Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S.2 Bab 29


__ADS_3

Satria sungguh tidak menyangka, jika dirinya kini akan bertemu kembali dengan pria yang kemarin membuatnya tidak bisa menikmati harinya.


Saat ini pria itu terlihat duduk anteng sambil menunduk membaca berkas di tangannya, Satria menghampiri Putri dan lelaki itu.


Putri yang melihat abangnya begitu senang, bahkan dia langsung berdiri dan menyambut kedatangannya.


"Selamat siang, Tuan Satria," ucap Putri seraya mengulurkan tangannya.


Senyum di bibir Putri terlihat terus saja mengembang, saat dia menyapa abangnya tersebut.


Satria sempat ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut, karena pada bisanya Putri akan memanggilnya denhan sebut abang.


Namun, saat bekerja dia terlihat begitu berusaha untuk bersikap profesional. Satria menjadi bangga dibuatnya


"Selamat siang, Nona Putri," jawab Satria seraya membalas uluran tangan dari Putri.


Mendengar ada yang berbicara di hadapannya, pria yang sedari tadi menunduk langsung mendongakkan kepalanya.


"Oh, Tuan Satria. Anda sudah datang, ya?" ucapnya seraya berdiri lalu mengulurkan tangannya.


Satria tersenyum kecut, lalu membalas uluran tangan dari pria tersebut. Begitupun dengan Evan sang asisten pribadi Satria, dia terlihat tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Putri dan juga Reon secara bergantian.


Ya, pria yang kini duduk di hadapan Satria adalah Reon. Pria itu nampak sedikit canggung, lalu mempersilakan Satria dan juga Evan untuk duduk.


"Ehm, sepertinya kita makan siang saja dulu. Biar lebih santai," ajak Reon.


"Boleh," kata Satria.


Satria terlihat menatap ke arah Reon, dia benar-benar masih merasa kesal karena pria itu terlihat begitu dekat dengan Rachel.


"Jadi, mau pesan apa?" tanya Reon.


"Ah, sebentar," jawab Satria seraya mengambil buku menu.


Pada akhirnya mereka terlihat memesan makanan yang mereka inginkan, hanya menunggu sekitar sepuluh menit pesanan mereka sudah datang.


"Waah, makanannya begitu menggugah selera." Putri menatap lapar makanan yang Satria pesan.


Satria terkekeh, lalu dia terlihat mengendok makanan tersebut dan mengarahkannya ke bibir Putri.


Reon yang melihat keakraban di antara Satria dan juga Putri terlihat tidak suka, dia langsung menarik tangan Satria dan memasukkan makanan yang Satria sodorkan ke arah Putri ke dalam mulutnya.


Baik Satria, Putri dan juga Evan terlihat melongo di buatnya. mereka merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Reon saat ini.


Putri terlihat mencebikkan bibirnya, lalu dia melayangkan protesnya terhadap atasannya tersebut.

__ADS_1


"Ish! Bapak itu kenapa sih? Kan, Tuan Satria mau menyuapi saya. Kenapa makanannya malah anda yang makan?" tanya Putri tidak suka.


Reon terlihat menatap Putri, kemudian dia berkata.


"Kamu itu nggak sopan, Tuan Satria itu klien kita. Masa kamu sama Tuan Satria malah suap-suapan," kata Reon tidak mau kalah.


Satria dan juga Evan terlihat saling pandang, kemudian mereka tersenyum. Mereka merasa lucu dengan perdebatan antara Putri dan juga Reon yang terlihat tidak seperti bawahan dengan atasannya.


Namun, senyum di bibir Satria nampak memudar kala dia mengingat akan kebersamaan Rachel bersama dengan dirinya.


Hal itu membuat Satria merasa kesal, Satria bisa melihat sorot mata Reon yang menyiratkan jika Reon menyukai Putri.


Satria pun jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, Reon sudah mendekati Rachel dan sekarang mendekati Putri. Apa maksudnya?


"Ish, ini di luar jam kerja, Pak! Jadi saya dan Tuan Satria berhak melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," kata Putri.


"Ngobrol kaya biasa boleh, tapi kalau suap-suapan ngga boleh!" tegas Reon, setelah mengatakan hal itu Reon mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya dengan perlahan.


