Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Muntah-Muntah


__ADS_3

Juki terlihat mendongakkan kepalanya, saat melihat wajah Jesicca yang terlihat begitu bergairah, Juki langsung bangun dan mengusap milik Jesicca.


"Sekarang, ya, Sayang?" pinta Juki.


Jesicca yang sudah merasa tidak tahan langsung mengangguk-anggukan kepalanya, dia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Juki.


Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Juki terlihat mengarahkan miliknya menuju liang kelembutan milik istrinya.


Karena sudah tidak sabar untuk merasakan kembali nikmat yang sudah lama tak dia rasakan, Juki langsung menghentakkan miliknya cukup kencang.


Hal itu membuat miliknya langsung masuk dan mengoyak milik Jesicca, Jesicca yang sedang dalam keadaan tidak siap bahkan hampir terjatuh.


Tangan kanannya menggapai pundak Juki dan mencengktannya dengan kuat, sedangkan tangan kirinya bertumpu pada meja rias.


Juki yang merasakan miliknya dicengkram kuat oleh milik Jesicca, langsung memejamkan matanya dan mengayunkan pinggulnya dengan cepat.


Matanya nampak terpejam kala merasakan gulungan kenikmatan yang datang, akhirnya setelah lama menduda, si entong masih berpungsi dan bisa merasakan kembali cengkraman hangat dalam kelembutan milik istrinya.


Semakin lama pinggulnya berayun, semakin besar rasa nikmat yang datang, dia bahkan sampai menengadahkan wajahnya dengan kedua tangannya yang mengusap-usap dada Jesicca.


Jesicca nampak kesakitan, bahkan dia sampai meneteskan air matanya. Dia memang janda, dia memang haus akan belaian.


Namun, dia sudah sangat lama tidak melakukan itu. Dia sudah lama tidak pernah bergumul dalam gulungan kenikmatan.


Bahkan sebelum dia melahirkan, lebih tepatnya saat Jesicca hamil tua, Yudha malah asik mengejar mantan istrinya yang sudah berubah menjadi wanita cantik dan juga seksi.


"Sakit!" rintih jesicca.


Mendengar rintihan Jesicca, Juki langsung memelankan gerakkannya. Kemudian dia menatap wajah sang istri dengan lekat.


Dia sangat kaget karena wajah Jesicca kini telah banjir dengan air mata, dia usap pipi Jesicca dengan lembut. Dia kecup mata Jesicca secara bergantian dengan penuh kasih.


"Maaf, aku terlalu bersemangat!" kata Juki penuh sesal.


Jesicca tahu Juki tidak bermaksud untuk menyakitinya, Jesicca tahu jika Juki menyayangi dirinya dan juga Putri. Dia juga sangat tahu, jika Juki pasti sudah tidak tahan ingin menghabiskan malam pertamanya untuk bercinta.


"Ya, tidak apa-apa. Bolehkah aku ke kamar mandi sebentar, mau pipis dulu." Jesicca memelas.


Miliknya terasa sangat perih, mungkin dengan berhenti sebentar akan mengurangi rasa sakitnya, karena dia tidak mungkin harus melewatkan malam pertamanya.


Karena Jesicca sangat sadar, jika Juki sudah sangat menginginkan dirinya. Juki sudah sangat mendambakan pergumulan panas dengannya, walaupun bukan dengan terburu-buru juga, pikirnya.


"Baiklah, jangan lama-lama. Aku janji, nanti aku akan melakukannya dengan lembut," kata Juki.


Raut wajah Juki berubah sendu, dia sadar sudah menyakiti istrinya. Dia lupa jika Jesicca pun sama seperti dirinya, lama berpuasa.


"Iya, Mas. Tapi, sebelum itu. Aku mau pompa air asinya dulu," pinta Jesicca.


Raut wajah termanisnya dia perlihatkan kepada suaminya, agar Juki bisa memberikan waktu istirahat untuknya.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Juki.


Akhirnya Juki mengalah, dia membiarkan istrinya melakukan apa pun kemauannya sebelum dia meminta haknya.


Setengah jam kemudian, Jesicca nampak memberikan empat botol steril pada Juki.


"Tolong kasih ibu, aku ngga enak hati keluarnya," kata Jesicca seraya memandang tubuhnya yang hanya terbalut komono mandi saja.


"Iya, Sayang!" jawab Juki.


Dia kecup kening istrinya, lalu dia sesap bibir istrinya yang terlihat sangat menggoda.


"Sudah dulu, sekarang tolong berikan asinya pada ibu." Jesicca mendorong dada Juki.


Dia tidak mau kalau sampai Putri terbangun sebelum stok asinya diberikan.


"Ya, Sayang," kata Juki.


