tinggal di sini sama aku. Oiya, Sayang. Bibi hanya akan datang pukul delapan pagi dan akan pulang setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah," jelas Satria.
Rachel terlihat melerai pelukannya, kemudian dia mengajak Satria untuk duduk di atas sofa. Satria menurut, kini mereka duduk di atas sofa lalu Satria mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Kalau bibi datangnya jam 08.00, terus kita nanti sarapannya gimana? Kan, aku nggak bisa masak, Bang?" tanya Rachel.
Satria terkekeh mendengar penuturan dari istrinya tersebut, dia mencubit gemas hidung istrinya, lalu dia berkata.
"Kalau hanya untuk membuat sarapan Abang juga bisa, lagi pula Abang ini bisa memasak. Kamu tenang saja, nanti biar Abang yang membuatkan sarapan," kata Satria.
Mendengar apa yang dia katakan oleh Satria, Rachel nampak membulatkan matanya dengan sempurna.
"Abang bisa masak?" tanya Rachel
"Tentu saja Abang bisa masak, Sayang. Memangnya kenapa?" jawab tanya Satria.
"Tidak apa-apa," jawab Rachel malu-malu.
Dalam hati Rachel tersenyum senang karena ternyata dia benar-benar mendapatkan suami yang baik, pengertian, perhatian dan juga pandai memasak.
Dia benar-benar mendapatkan suami yang paket komplit, pikirnya. Walaupun kini Satria begitu messum terhadap dirinya, tapi dia suka.
__ADS_1
***
Masih berlanjut, jangan lupa ramaikan kolom komentar.