Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tidak Sabar


__ADS_3

Sebenarnya Jesicca ingin sekali langsung membawa Putri untuk segera pulang, namun dia merasa kasihan terhadap Yudha. Karena baik Yudha ataupun Putri, terlihat begitu saling merindukan.


Mungkin itulah yang dikatakan dengan ikatan batin seorang anak dan juga ayah, begitu kuat. Tidak ada yang namanya bekas anak dan tidak ada yang namanya bekas ayah.


"Ehm, Mas! Sudah hampir satu jam aku di sini, aku harus segera pulang. Ngga enak sama orang Panti," kata Jesicca.


Ya, anak-anak Panti terlihat memperhatikan kedekatan antara Putri dan juga Yudha. Mereka juga memperhatikan Jesicca yang duduk anteng melihat kebersamaan antara anak dan papanya itu.


"Ah, iya. Maaf, karena aku terlalu asik bermain dengan Putri," sesal Yudha.


"Tidak apa-apa, aku pamit dulu." Jesicca mengambil Putri dari pangkuan Yudha dan segera pergi.


Selepas kepergian Jesicca dan juga Putri, Yudha nampak meneteskan air matanya. Dia begitu sedih karena tidak bisa terus bersama dengan kedua buah hatinya.


Menyesal?


Tentu saja di hatinya dia benar-benar sangat menyesal, namun dia merasa sangat beruntung karena sudah bertemu dengan bu Airin.


Setidaknya dengan dia tinggal di Panti, dia bisa terus bersama dengan anak-anak yang sebaya dengan Satria dan juga Putri.


Jika Tuhan memberinya kesempatan hidup, hanya satu yang dia inginkan. Dia ingin membahagiakan kedua buah hatinya, walaupun dia tahu jika dia hanya bisa memberikan kasih sayang bukan harta.


"Hiks! Hiks!"


Saat Yudha sedang asik dengan penyesalannya, tiba-tiba saja dia mendengar isak tangis seorang perempuan di balik pohon yang tak jauh dari tempat dia duduk.


Yudha langsung bangun dari duduknya, kemudian dia melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju arah dari asal suara isak tangis tersebut.


Ternyata dia melihat Imelda, gadis yang yang selalu berada di Panti. Gadis itu terlihat begitu sedih, dia menangis dengan tersedu.


Ingin sekali Yudha menghampirinya, namun dia takut akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka nantinya.


Yudha memutuskan untuk masuk ke dalam Panti dan membicarakan hal tersebut kepada pengurus Panti.


"Maaf, Bu. Itu, saya melihat Imelda sedang menangis di balik pohon. Dia kenapa, Bu?" tanya Yudha.


Wanita paruh baya yang menjadi pengurus Panti itu nampak tersenyum, kemudian dia menghampiri Yudha dan berkata.


"Imelda memang sudah terbiasa menangis seperti itu jika dia sedang teringat akan siapa dirinya, dari mana asalnya dan ketika dia mengingat akan Ibunya," kata Ibu Panti.


"Memangnya Imelda kenapa, Bu?" tanya Yudha.


"Imelda adalah anak dari seorang wanita malam, Imelda selalu dihina saat kecil karena mempunyai seorang ibu yang bekerja sebagai wanita penghibur," kata Ibu Panti.


"Lalu?"


"Karena Ibu Imelda merasa sedih saat melihat kesedihan di mata Imelda, akhirnya Ibu Imelda menitipkannya di sini. Ibunya berjanji akan menjemput Imelda, sayangnya sampai sekarang ibunya tidak pernah datang," kata Ibu Panti.

__ADS_1


"Kasihan sekali," kata Yudha.


"Ya, dia bahkan hanya mau sekolah sampai SMP saja karena tidak tahan dengan bulian dari teman-temannya," kata Bu Panti.


"Ya Tuhan, ternyata berat sekali beban yang dia tanggung," kata Yudha.


Dia jadi mengingat akan dirinya yang mempunyai penyakit HIV, dia juga jadi mengingat dirinya yang selalu menghianati pasangan halalnya.


Dia jadi takut jika kedua buah hatinya akan malu akan kelakuan dari Yudha jika mereka sudah besar nanti.


"Seharusnya sekarang Imelda sudah menjalani masa kuliahnya, namun dia selalu merasa malu untuk hanya keluar dari Panti saja. Dia lebih sering menutup diri dan bahkan tidak mau berbaur dengan anak Panti yang lainnya," jelas Bu Panti.


"Kasihan dia, semoga saja Ibunya benar-benar akan menjemputnya. Kasihan dia, kalau begitu saya permisi. Saya mau cek kesehatan ke Puskesmas," kata Yudha.


