
Pagi ini Satria terlihat gugup sekali, dia sudah berkali-kali menucapkan kalimat kabul karena takut salah.
Dia bahkan terlihat menatap dirinya di cermin, dia memperhatikan wajahnya yang terus saja mengeluarkan keringat dingin.
Sesekali dia terlihat menghela napas panjang, lalu dia keluarkan dengan perlahan. Satria kini persis seperti seorang ibu hamil yang sedang melahirkan.
"Mules!" keluh Satria.
Dia langsung berlari ke arah kamar mandi seraya memegangi perutnya, dia benar-benar merasa panik saat ini.
Sepuluh menit kemudian, dia sudah keluar dari dalam kamar mandi. Saat dia keluar, ternyata Larasati sudah berada di dalam kamar Satria.
Larasati terlihat duduk di atas sofa, lalu dia tersenyum ke arah putranya tersebut.
"Duduklah!" kata Larasati seraya menepuk sofa kosong di sampingnya.
"Iya, Buna," jawab Satria.
Satria terlihat melangkahkan kakinya untuk menghampiri Larasati, kemudian dia duduk tepat di samping ibunya tersebut.
"Ada apa, Buna?" tanya Satria.
Larasati tersenyum, kemudian dia mengelus lembut punggung putranya tersebut. Dia sangat tahu jika putranya begitu gugup.
Bahkan Larasati bisa melihat jika wajah Satria kini terlihat pucat, mungkin karena Satria kurang tidur. Dia terlalu memikirkan tentang acara pernikahannya.
"Jangan gugup seperti itu, percayalah sama Buna. Jika semuanya akan berjalan dengan lancar," kata Larasati.
"Ya, aku tahu. Aku hanya gugup saja," kata Satria.
Larasati tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, Satria yang selalu bersikap kalem kini nampak tidak karuan.
"Lebih baik sekarang kamu sarapan dulu, Buna takut nanti sore saat acara Ijab Kabul dimulai kamu akan pingsan karena terlalu banyak pikiran," kata Larasati.
__ADS_1
"Aku tidak lapar, Buna," kata Satria.
"Ya, Buna tahu. Akan tetapi, setidaknya harus ada makanan yang masuk ke dalam perut kamu. Bagaimana nanti kamu mau menghadapi malam pertama kamu dengan Rachel, jika sarapan saja tidak masuk ke dalam perut," kata Larasati.
Untuk sejenak Satria berpikir, setelah dia menikahi Rachel tentunya akan ada acara malam pertama.
Malam pertama itu membutuhkan banyak tenaga, Satria tersenyum karena itu artinya dia akan menjadikan Rachel miliknya seutuhnya.
Kemudian, dia langsung berdiri. Larasati memandang aneh ke arah putranya, lalu dia bertanya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Larasati.
"Mau sarapan, Buna," jawab Satria.
Larasati kembali tertawa, dia merasa lucu dengan tingkah dari putranya tersebut. Pasti Satria sudah menyadari akan banyak hal yang harus dia lakukan setelah menikah nanti, pikirnya.
"Katanya tidak lapar?" tanya Larasati.
"Kata Buna menghadapi kenyataan itu harus butuh tenaga, maka dari itu aku harus sarapan," jawab Satria.
Lalu, mereka terlihat berjalan beriringan keluar dari kamar Satria menuju ruang makan. Saat tiba di ruang makan, seluruh keluarganya nampak berkumpul di sana.
Rumah yang biasanya terasa sepi, kini begitu ramai karena adanya Mini, Angga dan ketiga putranya.
Bahkan, di sana juga ada tuan Elias dan istrinya. Tentu saja mereka ingin melihat dan menyaksikan acara pernikahan dari Satria, cucu mereka.
Tuan Keanu juga bahkan sudah berada di sana, karena mereka semua memutuskan akan pergi ke hotel tempat di mana dilaksanakan acara pernikahan Satria ramai-ramai dari rumah Jonathan.
****
Selapas shalat dzuhur semua anggota keluarga dari Satria nampak pergi menuju hotel mewah yang berada di pusat kota.
Tentu saja mereka harus bersiap karena pernikahan Satria akan dilaksanakan selepas shalat ashar, pukul empat sore.
__ADS_1
Ketegangan nampak terlihat jelas di wajah Satria, Larasati dengan setia menenangkan hati putranya itu.
Berbeda dengan Kinara yang terus saja mennggoda abangnya itu, walaupun Larasati sudah mengingatkan, tetap saja dia menggoda abangnya.
Tiba di hotel, ternyata di sana sudah ada Putri, Mira dan juga Yudha. Yudha terlihat menatap Satria dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dia menghampiri putranya, lalu memeluknya dengan erat. Dia tidak menyangka jika putranya akan melepas masa lajangnya di usia yang baru saja menginjak dua puluh tiga tahun.
"Selamat, ya, Nak. Semoga kamu bisa menjadi imam yang baik, jangan seperti Papa. Menyia-nyiakan sebongkah berlian untuk sebuah dosa," kata Yudha.
"Insya Allah Satria tidak akan seperti itu," kata Satria.
"Papa percaya," kata Yudha.
"Abang, Putri mau peluk sebelum Abang nikah. Takutnya nanti kalau Putri minta peluk setelah Abang nikah, Rachel akan cemburu," kata Putri.
Satria terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut, dia melerai pelukannya dengan Yudha kemudian memeluk Putri dengan erat.
"Semoga Abang bahagia, sayangi kakak ipar. Cintai dia dengan sepenuh hati, jangan nakal. Nanti Putri jewer kuping Abang," kata Putri seraya terisak.
Dia merasa bahagia, terharu dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan. Namun, dia percaya jika Satria bisa membagi waktu untuk dirinya dan keluarga.
"Pasti, Abang akan berusaha untuk menjadi yang terbaik," kata Satria.
"Hey, ini hari bahagia. Kenapa malah ada drama nangis segala?" kata Jonathan seraya menyeka air matanya.
"Dasar!" kata Larasati.
"Ini tangis haru, ayo kita masuk ke dalam ruangan yang sudah disipakan untuk kita," ajak Jonathan.
"Ya, kita ngobrol dulu. Biar ngga tegang," kata Tuan Keanu.
"Ya," jawab Satria.
__ADS_1
****
Sekamat siang, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, sayang kaleyan semua.