
Selepas shalat dzuhur, Yudha mengajak Satria untuk pergi ke sebuah butik ternama. Tentunya hal itu dia lakukan sesuai dengan instruksi dari Larasati.
Lima belas menit kemudian, Yudha dan juga Satria terlihat memakai setelan jas yang sama. Keduanya terlihat begitu tampan, Yudha yang memang sudah sehat kini tubuhnya terlihat lebih berisi.
Bahkan wajahnya juga sudah tidak nampak tirus lagi, setelah selesai dengan penampilannya, Yudna mengajak Satria untuk pergi ke ballroom hotel di mana Angga sedang melaksanakan acara ijab kabul.
Tepat disaat Yudha datang, Angga hendak melakukan acara ijab-kabul. Satria langsung berlari dan duduk tepat di samping Angga.
Angga yang sedang merasa tegang karena ingin segera mengesahkan Mini menjadi istrinya, kini menjadi semangat, karena adanya Satria di samping Angga.
"Syemangat Ayah!" ucap Satria menyemangati.
Para tamu yang hadir turut tersenyum melihat kelucuan Satria, anak itu nampak begitu bersemangat saat melihat Angga yang hendak menikahi pujaan hatinya.
Setelah itu, dia langsung berlari dan melompat ke atas pangkuan Jonathan yang sedang duduk tepat di belakang Angga.
"Duduk yang anteng, Boy!" bisik Jonathan.
Setelah Satria duduk anteng di pangkuan Jonathan, om Hendry nampak mengucapkan kalimat Ijabnya.
Tak lama kemudian om Hendry terlihat menghentakkan tangannya, Angga langsung mengucapkan kalimat kabulnya.
Ternyata tidak sia-sia Angga berlatih untuk menghafal kalimat kabulnya, karena dengan satu kali tarikan napas saja Angga bisa menyelesaikan kalimat kabulnya tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar kata SAH menggema di seluruh ruangan ballroom hotel tersebut.
Semua orang yang hadir nampak ikut bahagia dengan resminya Angga dan Mini menjadi suami-istri.
Serangkaian acara telah dilaksanakan, kini tiba saatnya untuk melaksanakan resepsi pernikahan.
Mini dan juga Angga sudah terlihat berdiri di panggung pelaminan, mereka sudah terlihat cantik dan juga tampan. Mereka benar-benar terlihat sangat serasi.
Para tamu yang hadir sudah siap mengucapkan selamat dan memberikan kado kepada pasangan pengantin baru tersebut.
Tak lupa, mereka juga ingin mengabadikan moment tersebut dengan berfoto bersama dengan pasangan pengantin baru tersebut.
Tentu saja orang pertama yang mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru itu adalah bi Narti.
Selain mengucapkan selamat, dia mengucap rasa syukur karena kini putranya sudah memulai kehidupan barunya dengan wanita yang dia cintai.
"Selamat ya, Le. Karena kamu kini sudah menikah, kamu sekarang sudah menjadi kepala keluarga. Jadilah sosok pria yang baik, sosok suami yang baik. Sosok ayah yang baik, sosok menantu yang baik. Cintai dan sayangi istrimu, jangan pernah menyakiti hatinya," kata Bi Narti.
Setelah mengucapkan selamat kepada putra dan juga menantunya, bi Narti nampak memeluk Angga dan juga Mini secara bergantian.
__ADS_1
Om Hendry dan juga mom Delina nampak menghampiri anak dan menantunya, mereka mengucapkan selamat dan mendo'akan yang terbaik untuk pasangan pengantin baru tersebut.
Tak lama kemudian, Larasati dan juga Jonathan nampak menghampiri Angga dan juga Mini untuk mengucapkan selamat.
"Selamat menempuh hidup baru, adikku Sayang. Semoga pernikahan kalian langgeng dan hanya maut yang bisa memisahkan," ucap Larasati tulus.
"Terima kasih, Mbak," kata Angga.
Larasati tersenyum senang, karena kini Angga bisa memulai kebahagiaannya bersama dengan Mini.
Dia merasa bersyukur bisa mengenal Angga, karena Angga tak berhenti menyemangati dirinya saat dirinya benar-benar terpuruk.
Larasati langsung memeluk Angga, dia terlihat meneteskan air matanya kala mengingat perjuangannya bersama Angga seperti apa dulu.
Jonathan langsung merengkuh tubuh istrinya, sehingga Larasati terlepas dari pelukan Angga.
"Jangan terlalu lama, nanti Mas cemburu," kata Jonathan.