"Ya, silkan!" jawab Ibu Panti.


Selepas terjadi obrolan antara Yudha dan juga bu Panti, Yudha memutuskan untuk segera memeriksakan dirinya ke Puskesmas.


Dia ingin tahu apakah dia sudah sembuh atau belum, karena saat pemeriksaan terakhir menurut dokter keadaan Yudha sudah benar-benar stabil.


Saat melewati Imelda, lagi-lagi dia sempat ingin menghampiri gadis tersebut. Namun hal itu dia urungkan, mungkin nanti pikirnya Yudha harus berbicara dan memberikan semangat kepada anak gadis tersebut.


*/*


Di lain tempat.


Wajah Juki terlihat semakin sumringah, apalagi saat mengingat jika kini dia sudah mempunyai seorang istri.


Wajah Jesicca yang begitu menggairahkan, suara dessah manja yang keluar dari bibir mungil Jesicca seakan terus saja mengalun merdu di telinganya.


Bahkan lekuk tubuh Jesicca selalu saja terlintas di dalam otaknya, rasanya dia sudah tidak tahan ingin cepat pulang dan membawa Jesicca ke dalam kamarnya.


Dia ingin segera mengurung wanita yang telah menjadi istrinya tersebut sampai dia merasa puas merasakan nikmatnya bercinta.


"Ya Tuhan, aku harus segera mengerjakan semuanya. Aku harus segera pulang, aku sudah tidak tahan," keluh Juki.


Pria yang tadi malam baru saja berbuka puasa tersebut langsung berusaha untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas-tugasnya.


Sesekali dia terlihat menggelengkan kepalanya saat bayangan tubuh polos Jesicca terlintas di benaknya.


Sesekali dia mengusap dadanya saat teringat desaah manja dari bibir istrinya, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Dengan cepat dia bergegas untuk pulang, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jesicca.


Tiga puluh menit kemudian Juki sudah sampai di halaman rumah bu Sari, dia langsung memarkirkan mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan tergesa untuk masuk ke dalam rumahnya.


Tujuan utamanya ialah masuk ke dalam kamarnya, saat tiba di dalam kamar dia tidak melihat Jesicca ataupun Putri.

__ADS_1


Saat melintasi ruang keluarga pun dia tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan di sana, Juki lalu melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memastikan apakah istrinya ada di sana atau tidak.


Benar saja, di sana dia melihat Jesicca yang sedang mencuci buah di depan wastafel. Juki menyeringai, dia nampak menghampiri Jesicca lalu memeluknya dari belakang.


Jesicca nampak terlonjak kaget, bahkan dia hampir saja memukul Juki dengan buah yang dia pegang.


Namun, Juki langsung menangkap buah yang Jesicca pegang dan mengecupi pipi istrinya tersebut.


"Maaf karena aku sudah membuat kamu kaget," kata Juki.


"Mas sudah pulang? Kenapa ngga mengucap salam?" tanya Jesicca.


"Maaf, aku lupa," jawab Juki seraya memamerkan deretan gigi putihnya.


"Putri sama ibu, mana?" tanya Juki.


"Ibu sedang membawa Putri berkeliling kompleks, kata ibu dia sudah rindu ingin berjalan-jalan dengan kakinya sendiri tanpa kursi roda," jawab Jesicca.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Jesicca, Juki nampak terkekeh.


"Baguslah kalau Ibu tidak ada, jadi--"


Juki tidak melanjutkan ucapannya, dia mematikan keran. Menyimpan buah yang ada di tangan Jesicca, lalu mengangkat tubuh Jesicca dan membawanya ke kamarnya.


Jesicca sempat memekik kaget akan kelakuan suaminya tersebut, namun Juki langsung membungkam bibir Jesicca dengan bibir tebalnya.


Hal itu Juki Lakukan agar Jesicca tidak banyak bicara, karena Juki sudah tidak sabar untuk memasuki tubuh istrinya.


BERSAMBUNG....


'


*


*


Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat.


Lanjut nggak ya?


Lanjut nggak ya?


Lanjutnya nanti ya, habis sahur....


"Haish! Si Othor mah kebiasaan, pikaseubeuleun!" (Nyebelin)


"Nyang penting ngangenin," jawab Othor. ( Percaya diri tingkat dewa)

__ADS_1


Untuk kalean yang sudah memberikan like, komen, Vote, bunga, kopi dan juga hadiah yang lainnya terima kasih banyak.


Buat yang selalu ngasih komen yang selalu bikin Othor ketawa, semangat dan juga saran yang membangun Othor ucapkan terima kasih juga.


__ADS_2