Setelah mengatakan hal itu, Juki langsung keluar dari kamarnya untuk memberikan asi milik Jesicca kepada Ibunya.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, lima menit kemudian Juki sudah kembali ke dalam kamarnya.


Dia langsung melemparkan kimono mandinya, lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk di tepian ranjang.


"Sedang apa, hem?" tanya Juki.


Juki tersenyum, lalu dia mengangkat tubuh istrinya. Lalu, dia merebahkan tubuh istrinya dengan sangat pelan.


"Aku mau kamu, boleh sekarang? Janji, pelan," kata Juki.


"Boleh, Mas!" jawab Jesicca.


Juki terlihat senang bukan main mendapatkan jawaban yang membolehkan dirinya untuk meminta haknya.


Perlahan dia membuka kimono mandi milik istrinya, lalu melemparkannya dengan serampangan.


Tak ingin hal seperti tadi terulang kembali, Juki nampak mengecupi setiap inci wajah Jesicca. Lalu, satu ciuman mesra dan penuh damba dia berikan di bibir istrinya.


Tangannya tidak mau kalah, mencari titik letak kelemahan Jesicca. Hal itu benar-benar membuat tubuh Jesicca meremang.


Bibir Juki kini mulai turun mengecupi garis lehernya, semakin turun, turun dan turun sampai ke lembah yang sudah sangat dia inginkan.


Lima belas menit kemudian.


"Yang, aku udah ngga tahan. Boleh masuk, ya? Pelan kok, ngga bakal kaya tadi," izin Juki.


"Hem, tapi janji pelan!" jawab Jesicca dengan mata terpejam karena Juki terlihat menggigit puncak dada istrinya.


Juki tersenyum, lalu dia bangun dan mulai melakukan penyatuannya dengan lembut sekali. Dia mengayunkan pinggulnya dengan perlahan, memberikan sentuhan penuh kasih.

__ADS_1


Juki terus saja menatap wajah Jesicca dengan tatapan penuh cinta, setelah melihat Jesicca yang nampak nyaman dengan permainannya, Juki menambahkan tempo kecepatannya.


Tak lama kemudian, ruangan tersebut penuh dengan kata uh, oh, ah, em, karena Juki dan Jesicca sudah mulai berlomba untuk mencapai puncak kenikmatan.


Keringat nampak bercucuran di tubuh mereka, walaupun pendingin ruangan sudah menyala. Juki terus menghentak istrinya dengan lembut dari berbagai arah.


Hingga satu jam kemudian Juki nampak memperdalam miliknya, menggigit manja pundak Jesicca dan si entong pun pada akhirnya muntah-muntah karena pusing diajak keluar masuk mulu sama Babang Juki.


"Terima kasih, Sayang. Maaf, karena tadi aku sudah menyakiti kamu." Ciuman lembut dan penuh kasih dia berikan kepada istrinya.


Ada rasa puas dan juga bangga, karena milik Jesicca ternyata masih sangat sempit walaupun sudah janda.


"Sama-sama," jawab Jesicca dengan napas masih terengah.


Juki melepaskan miliknya, lalu merebahkan tubuhnya di samping Jesicca. Kemudian, dia menarik lembut tubuh Jesicca ke dalam pelukannya.


"Tidurlah!" kata Juki dengan nada penuh perintah.


Baru saja Jesicca hendak menyahuti ucapan Juki, namun ternyata perutnya sudah terlebih dahulu menjawab.


Kruyuk!


Juki nampak kaget saat mendengar bunyi keroncongan dari perut istrinya, dia jadi bertanya-tanya. Apakah Jesicca sudah makan atau belum?


"Yang, kamu lapar?" tanya Juki.


"Iya, Mas," jawab Jesicca dengan cengir kudanya.


Dia sangat malu karena dalam suasana romantis seperti ini perutnya malah berbunyi.


"Memangnya kamu belum makan?" tanya Juki.


"Belum, Mas. Aku sangat grogi karena mau menikah sama kamu, jadi aku tidak sempat makan," kata Jesicca.


"Ya ampun, kalau begitu kamu tunggu di sini. Mas ambil makan buat kamu," kata Juki.


BERSAMBUNG....


*


*


Hayo di tunggu saweran buat Babang Juki, boleh kembang, Vote, koment, kopi atau hadiah berupa tips, ya.


"Ish! Si Othor mah kebiasaan kemaruk, pengennya di sawer aja kaya biduan!" (reader)


"Ho'oh, artis kamar mandi yang suaranya sumbang aja minta disawer!" (reader)


Haish! Yang penting tulisan Othor kaga sumbang, pan kaga kedengeran ya... 💃💃💃💃💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2