
Rachel merasa jika kepalanya masih terasa sakit, matanya pun terasa sepat. Namun, dia merasa jika tubuhnya terasa tertindih benda yang begitu besar.
Rachel berusaha untuk membuka matanya, dia melihat ada kaki yang menindih sebagian tubuhnya. Dia juga melihat ada tangan yang terlihat mendekap tubuhnya dengan erat, bahkan tangan kokoh itu terlihat meremat sebelah dadanya.
Jantung Rachel langsung berdetak dengan cepat, napasnya terlihat naik turun. Dia bingung karena kini tiba-tiba saja ada orang yang memeluknya dengan sangat posesif seperti itu.
Rachel mengumpulkan kesadarannya, lalu dia berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan lelaki tersebut.
"Buna, Ayah. Tolong aku," kata Rachel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Satria yang merasakan istrinya terus bergerak langsung membuka matanya, dia melepaskan tangannya dan juga menggeserkan kakinya.
Merasa tubuhnya kini terasa ringan, Rachel langsung bangun dan melompat dari tempat tidur. Satria yang melihat apa yang dilakukan oleh istrinya, terlihat begitu kaget.
Dia langsung bangun dan menghampiri Rachel, dia sungguh takut terjadi seuatu terhadap istrinya.
"Apa yang kamu lakukan, hem? Kenapa kamu malah melompat seperti itu?" tanya Satria.
Rachel terdiam, dia menatap wajah Satria dengan lekat. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Melihat raut wajah istrinya yang terlihat kebingungan, Satria terkekeh. Kemudian, dia memeluk pinggang istrinya dan mengecupi pipi istrinya dengan lembut.
"Kamu lupa kalau kita sudah menikah? Kemarin sore kita sudah resmi menjadi suami istri, kenapa kamu malah terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Satria.
Rachel terlihat menepuk jidatnya kala Satria mengingatkan jika dirinya kini sudah berstatus sebagai istri dari Satria.
"Maaf, aku lupa," kata Rachel.
"Tidak apa-apa, sekarang--"
Satria langsung mengangkat tubuh istrinya, Rachel langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Satria. Dia juga melingkarkan kakinya di pinggang suaminya.
"Morning kiss please," kata Satria seraya mendongakkan kepalanya.
Wajah Rachel langsung memerah, dia merasa malu dengan apa yang diminta oleh suaminya. Dia juga ragu untuk menuruti apa kata suaminya itu.
"Ish, kamu tuh gitu. Aku menunggu," kata Satria seraya memonyongkan bibirnya.
Bukannya mencium bibir Satria, Rachel malah menutup bibir Satria dengan jari telunjuknya. Dia merasa malu jika harus mencium bibir suaminya itu.
"Ck! Kamu tuh lama," keluh Satria.
Satria langsung merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, lalu dia merangkak dan mengungkung tubuh istrinya.
__ADS_1
"Kamu tetep cantik walaupun baru bangun tidur," kata Satria seraya mengelus lembut pipi istrinya.
Satria mulai menunduk dan langsung menautkan bibirnya, dengan gerakan lambat dia memagut bibir istrinya.
Dia tidak ingin istrinya kehabisan napas, Rachel terlihat menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya.
Bahkan kini Rachel terlihat mengalungkan kedua tangannya di leher Satria, dia juga berusaha untuk membalas ciuman dari suaminya.
"Bibir kamu ngga enak, bau!" kata Satria meledek.
"Abang jahat! Mana mungkin seperti itu, sebelum tidur aku gosok gigi. Terus aku juga pake obat kumur sama pake penyegar mulut," kata Rachel dengan bibir mengkerucut.
"Aku bercanda, bibir kamu enak. Manis, kalau bau aku mana mau mencium bibir kamu yang manis ini," kata Satria seraya mengusap bibir istrinya.
"Abang nakal, sekarang kita mandi dulu. Sebentar lagi waktu subuh loh," kata Rachel mengingatkan.
Satria menolehkan wajahnya, dia menatap jam digital yang berada di atas nakas. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh.
Satria hanya bisa mendessah pasrah, padahal dia sudah tidak sabar ingin memerawani istrinya itu. Sayanganya waktu seakan tidak mendukung. Satria harus lebih bersabar lagi.
"Baiklah, kita mandi bersama," ajak Satria.
"Ja--jangan mandi bersama, nanti Abang pengen. Mandinya sendiri-sendiri saja," pinta Rachel gugup.
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Satria langsung menggendong Rahel dan membawanya ke kamar mandi.
Dia mendudukan Rachel di atas closet, kemudian dia mengisi bathtub dengan air hangat.
Waktu subuh masih setengah jam lagi, menurutnya akan sempat untuk berendam berdua dan bermesraan walaupun hanya sebentar saja.
Tanpa ragu Satria langsung membuka piyama tidurnya di depan Rachel, tentu saja Rachel terlihat kaget dan langsung menutup matanya.
"Hey! Kita sudah halal, kenapa malah menutup mata seperti itu?" tanya Satria.
Bagaimana Rachel tidak menutup matanya, jika dia melihat sesuatu yang menggantung di antara kedua paha Satria.
Hal itu membuat dirinya takut sekaligus penasaran. Namun, tetap saja dia tidak berani untuk membuka matanya.
Satria terkekeh, dia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh Rachel. Namun, waktu terus berjalan.
Dia tidak bisa menunggu istrinya yang terus saja menutup matanya, dengan perlahan Satria terlihat membuka kancing piyama tidur yang dipakai oleh istrinya.
Sontak saja Rachel langsung membuka matanya dan menatap Satria dengan tatapan penuh protes.
__ADS_1
"Abang mau ngapain?" tanya Rachel.
"Kita mau mandi bersama, tentu saja harus membuka baju," kata Satria.
"Aku bisa sendiri," tolak Rachel.
"Kamu lama, Yang," kata Satria.
Walaupun risih, Rachel tetap menurut. Dia terdiam saat Satria melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya.
Namun, Rachel terlihat memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Rasanya dia benar-benar malu saat melihat tubuh saat polos Satria.
Saat tubuh Rachel sudah terlihat polos, Satria terlihat menatap penuh kagum pada tubuh polos istrinya. Terlihat sangat terawat dan juga bersih.
"Abang jangan melihat aku seperti itu," kata Rachel seraya menutup dadanya dengan kedua telapak tangannya.
Satria tidak menjawab, dia malah mengangkat tubuh Rachel dan memasukkannya ke dalam bathup.
Satria turut masuk dan duduk di belakang Rachel, dia peluk istrinya dan dia remat dada istrinya.
"Abang!"
Rachel merasa tubuhnya merinding, Satria malah terkekeh. Dia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya, lalu dia kecup leher jenjang istrinya itu.
"Bang!"
"Shuuut! Jangan berisik, Yang. Aku lagi melakukan terapi, biar dada kamu lebih besar," kata Satria.
"Abang ih!" keluh Rachel seraya memukul tangan Satria.
****
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.
Aku tuh lagi suka sama mereka, menurutku mereka cocok. Semoga menurut kalian pun seperti itu, hehehehe.
Babang Satria yang kalem, tapi berubah cerewet setelah dekat dengan Rachel, ya.
Neng Rachel, pujaan hati Babang Satria. Selalu cinta dan menunggu cintanya terbalaskan, hingga saat itu tiba Rachel sampai tidak percaya dengan apa yang kini terjadi.
__ADS_1