"Ish, Bapak Itu aneh. Sikap Bapak udah kek pacar posesif aja," kesal Putri.


Byur!


Air yang berada di dalam mulut Reon langsung menyembur, beruntung Satria dan juga Evan langsung berdiri dan menghindar.


"Ya Tuhan! Anda ceroboh sekali," keluh Putri.


Putri langsung mengambil tisu dan memberikannya kepada Reon, dengan senang hati Reon mengambil tisu dari Putri dan mengelap wajahnya yang kini terlihat basah karena ulahnya sendiri.


"Terima kasih," kata Reon.


"Sepertinya kita harus pindah meja saja, kita pesan makanan yang baru," kata Satria yang merasa jijik melihat makanannya yang sudah terkena semburan air dari mulut Reon.


Putri langsung mengangguk setuju. "Baiklah, Tuan. Mari," ajak Putri.


Evan dan juga Satria menurut, mereka mengikuti langkah Putri untuk mencari meja yang masih kosong.


Reon dengan tergesa langsung menghampiri Putri dan juga Satria bersama Evan, setelah mereka duduk, Putri terlihat memanggil seorang pelayan.


Dia kembali memesan, Putri juga mengatakan jika pesanan yang belum mereka makan tetap akan mereka bayar.


Jadi, pelayan tidak usah khawatir. Tinggal dirapikan saja makanan yang masih tergeletak di atas meja tersebut.


"Hari ini Bapak sangat aneh," kata Putri.


"Maaf, karena aku sudah mengacaukan acara makan siang kita," kata Reon penuh penyesalan.

__ADS_1


Walaupun, dalam hatinya dia masih merasa gondok karena melihat Satria yang begitu perhatian terhadap Putri.


"Ya, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita cepat makan, terus buru-buru melakukan acara meetingnya. Karena kalau tidak cepat, aku bisa telat kuliah," kata Putri.


Reon melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, kemudian dia berkata.


"Oh iya, aku lupa. Kamu hari ini ada jam kuliah," kata Reon.


Satria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Reon terhadap Putri.


Sebenarnya dia ingin sekali menanyakan apa hubungan antara Reon dengan Rachel? Kenapa dia begitu dekat dengan Rachel?


Bahkan, dia memiliki panggilan yang terdengar begitu akrab di telinga Satria untuk Rachel.


Namun, kenapa sikap Reon terhadap Putri malah terlihat lebih posesif melebihi dirinya yang notabene adalah abangnya sendiri.


Satria juga jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah Reon tidak tahu status Putri dengan dirinya?


Ya, sepertinya begiru, pikir Satria. Makanya dia terlihat begitu cemburu saat melihat kedekatan Satria dengan Putri, Satria jadi bersemangat ingin menggoda Reon.


Satria terlihat duduk bangun dan duduk tepat di samping Putri, lalu dia terlihat merangkul pundak adiknya dengan posesif.


"Setelah selesai acara meetingnya, biar aku saja yang mengantarkan kamu ke kampus," kata Satria.


"Boleh," jawab Putri senang.


Sudah lima tahun lamanya mereka tidak pernah pergi bersama tentu saja Putri sangat senang saat Satria menawarkan diri untuk mengantar Putri berangkat kuliah.


Berbeda dengan Reon, dia nampak tidak suka saat melihat kedekatan Putri dan juga Satria. Reon bahkan sempat mengumpat dalam hatinya, kenapa Putri begitu mudahnya dekqt dengan Satria.


"Kamu ngga boleh pergi sama dia, perginya nanti sama aku aja," kata Reon seraya menurunkan tangan Satria dari pundak Putri.


Putri langsung menolehkan kepalanya ke arah Reon, dia seakan menatap Reon dengan tatapan penuh protes.


"Bapak ini kenapa sih?" tanya Putri bingung.


"Tidak apa-apa, pokoknya nanti kamu pergi sama aku aja," kata Reon seraya memalingkan wajahnya karena tidak tahan saat mendapatkan tatapan tajam dari Putri.


**/


Masih berlanjut....


Ayo penasaran ngga sebenarnya Reon itu siapa? Kalian penasaran ngga, sebenarnya bagaimana hubungan Reon dengan Rachel? Lalu, bagaimana hubungan Reon dengan Putri?


Kuy lah, ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2