"Ya ampun, Mas. Angga itu sudah menikah sama adik sepupu kamu sendiri, dia juga sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Jangan suka bilang seperti itu," kata Larasati.
"Tetap saja aku cemburu," kata Jonathan tak mau kalah.
Melihat kecemburuan di mata Jonathan, Angga, Mini dan Larasati hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Jika sore ini Angga sedang menikmati masa bahagianya setelah menikah dengan Mini, Ridwan kini sedang terlihat tegang karena dia sedang duduk berhadapan dengan bu Airin di dalam ruangannya.
Bu Airin nampak sedang menagih janji kepada Ridwan tentang jawaban yang akan diberikan terhadap dirinya.
Dia terlihat menatap Ridwan dengan tatapan yang lembut namun terasa menusuk ke dalam jantung, Ridwan terlihat bingung sekali harus mengatakan apa.
Sesekali dia memperhatikan raut wajah bu Airin yang terlihat begitu cantik di matanya, tangannya terlihat memilin ujung kemeja yang dia pakai, kakinya terlihat dia hentak-hentakkan diatas lantai karena begitu gugupnya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Bu Airin.
"Bu...."
"Ya," jawab Bu Airin.
"Bagaimana bisa kita menikah tanpa cinta?" tanya Ridwan.
"Cinta akan datang karena terbiasa, bukankah enak kalau kita bisa berpacaran setelah menikah? Semua yang kita lakukan akan menjadi ladang pahala," kata Bu Airin.
"Ibu benar, tapi aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Ibu," kata Ridwan.
__ADS_1
Bu Arin nampak tersenyum, kemudian dia bangun dari duduknya. Lalu, duduk tepat di samping Ridwan.
Ridwan sempat menggeser letak duduknya, namun kembali bu Airin mendekati Ridwan. Ridwan terlihat begitu gugup, saat wajah bu Airin terlihat begitu dekat.
"Kenapa kamu merasa tidak pantas untuk bersanding dengan aku?" tanya bu Airin.
"Karena aku hanya orang biasa, sedangkan Ibu"--Ridwan terlihat menghela napas berat--"aku takut banyak orang yang akan mencemooh dan menuduh aku memikat ibu demi harta."
Bu Airin menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ridwan.
"Kamu tahu, kamu adalah lelaki pertama yang mencium bibirku. Kamu adalah lelaki pertama yang melihat tubuhku, kamu lelaki pertama yang berusaha untuk menjaga kesucianku, aku menyukai kamu. Tapi, jika kamu memang tidak mau menikah denganku, tidak apa. Maaf, karena aku terlalu berharap sama kamu."
Setelah mengatakan hal itu, bu Airin nampak tersenyum. Kemudian, dia bangun dan melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Ridwan.
Ridwan merasa sangat bersalah saat melihat raut kekecewaan di wajah cantik bu Airin, saat bu Airin hendak membuka pintu ruangan Ridwan, dengan cepat Ridwan berdiri dan memeluk bu Airin dari belakang.
Dia sandarkan kepalanya di pundak bu Airin, dia pejamkan matanya, dia hirup aroma tubuh wanita matang itu. Wangi vanilla terasa menggelitik indra penciumannya.
"Aku mau menikahimu," kata Ridwan.
"Benarkah?" tanya Bu Airin dengan mata berbinar.
"Hem, tapi nanti aku tidak mau tinggal di rumah utama. Rasanya terlalu luas," kata Ridwan.
"Terus?" tanya Bu Airin.
"Di apartemen saja, biar kita bisa leluasa untuk saling mengenal," kata Ridwan.
"Oke!" sanggup Bu Airin.
Bu Airin nampak membalikkan tubuhnya, hingga kini mereka saling berhadapan. Dia menjinjitkan kakinya dan hendak mengecup bibir Ridwan.
"Jangan sekarang, bukankah kamu yang bilang, akan sangat indah berpacaran setelah menikah. Tidak akan dosa, semua yang kita lakukan akan menjadi pahala," kata Ridwan.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kamu pulang. Siapkan semua berkas yang diperlukan, besok pagi kita nikah di KUA," kata Bu airin.
"Hah?"
BERSAMBUNG....
Astogeh, aku kaget karena babang Ridwan mau menikah dengan bu Airin. Pesona wanita matang memang kuar biasa, bisa dengan mudah mengalihkan pendirian babang Ridwan.
Apa lagi saat melihat ketulusan dari mata bu Airin, beh... bikin babang Ridwan kaga nahan.
__ADS_1
Selamat malam, selamat beraktifitas. See you next episode, Othor mau bobo dulu. Ngantuk!